Sabtu, 14 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    Menjadi Dewasa

    Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

    Solidaritas

    Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

    Feminist Political Ecology

    Feminist Political Ecology: Strategi Melawan Eksploitasi Lingkungan yang Merugikan Perempuan

    Pembangunan

    Pembangunan, Dialog, dan Masa Depan Papua

    Perkawinan

    Marketing Kemenag dan Mutu sebuah Perkawinan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    Sakinah Mawaddah

    Konsep Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

    Doa Keluarga

    Makna Doa Keluarga dalam QS. Al-Furqan Ayat 74

    Konsep Ta'aruf

    Konsep Ta’aruf Menurut Al-Qur’an

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    Menjadi Dewasa

    Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

    Solidaritas

    Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

    Feminist Political Ecology

    Feminist Political Ecology: Strategi Melawan Eksploitasi Lingkungan yang Merugikan Perempuan

    Pembangunan

    Pembangunan, Dialog, dan Masa Depan Papua

    Perkawinan

    Marketing Kemenag dan Mutu sebuah Perkawinan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    Sakinah Mawaddah

    Konsep Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

    Doa Keluarga

    Makna Doa Keluarga dalam QS. Al-Furqan Ayat 74

    Konsep Ta'aruf

    Konsep Ta’aruf Menurut Al-Qur’an

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Hikmah

Renungan Isra Mikraj, Semua yang Kita Cinta adalah Fana

Spirit Islam yang berlandaskan rahmatan lil ‘alamin sesungguhnya sedang mengajak kita untuk memaknai peristiwa Isra Mikraj

Hesti Anugrah Restu by Hesti Anugrah Restu
7 Februari 2024
in Hikmah, Rekomendasi
A A
0
Renungan Isra Mikraj

Renungan Isra Mikraj

20
SHARES
1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Kita tentu sering mendengar tentang kisah Isra Mikraj. Di mana Rasulullah melakukan perjalanan spiritual dari Masjidil Haram di Mekah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem pada malam hari. Perjalanan spiritual Rasulullah pada malam 27 Rajab ini terabadikan dalam al-Quran Surat al-Isra ayat 1:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝١

“Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Melansir dari https://quran.nu.or.id, pada awal Surat al-Isra ayat 1 ini, Allah Swt. menyatakan kemahasucian-Nya dengan firman “subhana.” Tujuannya agar manusia mengakui kesucian-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak dan meyakini sifat-sifat keagungan-Nya yang tiada tara.

Ungkapan itu juga sebagai pernyataan tentang sifat kebesaran-Nya yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam, dengan perjalanan yang sangat cepat. Allah swt memulai firman-Nya dengan subhana dalam ayat ini. Lalu di beberapa ayat yang lain, sebagai pertanda bahwa ayat itu mengandung peristiwa luar biasa yang hanya dapat terlaksana karena iradah dan kekuasaan-Nya.

Dengan penegasan sifat Allah Swt. di awal ayat, tentu saja renungan Isra Mikraj ini adalah peristiwa yang luar biasa, agung, dan magis. Selain itu tidak mudah tergambarkan dengan logika manusia, namun amat mudah bagi Allah Swt..

Peringatan isra Mi’raj dan Ceramah Agama yang Masih Tidak Berpihak pada Perempuan

Setiap tahunnya, umat Islam memperingati peristiwa Isra Mikraj dengan berbagai kegiatan. Ada yang mengadakan pengajian, dengan menceritakan kisah Rasulullah dan apa saja yang beliau lihat selama perjalanan malam Isra Mi;raj itu.

Lalu ada pula yang memeriahkan dengan mengadakan lomba-lomba keagamaan. Tak ketinggalan, beberapa orang menikmatinya dengan cara hening dengan memperbanyak ibadah di akhir bulan Rajab ini.

Beberapa pengajian yang diadakan dan menceritakan perjalanan Rasulullah tak luput dari cerita empat golongan perempuan yang masuk neraka. Di antaranya perempuan yang suka mengumbar aib orang lain, perempuan yang suka berzina, perempuan yang kufur terhadap suami, dan perempuan yang suka bercampur baur pergaulan dengan lawan jenis.

Alih-alih memberikan kisah yang tidak memberikan stigma negatif, kisah isra’ Miraj terus berulang dengan pola yang sama setiap tahunnya di berbagai forum dakwah–online maupun offline. Di masjid maupun media sosial, kerap hanya memberikan peringatan serta meminta perempuan untuk menjaga diri dari perbuatan buruk.

Padahal jika kita telisik ulang latar belakang kejadian Isra Mikraj ini, kita akan berhadapan dengan kisah mulia perempuan yang setia dan berkontribusi besar dalam kehidupan Rasulullah Saw., yaitu Khadijah r.a. Maka, dengan menarik ke latar belakang peristiwa ini, kita akan mengerti bahwa kisah Isra Mikraj menyimpan makna yang lebih dalam tentang perempuan.

Khadijah dan Tahun Dukacita

Peristiwa Isra Mikraj bermula atas kesedihan mendalam Rasulullah yang ditinggal wafat oleh pamannya, Abu Thalib. Begitu terluka hati Nabi kehilangan seorang keluarga dekat yang telah mengasuhnya sejak kepergian kakeknya, Abdul Muthalib. Abu Thalib, di mata Rasulullah bukan hanya sesosok paman biasa. Dia telah menjelma ayah, sahabat, sekaligus pelindungnya.

Ketika Nabi Muhammad mulai menjalankan dakwah Islam dan menghadapi kerasnya tantangan, ancaman, bahkan permusuhan orang kafir Quraisy, maka Abu Thalib-lah orang yang ‘pasang badan’ paling depan untuk melindungi Rasulullah. Ia pula yang mengajak Rasulullah berniaga sejak umur 12 tahun. Karena perniagaan tersebut, Rasulullah akhirnya bertemu Khadijah.

Tak lama berselang, belum kering luka atas wafatnya sang paman, perempuan yang telah menjadi partner dan kekasih hidup Rasulullah pun turut berpulang ke rahmatullah. Betapa semakin patah hati Nabi dengan kehilangan dua orang yang amat ia sayangi, dan dalam waktu yang berdekatan pula.

Khadijah binti Khuwailid, sang kekasih Rasulullah yang amat beliau cintai. Khadijah adalah perempuan independen yang memiliki jabatan dan kekayaan, serta terpandang dalam masyarakat.

Bersama Khadijah, Rasulullah pertama kalinya memperoleh wahyu. Khadijah lah yang menyelimuti Rasulullah dan meneguhkan hati suaminya itu. Khadijah lah yang kemudian mengajak Rasul dan menceritakan peristiwa yang terjadi kepada pamannya, Waraqah bin Naufal. Dia adalah seorang pendeta yang pertama kali mengimani dan percaya dengan kenabian Rasulullah.

Peran Khadijah dalam Perjalanan Dakwah Rasul

Khadijah pula yang memiliki peran luar biasa dalam mendukung perjalanan dakwah Rasulullah Saw. Baik dari segi materi dan dukungan psikologis. Tak sekalipun Khadijah meninggalkan Rasulullah ketika beliau dimusuhi oleh banyak orang. Tak sedetik pun terbetik dalam pikiran Khadijah untuk mundur dan membenci suaminya, karena penderitaan yang ia alami setelah menikah dengan Rasulullah.

Bahkan suatu ketika, Rasulullah pulang dari rumah dan mendapati Khadijah sedang menyusui Fatimah, di mana yang keluar bukanlah air susu melainkan darah. Karena Khadijah sangat kelaparan, tak sekalipun perempuan mulia ini mengeluh atas keadaan.

25 tahun Khadijah membersamai Rasulullah. Khadijah memberikan anak-anak yang membanggakan hati dan menyejukkan jiwa. Menemani Rasulullah dari masa-masa sulit hingga Islam mulai memperlihatkan cahayanya.

Karena dedikasi dan cinta yang luar biasa itu, kepergian Khadijah membuat hati Rasulullah berselimutkan luka dan kesedihan yang amat pekat serta dalam. Setelah wafatnya sang paman dan istrinya yang sangat beliau sayangi, Rasulullah memperoleh ujian yang keras dari orang kafir Quraisy yang semakin berani menekan Rasulullah.

Bahkan kini mereka tak lagi sungkan menghina sampai menyakiti Rasulullah secara fisik. Hingga saat datang ke Thaif untuk berdakwah, Rasulullah diolok-olok dan dilempari bebatuan. Saking sedihnya atas peristiwa kehilangan demi kehilangan serta ujian berat tersebut, tahun itu dinamakan sebagai tahun duka cita (‘amul huzni). Yakni sebuah tahun yang sangat gelap dan penuh duri bagi Rasulullah Saw.

Isra Mi’raj Sebagai Tasliyah bagi Rasul dan Renungan bagi Kita

Dengan kekuasaan Allah Swt., Rasulullah diberangkatkan untuk sebuah perjalanan spiritual yang luar biasa, yang kini kita sebut sebagai Isra Mikraj. Setelah perjalanan Isra Mikraj ini pulalah, Allah memerintahkan untuk menjalankan salat lima waktu bagi Rasulullah dan umat Islam.

Dalam perjalanan ini pula, Allah menunjukkan kekuasaannya. Allah menegaskan bahwa hanya Ia yang patut disembah, tak ada Tuhan kecuali Ia, Tuhan Yang Abadi dan tak akan mengalami kematian.

Perjalanan Isra Mikraj setelah memberikan kita kesadaran bahwa, sebesar apa pun cinta yang kita punya terhadap apa yang kita miliki hari ini, tak akan menghilangkan ketetapan bahwa segala yang ada di dunia ini adalah kefanaan semata.

Rasulullah sangat mencintai paman dan istrinya, namun keduanya adalah milik Allah. Demikian pula apa yang kita miliki hari ini, harta benda, keluarga, dan jabatan, tak ada yang bisa kita pertahankan selama-lamanya.

Peristiwa Isra Mikraj juga memberikan kita pemahaman baru, bahwa selayaknya manusia biasa, Rasulullah juga memiliki hari-hari yang berisi oleh duka. Tiap-tiap kita tak pernah berlepas dari masa sulit maupun susah. Isra Mikraj mengajari kita agar tak berlama-lama larut dalam putus asa dan kesedihan. Seberat apapun hidup yang kita jalani, kita harus selalu percaya bahwa Allah akan selalu ada dan memberikan jalan keluar dari kesedihan tersebut.

Memberikan Penafsiran yang Mubadalah kepada Perempuan dari Perjalanan Isra’ Mikraj

Setelah membaca ulang kisah Khadijah yang amat setia pada Rasulullah Saw. dan membandingkan dengan kisah-kisah para perempuan penghuni neraka yang bertolak belakang dengan sifat Khadijah. Ada semacam ketimpangan besar dalam pemahaman keagamaan yang menganggap bahwa perempuan adalah penghuni neraka terbanyak.

Hidup di Indonesia dan melihat langsung banyak sekali perempuan yang memberikan dukungan luar biasa terhadap suami dalam bekerja, berkarya dan berbuat baik. Sehingga membuat penulis rasanya sangat tidak terima jika narasi negatif masih melekat dan terus meminta perempuan menjadi pihak yang harus banyak berbenah.

Karenanya, kita memerlukan penafsiran yang lebih ramah dan adil terhadap perempuan. Jika dalam kisah Isra Mi’raj yang terperlihatkan adalah perempuan yang masuk neraka adalah karena mengumbar aib, tidak bersyukur atas kebaikan pasangan, berzina, dan ikhtilat. Maka bukan tidak mungkin laki-laki juga melakukan keburukan-keburukan tersebut.

Sejatinya, kisah perempuan yang masuk neraka karena perbuatan buruk tersebut, tidak sedang menunjukkan bahwa memang perempuan banyak berperilaku buruk. Melainkan bahwa seseorang masuk neraka karena sifat-sifat buruk yang melekat pada dirinya. Jika perempuan kita anggap sebagai penghuni neraka terbanyak, ini sangat tidak adil mengingat bahwa jumlah laki-laki yang memiliki sifat buruk pun tak sedikit.

Menarik ke belakang kisah Khadijah dan Rasulullah, pun kita dapat belajar untuk menjadi pasangan yang terus mendukung, saling bersetia dan tetap bertahan bahkan di titik nadir pasangan. Khadijah adalah cerminan perempuan surga dengan segala kemandirian, kehebatan, kecerdasan, dan kebaikan yang ia miliki.

Maka bukan tak mungkin bagi perempuan masa kini yang independen dan berkarya, serta setia pada pasangannya untuk mudah melangkah masuk ke dalam surga. Sebagaimana yang Khadijah r.a. teladankan.

Spirit Islam yang berlandaskan rahmatan lil ‘alamin sesungguhnya sedang mengajak kita untuk memaknai peristiwa dan kejadian dari sejarah atau yang terjadi hari ini. Yakni dengan cara pandang yang lebih hati-hati, positif, dan tentu saja adil terhadap siapa saja, termasuk perempuan. []

Tags: Hikmahislamisra mikrajNabi Muhammad SAWRenungansejarah
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Kekaguman Non Muslim Kepada Nabi Muhammad Saw

Next Post

Kitab Tahrir Al-Mar’ah Karya Abu Syuqqah: Kitab tentang Pembelaan Kepada Perempuan

Hesti Anugrah Restu

Hesti Anugrah Restu

Perempuan yang suka belajar, sedang berkhidmah di Afkaruna.id dan Rumah KitaB, bisa dihubungi melalui Facebook: Hesti Anugrah Restu Instagram: @perikecil97_______

Related Posts

Valentine Bukan Budaya Kita
Personal

Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

14 Februari 2026
Konsep Keluarga
Pernak-pernik

Konsep Keluarga dalam Islam

13 Februari 2026
Kehilangan Tak Pernah Mudah
Personal

Kehilangan Tak Pernah Mudah: Rasul, Duka, dan Etika Menjenguk yang Sering Kita Lupa

11 Februari 2026
Teologi Sunni
Buku

Rekontekstualisasi Teologi Sunni: Bagaimana Cara Kita Memandang Penderitaan?

9 Februari 2026
Antara Non-Muslim
Pernak-pernik

Kerja Sama Antara Umat Islam dan Non-Muslim

5 Februari 2026
Membela Perempuan
Pernak-pernik

Islam Membela Perempuan

4 Februari 2026
Next Post
Abu Syuqqah

Kitab Tahrir Al-Mar'ah Karya Abu Syuqqah: Kitab tentang Pembelaan Kepada Perempuan

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak
  • Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal
  • Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja
  • Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah
  • Metode Tafsir Mubadalah

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0