Mubadalah.id – Pekan lalu saya mengunjungi seorang saudara yang tengah berduka. Ayahnya baru saja meninggal dunia akibat infeksi pada lapisan kulit perut. Rasa kehilangan itu begitu terasa. Ia bercerita dengan suara pelan, bibir bergetar, dan mata merah karena air mata yang tak berhenti mengalir.
“Almarhum sosok yang tegas, tapi sangat tulus dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya,” tuturnya. Wajahnya masih sembab. Sosok yang dicintainya itu bahkan belum lama dimakamkan, masih dalam hitungan jam berada di alam kubur.
Siapa pula yang bahagia ditinggalkan orang tua—sosok yang sejak awal kehidupan mendidik, membesarkan, dan tak henti mendoakan anak-anaknya? Setiap kali pelayat datang dan menanyakan kondisi ayahnya sebelum wafat, air matanya kembali jatuh.
Di balik ketegasan seorang ayah, bagi anak-anak, cara orang tua mendidik kerap terasa keras. Tidak jarang terjadi perbedaan pandangan dan ketidaksetujuan terhadap keputusan ayah semasa hidupnya. Ia pun mengenang kembali relasi itu—relasi yang penuh cinta, tetapi juga sarat jarak dan ketegangan.
Memang, relasi orang tua generasi Baby Boomer dan anak Generasi Z sering kali ditandai kesenjangan generasi. Pola asuh tradisional bertemu dengan cara pandang anak yang tumbuh dalam dunia modern dan digital.
Boomers cenderung menekankan kerja keras, disiplin, dan kepatuhan. Sementara Generasi Z lebih memprioritaskan kesehatan mental, ekspresi diri, dan fleksibilitas hidup. Dua karakter ini kerap berhadap-hadapan seperti dua kutub magnet yang berbeda.
Dalam artikel Mubadalah.id (22 Juni 2024) berjudul Relasi Orang Tua dan Anak, disebutkan bahwa hubungan orang tua dan anak mencakup relasi melahirkan dan dilahirkan, merawat dan dirawat, mendidik dan dididik, serta relasi yang lebih tua dengan yang lebih muda.
Relasi Orang Tua dan Anak
Dalam relasi ini, orang tua dituntut menunjukkan kasih sayang, sementara anak menjaga penghormatan.
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tidak termasuk golongan umatku mereka yang (tua) tidak menyayangi yang muda, dan mereka yang (muda) tidak menghormati yang tua.” (HR. Tirmidzi)
Jika hadis ini kita maknai dengan perspektif mubadalah dalam konteks lintas generasi—Baby Boomer dan Generasi Z. Maka relasi yang ideal adalah relasi dua arah berbasis akhlak.
Orang tua belajar empati: menyayangi anak bukan dengan mengontrol penuh hidup mereka, melainkan dengan mendengar, berdialog, dan memahami dunia zamannya. Kasih sayang hari ini berarti hadir sebagai pendamping, bukan pengendali.
Sebaliknya, bagi anak Generasi Z, berakhlak kepada orang tua berarti menjaga etika bicara, menghargai pengalaman hidup mereka, dan tidak merendahkan generasi yang lahir di zaman berbeda.
“Saya sering tertawa sendiri mengingat komunikasi almarhum dengan anak bungsunya. Selalu ada sesak dalam pola asuh itu,” katanya lirih.
“Dari almarhum saya belajar banyak tentang kehidupan. Terutama bagaimana membangun relasi orang tua dan anak dengan lebih baik,” lanjutnya, sambil mengusap air mata. []




















































