Mubadalah.id – Keyakinan bahwa Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan menafikan segala bentuk pengistimewaan manusia atas manusia lain. Tidak ada manusia yang layak dipertuhankan. Semua manusia adalah hamba Allah, termasuk Nabi Muhammad SAW sendiri.
Keyakinan bahwa tidak ada sesuatu yang setara dengan Allah menjadikan selain-Nya tidak layak kita pertuhankan. Dari sinilah lahir pandangan kesetaraan manusia. Tidak ada manusia nomor satu dan nomor dua. Bahkan, tidak ada manusia yang layak dan boleh kita jadikan tujuan hidup, tempat bergantung mutlak, atau sumber ketaatan tanpa syarat.
Raja bukanlah tuhan bagi rakyat, pemimpin bukan tuhan bagi yang ia pimpin, dan suami bukan tuhan bagi istri. Ketakutan dan ketaatan mutlak kepada manusia yang melampaui ketaatan kepada Allah Swt merupakan bentuk pengingkaran terhadap tauhid.
Karena itu, rakyat tidak boleh mempertuhankan raja, bawahan tidak boleh mempertuhankan atasan, dan istri tidak boleh mempertuhankan suami.
Kemudian, pada tataran sosial, kekuatan tauhid yang ada di dalam Rasulullah SAW, membuat beliau berpihak kepada mereka yang lemah seperti perempuan, budak, dan anak-anak. Bahkan, Rasulullah SAW membongkar kezaliman yang para penguasa lakukan.
Dengan demikian, tauhid bukanlah doktrin statis. Ia adalah energi aktif yang menempatkan Tuhan sebagai Tuhan dan manusia sebagai manusia.
Maka dari itu, tauhid akan melahirkan masyarakat yang bermoral, adil, manusiawi, bebas dari diskriminasi, ketakutan, dan penindasan. Inilah tauhid yang Rasulullah SAW teladankan kepada kita semua. []




















































