Mubadalah.id – Kemiskinan memang selalu kejam. Dampaknya bukan hanya tentang kesejahteraan hidup sebuah keluarga, melainkan anak juga ikut jadi korban. Sebab kemiskinan, sosok ayah biasanya tak lagi punya kesempatan untuk hadir dalam kehidupan anaknya karena waktunya telah habis untuk bekerja dan bekerja.
Dalam kondisi demikian ini, ia pastinya juga ada di persimpangan jalan dengan perasaan yang tidak karuan. Kalau memilih hadir dalam kehidupan sang anak, keluarga nanti tidak makan (bagi orang yang hidup dalam kemiskinan, dalam benak mereka akan ada selalu pertanyaan “besok bisa makan apa tidak, ya?” Bukan sebatas bertanya “besok makan apa, ya?”) karena tak bekerja. Sementara kalau memilih bekerja, konsekuensinya adalah terpaksa absen dari kehidupan sang anak.
Dalam hemat penulis, kemiskinan memang problem sosial yang semestinya patut kita carikan solusinya bersama-sama. Karena kemiskinan tak sekadar berdampak pada ketidaknyamanan hidup sebuah keluarga, melainkan juga mengancam masa depan seorang anak yang menjadi generasi penerus bangsa. Kita pasti tahu bukan, bahwa anak yang dibesarkan dengan kehadiran sosok ayah dengan yang tidak, pasti akan berbeda saat dewasa nantinya.
Empat Jenis Ayah di Dunia
Dalam buku “Fatherless: Andai Ayah Dengar Ini”, karya Rachmat Reza, dijelaskan setidaknya ada empat jenis ayah di dunia ini. Salah satunya adalah “ayah patung”. Secara sederhana, “ayah patung” adalah sosok ayah yang secara lahiriah dia ada, namun secara batiniah ia tak pernah maujud dalam lingkup keluarganya. Apalagi dalam kehidupannya anaknya. Ia memang “ada” secara jasadnya, tapi diam tak melakukan apapun. Sehingga kata “ayah hadir” dalam kehidupan sang anak menjadi mimpi yang tak berkesudahan.
Bagi “ayah patung”, tuntutan pekerjaan dan keterbatasan waktu selalu menjadi alasan utama dari kekuranghadiran, atau bahkan ketidakhadiran ayah di rumah. Bahkan, lebih ironinya lagi, alam pengamatan penulis, “ayah patung” ini biasanya memiliki pola pikir bahwa kewajibannya hanyalah kerja dan mencari uang untuk menafkahi keluarga. Sampai di rumah energinya sudah habis atau setidaknya kepalanya sudah sangat pening dengan berbagai tuntutan kebutuhan di tengah gaji yang jauh dari kata ‘sekadar cukup’.
Melihat fakta di lapangan yang menyedihkan ini, penulis termenung cukup lama. Meskipun kebiasaan “ayah patung” semacam ini tak boleh kita normalisasi. Penulis berpikir bahwa kondisi “ayah patung” yang serba terhimpit dari segala sisi ini sejatinya tidak terjadi atas unsur kesengajaan, tapi memang terjadi karena faktor keadaan yang mendesak terus-menerus.
Lantas bagaimana solusi atas problem yang begitu carut-marut ini? Bagaimana cara agar sosok ayah tidak boleh sekadar “ada”, melainkan harus benar-benar “hadir” dalam hidup anaknya?
Tiga Solusi Atasi Problem Kemiskinan
Melalui tulisan sederhana ini, penulis menyampaikan beberapa cara yang dapat ia tawarkan sebagai solusi atas problem kemiskinan yang berimbas pada pengasuhan anak ini. Setidaknya ada tiga solusi yang dapat kita lakukan, yakni:
Pertama, dari pemerintah negara, pihaknya harus menjamin, atau paling minimal membantu mengusahakan kesejahteraan rakyatnya sebagaimana undang-undang yang berlaku. Mekanismenya dapat dieksekusi melalui kebijakan pemberian upah yang layak dan adil. Yaitu melalui pemberian bantuan sosial yang bersifat produktif, bukan konsumtif, dan beberapa cara lain yang inovatif.
Hal ini dapat benar-benar terwujud bila pihak pemerintah memang peduli dan hadir kepada rakyatnya. Namun, bila tidak ada kesungguhan, tentu saja kita tak bisa berharap apa-apa lagi kepada negara. Yang bisa kita lakukan hanyalah terus berusaha di atas pundak sendiri.
Kedua, dari sesama pasangan. Antara pihak suami dan istri–yang kemudian hari menyandang status sebagai ayah dan ibu–harus ada komunikasi yang baik dalam mengasuh anak. Dan ini semestinya perlu menjadi obrolan sebelum kelahiran anak terjadi, atau lebih baik lagi sebelum pernikahan benar-benar digelar. Karena pembagian peran dalam rumah tangga, termasuk perihal pengasuhan anak, perlu dibuat dan disepakati.
Demikian ini karena pengasuhan anak adalah kewajiban bersama. Bukan tugas ayah saja. Bukan pula tugas ibu saja. Melainkan tugas berdua. Ketika keduanya memiliki pembagian peran yang apik dan saling melengkapi, maka Insya Allah pengasuhan anak adalah kondisi kemiskinan yang menerpa akan sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali.
Ketiga, dari pihak sang ayahnya sendiri. Untuk mengentaskan diri dan keluarga dari badai kemiskinan yang menerpa, ayah sebisa mungkin perlu untuk memiliki skill dan ilmu/wawasan yang luas. Idealnya, semakin banyak punya ilmu dan skill, semakin banyak pula pilihan karier, apalagi jika bertambah dengan memilki relasi yang terus berkembang.
Menjadi Sosok Ayah yang Hadir dalam Pengasuhan Anak
Dengan begitu, ia bisa memilih karier tertentu yang sekiranya tetap mampu hadir dalam proses tumbuh kembang sang anak dan membersamainya melalui pengasuhan dan pendidikan yang baik. Tentu saja tanpa mengabaikan kewajiban memberikan nafkah kepada keluarga. Maka, sebagai sesama lelaki, yang kelak menjadi seorang ayah atau mungkin saat ini telah menyandang status tersebut, penulis ingin mengingatkan diri sendiri dan juga diri kita semua agar jangan malas belajar.
Milikilah ilmu, milikilah skill, dan milikilah relasi yang sehat, agar kita dapat memilih karier yang dapat menghidupi keluarga tanpa kehilangan hidup bersama keluarga. Sehingga, masa depan keluarga yang sehat Insya Allah bisa terwujud dan sebagai sosok ayah kita dapat benar-benar “hadir” dalam pengasuhan anak kita.
Demikian tiga cara yang semoga dapat menjadi solusi atas problem kemiskinan ini. Semoga kita semua senantiasa diberikan kecukupan rezeki dan dimudahkan jalan mendapatkan rezeki oleh Allah SWT. Agar kita dapat menghidupi orang-orang yang kita sayangi tanpa harus kehilangan hidup bersama mereka. Sekian. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam. []
Referensi:
Reza, Rachmat. (2024). Fatherless: Andai Ayah Dengar Ini. Yogyakarta: Buku Mojok.









































