Kamis, 2 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Anak Disabilitas

    Stabilitas Keluarga, Kunci Utama Menjaga Hak Anak Disabilitas

    Masa Depan Anak

    Momen Lulus Sekolah: Siapa yang Berhak Menentukan Masa Depan Anak?

    Memaknai Mahar

    Memaknai Mahar sebagai Penghormatan, Bukan Pembelian

    ToT KUPI

    ToT KUPI: Memahami Jejak Keulamaan Perempuan hingga Anatomi Gerakan KUPI

    Budaya FOMO

    Bahaya Budaya FOMO dalam Meningkatkan Sampah

    Quiet Quitting

    Quiet Quitting dalam Pernikahan: Ketika Pasangan Masih Serumah, tetapi Berhenti Saling Mengusahakan

    Ensiklik Magnifica Humanitas

    AI dan Martabat: Refleksi atas Ensiklik Magnifica Humanitas

    Hukum Transaksi Finansial bagi Disabilitas

    Bagaimana Hukum Transaksi Finansial bagi Disabilitas dalam Islam

    Kehamilan yang Terencana

    Kehamilan yang Terencana Dimulai dari Kerja Sama Suami-Istri Bersama Aplikasi Flo

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Aborsi

    Aborsi Menurut Hukum Indonesia

    Aborsi legal

    Sulitnya Akses Aborsi Legal dan Bahaya Praktik Aborsi Ilegal

    Aborsi

    Kapan Aborsi Diperbolehkan? Memahami Ketentuan di Berbagai Negara

    Aborsi

    Aborsi Tidak Aman Mengancam Nyawa: Hindari Cara-cara Berbahaya Ini

    Aborsi Aman

    Aborsi Aman dan Tidak Aman: Memahami Perbedaannya Demi Keselamatan Perempuan

    Aborsi

    Aborsi Bukan Keputusan yang Mudah: Memahami Alasan dan Risikonya

    Keguguran ini

    Mengalami Keguguran? Ini Langkah-langkah yang Perlu Dilakukan Sebelum Program Hamil Lagi

    Rumah Tangga yang

    Membangun Relasi Ekonomi Rumah Tangga yang Adil dan Setara

    Keguguran

    Mengapa Terjadi Keguguran? Kenali Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Anak Disabilitas

    Stabilitas Keluarga, Kunci Utama Menjaga Hak Anak Disabilitas

    Masa Depan Anak

    Momen Lulus Sekolah: Siapa yang Berhak Menentukan Masa Depan Anak?

    Memaknai Mahar

    Memaknai Mahar sebagai Penghormatan, Bukan Pembelian

    ToT KUPI

    ToT KUPI: Memahami Jejak Keulamaan Perempuan hingga Anatomi Gerakan KUPI

    Budaya FOMO

    Bahaya Budaya FOMO dalam Meningkatkan Sampah

    Quiet Quitting

    Quiet Quitting dalam Pernikahan: Ketika Pasangan Masih Serumah, tetapi Berhenti Saling Mengusahakan

    Ensiklik Magnifica Humanitas

    AI dan Martabat: Refleksi atas Ensiklik Magnifica Humanitas

    Hukum Transaksi Finansial bagi Disabilitas

    Bagaimana Hukum Transaksi Finansial bagi Disabilitas dalam Islam

    Kehamilan yang Terencana

    Kehamilan yang Terencana Dimulai dari Kerja Sama Suami-Istri Bersama Aplikasi Flo

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Aborsi

    Aborsi Menurut Hukum Indonesia

    Aborsi legal

    Sulitnya Akses Aborsi Legal dan Bahaya Praktik Aborsi Ilegal

    Aborsi

    Kapan Aborsi Diperbolehkan? Memahami Ketentuan di Berbagai Negara

    Aborsi

    Aborsi Tidak Aman Mengancam Nyawa: Hindari Cara-cara Berbahaya Ini

    Aborsi Aman

    Aborsi Aman dan Tidak Aman: Memahami Perbedaannya Demi Keselamatan Perempuan

    Aborsi

    Aborsi Bukan Keputusan yang Mudah: Memahami Alasan dan Risikonya

    Keguguran ini

    Mengalami Keguguran? Ini Langkah-langkah yang Perlu Dilakukan Sebelum Program Hamil Lagi

    Rumah Tangga yang

    Membangun Relasi Ekonomi Rumah Tangga yang Adil dan Setara

    Keguguran

    Mengapa Terjadi Keguguran? Kenali Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Desakralisasi Hari Raya Idulfitri Sebagai Hari Kemenangan

Apakah kita sungguh-sungguh merayakan sesuatu yang sakral, ataukah hanya seremoni sosial yang kita bungkus dengan bahasa agama?

Achmad Sofiyul by Achmad Sofiyul
20 Maret 2026
in Publik
A A
0
Hari Raya

Hari Raya

27
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Banyak dari kalangan yang menafsirkan IdulfFitri sebagai nilai kemenangan, kesenangan dan kesucian. Namun benarkah pemahaman tersebut telah membebaskan diri seseorang?

Sebuah kewajiban yang sangat profan bagi umat Islam pada setiap tahun untuk menyambut bulan Ramadan yang kita buka dengan berpuasa dan Idulfitri sebagai penutupnya. Bulan ini berbeda dengan yang lain, rasa-rasanya memiliki peradaban tersendiri yang terbalut dalam hikmah kesucian yang tercerahkan. Yakni dengan turunnya wahyu kepada utusan Nabi Muhammad SAW berupa Al-Qur’an (Nuzul Al-Qur’an).

Momen-momen yang terkandung di dalamnya juga menggiurkan, bagi umat muslim seakan-akan mereka mereset, merecall dan juga merekonstruksi kehidupannya dengan menata kembali orientasi spiritual, memperbaiki relasi sosial, serta menundukkan ego dan hasrat yang selama ini kerap mendominasi kehidupan sehari-hari.

Namun di balik hal itu semua, ada pertanyaan yang sering terlewatkan, apakah kita sungguh-sungguh merayakan sesuatu yang sakral, ataukah hanya seremoni sosial yang kita bungkus dengan bahasa agama?

Tentang Sebelum dan Sesudah Hari Raya

Saat bulan Ramadan, umat Muslim memenuhi kegiatan bulanan dengan mengisi tindakan yang berbeda saat hari biasanya. Ia harus menahan nafsu, lapar dan mimun, dan segala hal yang membatalkan puasa. Tidak hanya itu, tadarus al-Qur’an, kajian keagamaan dan praktik sosial turut mewarnai hari-hari berpuasa Ramadan.

Namun menjelang Idulfitri, lanskap itu berubah drastis segampang membalikkan tangan. Paradoks Idulfitri bermunculan saat akhir Ramadan yang harusnya terpenuhi dengan khidmat Nuzulul Qur’an beralih ke praktik-praktik perbelanjaan.

Praktik belanja pakaian dan jajanan ringan menjelang Idulfitri menjadi kebutuhan dan ritual muslim untuk menyambut perayaan hari raya. Dalam masyarakat tradisional, ini merupakan hal yang wajar, sederhana, dan fungsional. Namun, ketika abad ke-20 perkembangan pasar ekonomi dan budaya modern tampak melejit karena masifnya praktik industrial. Sejak saat itu daya jual beli masyarakat menjadi fenomena konsumsi yang lebih luas dan bersifat konvensional.

Thorstein Veblen memandang hal ini sebagai conspicuous consumption (konsumsi demokratis). Yaitu kecenderungan manusia membeli barang bukan hanya karena kebutuhan, tetapi juga untuk menunjukkan status sosial. Seperti pakaian baru, dekorasi rumah, atau hidangan berlimpah sering menjadi identitas sosial yang menyimbolkan keberhasilan individu secara ekonomi.

Inilah yang menjadikan kemunculan kapitalisme modern menjelang Idul fitri. Pada akhirnya angin kapitalisme modern membentuk watak manusia yang cenderung mengunggulkan diri dan menunjukkan rasa surplus sumber daya, karena meninggalkan fungsi utama dari segala hal, ia fokus pada nilai simbolik dan makna sosial yang melekat pada barang tersebut.

Padahal, dalam perspektif Islam, mengunggulkan diri atau sombong berlandaskan kekayaan merupakan sifat negatif yang harus disterilkan dan harus menumbuhkan rasa empati sosial kemasyarakatan.

Maka, setelah Idulfitri, apakah watak konsumerisme itu tersucikan ketika momen hari raya, atau lestari setelah Idulfitri dan akan bermuara saat Ramadan kembali? Fa aina Tadzhabuun? Apapun jalan yang menjadi pilihan, hendaknya memiliki nilai kemanusiaan dan berkeadilan.

Hari Raya Pembebasan

Bagaimana jadinya apabila Idulfitri menjadi ajang pembebasan dari penjara-penjara ekonomi, budaya, sosial, dan spiritual sekaligus? Dalam konteks ini, perspektif teologi pembebasan Ali Asghar Engineer menemukan titik relevansinya, maka perspektif tersebut digunakan untuk mengokohkan bahwa hari raya adalah proses pembebasan manusia dalam segala tekanan hidupnya.

Bagi Asghar, Islam lahir bukan hanya untuk mengabadikan tatanan yang ada, melainkan untuk meruntuhkannya apabila tatanan itu tertindas. Idulfitri, dalam bingkai ini adalah ritual yang paling kaya sekaligus paling rentan.

Kaya, karena ia mengandung potensi pembebasan yang menyeluruh melampaui batas-batas spiritual dan menyentuh seluruh dimensi kemanusiaan. Rentan, karena seperti yang telah ada, ia paling mudah dibajak oleh logika konsumerisme, hierarki sosial, dan kesalehan yang mandul.

Dalam aspek Ekonomi, zakat fitrah adalah instrumen redistribusi yang terbingkai agar tidak ada seorang pun memasuki hari raya dalam kelaparan. Engineer membacanya bukan sebagai sedekah sukarela, melainkan sebagai kewajiban struktural untuk meruntuhkan tembok pemisah antara yang berlebih dan yang kekurangan.

Aspek sosial, tradisi saling memaafkan dan sungkeman berpotensi sebagai momen pembongkaran hierarki sosial yang mengeras sepanjang tahun. Namun pemaafan yang sejati bukan hanya sekadar gestur sopan santun musiman, tetapi juga keadilan yang kokoh.

Sementara itu, tekanan budaya untuk tampil serba baru, serba cukup, serba sempurna di hari raya adalah penjara budaya yang memaksa orang berhutang demi gengsi. Idulfitri yang membebaskan adalah yang melepaskan manusia dari tirani penilaian sosial ini, bukan yang memperburuknya.

Dan Pietisme individual yang berhenti pada kesalihan pribadi, tanpa melahirkan kepekaan terhadap empati orang lain adalah bentuk perbudakan spiritual yang paling halus dan kehilangan roh spiritual itu sendiri.

Dengan demikian, Idulfitri baru layak disebut kemenangan sejati bukan ketika seseorang berhasil menaklukkan dirinya sendiri. Akan tetapi kemenangan bersama yang menjelma menjadi pembebasan. Terutama bagi mereka yang selama ini terpenjara dalam kelaparan, kehinaan, dan ketidakadilan yang kita biarkan berlangsung diam-diam sepanjang tahun. []

Tags: Hari KemenanganHari Raya Idulfitri 1447 HHikmah RamadanlebaranPembebasan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Berlebaran dengan Baju Lama dan Kaleng Biskuit Isi Rengginang

Next Post

Kondisi Hidup Perempuan Miskin Berisiko Tinggi terhadap Kesehatan

Achmad Sofiyul

Achmad Sofiyul

Bernafas, nir-intelektuil, dan suka eksis di IG @achmadyullllll_

Related Posts

Nyai Siti Walidah
Profil

Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

21 Mei 2026
Ketakwaan
Hikmah

Menjalin Silaturahmi adalah Bentuk Ketakwaan kepada Allah Swt

27 Maret 2026
Lebaran
Lingkungan

Lebaran dari Sampah

27 Maret 2026
Lebaran Tanpa Mudik
Personal

Lebaran Tanpa Mudik Tetap Asik dan Bermakna

26 Maret 2026
Lebaran
Personal

Silaturahmi yang Melelahkan: Ketika Lebaran Tak Selalu Menyenangkan

26 Maret 2026
Hari Kemenangan
Hikmah

Mengakui Kekalahan di Hari Kemenangan; Apa yang Belum Kita Miliki?

25 Maret 2026
Next Post
Kesehatan Perempuan yang

Kondisi Hidup Perempuan Miskin Berisiko Tinggi terhadap Kesehatan

No Result
View All Result

TERBARU

  • Stabilitas Keluarga, Kunci Utama Menjaga Hak Anak Disabilitas
  • Aborsi Menurut Hukum Indonesia
  • Momen Lulus Sekolah: Siapa yang Berhak Menentukan Masa Depan Anak?
  • Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik
  • Memaknai Mahar sebagai Penghormatan, Bukan Pembelian

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0