Mubadalah.id – Perempuan menghadapi berbagai risiko kesehatan yang tidak hanya berasal dari faktor biologis, tetapi juga dari kondisi pekerjaan dan akses terhadap layanan kesehatan. Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan sering mengalami beban kerja yang tinggi, baik di dalam maupun di luar rumah.
Di lingkungan rumah tangga, perempuan kerap terpapar risiko kesehatan dari aktivitas domestik. Paparan asap dari dapur tradisional dapat menyebabkan gangguan pernapasan, sementara penggunaan api terbuka berpotensi menimbulkan luka bakar.
Selain itu, aktivitas seperti mencuci pakaian, mengambil air, serta bekerja di sawah juga dapat meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan melalui air. Kondisi ini menunjukkan bahwa pekerjaan domestik memiliki dampak langsung terhadap kesehatan perempuan.
Perempuan yang bekerja di luar rumah juga menghadapi tantangan tersendiri. Lingkungan kerja yang tidak aman dapat meningkatkan risiko kecelakaan maupun penyakit akibat kerja.
Setelah kembali ke rumah, sebagian perempuan masih harus menjalankan pekerjaan domestik. Situasi ini menyebabkan perempuan mengalami beban kerja ganda yang berpotensi menimbulkan kelelahan berkepanjangan.
Kelelahan yang terus-menerus dapat menurunkan daya tahan tubuh dan meningkatkan kerentanan terhadap berbagai penyakit. Kondisi ini semakin diperparah jika perempuan tidak memiliki akses yang memadai terhadap layanan kesehatan.
Selain itu, perempuan sering kali menunda pengobatan hingga kondisi kesehatannya memburuk. Dalam beberapa kasus, perempuan tidak segera mencari perawatan karena keterbatasan akses, informasi, maupun kendala sosial.
Situasi ini menunjukkan bahwa kesehatan perempuan sangat terpengaruhi oleh kondisi kerja dan akses terhadap layanan kesehatan. Upaya peningkatan kesehatan perempuan perlu mencakup perbaikan lingkungan kerja, pengurangan beban kerja, serta peningkatan akses layanan kesehatan yang merata. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter







































