Mubadalah.id – Srikandi lintas Iman atau yang terkenal dengan sebutan Srili ini akan memasuki usia yang ke-10 tahun pada hari ini, 29 Agustus 2025. Srili merupakan sebuah komunitas perdamaian yang diinisiasi dan terisi oleh para perempuan dari berbagai suku, agama, ras, kepercayaan, ataupun keyakinan. Tujuannya dalam rangka mengambil peran dalam merawat nilai-nilai toleransi, perdamaian serta kemanusiaan di tengah-tengah keberagaman bangsa ini.
Srili merupakan komunitas non profit. Insiatormya adalah Wiwin Siti Aminah Rohmawati, yang merupakan Awardee KAICIID International Fellows Programe bersama dengan Pimpinan Wilayah Fatayat NU DIY pada 29 Agustus 2015 silam, sehingga di tahun ini sudah memasuki usia satu dekade.
Jika kita ibaratkan kepada usia manusia mungkin sepuluh tahun adalah proses anak-anak menuju pra remaja. Bagi sebuah komunitas tentu ini adalah satu hal yang perlu kita syukuri, karena untuk bisa sampai pada umur satu dekade tentu adalah hal yang tidak mudah. Butuh perjuangan serta cerita yang panjang bagi pengurus dan anggotanya.
Indonesia sebagai negara yang multikultural ini tentu membutuhkan peran aktif masyarakatnya dalam merawat perbedaan yang ada. Yakni dengan sikap saling menghargai, menghormati, dan menerima secara tulus dan lapang dada semua bentuk perbedaan tersebut.
Tujuannya agar kerukunan antar umat yang beragam tersebut tetap berjalan dengan penuh kerukunan tanpa ada pihak yang merasa paling terbaik di antara yang lain. Apalagi memaksakankan apa yang menjadi kepercayaan kepada kepada orang lain, karena tidak ada pemaksaan dalam beragama.
Peran Srikandi Lintas Iman
Srili yang awalnya mungkin diperuntukkan hanya bagi perempuan yang berada di sekitar kota Yogyakarta saja, hari ini anggotanya telah menyebar di banyak daerah. Sehingga perannya mampu menyentuh banyak kalangan untuk sama-sama berkomitmen dan saling bekerjasama menggaungkan nilai-nilai perdamaian ini. Meskipun tanpa adanya pendanaan dari pihak tertentu. Inilah yang membuat Srili semakin unik dibandingkan komunitas-komunitas lainnya.
Peran para perempuan yang tergabung di Srili dalam upaya menyebarkan pesan-pesan perdamaian tentu menambah nilai plus dari komunitas ini. Mengingat, perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam keluarga serta lingkungannya dalam banyak hal.
Termasuk dalam memperkenalkan dan memperjuangkan nilai-nilai toleransi dan perdamaian di lingkungan terdekatnya. Mulai dari anak-anak, keluarga terdekat hingga orang-orang di sekitar tempat tinggalnya masing-masing.
Kita tahu bahwa, perempuan dengan naluri keibuannya memiliki kelebihan tertentu dalam berinteraksi dengan keluarga, terutama anak-anak yang masih dalam proses mengenal banyak hal. Langkah ini yang kemudian para perempuan di Srili lakukan, yang memang berlatar ragam agama, suku, ras dan sebagainya.
Inilah yang sudah perempuan-perempuan Srili lakukan. Mereka terus memperkenalkan toleransi kepada orang-orang di sekitarnya, membuka ruang diskusi serta perjumpaan di antara sesama perempuan, sehingga benar-benar mampu duduk bersama tanpa adanya stigma dan prasangka satu sama lain.
Kegiatan Srikandi Lintas Iman
Di samping itu, Srili juga membuat program-program untuk memperluas jejaring serta perannya dalam visi-misi menjaga perdamaian tersebut. Di antaranya seperti beasiswa literasi untuk para perempuan-perempuan di seluruh Indonesia.
Beasiswa tersebut tertuju bagi mereka yang memiliki komitmen sama dalam menjaga serta merawat perdamaian di wilayahnya masing-masing. Selain itu membuka kesempatan bagi banyak pihak yang berkeinginan melakukan riset serta magang di Srili, sehingga Srili mampu berdampak lebih luas lagi.
Sejak 2020-an, saya juga diberi kesempatan untuk bisa bergabung menjadi anggota Srili ini. Yakni melalui program beasiswa literasi yang diadakan Srili. Visi-misi Srili membuat saya semakin berkomitmen bahwa mengambil peran dalam menjaga toleransi dan kerukunan antar umat beragama adalah tugas kita bersama.
Sekecil apapun peran tersebut, jika kita mampu berkomitmen secara berkelanjutan, maka akan melahirkan dampak yang baik di masa depan terhadap keharmonisan bangsa dan negara yang mejemuk ini.
Solidaritas Kemanusiaan
Srili mengajarkan kepada kita bahwa, toleransi itu tidak hanya sebatas teori, dan tuli dalam praktik. Akan tetapi bagaimana kita benar-benar mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari di antara sesama perempuan yang berbeda dalam banyak hal tersebut tanpa merasa paling benar.
Selain itu bergotong-royong dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan, saling mengunjungi satu sama lain, saling menerima satu sama lain secara terbuka, saling memberikan kebebasan kepada satu dengan yang lainnya dalam menjalankan kepercayaan dan keyakinan masing-masing. Lalu banyak hal-hal baik lainnya yang terus kami lakukan bersama oleh Srili atas nama kemanusiaan.
Perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan yang sudah Tuhan takdirkan kepada manusia, agar kita saling mengenal satu sama lain. Bukan untuk membangun kebencian di antara sesama, apalagi kekerasan. Karena tidak ada satu agamapun yang mengajarkan kekerasan kepada penganutnya.
Kita memang berbeda, tentu tidak akan bisa disamakan. Tetapi, kita bisa sama-sama dalam hal-hal kemanusiaan. Sebab kita adalah saudara dalam kemanusiaan. Selamat satu dekade Srili, teruslah menebar damai dan kebaikan di bumi pertiwi yang bhineka ini. []