Mubadalah.id – Linimasa media sosial saya belakangan ini penuh dengan visual yang menyayat hati dari tanah para nabi. Sebuah pemandangan memilukan bagi umat, bagaimana otoritas Zionis menodai dan menutup paksa kompleks Masjid Al-Aqsha selama 10 hari terakhir Ramadan ini.
Di saat umat Islam seharusnya merengkuh kedamaian iktikaf di malam-malam ganjil pamungkas Ramadan, mereka justru dilarang keras melaksanakan salat Tarawih dan diusir secara brutal dari halaman kiblat pertamanya dengan dalih “keamanan” akibat perang melawan Iran. Tak jarang, rentetan video itu memperlihatkan betapa kejinya moncong senjata dan barikade militer membungkam hak beribadah di sana. Namun yang paling menyayat hati, kezaliman itu berbanding terbalik dengan diamnya para pemimpin dunia dan elit politik Arab.
Dalam cuplikan yang lain, para penyuara aspirasi umat banyak yang datang dari berbagai kalangan. Namun, ada satu hal yang paling menyorot perhatian saya di tengah peliknya tragedi ini. Bukan datang dari medan perang, melainkan dari sebuah masjid bersejarah di Istanbul, Turki. Sebuah peristiwa yang mengingatkan saya pada satu hal: The Power of Perempuan Turki itu nyata. Ketika sistem gagal melindungi, mereka hadir menjadi garda terdepan untuk menyuarakan nurani dan membangunkan kesadaran umat.
Di Malam Lailatul Qadar, Perempuan Menyiapkan “Bekal” Tamparan Mental!
Saat umat Islam di berbagai belahan dunia sedang menyambut malam Kadir Gecesi (Lailatul Qadar) dengan untaian doa yang syahdu, sebuah pemandangan tak biasa justru pecah di Masjid Fatih Sultan Mehmet, Istanbul, Turki. Di tengah keheningan malam itu, saat para jamaah laki-laki sedang berdiri merapatkan shaf Tarawih, dari lantai atas—balkon megah yang dikhususkan bagi jamaah perempuan—hujan kerudung dan hijab tiba-tiba turun melayang.
Jika biasanya di malam-malam ganjil Ramadan para perempuan identik dengan kesibukan menyiapkan hidangan sahur atau membagikan takjil di pelataran masjid, logistik yang mereka siapkan malam itu sama sekali berbeda. Pasukan perempuan Turki ini secara terorganisir dan kompak membuat gerakan serentak. Mereka menata, membagikan, dan mengumpulkan tumpukan kain penutup kepala di antara mereka sendiri.
Di setiap helai kain tersebut, mereka menyematkan pesan-pesan tajam yang mempertanyakan di mana letak pembelaan umat terhadap kehormatan Al-Aqsha. Sejurus kemudian, mereka melemparkannya ke bawah, membiarkan kain-kain itu mendarat tepat di atas pundak dan wajah para laki-laki di lantai dasar.
Suasananya mungkin hening dari hingar-bingar teriakan, namun gerakan serentak itu bagaikan badai yang meluluhlantakkan ego maskulinitas. Bahkan, ketika menulis rentetan kalimat ini, sebetulnya saya menjadi terharu sekaligus tertampar. Terbayang sosok perempuan-perempuan hebat ini.
Bahkan di tengah keterbatasan ruang gerak patriarki, mereka tetap berusaha keras merawat kewarasan umat. Dengan kekuatan moral seadanya, mereka mengambil langkah radikal. Untuk mengingatkan saudara laki-lakinya yang tengah terlelap dalam tidur panjang ketidakpedulian.
Tindakan kolektif ini menyiratkan kepedihan yang mendalam. Para perempuan Turki itu seolah sedang menyiapkan “bekal” tamparan kesadaran bagi para Qawwam (pelindung). Mereka mengorbankan atribut penutup kepala mereka demi memantik sisa-sisa keberanian para laki-laki. Mereka menolak diam saat melihat sesama perempuan dan anak-anak di Palestina terusir dari halaman masjid suci. Pesannya menggelegar tanpa suara. Jika laki-laki memilih bungkam, maka perempuanlah yang akan mengambil alih ruang perlawanan itu, meski hanya berbekal selembar kain dari atas balkon masjid.
Ujian Ghirah: Memungut Jilbab di Atas Pundak Laki-Laki
Di tengah bungkamnya dunia, hujan hijab di shaf laki-laki ini menjadi simbol ikonik perlawanan di tahun 2026. Sejarah mencatat, dalam budaya peradaban Timur Tengah dan Islam klasik, seorang perempuan Turki yang melemparkan penutup kepalanya kepada laki-laki adalah bentuk puncak keputusasaan sekaligus tamparan paling keras terhadap kehormatan (ghirah) laki-laki. Tindakan melemparkan jilbab di hadapan pria dalam tradisi Turki merupakan simbol desakan agar kaum pria bangkit menjaga kehormatan dan martabat umat.
Para aktivis menyadari bahwa aksi mereka di Masjid Fatih malam itu menggemakan kembali sebuah fragmen epik dari abad ke-12. Ratusan tahun yang lalu, seorang perempuan yang tak lagi sanggup melihat kezaliman nekat melemparkan jilbabnya tepat di hadapan panglima besar Salahuddin Al-Ayyubi. Dengan suara bergetar namun lantang, perempuan itu menyatakan bahwa ia tak kuasa berjalan tegak dan merasa terhormat dengan jilbabnya, selama Yerusalem masih diinjak-injak dan dikuasai oleh Tentara Salib.
Tamparan simbolis dari selembar kain perempuan itu nyatanya lebih tajam dari pedang mana pun. Lemparan jilbab itulah yang membakar ghirah Salahuddin, memaksanya untuk mempercepat waktu pengepungan Al-Quds. Hingga akhirnya kiblat pertama umat itu berhasil dibebaskan pada tahun 583 Hijriah (1187 Masehi).
Selama ini, dalam kacamata patriarki yang kaku, hijab seringkali direduksi fungsinya sebagai alat kontrol untuk “mendisiplinkan” tubuh perempuan. Namun malam itu, narasi tersebut dibalik secara radikal oleh barisan jamaah perempuan Turki Masjid Fatih. Mereka seolah menarik kembali kekuatan sejarah itu. Hijab kembali menjelma menjadi senjata tajam yang menguliti ego dan kejantanan.
Lemparan itu seolah berteriak lantang melintasi zaman, seakan mengulangi apa yang pernah diteriakkan di hadapan Salahuddin. Tepat di depan wajah kami sebagai laki-laki. “Wahai laki-laki, bangkitlah memikul tanggung jawab dan lindungi martabat umat! Jika kalian para laki-laki tidak berani bertindak dan kehilangan nyali untuk membela Al-Aqsha, maka lepaskan gelar kejantanan kalian, dan pakailah hijab-hijab kami ini!” Perempuan-perempuan Turki ini mengingatkan kita bahwa sejatinya perempuan tak pernah kehilangan taringnya untuk melawan ketidakadilan.
Kalau Perempuan Sudah Melemparkan Hijabnya, Berarti Maskulinitas Sedang Tidak Baik-baik Saja!
Belum saja menanggung beban ganda domestik dan ruang publik, para perempuan ini juga harus sibuk memikirkan kehormatan agama. Peran pelindung (Qawwam) yang seharusnya disandang oleh para laki-laki, justru harus diketuk paksa oleh perempuan.
Ketika suara protes perempuan sudah pecah di dalam rumah ibadah dengan cara se-ekstrem ini, itu artinya ada yang sangat salah dengan para pemimpin dan laki-laki kita. Mereka tidak lagi bisa menutup mata. Karena yang bersuara bukan lagi para politisi. Melainkan perempuan-perempuan yang seharusnya merasa aman dilindungi.
Umat seharusnya berhati-hati jika perempuan sudah melemparkan hijabnya. Setelah sistem kepemimpinan global gagal melindungi Al-Aqsha, kini para laki-laki juga terbukti gagal mengemban amanah perlindungannya. Maskulinitas tidak boleh meremehkan kekuatan tamparan para perempuan ini. Karena merekalah yang paling jernih melihat runtuhnya kemanusiaan.
Kita sebagai laki-laki perlu berbenah diri dalam menjalankan peran Qawwam. Jangan sampai kita hanya sibuk mengurus ego dan kenyamanan pribadi. Sementara kehormatan umat dibiarkan begitu saja hingga perempuan harus turun tangan mengingatkan. Kalau perempuan sudah melemparkan hijabnya ke shaf laki-laki, berarti maskulinitas sedang gagal menjalankan fungsinya sebagai Qawwam. Hidup perempuan yang melawan dan membangunkan kesadaran umat! []










































