Mubadalah.id – Ramadan selalu terasa seperti perjalanan yang hangat dan penuh makna. Di awal bulan, kita menyambutnya dengan semangat yang menggebu. Masjid ramai, tilawah Al-Qur’an terasa lebih hidup, dan banyak orang berusaha memperbaiki kebiasaan sehari-hari. Namun, akhir Ramadan juga sebenarnya memiliki bagian yang paling istimewa di ujungnya. Malam- malam terakhir sering digambarkan seperti rembulan yang bersinar di antara bintang-bintang.
Menariknya, Rasulullah saw justru menunjukkan semangat yang semakin kuat ketika Ramadan memasuki fase ini. Sayyidah Aisyah ra meriwayatkan:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
Artinya:
“Ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan, Nabi Muhammad saw mengencangkan ikatan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari).
Hadis ini memberi gambaran sederhana sekaligus kuat, Nabi tidak mengendurkan ibadah saat akhir Ramadan hampir selesai. Beliau justru semakin serius menjalaninya.
Mengencangkan Sarung
Ungkapan “mengencangkan sarung” dalam hadis itu tentu bukan sekadar gambaran fisik. Para ulama memahaminya sebagai kiasan tentang kesungguhan. Mazharuddin Az-Zaidani dalam Al-Mafatih fi Syarhil Mashabih menjelaskan bahwa ungkapan tersebut menggambarkan bagaimana Nabi benar-benar fokus pada ibadah di sepuluh malam terakhir. Beliau mengurangi aktivitas lain yang bisa mengalihkan perhatian dari upaya mendekat kepada Allah.
Dalam penjelasan lain, sikap itu juga menunjukkan bahwa Nabi menjaga diri dari hubungan intim dengan pasangan agar bisa memaksimalkan ibadah. Pesan ini terasa sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini. Tidak sedikit orang yang justru mulai “kehabisan tenaga” ketika Ramadan hampir selesai. Padahal, jika Ramadan diibaratkan seperti perjalanan, sepuluh malam terakhir adalah bagian yang paling menentukan.
Seorang ulama pernah berkata, “Amal itu dinilai dari penutupnya.” Artinya, akhir perjalanan sering kali memberi warna paling kuat pada keseluruhan perjalanan itu.
Menghidupkan Malam
Hadis dari Sayyidah Aisyah juga menyebutkan bahwa Nabi “menghidupkan malamnya”. Syamsuddin Al-Birmawi dalam Al-Lami’us Shabih bi Syarhil Jami’ As-Shahih menjelaskan bahwa Nabi memperbanyak shalat malam, doa, dan berbagai bentuk ibadah lainnya.
Hal yang menarik, Nabi tidak menjalani ibadah itu sendirian. Beliau juga membangunkan keluarganya. Ini menunjukkan bahwa ibadah dalam Islam tidak selalu bersifat individual. Nabi menghadirkan suasana ibadah itu di dalam rumah. Sepuluh malam terakhir menjadi momen kebersamaan yang dipenuhi doa, tilawah, dan salat malam.
Bayangkan sebuah rumah yang lampunya redup, tetapi suara tilawah dan doa terdengar pelan di tengah malam. Ada ketenangan yang berbeda dalam suasana seperti itu. Ibadah yang dilakukan bersama sering terasa lebih hangat. Ia bukan hanya menguatkan hubungan dengan Allah, tetapi juga mempererat hubungan dalam keluarga.
Doa Sederhana yang Dalam Maknanya
Di sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah juga mengajarkan sebuah doa yang sangat sederhana tetapi penuh makna. Doa itu berbunyi:
اَللّٰهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Artinya:
“Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai ampunan, maka ampunilah aku.”
Doa ini terasa begitu singkat, tetapi menyimpan pesan yang dalam. Rasulullah tidak mengajarkan doa panjang yang berisi banyak permintaan. Beliau justru mengajarkan doa yang fokus pada satu hal: memohon ampunan.
Seolah-olah Nabi ingin mengingatkan bahwa hadiah terbesar dari Ramadan bukan sekadar pahala, tetapi hati yang dibersihkan dari kesalahan. Seorang ulama pernah berkata, “Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi tentang membersihkan hati.” Doa ini menjadi cara sederhana untuk merawat kebersihan hati itu.
Menutup Ramadan dengan Cara Terbaik
Sepuluh terakhir Ramadan sering terasa seperti halaman-halaman terakhir dari sebuah buku yang indah. Kita tentu ingin menutupnya dengan kesan yang baik. Tidak masalah jika perjalanan Ramadan kita belum sempurna. Tidak masalah jika di awal bulan kita sempat lalai. Sepuluh malam akhir Ramadan selalu membuka peluang baru untuk memperbaiki semuanya.
Di tengah langit malam yang dipenuhi bintang, rembulan selalu tampak paling terang. Begitu juga dengan sepuluh hari terakhir Ramadan. Ia hadir sebagai cahaya yang mengingatkan kita untuk kembali mendekat kepada Allah. Barangkali di sanalah letak keindahan Ramadan yang sebenarnya: selalu ada kesempatan untuk kembali, bahkan di detik-detik terakhirnya. []











































