Rabu, 11 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Keadilan Relasi

    Pelajaran dari Masa Lalu: Dekonstruksi Ego Laki-laki demi Keadilan Relasi

    Kisah Difabel

    Kisah Difabel; Paradoks Hiburan dalam Perbedaan

    Belajar Empati

    Belajar Empati dari Tauhid: Membaca Ulang Relasi dengan Disabilitas

    Ramadan di Era Media Sosial

    Ramadan di Era Media Sosial: Ketika Ibadah Berubah Menjadi Konten

    Ngaji Manba’us-Sa’adah

    Ngaji Manba’us-Sa’adah (3): Sebelum Menjadi “Kita”

    Hafiz Indonesia

    Hafiz Indonesia, Ramadan dan Disabilitas Penghafal Al-Qur’an

    International Women’s Day 2026

    Refleksi International Women’s Day 2026: Di Mana Letak Keadilan bagi Perempuan?

    Takjil

    Budaya Takjil Sebagai Resistensi Sikap Individualisme

    Perang Iran

    Perempuan dan Anak: Korban Sunyi di Tengah Perang Iran

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Relasi Suami Istri

    Relasi Suami Istri dan Gagasan Kemandirian Perempuan

    Ketaatan Istri

    Ketika Ketaatan Istri Dipahami Secara Sepihak

    Perkawinan

    Perdebatan Ketaatan Istri dalam Relasi Perkawinan

    Larangan Melakukan Kerusakan di Bumi

    Al-Qur’an Tegaskan Larangan Berbuat Kerusakan di Muka Bumi

    Peperangan

    Islam Tetapkan Etika Ketat dalam Peperangan

    Perang

    Perang dalam Islam Dipahami sebagai Tindakan Membela Diri

    Konflik

    Al-Qur’an Tawarkan Jalan Dialog dalam Menyelesaikan Konflik

    Kerja sama

    Kerja Sama Menjadi Bagian Penting dalam Relasi Antaragama

    Kebebasan Beragama

    Al-Qur’an Tegaskan Pentingnya Menghormati Kebebasan Beragama

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Keadilan Relasi

    Pelajaran dari Masa Lalu: Dekonstruksi Ego Laki-laki demi Keadilan Relasi

    Kisah Difabel

    Kisah Difabel; Paradoks Hiburan dalam Perbedaan

    Belajar Empati

    Belajar Empati dari Tauhid: Membaca Ulang Relasi dengan Disabilitas

    Ramadan di Era Media Sosial

    Ramadan di Era Media Sosial: Ketika Ibadah Berubah Menjadi Konten

    Ngaji Manba’us-Sa’adah

    Ngaji Manba’us-Sa’adah (3): Sebelum Menjadi “Kita”

    Hafiz Indonesia

    Hafiz Indonesia, Ramadan dan Disabilitas Penghafal Al-Qur’an

    International Women’s Day 2026

    Refleksi International Women’s Day 2026: Di Mana Letak Keadilan bagi Perempuan?

    Takjil

    Budaya Takjil Sebagai Resistensi Sikap Individualisme

    Perang Iran

    Perempuan dan Anak: Korban Sunyi di Tengah Perang Iran

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Relasi Suami Istri

    Relasi Suami Istri dan Gagasan Kemandirian Perempuan

    Ketaatan Istri

    Ketika Ketaatan Istri Dipahami Secara Sepihak

    Perkawinan

    Perdebatan Ketaatan Istri dalam Relasi Perkawinan

    Larangan Melakukan Kerusakan di Bumi

    Al-Qur’an Tegaskan Larangan Berbuat Kerusakan di Muka Bumi

    Peperangan

    Islam Tetapkan Etika Ketat dalam Peperangan

    Perang

    Perang dalam Islam Dipahami sebagai Tindakan Membela Diri

    Konflik

    Al-Qur’an Tawarkan Jalan Dialog dalam Menyelesaikan Konflik

    Kerja sama

    Kerja Sama Menjadi Bagian Penting dalam Relasi Antaragama

    Kebebasan Beragama

    Al-Qur’an Tegaskan Pentingnya Menghormati Kebebasan Beragama

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Pelajaran dari Masa Lalu: Dekonstruksi Ego Laki-laki demi Keadilan Relasi

Melalui tulisan ini, saya ingin memaknai dan merayakan International Women's Day bukan sekadar dengan glorifikasi atau ucapan manis di media sosial.

Fisco Moedjito by Fisco Moedjito
11 Maret 2026
in Personal
A A
0
Keadilan Relasi

Keadilan Relasi

1
SHARES
66
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Dalam suasana perayaan International Women’s Day ini, saya ingin membagikan sebuah refleksi dari masa lalu yang kelam. Sebuah masa lalu yang pahit untuk diingat, namun teramat berharga bagi pendewasaan diri saya. Pengalaman ini telah membongkar paksa isi kepala saya. Sekaligus membuka mata dan hati saya lebar-lebar tentang sebuah fondasi paling mendasar dalam memanusiakan manusia. Yakni, adil sejak dalam pikiran.

“Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan.” Kutipan masyhur dari Jean Marais kepada Minke dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer ini terus terngiang di benak saya. Rasanya, kalimat ini menemukan tafsirnya yang paling radikal ketika saya coba kaitkan pada konteks Keadilan Relasi antara laki-laki dan perempuan.

[Disclaimer & Trigger Warning] Tulisan ini mungkin dapat memicu ketidaknyamanan bagi sebagian pembaca. Saya menuliskan pengalaman ini sama sekali bukan untuk membanggakan kesalahan, apalagi mencari pembenaran. Sebaliknya, tulisan ini adalah bentuk muhasabah diri yang radikal. Semata-mata merupakan sebuah upaya untuk mendekonstruksi sisa-sisa pemikiran toksik di dalam kepala saya sendiri. Harapannya, pengakuan ini dapat menjadi cermin bagi sesama laki-laki. Supaya tidak ada lagi perempuan yang diperlakukan tidak adil di masa depan.

Kegagalan Relasi: Bahaya Menjadikan Perempuan sebagai “Opsi”

Semuanya berawal dari sebuah kegagalan hubungan dengan seorang perempuan yang luar biasa. Saat itu, saya hadir dengan kematangan emosional yang masih sangat minim dan kesadaran gender yang nihil. Lebih buruk lagi, saya masih tersandera oleh bayang-bayang masa lalu saya sendiri. Hati saya ibarat ruang yang berantakan dan belum selesai direnovasi.

Namun, dengan egoisnya saya membuka pintu dan membiarkan ketulusannya masuk ke hati saya. Saya memaksakan diri menerima kasih sayangnya hanya demi menambal kekosongan jiwa saya, tanpa menyadari bahwa saya sedang menyedot habis energi emosionalnya.

Kesalahan fatal pun terjadi. Saya menjadikannya sebagai second choice (pilihan kedua). Tentu saja, perbuatan ini sangat menghancurkan dia. Bayangkan, bagaimana rasanya memberikan ketulusan yang utuh, namun hanya terbalas dengan sisa-sisa perasaan dari masa lalu seseorang? Itu adalah bentuk kekerasan psikologis yang pelan-pelan menggerus harga diri dan kewarasannya. Ia terpaksa bertarung melawan “hantu” masa lalu yang bahkan belum berani saya usir sendiri.

Refleksi ini memukul saya dengan sangat keras. Apakah adil jika saya memaksakan diri menerima sebuah hubungan ketika saya belum selesai dengan masa lalu? Jawabannya: mutlak tidak. Menjadikan perempuan sekadar “opsi”, “tempat pelarian sementara”, atau “ban serep” adalah bentuk pengingkaran paling brutal terhadap kemanusiaannya.

Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang pantas kita cintai dengan setengah hati. Dalam kacamata Keadilan Relasi, perempuan adalah subjek yang berdaulat secara penuh. Ia berhak atas komitmen utuh yang tak terbagi, kejujuran niat, dan ruang emosional yang utuh dari pasangannya. Perempuan hadir untuk menjadi rekan hidup yang setara, bukan sekadar kompensasi atas rasa sepi, apalagi menjadi alat terapi gratis bagi laki-laki yang lari dari lukanya sendiri.

Kedaulatan Diri: Rasionalitas di Balik Sebuah “Cut Off”

Saat kami berselisih di ujung kehancuran itu, saya dengan egois memohon agar relasi ini diperbaiki. Namun, ia merespons dengan kesadaran penuh akan kehormatan dan harga dirinya. Dengan ketegasan yang tak terbantahkan, ia memutuskan untuk melakukan cut off, memutus seluruh akses komunikasi. Ia menyadari sepenuhnya bahwa saya telah menempatkannya dalam hierarki relasi yang timpang. Bahwa perasaannya hanya dijadikan objek validasi, bukan tujuan utama dari sebuah komitmen.

Bagi sebagian laki-laki dengan ego patriarkis, pemutusan akses sepihak ini seringkali dianggap sebagai bentuk keangkuhan, sikap kekanak-kanakan, atau cara lari dari masalah. Namun, dari kacamata Keadilan Relasi, kini saya menyadari bahwa keputusannya adalah sebuah langkah yang teramat rasional dan berani.

Itu sama sekali bukan keangkuhan, melainkan deklarasi kedaulatan atas tubuh, emosi, dan jiwanya sendiri demi selamat dari relasi yang toksik. Ia sedang membangun benteng pertahanan terakhir untuk melindungi kewarasannya dari seseorang yang belum selesai dengan dirinya sendiri.

Refleksi inilah yang kemudian menampar saya keras-keras: betapa banyak perempuan di luar sana yang tidak seberuntung mantan pasangan saya? Betapa banyak perempuan yang terikat oleh dogma sosial, terjebak dalam manipulasi emosional (gaslighting), atau dilumpuhkan oleh rasa takut yang dilanggengkan oleh pasangannya, sehingga mereka kehilangan privilese keberanian untuk sekadar berkata “cukup”? Perempuan-perempuan ini seringkali tidak memiliki ruang aman atau kemandirian untuk menentukan nasibnya sendiri, sehingga mereka terpaksa menelan luka dan terus tersiksa dalam relasi yang membunuh perlahan.

Di sinilah letak urgensi absolut bagi perempuan untuk menyadari otoritas dirinya dan berani menetapkan batasan (boundaries). Batasan bukanlah tembok penghalang untuk mengisolasi diri, melainkan garis demarkasi yang tegas untuk memisahkan antara cinta yang memanusiakan dan eksploitasi ego yang menghancurkan.

Jebakan Ego: Ilusi “Objek Pengganti” dan Objektifikasi

Di saat batas (boundaries) itu ditegakkan dengan kokoh, ego saya sebagai laki-laki yang mungkin secara tak sadar terbiasa memegang kendali mendadak terluka parah. Menghadapi penolakan absolut ini, saya terperosok ke dalam fase denial (penyangkalan) yang sangat toksik.

Alih-alih melakukan introspeksi dan membenahi diri, ego yang tak terkendali itu justru membawa saya pada pelarian dan pemikiran impulsif yang merusak. Puncak dari kebodohan itu adalah ketika saya mencoba mencari “bayang-bayang” sosoknya di dalam diri perempuan lain. Sebuah pemikiran dangkal, manipulatif, dan sangat saya sesali hingga detik ini.

Mari kita bedah hal ini dengan akal sehat: Apakah adil jika saya mendekati, atau sekadar menaruh ketertarikan pada perempuan lain semata-mata karena kemiripan sifat, karakter, atau fisiknya dengan seseorang di masa lalu? Jawabannya adalah tidak. Ini adalah bentuk objektifikasi yang paling halus namun mematikan.

Objektifikasi tidak selalu berupa pelecehan visual atau fisik; mereduksi eksistensi psikologis seorang perempuan hanya menjadi sekadar “katalisator rindu” adalah bentuk pelecehan terhadap martabatnya sebagai manusia.

Dengan melakukan itu, saya telah melucuti identitas, keunikan, dan otonomi perempuan tersebut. Saya tidak melihatnya sebagai manusia yang utuh dengan sejarah, mimpi, dan nilai tawarnya sendiri. Sebaliknya, saya memposisikannya sekadar sebagai “cetakan kosong”, sebuah kanvas atau layar proyektor tempat saya memutar ulang ilusi dan trauma masa lalu saya.

Berlaku adil sejak dalam pikiran menuntut laki-laki untuk secara radikal berhenti melihat perempuan sebagai alat pemenuh dahaga emosional atau kompensasi atas rasa kehilangan. Perempuan bukanlah “pemeran pengganti” (stunt double) dalam panggung sandiwara ego seorang laki-laki. Memanusiakan perempuan berarti menerimanya sebagai tujuan yang utuh, bukan sebagai sarana untuk melarikan diri dari masa lalu.

Tanggung Jawab Perubahan Ada pada Pelaku

Mantan saya pernah berpegang teguh pada sebuah prinsip yang sangat krusial. Bahwa tidak ada jaminan bahwa seseorang yang memiliki “pola” (pattern) perilaku toksik akan sungguh-sungguh berubah di masa depan, sekalipun ia telah berkali-kali melontarkan kata maaf. Dalam studi relasi maupun psikologi, pola yang merusak cenderung berulang jika tidak ada intervensi kesadaran yang radikal dari pelakunya. Oleh karena itu, langkah menyelamatkan diri sendiri harus selalu menjadi prioritas absolut.

Prinsip ini menampar sekaligus menyadarkan saya pada konsep dikotomi kendali (Dichotomy of Control) yang sangat esensial. Kita tidak bisa dan tidak berhak memaksakan kehendak agar orang lain berubah. Mengambil langkah cut off secara total adalah hak prerogatif sekaligus upaya maksimal seorang korban untuk menyelamatkan kewarasannya.

Hal ini karena tabiat, janji, maupun perilaku manipulatif dari seorang pelaku (abuser) berada sepenuhnya di luar kendali sang korban. Bertahan di dalam sebuah hubungan yang destruktif dengan harapan palsu bahwa “suatu hari nanti ia akan berubah” adalah sebuah perjudian emosional yang terlalu mahal harganya bagi seorang perempuan.

Di sisi lain, ketegasan batasan ini meletakkan cermin realita tepat di depan wajah saya. Sebagai pihak yang telah menorehkan luka kepadanya, keadaan tersebut memaksa saya untuk sadar. Bahwa tanggung jawab untuk memperbaiki diri, memutus rantai pola toksik tersebut, dan bertransformasi secara utuh berada mutlak di pundak saya sendiri.

Proses penyembuhan dan dekonstruksi ego ini adalah perjalanan sunyi yang harus saya tempuh sendirian. Pemulihan ini sama sekali bukan tanggung jawabnya, dan perubahan saya bukanlah sebuah beban yang harus ia tunggu dengan penuh pertaruhan. Jika saya ingin berubah, saya harus melakukannya untuk diri saya sendiri, bukan sebagai alat manipulasi agar ia kembali.

Refleksi: Membangun Ruang Aman Sejak dalam Pikiran

Pada akhirnya, pengalaman pahit yang menguliti ego saya ini membuka mata saya lebar-lebar. Saya menyadari betul bahwa visi Keadilan Relasi tidak akan pernah tercipta jika benih-benih objektifikasi dan arogansi patriarki masih dibiarkan subur di dalam kepala seorang laki-laki.

Mubadalah (kesalingan) menuntut kita untuk memosisikan perempuan bukan sebagai pelengkap penderitaan. Bukan pula sebagai objek pelarian, melainkan sebagai hamba Allah yang setara, subjek kehidupan yang utuh, dan mitra yang berdaulat penuh atas dirinya sendiri.

Kutipan Jean Marais pada akhirnya kembali menghakimi nurani saya. Bagaimana mungkin saya berani menyebut diri saya sebagai seorang terpelajar, jika saya terbukti gagal berlaku adil bahkan sejak dalam pikiran? Ketidakadilan itulah yang pada akhirnya bermanifestasi pada perbuatan saya yang timpang kepadanya. Karena kegagalan fundamental di level pikiran ini, saya telah melakukan kesalahan fatal. Saya telah gagal memanusiakan seorang perempuan yang cerdas dan berdaya sebagai subjek yang utuh.

Melalui tulisan ini, saya ingin memaknai dan merayakan International Women’s Day bukan sekadar dengan glorifikasi atau ucapan manis di media sosial. Melainkan dengan sebuah komitmen pertobatan intelektual dan moral. Saya berkomitmen untuk terus melatih empati, memangkas ego partriarkis, dan mengambil keberpihakan nyata agar tidak ada lagi relasi toksik yang menempatkan perempuan di posisi tidak setara.

Harapan saya, khususnya bagi sesama laki-laki, mari kita ciptakan ruang aman yang sesungguhnya bagi perempuan. Dan ingatlah, ruang aman itu tidak dibangun dari janji-janji perlindungan yang heroik atau buaian kata-kata romantis. Ruang aman yang sejati—sebagaimana pesan abadi Pramoedya Ananta Toer—harus dimulai dari satu langkah paling fundamental dan paling sunyi. Yakni, keberanian untuk belajar berlaku adil sejak dalam pikiran. []

Tags: Gendergerakan perempuanHari Perempuan InternasionalInternational Women's Daykeadilan relasiKesetaraanRelasi
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Tiga Prinsip Utama Relasi Mubadalah (Bermartabat, Adil, dan Maslahat)

Next Post

Relasi Suami Istri dan Gagasan Kemandirian Perempuan

Fisco Moedjito

Fisco Moedjito

Part-time student and worker. Full-time learner. Bachelor of Law from Universitas Gadjah Mada.

Related Posts

Relasi Suami Istri
Pernak-pernik

Relasi Suami Istri dan Gagasan Kemandirian Perempuan

11 Maret 2026
Relasi Mubadalah dalam
Hukum Keluarga Perspektif Mubadalah

Tiga Prinsip Utama Relasi Mubadalah (Bermartabat, Adil, dan Maslahat)

11 Maret 2026
Perkawinan
Pernak-pernik

Perdebatan Ketaatan Istri dalam Relasi Perkawinan

10 Maret 2026
Ngaji Manba’us-Sa’adah
Keluarga

Ngaji Manba’us-Sa’adah (3): Sebelum Menjadi “Kita”

10 Maret 2026
Tokenisme
Uncategorized

Tokenisme, Ketika Perempuan Selalu Menjadi Biang Keladi Kesalahan Lelaki

9 Maret 2026
Kerja sama
Pernak-pernik

Kerja Sama Menjadi Bagian Penting dalam Relasi Antaragama

8 Maret 2026
Next Post
Relasi Suami Istri

Relasi Suami Istri dan Gagasan Kemandirian Perempuan

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Relasi Suami Istri dan Gagasan Kemandirian Perempuan
  • Pelajaran dari Masa Lalu: Dekonstruksi Ego Laki-laki demi Keadilan Relasi
  • Tiga Prinsip Utama Relasi Mubadalah (Bermartabat, Adil, dan Maslahat)
  • Kisah Difabel; Paradoks Hiburan dalam Perbedaan
  • Ketika Ketaatan Istri Dipahami Secara Sepihak

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0