Mubadalah.id – Tauhid merupakan inti ajaran Islam. Ia bukan hanya mengajarkan bagaimana manusia berketuhanan, tetapi juga bagaimana memanusiakan manusia. Dalam tauhid memiliki pesan mendasar bahwa relasi manusia dengan Tuhan tidak bisa dipisahkan dari relasinya dengan sesama manusia dan alam semesta.
Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, tauhid seharusnya menjadi kompas yang membimbing manusia untuk bertindak adil baik dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia, maupun lingkungan hidup.
Terlebih, tauhid juga menuntut manusia untuk tidak tunduk pada selain Tuhan. Termasuk pada hawa nafsu dan keserakahan. Karena itu, tauhid sesungguhnya adalah fondasi etika pembebasan dari segala bentuk penindasan.
Bertauhid secara benar akan mengantarkan manusia pada kehidupan yang baik di dunia dan kebahagiaan hakiki di akhirat. Namun, pemahaman tauhid tidak boleh berhenti pada pengakuan formal akan keesaan Allah. Sebab, tauhid mencakup pengenalan terhadap asma dan sifat-Nya, sekaligus kesadaran rasional akan keberadaan dan kekuasaan-Nya.
Jika tauhid hanya dimaknai sebagai pengakuan lisan, maka makhluk seperti iblis pun melakukannya. Iblis mengakui Allah sebagai Tuhannya, bahkan bersumpah atas nama kekuasaan Allah.
Namun, pengakuan itu tidak dengan ketaatan. Penolakannya untuk bersujud kepada Adam menjadi bukti bahwa pengakuan teologis tanpa kepatuhan moral justru melahirkan kesombongan dan pembangkangan.
Dengan dalih mengakui kemahabesaran Allah, iblis justru memohon penangguhan hidup untuk menyesatkan manusia. Kisah ini menegaskan bahwa tauhid menuntut lebih dari sekadar keyakinan. Ia menuntut ketaatan, kerendahan hati, dan keberpihakan nyata pada nilai-nilai kebaikan serta kemanusiaan.
Oleh sebab itu, tauhid yang tidak melahirkan etika sosial, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Maka hal itu sangat jauh dari spirit Islam yang membebaskan dan memanusiakan. []



















































