Mubadalah.id – Ada yang berbeda dari perayaan Idulfitri tahun ini. Bukan tentang menu lebaran atau tradisi mudik, melainkan sebuah pertemuan yang jarang terjadi yaitu malam takbiran bertepatan dengan Hari Raya Nyepi. Dua perayaan keagamaan, Idulfitri bertemu Nyepi tahun ini hadir dalam waktu yang hampir bersamaan.
Sekilas, situasi ini mengkhawatirkan. Ada yang melihatnya sebagai potensi ketegangan, tetapi ada juga yang memaknainya sebagai kesempatan untuk memperlihatkan kedewasaan kita dalam hidup beragama. Namun jika perdalam lagi, pertemuan dua hari raya ini memberi sebuah pertanyaan, bagaimana dua tradisi yang sangat berbeda ini bisa berjalan berdampingan?
Momentum yang Jarang Terjadi
Bagi umat Islam, malam takbiran adalah tanda kemenangan setelah sebulan menjalankan ibadah puasa Ramadan. Takbir berkumandang di masjid-masjid, suara bedug, bahkan banyak juga karnaval atau pawai kendaraan yang berkeliling kota, menjadi tanda datangnya hari kemenangan.
Sebaliknya, bagi umat Hindu, Nyepi justru menghadirkan keheningan total. Tidak ada aktivitas di luar rumah, tidak ada suara, tidak ada keramaian. Prinsip ini dikenal sebagai Catur Brata Penyepian yaitu tidak menyalakan api atau lampu berlebihan, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak menikmati hiburan.
Selama satu hari penuh, kehidupan umat Hindu benar-benar berhenti. Karena itu, ketika malam takbiran dan Nyepi berada dalam waktu yang berdekatan, muncul kekhawatiran dari sebagian orang. Kekhawatiran bahwa dua tradisi ini bisa saling bertabrakan.
Pemerintah pun merespons situasi ini. Menteri Agama Nasaruddin Umar sempat melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto tentang kesiapan penyelenggaraan Idulfitri 1447 H, termasuk pengaturan malam takbiran di Bali yang bertepatan dengan Hari Raya Nyepi. Pemerintah kemudian memastikan bahwa kedua perayaan tersebut tetap dapat berjalan berdampingan dengan pengaturan tertentu, seperti pembatasan durasi takbiran dan penggunaan pengeras suara agar tidak mengganggu kekhusyukan Nyepi.
Di tengah diskusi tersebut, Senator Bali, Niluh Djelantik juga menyampaikan pandangannya. Ia mengingatkan bahwa Nyepi adalah satu-satunya hari dalam setahun ketika Bali menjalani keheningan total. Nyepi, katanya, berarti sepi dalam arti tanpa suara, tanpa keramaian. Catur Brata Penyepian berlaku di seluruh Bali. Hanya satu hari dalam satu tahun.
Karena itu ia berharap agar semua pihak memahami pentingnya hari tersebut bagi umat Hindu. Dalam pesannya, ia juga mengingatkan bahwa Menteri Agama adalah menteri bagi semua agama, sehingga setiap pernyataan publik perlu menjaga sensitivitas semua pihak.
Namun menariknya, respons dari kalangan umat Islam di Bali justru memperlihatkan sikap yang sangat menyejukkan. Dalam ceramah tarawih di Masjid Ibnu Batutah Nusa Dua pada Februari 2026, Imam Besar masjid tersebut, KH Sholeh Wahid, menyampaikan pesan sederhana tetapi kuat. Ia mengatakan bahwa umat Islam di Bali akan tetap menghormati umat Hindu yang menjalankan Nyepi. Takbiran tetap bisa kita lakukan, tetapi dari rumah masing-masing, tanpa pengeras suara.
Sikap ini sebenarnya mencerminkan nilai yang sangat kuat dalam ajaran Islam, yaitu saling menghormati dalam kehidupan sosial. Nilai ini sejalan dengan prinsip yang sering disebut sebagai mubadalah.
Mubadalah dalam Relasi Antaragama
Dalam tradisi Islam, hubungan antar manusia tidak hanya diatur oleh aturan hukum formal, tetapi juga oleh nilai-nilai yang menekankan keadilan, empati, dan penghormatan terhadap sesama. Secara sederhana, mubadalah berarti hubungan timbal balik yang adil dan saling menghargai. Prinsip ini menekankan bahwa setiap manusia perlu memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin diperlakukan. Dengan kata lain, hubungan sosial tidak dibangun atas dasar dominasi, tetapi atas dasar kesalingan.
Konsep mubadalah berangkat dari kesadaran bahwa manusia hidup dalam relasi yang saling terhubung. Setiap tindakan yang kita lakukan terhadap orang lain pada akhirnya akan kembali kepada kita dalam bentuk yang berbeda. Karena itu, mubadalah mengajarkan pentingnya membangun hubungan yang setara dan saling menghormati. Dalam konteks kehidupan sosial yang beragam seperti di Indonesia, konsep ini menjadi sangat relevan, terutama dalam hubungan antaragama.
Dalam relasi antaragama, mubadalah berarti memberikan ruang bagi orang lain untuk menjalankan keyakinannya sebagaimana kita juga ingin keyakinan kita dihormati. Prinsip ini menuntut adanya kesadaran bahwa setiap agama memiliki keyakinan bagi setiap umatnya. Ketika seseorang mampu memahami agama orang lain, ia akan lebih mudah bersikap empati dan menjaga agar tindakannya tidak melukai keyakinan pihak lain.
Dengan kata lain, kebebasan menjalankan agama tidak hanya berarti kita bebas menjalankan keyakinan kita sendiri, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk tidak mengganggu praktik keagamaan orang lain. Kebebasan beragama selalu berjalan berdampingan dengan tanggung jawab sosial untuk menjaga keharmonisan dalam masyarakat.
Ketika prinsip ini diterapkan dalam kehidupan nyata, ia dapat menjadi fondasi bagi terciptanya kerukunan yang autentik. Kerukunan tidak hanya berarti tidak adanya konflik, tetapi juga adanya kesadaran untuk menjaga kenyamanan spiritual pihak lain.
Takbir dan Sunyi
Dalam konteks pertemuan antara malam takbiran dan Hari Raya Nyepi di Bali, prinsip mubadalah menjadi sangat relevan. Umat Islam ingin merayakan malam takbiran sebagai bentuk syiar dan ungkapan kegembiraan menyambut Idulfitri. Sementara itu, umat Hindu menjalankan Nyepi sebagai hari keheningan total yang merupakan bagian penting dari praktik spiritual mereka.
Sekilas, kedua kebutuhan ini tampak bertolak belakang. Takbiran identik dengan suara dan perayaan, sedangkan Nyepi menuntut kesunyian. Namun jika kita lihat melalui kacamata mubadalah, perbedaan ini tidak harus menjadi sumber konflik. Justru di sinilah kesempatan untuk memperlihatkan bagaimana nilai-nilai keagamaan dapat mendorong terciptanya sikap saling menghormati.
Ketika umat Islam di Bali memilih untuk melaksanakan takbiran dari rumah masing-masing tanpa menggunakan pengeras suara demi menghormati Nyepi, keputusan tersebut sebenarnya merupakan bentuk implementasi nyata dari nilai mubadalah. Umat Islam tetap dapat menjalankan tradisi takbir sebagai bagian dari syiar agama, tetapi dengan cara yang tidak mengganggu kekhusyukan umat Hindu.
Pada saat yang sama, umat Hindu dapat melihat sikap tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap keyakinan mereka. Dengan demikian, kedua komunitas dapat menjalankan praktik keagamaannya masing-masing tanpa merasa terancam oleh kehadiran yang lain.
Di titik inilah kita dapat melihat bahwa kerukunan tidak lahir dari wacana besar semata. Ia sering kali lahir dari keputusan-keputusan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Kesediaan untuk menurunkan volume suara, memilih cara perayaan yang lebih sederhana, atau mempertimbangkan kenyamanan spiritual orang lain adalah bentuk nyata dari etika sosial dalam agama.
Relasi Mubadalah
Mubadalah mengingatkan bahwa relasi yang sehat tidak kita bangun dengan logika dominasi, siapa yang lebih banyak atau siapa yang lebih kuat, tetapi dengan logika saling menjaga. Ketika setiap komunitas bersedia menjaga ruang spiritual pihak lain, maka ruang bersama dalam masyarakat akan terasa lebih aman dan damai.
Dalam masyarakat yang plural seperti Indonesia, prinsip ini sangat penting untuk terus kita rawat. Keberagaman bukan hanya fakta sosial, tetapi juga kesempatan untuk memperkaya pengalaman kemanusiaan. Melalui mubadalah, perbedaan dapat menjadi jembatan untuk membangun solidaritas, bukan tembok yang memisahkan.
Karena itu, pertemuan antara takbiran dan Nyepi tahun ini tidak perlu kita lihat sebagai potensi konflik. Sebaliknya, ia dapat menjadi pengingat bahwa nilai-nilai keagamaan yang kita anut sebenarnya memiliki potensi besar untuk menciptakan harmoni sosial. Ketika setiap orang bersedia memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin diperlakukan, maka kerukunan bukan lagi sekadar slogan, melainkan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. []





































