Mubadalah.id – Gema takbir mulai berkumandang, menandakan berakhirnya bulan perjuangan. Bagi sebagian besar orang, makna Idulfitri adalah puncak kebahagiaan momen silaturahmi, baju baru, dan meja yang penuh dengan hidangan lezat. Namun, jika kita mengintip ke balik tirai dapur-dapur rumah kita, kita akan menemukan realitas yang berbeda. Di sana, ada ibu, istri, atau anak perempuan yang wajahnya lebih banyak terpapar uap panas tungku daripada sinar matahari hari raya
Bagi banyak perempuan, makna Idulfitri bukanlah hari “libur”. Sebaliknya, ia adalah hari dengan beban kerja domestik yang berlipat ganda. Paradoks ini sangat nyata: saat laki-laki bersiap dengan baju takwa menuju lapangan untuk salat Idulfitri, banyak perempuan yang justru masih bergulat dengan cucian piring sisa sahur terakhir atau memastikan rendang tidak gosong sebelum tamu pertama datang.
Dalam perspektif mubadalah (kesalingan), hal ini memicu pertanyaan mendasar: Mengapa hari kemenangan yang seharusnya milik semua umat Islam, dalam praktiknya sering kali mengeksklusi perempuan dari hak untuk menikmatinya secara setara?
Konstruksi Sosial “Ibu Rumah Tangga Ideal” Saat Lebaran
Akar masalah dari kelelahan perempuan saat lebaran adalah konstruksi sosial yang menganggap urusan dapur dan jamuan adalah tanggung jawab mutlak perempuan. Ada tekanan sosial yang tidak tertulis bahwa sebuah rumah dianggap “tidak sukses merayakan Lebaran” jika tidak tersedia hidangan lengkap yang dimasak sendiri oleh sang istri. Opini masyarakat sering kali tajam; seorang istri bisa dianggap “malas” jika hanya memesan katering atau menyajikan hidangan sederhana.
Dalam banyak tradisi di Indonesia, perempuan adalah “dirigen” utama perayaan. Namun, posisi dirigen ini tidak datang dengan kehormatan, melainkan dengan beban fisik yang luar biasa. Perempuan diharapkan mampu menerima tamu tanpa henti, mencuci tumpukan piring yang tak kunjung habis, sekaligus tetap tampil segar dan ramah.
Perspektif mubadalah mengajak kita melihat bahwa rumah tangga adalah sebuah kemitraan, bukan perbudakan yang dibungkus dengan label “bakti istri”. Jika Idulfitri adalah simbol kemerdekaan manusia dari belenggu nafsu, maka seharusnya ia juga memerdekakan perempuan dari belenggu domestik tunggal. Tidak ada satu pun teks suci yang mewajibkan perempuan untuk menghabiskan seluruh hari raya di dapur sementara anggota keluarga lainnya asyik bercengkerama di ruang tamu.
Mudik dan Bias Beban Kerja di Rumah
Isu ini menjadi semakin kompleks saat kita bicara tentang tradisi mudik. Bagi seorang istri, mudik ke rumah mertua atau orang tua sering kali berarti “pindah tempat kerja”. Di rumah sendiri, ia mungkin memiliki sistem pendukung atau pembagian kerja yang lebih longgar dengan suaminya. Namun, di rumah besar keluarga atau kerabat, ia sering kali terjebak dalam ekspektasi untuk “tampil cekatan” di hadapan keluarga besar.
Sering terjadi, saat para lelaki duduk melingkar mendiskusikan politik atau pekerjaan sambil menikmati kopi, para perempuan berkumpul di dapur dalam hiruk-pikuk yang melelahkan. Budaya kita secara halus menormalisasi pemandangan ini sebagai bentuk “kebersamaan perempuan”. Padahal, kebersamaan tersebut bersifat eksploitatif jika terjadi karena absennya peran laki-laki dalam pekerjaan tersebut.
Di sinilah pentingnya fikih kesalingan dalam silaturahmi. Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat ringan tangan dalam membantu urusan rumah tangga (fihmihnati ahlihi). Beliau menjahit sandalnya sendiri dan membantu pekerjaan domestik. Semangat inilah yang sering hilang saat Lebaran.
Kesalingan menuntut suami untuk tidak membiarkan istrinya menjadi “pelayan” tunggal bagi keluarga besar. Membantu mencuci piring di rumah mertua atau menjaga anak agar istri bisa beristirahat sejenak adalah tindakan mubadalah yang sangat mulia dan justru memperkuat martabat laki-laki sebagai mitra yang adil.
Menuju Idulfitri yang Ramah Perempuan: Langkah Praktis
Lantas, bagaimana kita bisa mengubah pola yang sudah mengakar ini? Kita perlu melakukan reinterpretasi terhadap makna perayaan yang lebih inklusif dan berkeadilan. Berikut adalah beberapa langkah untuk memerdekakan perempuan di hari raya:
Pertama, Redefinisi Jamuan: Perayaan tidak harus selalu identik dengan makanan yang rumit dan melelahkan. Menyederhanakan hidangan agar beban kerja dapur berkurang adalah pilihan yang syar’i dan rasional. Bukankah esensi Idulfitri adalah kesucian hati, bukan kemewahan isi piring?
Kedua, Pembagian Peran yang Tegas: Sebelum hari raya tiba, suami dan istri (termasuk anak laki-laki dan perempuan) harus mendiskusikan pembagian tugas. Siapa yang bertanggung jawab mencuci piring, siapa yang menyapu ruang tamu, dan siapa yang menyiapkan minuman untuk tamu. Pastikan setiap orang memiliki waktu luang yang cukup untuk benar-benar menikmati Idulfitri.
Ketiga, Zakat dan Pekerja Domestik: Bagi keluarga yang memiliki asisten rumah tangga (ART), penting untuk memberikan mereka hak libur sepenuhnya untuk merayakan lebaran bersama keluarga mereka. Memberikan beban kerja ekstra kepada ART di hari raya tanpa kompensasi dan istirahat yang cukup adalah bentuk ketidakadilan yang jauh dari nilai-nilai Islam.
Momentum Menyambung Tali Kasih
Idulfitri adalah momen untuk menyambung tali kasih (rahim). Namun, tali kasih tidak akan pernah kuat jika ia terjalin di atas kelelahan salah satu pihak. Tidak ada makna sejati dalam silaturahmi jika di satu sisi ada yang tertawa lebar karena terlayani, sementara di sisi lain ada yang memendam penat karena melayani tanpa henti.
Mari kita kembalikan Idulfitri sebagai hari kemenangan bagi semua, termasuk bagi perempuan. Kemenangan itu bukan hanya berarti bebas dari lapar dan haus, tetapi juga bebas dari ketidakadilan beban kerja yang timpang. Saat laki-laki dan perempuan bisa duduk bersama, bercerita dengan tenang, dan menikmati hidangan dengan porsi kelelahan yang sama-sama minim, di situlah kemenangan fitrah yang sesungguhnya tercapai.
Sudah saatnya dapur tidak lagi menjadi penjara bagi perempuan di hari kemenangan. Sebab, Islam datang untuk memuliakan manusia, dan memuliakan perempuan berarti menjamin hak mereka untuk merasakan kebahagiaan Lebaran secara utuh, lahir dan batin. []









































