Mubadalah.id – Meskipun hanya dalam kurun waktu 30 hari, tradisi takjil hanya eksis di bulan Ramadan yang memiliki daya tawar sosial yang tinggi.
Terbayang sore hari bersih wangi menyambut takjil tiba, meskipun dari jauh, meliriknya pun selalu tergoda. Jangankan melirik, terdengar namanya saja rasa jumpa pun tidak bisa makin membara. Awas kalap, semua yang tersaji siap dipinang dan kita nikmati.
Dapat saya pastikan di setiap bulan Ramadan sajian takjil selalu hadir menyertai lini kota. Entah kapan jelasnya tradisi ini muncul dan masih eksis sampai sekarang, tetapi yang pasti takjil telah menjadi bagian dari lanskap sosial Ramadan yang sulit terpisahkan dari kehidupan masyarakat.
Salah satu nilai positif ta’jil adalah merenegoisasi jiwa-jiwa individual untuk berkecimpung dalam ruang-ruang kebersamaan. Karena kehidupan modern menawarkan pola hidup bermacam-macam, misalnya individualistis. Sibuk dengan rutinitas pribadi, pekerjaan, serta lingkaran sosial yang terbatas. Interaksi dengan orang lain di ruang publik juga sering berlangsung singkat dan fungsional.
Takjil itu Ruang Demokratisasi Sosial
Takjil secara bahasa merupakan benuk Masdar dari kata ‘ajjala, yu’ajjilu, ta’jilan, ta’jilatan, ta’jalan dst, yang berarti upaya mempercepat, menyegerakan, tergesa-gesa dan mendahulukan sesuatu. Dalam konteks puasa, takjil bermaksud mempercepat siap-siap untuk berbuka puasa.
Sah kita pahami bahwa takjil menunjukkan kata kerja atas aktivitas seseorang. Sementara aktivitas sendiri bisa berjalan ketika dilakukan oleh personal maupun komunal. Keduanya memiliki implikasi sosial, karena keduanya juga tidak dapat menanggalkan ruang-ruang kemanusiaan.
Sedangkan takjil, selain support sistem UMKM setempat, ia juga sebagai ruang demokratisasi sosial. Pelbagai identitas manusia melebur dalam aspek-aspek egaliter. Pejabat, direktur utama, ahli agama, dan sebagainya berinteraksi tanpa hierarki sosial.
Dalam situasi tersebut, konstruksi status sosial manusia cenderung melebur dalam fenomena “War takjil”. Semua menunggu waktu berbuka, menahan lapar, hingga menikmati sajian takjil yang sederhana bersama.
Oleh karenanya muncul rasa kesetaraan sosial. Kesetaraan tersebut menciptakan suasana sosial yang cair, di mana kebersamaan tidak terukur dalam aspek struktural, namun sebagai hamba yang menjalankan puasa bersama.
Melampaui Hegemoni Individualisme
Bryan, S. Turner dalam bukunya bertajuk Religion and Social Theory mengemukakan bahwasannya individualisme merupakan anak kandung hasil kawin lari dari modernisme perkotaan yang serba cepat dan kompetitif.
Jika mengonfirmasi pendapat tersebut, maka dalam realitas, manusia mudah terdistraksi dengan hal-hal sosial yang sifatnya berkerumunan. Ia lebih suka dengan fokus pada diri sendiri: mengejar karier, target pribadi, dan pencapaian individual. Konsekuensinya, hubungan sosial sering kali menjadi sekadar pelengkap, bukan lagi kebutuhan yang dirawat bersama.
Namun menariknya, praktik-praktik sosial yang ada pada bulan Ramadan menggeser narasi tersebut dan menghadirkan diksi baru. Dengan adanya memburu takjil dan membagikannya, menjadikan hal-hal kecil saling terhubung kembali walaupun terkesan sepele.
Karena itu, fenomena ini tidak hanya bisa kita pahami sebagai tradisi kuliner atau kebiasaan musiman semata. Takjil juga dapat berperan sebagai bentuk resistensi sosial yang lembut terhadap hegemoni individualisme.
Takjil: Budaya yang Perlu Dipertahankan ?
Pada titik ini, takjil termasuk sebagai bagian dari budaya populer masyarakat modern. Ia lahir bukan dari konstitusi formal, namun dari inisiatif-inisiatif informal yang kemudian dalam beberapa daerah tervalidasi sebagai budaya atau tradisi.
Apakah perlu kita pertahankan? Apabila secara etis tidak merusak nilai-nilai budaya luhur dan kemanusiaan, sudah seharusnya dilestarikan.
Namun, tidak dapat kita pungkiri bahwa ia juga terkadang menjadi lahan basah sikap konsumerisme. Artinya, hal demikian berpotensi menimbulkan sikap seseorang menjadi fanatik dan konsumtif yang mengarah pada musproh ekologis.
Karena, hubungan sikap individualisme, kapitalisme dan konsumerisme ini sangat erat dalam kehidupan masyarakat modern.
Akan tetapi, dalam banyak kasus, tradisi takjil justru memperkuat solidaritas sosial, mempertemukan berbagai lapisan masyarakat, serta membuka ruang bagi interaksi yang lebih hangat di tengah kehidupan modern yang serba cepat.
Oleh karena itu takjil sebagai budaya harus dipertahankan atau tidak untuk jangka panjang, saya serahkan kolom diskusi untuk membincangkannya lebih kompleks. []








































