Mubadalah.id – Dunia ini adalah kanvas besar yang penuh dengan warna-warni perbedaan. Namun, sering kali mata kita hanya mencari keseragaman dan melabelinya sebagai satu-satunya bentuk keindahan. Kita terjebak dalam kotak-kotak sempit tentang apa yang dianggap “normal” dan apa yang dianggap “cacat”. Faktanya, setiap helaan nafas dan setiap bentuk raga membawa pesan keilahian yang mendalam dan indah.
Mengapa Kita Terjebak dalam Mitos “Tubuh Sempurna”?
Masyarakat kita masih sering mendewakan standar “tubuh normal”. Standar ini seolah menjadi tolok ukur tunggal untuk menilai kesempurnaan seorang manusia. Akibatnya, lingkungan sosial cenderung memandang difabel melalui lensa kekurangan atau “produk gagal”. Pola pikir sempit inilah yang menciptakan tembok pemisah di ruang publik.
Padahal, kesempurnaan fisik hanyalah sebuah konstruksi sosial yang bias. Kita sering lupa bahwa tubuh manusia memiliki spektrum yang sangat luas. Menghakimi martabat seseorang berdasarkan kondisi fisiknya adalah sebuah kekeliruan besar. Tindakan ini justru merendahkan nilai kemanusiaan yang seharusnya bersifat universal dan setara.
Kita harus mulai berani menggeser perspektif dari rasa kasihan menuju penghormatan hak. Menghargai keragaman fisik berarti memberikan ruang yang adil bagi setiap orang untuk berdaulat atas dirinya sendiri. Selama kita masih memuja mitos “tubuh sempurna”, kita tidak akan pernah mencapai keadilan sosial yang sejati bagi semua warga negara. Padahal, Negara sudah menjamin hak-hak ini melalui UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang penyandang disabilitas sebagai bentuk perlindungan martabat manusia.
Melampaui Narasi “Ujian” yang Dangkal
Banyak orang beragama masih terjebak dalam narasi yang menyudutkan penyandang disabilitas. Saya merasakan sendiri kegelisahan ini saat pulang ke rumah liburan kemarin. Kala itu, saya sedang mempersiapkan diri untuk ajang Suistanable Excellence Award 2025 UIN SSC kategori Disability Inclusion Ambassador. Saya berdiskusi dengan Ayah mengenai sudut pandang disabilitas yang inklusif.
Namun, seorang kawan Ayah melontarkan pernyataan yang mengejutkan saya. Ia menganggap bahwa kondisi disabilitas merupakan bentuk penghapusan dosa orang tua atau leluhur. Meskipun ia sempat memuji bahwa difabel pasti memiliki kelebihan, pernyataan awalnya tetap terasa menyakitkan. Pertanyaan besar pun muncul, mengapa narasi “pendosa” ini masih hidup subur di tengah masyarakat kita?
Pernyataan tersebut adalah bukti nyata bahwa kita membutuhkan Teologi Tubuh Disabilitas yang lebih progresif. Mengaitkan kondisi fisik dengan dosa masa lalu bukan hanya keliru, tetapi juga melukai martabat manusia. Narasi ini menempatkan difabel sebagai objek kesalahan, bukan sebagai subjek yang setara di hadapan Tuhan. Kita harus berani menggugat cara pandang yang menganggap tubuh manusia sebagai monumen hukuman.
Menemukan Estetika Keilahian dalam Keberagaman Fisik
Tuhan adalah Sang Maha Pencipta yang tidak pernah salah dalam merancang ciptaan-Nya. Kita harus melihat setiap perbedaan fisik sebagai bentuk Estetika Keilahian. Hal ini sejalan dengan pesan dalam Al-Qur’an Surah At-Tin ayat 4:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ ٤
“Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
Ayat ini menegaskan bahwa setiap manusia tanpa terkecuali lahir dalam bentuk terbaik menurut versi-Nya. Tubuh difabel bukanlah sebuah kekurangan atau produk gagal. Sebaliknya, ia adalah bagian dari spektrum identitas manusia yang utuh dan mulia.
Keragaman fisik justru membuktikan luasnya kekuasaan Tuhan yang tidak terbatas. Kita tidak boleh memenjarakan definisi indah hanya pada standar medis yang sempit. Setiap keunikan fungsi tubuh membawa pesan spiritual tersendiri bagi semesta.
Membangun Etika Penghormatan: Menuju Keadilan bagi Difabel
Mari sejenak kita bayangkan dunia tanpa tatapan iba. Dunia yang menyediakan akses setara bagi setiap orang di setiap ruang publik. Inilah inti dari Teologi Tubuh Disabilitas. Kita tidak lagi membutuhkan sekadar rasa kasihan, melainkan sebuah aksi nyata untuk mewujudkan keadilan. Memahami bahwa Tuhan tidak sedang bereksperimen harus mengubah cara kita berinteraksi dengan sesama.
Menghargai keragaman fisik berarti kita harus meruntuhkan tembok diskriminasi. Kehadiran kawan difabel di tengah kita adalah pengingat penting. Keadilan sosial tidak akan pernah tegak selama masih ada tubuh yang terpinggirkan. Oleh karena itu, kita membutuhkan Fikih Inklusif yang menjamin hak-hak sipil secara nyata. Kita harus memastikan bahwa setiap kebijakan sosial menghormati martabat setiap individu tanpa kecuali.
Dalam Konsep Kesalingan, nilai seorang manusia tidak bergantung pada kecepatan motorik atau ketajaman indranya. Kemuliaan sejati terletak pada kedalaman hati dan amal perbuatannya. Dengan mengakui estetika ini, kita berhenti memandang difabel sebagai objek yang perlu “diperbaiki”. Kita mulai merayakan kehadiran mereka sebagai warna penting dalam simfoni kehidupan yang Tuhan ciptakan. []




















































