Mubadalah.id – Selama empat hari tiga malam, pada 13 hingga 16 Januari 2026, saya berkesempatan mengikuti kegiatan Nyadran Perdamaian 2026 yang diselenggarakan oleh Aman Indonesia. Kegiatan ini berlangsung di Dusun Krecek dan Dusun Gletuk, Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.
Para penulis dan konten kreator perempuan dari berbagai daerah juga mengikuti program ini dengan membawa latar belakang dan pengalaman yang beragam. Aman Indonesia merancang Nyadran Perdamaian sebagai ruang belajar yang tidak hanya mengandalkan diskusi dan penyampaian materi, tetapi juga menekankan pengalaman hidup secara langsung melalui program live-in bersama warga.
Penempatan peserta terbagi di dua dusun, dan saya mendapat tempat live-in di Dusun Gletuk, sebuah dusun yang tenang dan asri dengan keindahan alam yang masih terjaga. Di sinilah saya tinggal bersama induk semang di sebuah rumah sederhana namun penuh makna.
Live-in sebagai Ruang Belajar dan Pertemuan
Sejak awal kedatangan, mereka menyambut saya dengan hangat. Suguhan minuman hangat menjadi pembuka pertemuan kami setelah perjalanan panjang yang cukup melelahkan. Meskipun saya adalah orang asing, tidak ada jarak yang terasa. Sambutan itu membuat saya merasa diterima dan semakin bersemangat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga selesai.
Kami berbincang dengan menggunakan bahasa Jawa krama. Sebagai orang Jawa, saya merasa beruntung masih mampu menggunakan bahasa tersebut sehingga komunikasi terasa lebih akrab. Dari obrolan ringan itulah hubungan kami perlahan terbangun.
Rumah yang saya tinggali dihuni oleh sepasang suami istri yang beragama Buddha. Mereka tinggal berdua dan menjalani kehidupan dengan sederhana namun bahagia. Dari percakapan-percakapan sehari-hari, saya belajar tentang cara mereka memaknai hidup, iman, dan kebersamaan. Kerukunan yang saya rasakan di dalam rumah itu ternyata juga menjadi cerminan kehidupan sosial Dusun Gletuk secara keseluruhan.
Dusun Gletuk memiliki tiga tempat ibadah yang berdiri berdampingan, ada masjid, vihara, dan gereja. Islam, Buddha, dan Kristen hidup bersama dalam satu ruang sosial tanpa sekat yang mencolok. Masyarakat tidak menjadikan perbedaan agama sebagai sumber konflik, melainkan menerimanhya sebagai bagian dari keseharian.
Suatu hari, ibu induk semang bercerita tentang ajaran Buddha, termasuk praktik puasa dan pengendalian diri yang memiliki kemiripan dengan Islam. Dari cerita itu, ia menyampaikan pesan sederhana namun bermakna, “Semua agama itu baik.” Ucapan tersebut terasa kuat karena lahir dari pengalaman hidup berdampingan dalam perbedaan.
Relasi Setara dan Makna Perdamaian Sehari-hari
Relasi antara ibu dan bapak induk semang juga menjadi pelajaran berharga bagi saya. Dalam keseharian, bapak bekerja di ladang sementara ibu mengurus rumah. Namun pembagian peran tersebut tidak bersifat kaku dan hierarkis. Keduanya tetap kompak, saling membantu, dan saling menghargai.
Ketika ada pekerjaan rumah yang membutuhkan tenaga lebih, bapak tidak segan membantu. Tidak ada yang merasa dirugikan, yang ada adalah kesadaran bahwa kehidupan dijalani bersama. Relasi kesalingan begitu kental terlihat di rumah sederhana ini. Hal ini membuka mata saya, bahwa betapa indahnya jika kesalingan dapat diterapkan dalam segala hal.
Melalui pengalaman live-in ini, saya belajar bahwa perdamaian tidak selalu lahir dari forum besar atau wacana panjang. Perdamaian justru tumbuh dari relasi sehari-hari, dari rumah sederhana, dari obrolan hangat, dari kerja sama suami istri, serta dari keyakinan bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan kekayaan.
Bagi saya, Nyadran Perdamaian bukan sekadar sebuah kegiatan, tetapi pengalaman hidup yang meninggalkan refleksi mendalam tentang kemanusiaan, keberagaman, dan arti hidup berdampingan secara adil dan bermartabat. []


















































