Kamis, 15 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Lingkungan di Pesantren

    Pesantren Jadi Basis Pendidikan yang Peduli Terhadap Lingkungan

    Pemimpin yang Melayani

    Pemimpin yang Melayani: Ciri Khas Kepemimpinan Kristiani

    Alam di pesantren

    Pesantren Jadi Ruang Strategis Membangun Kepedulian Kelestarian Alam

    American Academy of Religion

    Melampaui Maskulinitas Qur’ani: Catatan dari Konferensi American Academy of Religion (AAR) 2025

    Menjaga Kelestarian Alam

    Membangun Kesadaran Sejak Dini untuk Menjaga Kelestarian Alam

    Disabilitas

    Disabilitas, Trilogi KUPI, dan Perjuangan Melawan Ketidakadilan

    Pelestarian di Pesantren

    Pesantren Memiliki Peran Strategis dalam Pelestarian Lingkungan

    Pemerintah

    Pemerintah dan Masyarakat Didorong Berkolaborasi Jaga Kelestarian Lingkungan

    sahabat tuli

    Sahabat Tuli Salatiga: Representasi Gerakan Kelompok Disabilitas

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Lingkungan di Pesantren

    Pesantren Jadi Basis Pendidikan yang Peduli Terhadap Lingkungan

    Pemimpin yang Melayani

    Pemimpin yang Melayani: Ciri Khas Kepemimpinan Kristiani

    Alam di pesantren

    Pesantren Jadi Ruang Strategis Membangun Kepedulian Kelestarian Alam

    American Academy of Religion

    Melampaui Maskulinitas Qur’ani: Catatan dari Konferensi American Academy of Religion (AAR) 2025

    Menjaga Kelestarian Alam

    Membangun Kesadaran Sejak Dini untuk Menjaga Kelestarian Alam

    Disabilitas

    Disabilitas, Trilogi KUPI, dan Perjuangan Melawan Ketidakadilan

    Pelestarian di Pesantren

    Pesantren Memiliki Peran Strategis dalam Pelestarian Lingkungan

    Pemerintah

    Pemerintah dan Masyarakat Didorong Berkolaborasi Jaga Kelestarian Lingkungan

    sahabat tuli

    Sahabat Tuli Salatiga: Representasi Gerakan Kelompok Disabilitas

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Hannah Arendt: Antara Affan Kurniawan, Negara, dan Kekerasan

Ketika negara hanya bisa berbicara dengan bahasa kekerasan, ia sebenarnya sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dikatakan.

Fadlan Fadlan
30 Agustus 2025
in Publik, Rekomendasi
0
Affan Kurniawan

Affan Kurniawan

2.8k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

“Kekuasaan dan kekerasan adalah dua hal yang berlawanan; di mana yang satu berkuasa secara mutlak, yang lain absen. Kekerasan muncul ketika kekuasaan terancam, tetapi jika dibiarkan, ia akan berakhir dengan hilangnya kekuasaan.” (Arendt, 1970: 56).

Mubadalah.id – Kalimat dari Hannah Arendt di atas, yang ditulis lebih dari setengah abad lalu, terasa menghantui langit Jakarta malam kemarin. Di antara kepulan asap dan gelegar suara tembakan, sesosok tubuh tergeletak tak berdaya. Ia bukan orator yang tengah membakar semangat massa, bukan pula seorang anarko yang melemparkan molotov. Ia adalah Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojol, yang jaket hijaunya bersimbah darah di atas aspal di depan gerbang Gedung MPR/DPR.

Kematian Affan Kurniawan bukanlah sebuah kecelakaan, bukan pula “kerusakan kolateral” dalam upaya aparat menjaga “ketertiban umum.” Kematiannya adalah sebuah tanda yang menelanjangi ilusi kekuasaan negara dan menyingkap wajah aslinya, kekerasan. Setiap kali darah warga sipil tumpah di tangan aparatnya sendiri, negara tidak sedang menunjukkan kekuasaannya, melainkan justru mempertontonkan kerapuhannya.

Dalam bukunya ‘On Violence’, Hannah Arendt membuat sebuah perbedaan antara kekuasaan (power) dan kekerasan (violence). Bagi Arendt, kekuasaan bukanlah laras senapan atau pentungan aparat. Kekuasaan lahir dari kemampuan manusia untuk bertindak bersama, dari persetujuan dan dukungan kolektif rakyat. Sebuah pemerintahan, sebuah rezim, memiliki kekuasaan sejauh ia didukung oleh legitimasi warganya.

Sebaliknya, kekerasan adalah instrumen. Ia kita gunakan ketika legitimasi itu goyah, ketika kata-kata tak lagi mempan, dan ketika satu-satunya cara untuk menuntut kepatuhan adalah dengan rasa takut.

Maka, pemandangan barikade polisi, dentuman tameng, dan ayunan pentungan di depan gedung parlemen malam itu bukan lagi parade kekuasaan. Itu adalah ritual kepanikan. Itu adalah pengakuan implisit bahwa negara sudah kehilangan dayanya untuk meyakinkan rakyat, dan kini hanya mampu memaksa.

Manifestasi Kekuasaan Rakyat

Ketika aparat menyerbu kerumunan, mereka tidak sedang berhadapan dengan “musuh”. Mereka sedang berhadapan dengan warga negara yang kekuasaannya telah mereka rampas. Para demonstran—mahasiswa, buruh, dan rakyat sipil—datang ke Senayan bukan untuk berperang. Melainkan untuk menggunakan hak paling fundamental mereka dalam demokrasi. Bertindak bersama demi menyuarakan penolakan terhadap kebijakan-kebijakan yang mereka anggap mengkhianati kepentingan rakyat.

Kehadiran mereka di sana adalah manifestasi dari kekuasaan rakyat yang sesungguhnya. Dan respons negara terhadap manifestasi kekuasaan itu adalah dengan kekerasan. Ini adalah sebuah paradoks. Negara, yang seharusnya menjadi wadah bagi kekuasaan kolektif rakyat, justru menjadi agen yang memberangusnya dengan kekerasan.

Kematian Affan Kurniawan adalah contoh tragis dari kontradiksi ini. Ia, dengan jaket ojolnya, adalah cerminan dari rakyat kebanyakan yang hidupnya kian terimpit oleh kebijakan-kebijakan yang lahir dari gedung megah di hadapannya.

Ia mungkin tidak berorasi, tetapi kehadirannya di sana—entah untuk mengantarkan pesanan atau sekadar terjebak dalam arus massa—adalah bagian dari denyut nadi kehidupan kota yang terganggu oleh pertarungan antara aspirasi rakyat dan arogansi penguasa.

Kekerasan Subjektif

Di titik ini, kita perlu melangkah mundur sejenak, seperti yang Slavoj Žižek sarankan dalam bukunya ‘Violence’. Dalam hiruk pikuk pemberitaan media tentang mobil yang terbakar atau bentrokan fisik, kita terlalu sering terpaku pada apa yang ia sebut sebagai “kekerasan subjektif”.

Kekerasan subjektif adalah kekerasan yang terlihat jelas (pelaku dan korbannya jelas). Polisi memukul, demonstran melawan. Media sibuk menyorotnya, dan para politisi akan saling tuding tentang siapa yang memulai.

Namun, menurut Žižek, kekerasan yang paling berbahaya bukanlah kekerasan subjektif, melainkan  “kekerasan objektif”—kekerasan yang dinormalisasi. Kekerasan objektif terbagi dua: “Kekerasan sistemik” dan “kekerasan simbolik”.

Kekerasan sistemik adalah konsekuensi dari berjalannya suatu sistem ekonomi dan politik ekstraktif. Kebijakan-kebijakan yang secara telanjang mengeksploitasi tenaga kerja atau yang melegalkan pengrusakan lingkungan atas nama “investasi” adalah contoh kekerasan sistemik ini. Kekerasan sistemik tidak memerlukan pentungan atau gas air mata. Ia bekerja dalam senyap di ruang-ruang rapat ber-AC, terlegitimasi oleh argumen-argumen teknokratis.

Sementara itu, kekerasan simbolik terwujud dalam bahasa itu sendiri, dalam cara kita mengkategorikan seseorang. Ketika seorang pejabat menyebut para demonstran sebagai “orang tolol sedunia” (Ahmad Sahroni), “perusuh”, “anarko”, atau “penunggang gelap.” Ia sedang melakukan kekerasan simbolik.

Label-label ini mereduksi perjuangan rakyat yang sah menjadi kebodohan dan tindak kriminal. Sehingga pemukulan dan bahkan pembunuhan terhadap mereka dapat dinormalisasi, seolah-olah itu adalah tindakan hukum yang wajar.

Kematian Affan Kurniawan

Demonstrasi kemarin adalah ledakan kekerasan subjektif yang terpicu oleh akumulasi kekerasan objektif itu. Rakyat turun ke jalan bukan karena haus akan kerusuhan. Melainkan karena jalanan adalah satu-satunya ruang yang tersisa ketika pintu-pintu dialog formal telah tertutup rapat oleh kekerasan sistemik dan simbolik.

Masa aksi itu adalah produk dari sebuah sistem yang berjalan “normal” namun menghasilkan ketidakadilan dan penderitaan. Dan ketika negara merespons demonstrasi ini dengan kekerasan subjektif, negara sebenarnya sedang berusaha menutupi borok kekerasan objektif yang menjadi tanggung jawabnya.

Kematian Affan Kurniawan kemarin akan semakin menyakitkan jika kita melihatnya dalam kerangka ini. Affan, bagaimana pun, adalah korban ganda. Sehari-hari, hidupnya sudah menjadi korban kekerasan sistemik. Tarif aplikasi yang tak menentu, ketiadaan jaminan sosial, jalanan yang tak ramah, dan lain sebagainya.

Malam itu, ia menjadi korban kekerasan subjektif. Narasi yang akan coba terbangun oleh para elite kemungkinan besar akan mengikuti pola yang sama. Mereka akan mencoba menggambarkan Affan sebagai bagian dari “gerombolan perusuh” untuk membenarkan tindakan aparat.

Salah satu aspek paling mengerikan dari kekerasan di negara modern, seperti yang Arendt ungkapkan, adalah sifat birokratisnya. Ia menjelma menjadi apa yang ia sebut “rule by Nobody”. Siapa yang bertanggung jawab atas kematian Affan? Apakah petugas di lapangan yang mengemudikan Barracuda? Komandan pleton yang memberi perintah? Atau Kapolri yang merancang strategi pengamanan?

Dalam labirin birokrasi, tanggung jawab ini menguap. Setiap orang hanya “menjalankan perintah” atau “mengikuti prosedur”. Hasilnya adalah sebuah “tirani tanpa tiran”, di mana kejahatan terjadi tanpa ada seorang pun yang merasa menjadi penjahatnya.

Lingkaran Birokrasi yang Tak Berujung

Kita akan segera menyaksikan ritual ini mereka mainkan. Akan ada konferensi pers, pernyataan “penyesalan mendalam”, pembentukan tim investigasi, dan janji untuk “mengusut tuntas”. Namun, kemungkinan besar, seperti kasus yang sudah-sudah, proses ini hanya akan berputar dalam lingkaran birokrasi yang tak berujung. Pada akhirnya, tidak ada seorang pun yang akan dimintai pertanggungjawaban sepadan.

Kematian Affan akan tereduksi menjadi sebuah kasus, sebuah nomor dalam tumpukan berkas, dan keadilan bagi nyawanya akan tersesat di dalam koridor-koridor kekuasaan yang dingin dan anonim. Ini adalah mekanisme di mana kekerasan negara melanggengkan dirinya sendiri: Dengan menghilangkan wajah pelaku dan mengubah tragedi menjadi statistik.

Ketika dialog tersumbat dan ketika musyawarah hanya menjadi fasad, maka yang tersisa hanyalah teriakan dan bentrokan. Kekerasan, seperti kata Arendt, pada dasarnya bersifat instrumental. Namun, instrumen ini memiliki kecenderungan yang berbahaya: Ia sering kali mengalahkan tujuan yang hendak tercapai.

Tujuan negara adalah ketertiban, tetapi kekerasan yang digunakannya untuk mencapai ketertiban itu justru menabur benih-benih kekacauan yang lebih parah. Kekerasan mungkin bisa membubarkan kerumunan dalam satu malam, tetapi ia melahirkan luka, dendam, dan ketidakpercayaan yang akan bertahan selama bertahun-tahun. Ia merusak jalinan sosial yang rapuh yang seharusnya terjaga.

Prasasti Bisu

Di tengah puing-puing sisa bentrokan, di antara selongsong gas air mata dan bau hangus ban yang terbakar, terbaring pertanyaan fundamental tentang masa depan kita sebagai sebuah bangsa. Kekerasan yang merenggut nyawa Affan Kurniawan bukanlah insiden terisolasi.

Kematiannya adalah puncak gunung es dari realitas di mana kekuasaan semakin terpisah dari rakyatnya. Kematiannya adalah pengingat tragis bahwa aparatus negara, yang seharusnya menjadi pelindung, dapat menjadi ancaman paling mematikan.

Seperti yang Arendt peringatkan, kekerasan mungkin dapat menghancurkan kekuasaan, tetapi ia sama sekali tidak mampu menciptakannya. Setiap pentungan yang terayunkan, setiap peluru gas air mata yang ditembakkan ke arah warga negaranya sendiri, adalah erosi bagi legitimasi negara itu sendiri.

Negara mungkin berhasil memenangkan jalanan malam itu, tetapi ia telah kalah dalam pertarungan yang jauh lebih penting. Pertarungan untuk memenangkan hati dan pikiran rakyatnya.

Darah Affan Kurniawan yang mengering di aspal depan gedung parlemen adalah tanda dari kekalahan itu. Ia adalah prasasti bisu yang mengingatkan kita bahwa ketika negara hanya bisa berbicara dengan bahasa kekerasan, ia sebenarnya sudah tidak punya apa-apa lagi untuk ia katakan.

Daftar Pustaka

Arendt, Hannah. ‘On Violence’. Harcourt Brace Jovanovich: San Diego, 1970.

Žižek, Slavoj. ‘Violence’. Profile Books: London, 2008.

Tags: Affan KurniawanaksiDemonstrasiHannah ArendtkeadilankebijakanKekerasan Subektifpolitik
Fadlan

Fadlan

Penulis lepas dan tutor Bahasa Inggris-Bahasa Spanyol

Terkait Posts

Jaringan KUPI
Publik

Jaringan KUPI Dorong Implementasi Fatwa hingga Tingkat Kebijakan

12 Januari 2026
Masak Bukan Kodrat
Personal

Masak Bukan Kodrat: Kampanye Kesetaraan Gender

12 Januari 2026
Pendidikan Tinggi Perempuan
Publik

Membuka Akses dan Meruntuhkan Bias Pendidikan Tinggi Perempuan

7 Januari 2026
Tertawa
Aktual

Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

5 Januari 2026
Disabilitas Rentan Kekerasan
Publik

Disabilitas Rentan Kekerasan Namun Sulit Akses Keadilan

3 Januari 2026
Ulama Perempuan pada
Publik

Komitmen Ulama Perempuan pada Keadilan dan Kemaslahatan

2 Januari 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Real Food

    Real Food, Krisis Ekologi, dan Ancaman di Meja Makan Kita

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sahabat Tuli Salatiga: Representasi Gerakan Kelompok Disabilitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemerintah dan Masyarakat Didorong Berkolaborasi Jaga Kelestarian Lingkungan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Hadapi Tantangan Serius Akibat Kerusakan Lingkungan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kerusakan Lingkungan Berdampak Luas pada Ekonomi, Sosial, dan Budaya Masyarakat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Pesantren Jadi Basis Pendidikan yang Peduli Terhadap Lingkungan
  • Pemimpin yang Melayani: Ciri Khas Kepemimpinan Kristiani
  • Pesantren Jadi Ruang Strategis Membangun Kepedulian Kelestarian Alam
  • Melampaui Maskulinitas Qur’ani: Catatan dari Konferensi American Academy of Religion (AAR) 2025
  • Membangun Kesadaran Sejak Dini untuk Menjaga Kelestarian Alam

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Selamat Datang!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Home
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID