Mubadalah.id – Ada yang unik dari media sosial saat masa lebaran akhir-akhir ini. Dalam unggahan sebuah akun media sosial X, seseorang menuliskan bahwa di daerah kawasan Arab dan Timur Tengah momentum Iduladha menjadi “lebaran besar” bukan saat “Idulfitri”. Lantas, mengapa orang-orang di Indonesia merayakan Idulfitri dengan meriah dengan kegiatan mudik (pulang ke kampung halaman) padahal di tanah Arab dan kawasan timur tengah, setelah selesai ramadan Idulfitri menjadi hari yang biasa tanpa perayaan.
Menarik, sebuah tulisan yang menurut saya reflektif namun tidak memiliki empati. Narasi-narasi tersebut sebetulnya tanpa sadar menghakimi bagaimana sebuah budaya berkembang di Indonesia. Kultur masyarakat Muslim di Indonesia dihakimi dan dipandang timpang (redaksi aslinya: tidak sesuai dengan kultur muslim masyarakat Arab yang sejatinya Islam turun pertama kali di tanah Arab).
Saya rasa, kondisi masyarakat baik secara budaya, bahasa, makanan, atau tradisi tentu dipengaruhi oleh aspek geografi dan kondisi alamnya. Sehingga, sebetulnya kurang berempati jika membandingkan kegiatan Idulfitri di Indonesia dengan di tanah Arab. Terlebih, Islam berkembang untuk seluruh masyarakat di dunia, bukan hanya Arab saja.
Di Balik Layar Perbedaan Tradisi
Sepertinya saya beruntung karena sebuah akun menjelaskan terjadinya perbedaaan (menurut opini pribadi pemilik akun). Iduladha di tanah Arab dan kawasan timur tengah lebih identik dengan budaya berkurban karena salah satu budaya mengonsumsi daging lebih kuat. Selain itu diperkuat dengan daerah kawasan tersebut memiliki kondisi iklim yang mendukung untuk mengembangkan peternakan. Juga, karena negara-negara di tanah Arab dulu lebih accessible dalam menjalankan Ibadah haji.
Berbeda dengan masyarakat di Asia Tenggara, puasa lebih mudah kita praktikkan daripada beribadah haji pada zaman dulu. Sehingga, puasa dalam satu bulan penuh juga menjadi latar belakang mengapa pencapaian puasa perlu dirayakan dengan kebersyukuran. Selain itu, daerah Asia Tenggara juga merupakan kawasan agraris yang sangat berbeda kondisi geografinya dengan tanah Arab.
Karena Islam datang dengan amanat Rahmatan lil’alamin (rahmat bagu seluruh alam), maka seharunya perbedaan lebaran idulfitri dan Iduladha tidak perlu menjadi masalah. Apalagi jika mengkritik sebuah budaya tanpa melibatkan rasa empati.
Setiap kultur masyarakat memiliki pemaknaan berbeda-beda tentang hari raya sesuai dengan kondisi sosial-budayanya. Bukan berarti, jika suatu kultur Muslim di bagian bumi yang lain tidak sesuai dengan kultur Arab, maka ada narasi yang menyebut tradisi tersebut menyimpang. Karena Islam tidak hanya tentang Arab saja. Islam terbuka bagi semua.
Berbicara mengenai tradisi lebaran di Indonesia, sepekan setelah 1 syawal biasanya terdapat tradisi lebaran kupat. Sebuah tradisi yang berdasar pada konsep bentuk kebersyukuran yang memiliki nilai-nilai agraris. Apa itu tradisi Lebaran Kupat?
Lebaran Kupat
Lebaran Kupat atau lebaran ketupat merupakan tradisi sosial keagamaan yang berkembang dalam rangkaian perayaan Idulfitri di Indonesia. Tradisi ini umumnya terlaksanakan pada tanggal 8 Syawal, sekitar satu pekan setelah hari raya Idulfitri, beriringan dengan praktik puasa sunah Syawal selama enam hari. Ciri utama perayaan ini terletak pada penyajian dan konsumsi ketupat bersama berbagai hidangan pendamping sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.
Secara historis, Lebaran Ketupat berakar dari tradisi masyarakat Jawa oleh Sunan Kalijaga, salah satu tokoh dalam Wali Songo. Tradisi ini termaknai sebagai pelengkap spiritual setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan dan puasa sunah Syawal. Praktik tersebut sebagai upaya menyempurnakan siklus ibadah tahunan melalui penguatan nilai syukur dan kebersamaan dalam kehidupan sosial.
Perkembangan Lebaran Ketupat meluas ke berbagai wilayah di luar Jawa seiring dengan penyebaran ajaran Islam oleh para murid Wali Songo. Tradisi ini kemudian beradaptasi dengan konteks lokal di berbagai daerah seperti Kalimantan, Lombok, Sulawesi, dan Maluku, sehingga membentuk variasi praktik budaya yang tetap mempertahankan esensi perayaan.
Dalam perspektif keislaman, Lebaran Ketupat dipandang sebagai ekspresi budaya yang selaras dengan prinsip syariat. Tradisi tersebut sebagai bentuk perayaan sosial yang menegaskan nilai silaturahmi, berbagi makanan, serta mempererat hubungan antarmasyarakat. Kegiatan berfokus pada aspek sosial dan kultural, tanpa menambahkan bentuk ibadah ritual baru dalam ajaran Islam.
Secara geografis, Lebaran Ketupat dikenal dengan berbagai sebutan di beberapa daerah. Di wilayah Jawa, tradisi ini disebut sebagai kupatan atau bada kupat, termasuk dalam komunitas diaspora Jawa di berbagai daerah. Di Lombok, masyarakat mengenalnya sebagai Lebaran Topat. Sedangkan di Madura, istilah yang digunakan adalah tellasan topa’, termasuk dalam komunitas perantau Madura.
Filosofi: Ngaku Lepat dan Laku Papat
Lebaran ketupat atau lebaran kupat memiliki makna ngaku lepat dan laku papat. Filosofi ngaku lepat merujuk pada sikap mengakui kesalahan dengan penuh kesadaran. Nilai ini mendorong setiap orang untuk saling meminta maaf dan memperbaiki hubungan dengan sesama setelah perayaan Idulfitri.
Sementara itu, laku papat menggambarkan empat makna yang ibaratnya dari bentuk ketupat yang memiliki empat sisi. Pertama, lebaran, yaitu penanda selesainya ibadah puasa. Kedua, luberan, yang bermakna berbagi rezeki kepada orang lain melalui sedekah dan kebersamaan. Ketiga, leburan, yang menunjukkan proses melebur kesalahan melalui saling memaafkan. Keempat, laburan, yang berarti menyucikan diri sehingga kembali pada keadaan bersih seperti warna putih isi ketupat.
Ketupat yang terbungkus dengan janur kuning juga memiliki makna simbolik. Janur sebagai lambang cahaya dan petunjuk hidup, sehingga manusia mampu menjalani kehidupan dengan arah yang baik.
Refleksi
Tidak setiap tahun saya merayakan lebaran kupat. Tapi, ketika saya merayakan lebaran kupat, satu keluarga berlomba-lomba membuat ketupat yang besar dengan anyaman yang rapi. Dalam setiap anyaman ketupatnya, kami banyak berdoa semoga kami masih mendapatkan kesempatan untuk bertemu Ramadan tahun depan, berkumpul bersama anggota keluarga dengan keadaan sehat, dan dapat berbagi hidangan-hidangan kupatan antar sesama tetangga.
Lebaran kupat tak pernah sekalipun mengurangi esensi dari Idulfitri. Justru, lebaran kupat mengambarkan betapa bahagianya masyarakat Indonesia dengan memanfaatkan pemberian Tuhan berupa potensi hasil sumber daya agraris yang bermanfaat untuk kegiatan beribadah secara sosial. []








































