Minggu, 22 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Disabilitas Netra

    MAQSI sebagai Wujud Inklusivitas Qur’ani terhadap Disabilitas Netra

    Disabilitas Empati

    Disabilitas Empati Masyarakat Kita

    Ibu Muda Bunuh Diri

    Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?

    UU Perkawinan

    Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan

    Feminization of Poverty

    Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

    Refleksi Puasa

    Puasa yang menyatukan: Refleksi Puasa dalam Katolik dan Islam

    Kemiskinan

    Tentang Kemiskinan; Isi Perut Terjamin, Masa Depan Dibiarkan Kosong

    Ramadan dan Lingkungan

    Ramadan, Lingkungan dan Jihad An-Nafs

    Mubadalah dan Disabilitas

    Mubadalah dan Disabilitas: Dari Simpati ke Relasi Keadilan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    ghaddul bashar

    Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

    Pernikahan

    Relasi Pernikahan yang Toxic itu Haram

    Hukum Menikah

    Ulama Fiqh Tekankan Akhlak Relasi sebagai Pertimbangan Hukum Menikah

    Hukum Menikah

    Perbedaan Pandangan Ulama tentang Hukum Menikah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Disabilitas Netra

    MAQSI sebagai Wujud Inklusivitas Qur’ani terhadap Disabilitas Netra

    Disabilitas Empati

    Disabilitas Empati Masyarakat Kita

    Ibu Muda Bunuh Diri

    Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?

    UU Perkawinan

    Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan

    Feminization of Poverty

    Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

    Refleksi Puasa

    Puasa yang menyatukan: Refleksi Puasa dalam Katolik dan Islam

    Kemiskinan

    Tentang Kemiskinan; Isi Perut Terjamin, Masa Depan Dibiarkan Kosong

    Ramadan dan Lingkungan

    Ramadan, Lingkungan dan Jihad An-Nafs

    Mubadalah dan Disabilitas

    Mubadalah dan Disabilitas: Dari Simpati ke Relasi Keadilan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    ghaddul bashar

    Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

    Pernikahan

    Relasi Pernikahan yang Toxic itu Haram

    Hukum Menikah

    Ulama Fiqh Tekankan Akhlak Relasi sebagai Pertimbangan Hukum Menikah

    Hukum Menikah

    Perbedaan Pandangan Ulama tentang Hukum Menikah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Buku

Mitos sebagai Jalan Alternatif Mitigasi Krisis Iklim Sungai Mahakam

Kisah Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam, misalnya, tidak dapat terlepaskan dari sejarah Sungai Mahakam dan peradaban budaya Kutai.

Aji Cahyono by Aji Cahyono
6 Januari 2026
in Buku
A A
0
Mitigasi Krisis Iklim

Mitigasi Krisis Iklim

26
SHARES
1.3k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Pernahkah kita membayangkan bahwa apa yang selama ini kita sebut sebagai “mitos” justru dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam upaya mitigasi dan pencegahan krisis iklim? Selama ini, krisis iklim kerap kita pahami semata-mata sebagai persoalan teknis. Yakni tentang naiknya suhu global, perubahan pola cuaca, degradasi lingkungan, atau berkurangnya keanekaragaman hayati.

Padahal, krisis iklim sejatinya adalah fenomena multidimensional yang tidak hanya berhubungan dengan kerusakan fisik alam. Tetapi juga menyangkut cara manusia membangun relasi simbolik, kultural, spiritual, dan politik dengan lingkungan hidupnya.

Dalam konteks inilah, mitos memperoleh relevansi baru. Mitos dapat kita pahami sebagai narasi tradisional yang hidup dalam ingatan kolektif suatu masyarakat, yang memuat makna simbolis tentang asal-usul alam semesta. Lalu hubungan manusia dengan makhluk lain, serta keberadaan kekuatan adikodrati.

Lebih dari sekadar cerita rakyat, mitos kita yakini sebagai kebenaran kultural yang berfungsi sebagai pedoman moral, penjelas fenomena alam, sekaligus penjaga nilai-nilai sosial. Mitos membentuk identitas kolektif, mengatur perilaku manusia, dan menanamkan etika dalam berelasi dengan alam.

Mitos, Mitigasi dan Krisis Iklim

Buku Mitos, Mitigasi, dan Krisis Iklim karya Nabillah Kurniati dan Dewi Candraningrum hadir menawarkan cara pandang yang berbeda terhadap krisis ekologis kontemporer. Buku ini mengajak pembaca untuk kembali merawat alam semesta sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap masyarakat adat. Terutama perempuan, melalui pembacaan ulang dunia mitos.

Alih-alih mengandalkan pendekatan teknokratis atau diskursus kebijakan iklim global yang sering kali terasa jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat, buku ini justru berangkat dari narasi mitologis lokal. Yakni kisah Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam.

Pendekatan semacam ini sejalan dengan perkembangan kajian lingkungan kritis yang menempatkan pengetahuan lokal, kosmologi masyarakat adat, serta ingatan kultural sebagai sumber penting dalam memahami krisis ekologis dewasa ini. Dalam kerangka ini, mitos tidak lagi kita posisikan sebagai cerita irasional atau sisa-sisa kepercayaan masa lalu, melainkan sebagai teks kultural yang menyimpan etika ekologis dan memori kolektif tentang hubungan manusia dengan alam (Malinowski, 1926).

Kurniati dan Candraningrum membangun argumen utama bahwa mitos Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam mengandung nilai-nilai ekologis yang relevan untuk kita baca. Ini sebagai bentuk mitigasi kultural terhadap kerusakan lingkungan. Sungai Mahakam tidak kita pahami sekadar sebagai objek eksploitasi ekonomi, melainkan sebagai entitas hidup yang memiliki makna sosial, spiritual, dan ekologis bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Pendekatan Interdisipliner

Melalui pendekatan interdisipliner yang menggabungkan kajian budaya lokal, ekofeminisme, dan ekologi politik, buku ini menafsirkan krisis iklim sebagai krisis relasi. Yakni terputusnya hubungan harmonis antara manusia dan alam akibat dominasi logika pembangunan ekstraktif dan eksploitatif (Escobar, 2018).

Dalam perspektif ini, banjir, degradasi daerah aliran sungai, pencemaran, serta konflik ekologis di kawasan Sungai Mahakam kita pahami sebagai konsekuensi dari pengingkaran terhadap etika ekologis yang dahulu hidup dalam narasi mitologis masyarakat setempat.

Lebih jauh, buku ini memperkaya state of the art kajian ekologi–budaya di Indonesia dengan menjadikan mitos lokal sebagai teks sentral dalam membaca krisis iklim.

Mitos tidak sekadar kita perlakukan sebagai warisan budaya yang patut kita lestarikan, tetapi sebagai arsip ekologis sekaligus perangkat kritik terhadap modernitas yang berwatak ekstraktif. Keunikan lainnya terletak pada integrasi perspektif ekofeminisme dalam konteks lokal Kalimantan Timur. Sebuah pendekatan yang masih relatif jarang dalam literatur Indonesia.

Dengan demikian, buku ini dapat kita posisikan sebagai salah satu kontribusi awal yang penting dalam mengembangkan kajian ekofeminisme berbasis narasi lokal dan sungai sebagai ruang hidup. Ia tidak hanya mengisi kekosongan literatur, tetapi juga menawarkan arah metodologis baru bagi studi ekologi–budaya di Indonesia. Yakni pendekatan yang menggabungkan mitologi, kritik politik, dan analisis gender dalam satu kerangka yang saling terhubung.

Kalimantan: Keyakinan, Budaya, dan Relasi dengan Iklim

Dalam salah satu sub-babnya, Kurniati dan Candraningrum menggambarkan kehidupan masyarakat Kalimantan yang memiliki keterikatan mendalam dengan alam. Yakni melalui dimensi spiritual, budaya lisan, ritual, dan mitos. Bagi banyak komunitas adat di Kalimantan, alam bukanlah sekadar latar kehidupan, melainkan ruang hidup yang terpenuhi makna dan relasi simbolik.

Suku Dayak, misalnya, memaknai alam Kalimantan melalui simbol Burung Enggang yang merepresentasikan dunia atas, sekaligus menjadi penghubung antara langit dan bumi. Burung ini tidak hanya hadir sebagai simbol estetis, tetapi sebagai penanda kosmologis yang mencerminkan pandangan hidup masyarakat Dayak tentang keseimbangan semesta.

Simbolisasi hewan dalam mitos tidak hanya kita temukan pada masyarakat Dayak. Kelompok-kelompok Melayu Kalimantan seperti suku Banjar dan suku Kutai juga mengembangkan simbol-simbol mitologis yang berakar pada ketergantungan mereka terhadap sungai.

Jika masyarakat Dayak memusatkan kosmologinya pada hutan, masyarakat Melayu Kalimantan memusatkannya pada sungai sebagai sumber kehidupan. Dalam konteks ini, Naga mereka posisikan sebagai simbol alam bawah. Penjaga dasar sungai yang tergambarkan dalam wujud besar dan melingkar, sehingga terkenal sebagai Naga Lipat Bumi.

Mitos-mitos yang tumbuh di tanah Kalimantan merupakan hasil perjumpaan kolektif antara manusia, hewan, dan kondisi geografis alam. Ia lahir dari pengalaman hidup sehari-hari, sekaligus menjadi mekanisme sosial untuk membaca tanda-tanda alam, meramalkan bahaya, dan membangun bentuk perlawanan simbolik.

Mekanisme Pengendalian Sosial

Pantangan-pantangan yang terkandung dalam mitos menciptakan konsekuensi kolektif berupa rasa takut dan kepatuhan. Hingga pada akhirnya berfungsi sebagai mekanisme pengendalian sosial agar manusia tidak melampaui batas ekologis yang telah ditetapkan leluhur.

Kisah Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam, misalnya, tidak dapat terlepaskan dari sejarah Sungai Mahakam dan peradaban budaya Kutai. Sungai ini bukan hanya jalur ekonomi dan transportasi, tetapi juga pusat tumbuhnya peradaban, kekuasaan, dan identitas kultural. Sepanjang aliran Mahakam—dari Kutai Lama, Muara Kaman, hingga Mahakam Hulu—terdapat jejak-jejak budaya lokal yang masih hidup dalam praktik keseharian masyarakat.

Secara implisit, Kurniati dan Candraningrum mengajak pembaca untuk memahami bahwa sungai dan hutan di Kalimantan memiliki keterhubungan yang tidak terpisahkan. Di tengah kekayaan sumber daya alam yang melimpah, pembangunan semestinya tidak mengabaikan keseimbangan ekologis. Hutan tropis Kalimantan dengan tanahnya yang subur dan keanekaragaman hayatinya adalah anugerah yang menuntut tanggung jawab moral dalam pengelolaannya.

Namun, realitas menunjukkan bahwa kerusakan ekologis terus terjadi. Populasi pesut Mahakam, satwa endemik sungai, mengalami penurunan drastis. Ini terjadi akibat tabrakan dengan baling-baling kapal ponton, pencemaran air, limbah industri, polusi bahan bakar, serta dampak perubahan iklim ekstrim.

Dalam konteks ini, kepedulian menjadi prasyarat utama untuk memulihkan luka ekologis Sungai Mahakam. Kepedulian tersebut menuntut perubahan cara berpikir. Meninggalkan pola eksploitasi, manipulasi, dan perusakan alam.

Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam: Mitos, Sejarah, dan Identitas

Kurniati dan Candraningrum tidak sekadar mengajak pembaca mengenal mitos sebagai cerita rakyat, tetapi mendorong pembacaan sejarah yang lebih utuh tentang asal-usul peradaban di Kalimantan Timur. Proses islamisasi sejak abad ke-13 membawa transformasi besar dari kerajaan bercorak Hindu menuju kesultanan Islam. Namun, jejak kepercayaan lama tidak sepenuhnya hilang, melainkan bertransformasi dan berkelindan dengan keyakinan baru.

Kepercayaan terhadap kelahiran Putri Karang Melenu dan keberadaan Naga sebagai penjaga Sungai Mahakam berakar pada pandangan kosmologis tersebut. Putri Karang Melenu diyakini muncul dari dasar Sungai Mahakam—sebuah kelahiran yang tidak lazim dan sarat makna simbolik. Ia dipandang sebagai sosok sakral, karunia bagi masyarakat, dan nenek moyang para raja Kutai.

Dalam pembacaan sejarawan Muhammad Sarip, mitos ini dapat dimaknai secara simbolik. Putri Karang Melenu merepresentasikan penduduk asli Kalimantan, sementara Aji Batara Agung Dewa Sakti—yang dikisahkan turun dari langit—melambangkan pendatang dari Jawa. Pernikahan keduanya mencerminkan pertemuan dua dunia: lokal dan pendatang, bumi dan langit, sungai dan daratan.

Perayaan Erau yang terselenggara setiap tahun menjadi ruang kolektif bagi masyarakat Kutai untuk mengenang kisah Putri Karang Melenu. Dalam perayaan ini, perempuan adat memegang peran strategis sebagai penjaga tradisi, penyambut tamu, dan penggerak harmonisasi budaya. Tradisi Betempong Tawar yang diwariskan dari Putri Karang Melenu menjadi simbol penghormatan, diplomasi, dan keramahan budaya.

Agensi perempuan dalam tradisi ini menunjukkan bahwa perempuan Nusantara memiliki kesadaran diri, kebebasan, dan kekuatan resiliensi budaya. Perempuan bukan sekadar objek glorifikasi, melainkan subjek aktif yang berperan dalam ruang domestik maupun publik, serta dalam pelestarian budaya dan relasi ekologis.

Di sisi lain, mitos tentang Lembuswana dan Naga Sungai Mahakam memperlihatkan bagaimana hewan mitologis diposisikan sebagai simbol kekuatan, perlindungan, dan kesejahteraan. Naga dipandang sebagai penjaga sungai, sekaligus pengingat akan konsekuensi moral jika manusia melanggar etika ekologis. Ketakutan akan bala bencana berfungsi sebagai mekanisme kultural untuk menjaga keseimbangan relasi manusia dengan alam.

Mitigasi Krisis Alam: Keterhubungan dan Kasih Sayang

Kalimantan sering kita sebut sebagai paru-paru dunia, namun kenyataan menunjukkan bahwa deforestasi, krisis air, kepunahan spesies, dan perampasan ruang hidup masyarakat adat terus terjadi. Sungai Mahakam sebagai sungai utama di Kalimantan Timur menjadi saksi dampak pencemaran dan perubahan iklim ekstrem, yang paling dirasakan oleh masyarakat adat di sekitarnya.

Menghadirkan kembali pengetahuan dan praktik masyarakat adat yang memiliki kedekatan kultural dengan alam menjadi salah satu refleksi penting dalam merespons krisis iklim. Mitigasi krisis iklim tidak cukup kita pahami sebagai urusan teknis, tetapi sebagai tanggung jawab etis dan politis yang melibatkan nilai introspeksi, solidaritas, dan demokrasi ekologis.

Pendekatan egaliter yang berpihak pada sosio-kultural menegaskan bahwa bumi adalah tanggung jawab bersama. Mitos Putri Karang Melenu dan Naga Sungai Mahakam merepresentasikan spiritualitas berbasis bumi yang mengajarkan keterhubungan manusia dengan alam. Kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari alam melahirkan rasa kasih sayang, empati, dan tanggung jawab untuk menjaga keberlanjutan kehidupan.

Kasih sayang terhadap alam bukanlah konsep abstrak, melainkan kemampuan untuk menghargai kehidupan lain sebagaimana kita menghargai kehidupan manusia. Dari kesadaran inilah lahir etika perawatan, welas asih, dan komitmen untuk menjaga bumi sebagai ruang hidup bersama. []

Tags: EkofeminismeHutan Kalimantankearifan lokalMitigasi Krisis IklimmitosSungai Mahakam
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Mengapa KUPI Dipandang sebagai Penegasan Islam Indonesia?

Next Post

KUPI Hadir Menjawab Kebuntuan Tafsir Agama dalam Isu Perempuan

Aji Cahyono

Aji Cahyono

Direktur Eksekutif Indonesian Coexistence dan Alumni Master Kajian Timur Tengah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Related Posts

Feminist Political Ecology
Lingkungan

Feminist Political Ecology: Strategi Melawan Eksploitasi Lingkungan yang Merugikan Perempuan

13 Februari 2026
Nyadran Perdamaian
Personal

Nyadran Perdamaian: Merawat Tradisi di Tengah Keberagaman

5 Februari 2026
Menopause
Uncategorized

Mitos Menopause, Menikah Bukan Hanya tentang Masalah Seksual

26 Januari 2026
Avatar: Fire and Ash
Film

Menilik Avatar: Fire and Ash dari Kacamata Perempuan Pejuang Lingkungan dan HAM

2 Februari 2026
Tradisi dan Modernitas
Publik

Mengurai Kembali Kesalingan Tradisi dan Modernitas

15 Desember 2025
Seni Brai
Publik

Seni Brai: Merawat Warisan Dakwah Sunan Gunung Djati untuk Masa Depan

28 November 2025
Next Post
Tafsir Agama

KUPI Hadir Menjawab Kebuntuan Tafsir Agama dalam Isu Perempuan

No Result
View All Result

TERBARU

  • Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental
  • MAQSI sebagai Wujud Inklusivitas Qur’ani terhadap Disabilitas Netra
  • QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar
  • Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi
  • Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0