Sabtu, 11 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    Kreator Disabilitas

    Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan

    Merawat Kesehatan Mental

    Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

    Poskolonialisme

    Poskolonialisme dan Rekolonialisme: Europe’s Dance dalam Piala Dunia 2026

    Individualis

    Ketika Masyarakat Semakin Individualis, Saatnya Menghidupkan Kembali Kepedulian

    Percaya Pondok Pesantren

    Kami Masih Percaya Pondok Pesantren

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren dan Praktik Collective Care di Lingkungan Pesantren

    Bertumbuh bersama Pesantren

    Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

    Kesehatan Mental Disabilitas

    Kesehatan Mental Disabilitas Belum Menjadi Prioritas

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Tetanus

    Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam

    Luka Dalam Aborsi

    Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya

    Infeksi Aborsi

    Kapan Infeksi Setelah Aborsi Menjadi Berbahaya? Ini Tanda-Tandanya

    Infeksi setelah Aborsi

    Infeksi Setelah Aborsi: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan Awalnya

    Aborsi

    Pasien Pingsan Setelah Aborsi? Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pendarahan Aborsi

    Pendarahan Hebat Setelah Aborsi, Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    Pendarahan pasca aborsi

    Cara Menghentikan Pendarahan yang Berlebihan Pasca Aborsi

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    Kreator Disabilitas

    Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan

    Merawat Kesehatan Mental

    Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

    Poskolonialisme

    Poskolonialisme dan Rekolonialisme: Europe’s Dance dalam Piala Dunia 2026

    Individualis

    Ketika Masyarakat Semakin Individualis, Saatnya Menghidupkan Kembali Kepedulian

    Percaya Pondok Pesantren

    Kami Masih Percaya Pondok Pesantren

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren dan Praktik Collective Care di Lingkungan Pesantren

    Bertumbuh bersama Pesantren

    Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

    Kesehatan Mental Disabilitas

    Kesehatan Mental Disabilitas Belum Menjadi Prioritas

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Tetanus

    Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam

    Luka Dalam Aborsi

    Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya

    Infeksi Aborsi

    Kapan Infeksi Setelah Aborsi Menjadi Berbahaya? Ini Tanda-Tandanya

    Infeksi setelah Aborsi

    Infeksi Setelah Aborsi: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan Awalnya

    Aborsi

    Pasien Pingsan Setelah Aborsi? Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pendarahan Aborsi

    Pendarahan Hebat Setelah Aborsi, Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    Pendarahan pasca aborsi

    Cara Menghentikan Pendarahan yang Berlebihan Pasca Aborsi

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Pernak-pernik

Rihlah Qahirah Part III : Sayyidah Nafisah adalah Wali Perempuan

Bagi kami, Sayyidah Nafisah adalah teladan sejati, bukan hanya bagi perempuan-perempuan di Indonesia, tetapi juga bagi para ulama dan cendekiawan di dunia

Nurul Bahrul Ulum by Nurul Bahrul Ulum
4 Juli 2023
in Pernak-pernik
A A
0
Sayyidah Nafisah adalah Wali Perempuan

Sayyidah Nafisah adalah Wali Perempuan

21
SHARES
1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Kunjungan ke tanah para ulama di Mesir tentu saja bukan kunjungan biasa. Di sana, saya dan para guru panutan: Nyai Nur Rofiah, Nyai Lilik Fuady, Nyai Umma Farida, Nyai Iffah Ismail, Nyai Mimin Mu’minah, dan Kiai Faqih Abdul Kodir berkesempatan untuk ziarah ke makam Sayyidah Nafisah, keturunan Rasulullah SAW yang lahir di Mekkah pada pertengahan Rabi’ul Awwal 145 Hijriah.

Di dalam masjid Sayyidah Nafisah, kami merasakan aura keulamaan perempuan yang begitu kuat. Meskipun terbatasi pintu yang tertutup, kami bisa merasakan koneksi mendalam dengan keilmuannya.

Saat kami datang, tampak sejumlah perempuan berjubah hitam di depan pintu makam tengah berdo’a kepada Allah dan memohon berkah dari Sayyidah Nafisah. Ini membuatku merinding, hingga tidak terpikir untuk mengambil foto dengan HPku.

Sebagai pengikut Aswaja, tak luput kami pun tahlilan di maqbarah Sayyidah Nafisah. Tahlil yang dipimpin oleh Nyai Iffah Ismail mengisi ruangan keharuan dan kekhusyuan. Kami berdoa dengan sungguh-sungguh, memohon berkah dari seorang ulama perempuan yang kami banggakan Sayyidah Nafisah.

Bagi kami, Sayyidah Nafisah adalah teladan sejati, bukan hanya bagi perempuan-perempuan di Indonesia, tetapi juga bagi para ulama dan cendekiawan di dunia.

Sayyidah Nafisah adalah perempuan ulama sekaligus ulama perempuan yang melekat dalam sejarah

Sebagai perempuan ulama, beliau mempunyai pengetahuan dan keahlian yang otoritatif dalam ilmu-ilmu keislaman. Sebagai ulama perempuan, beliau menggunakan pengetahuan itu untuk memperjuangkan hak-hak orang-orang yang tertindas, termasuk perempuan.

Karena kealimannya, beliau dijuluki nafisah al-‘ilm wa karamah ad-darain, sang ulama perempuan dan perempuan mulia di dunia dan akhirat. Julukan ini tidak berlebihan, karena beliau memang hafal sejumlah keilmuan pokok, mulai dari hadis, al-Qur’an, tafsir, hingga fiqh. Begitu mumpuninya, Imam Syafi’i pernah berguru kepada beliau dan meminta untuk dishalatkan oleh Sayyidah Nafisah jika beliau wafat duluan.

Tidak hanya Imam Syafi’i, sejumlah ulama besar seperti Abu Bakar ad-Daqqaiq, Imam Ismail al-Muzani asy-Syafi’i, Imam Abu Ya’qub al-Buwaithi, dan banyak lainnya juga pernah menimba ilmu dari beliau. Ini membuktikan bahwa ulama perempuan yang mempuni bisa menjadi guru bagi  ulama laki-laki. Bukan karena jenis kelaminnya, tapi karena kualitas dan kapabilitas keilmuannya.

Saya punya kekaguman lain tentang Sayyidah Nafisah

Bukan hanya kecerdasan dan pengetahuannya, tetapi keberaniannya untuk berpihak kepada kelompok tertindas. Beliau tidak hanya bergulat dalam kajian teks-teks agama dan ibadah, tapi juga berperan aktif dalam memperjuangkan hak-hak rakyat yang tertindas. Beliau bahkan pernah memimpin demonstrasi rakyat dan menulis surat kepada penguasa Ibnu Thulun untuk menghentikan penindasan.

Peran Sayyidah Nafisah ini membuktikan bahwa ulama perempuan terlibat penuh dalam proses perubahan sosial. Suratnya kepada penguasa menunjukkan sikap nyata melawan ketidakadilan dan kezaliman.

Hasilnya, penguasa Ibnu Thulun akhirnya menghentikan tindakan-tindakannya yang menyakiti rakyat. Perubahan terjadi dari kalimat dan tindakan Sayyidah Nafisah.

Oleh karena itu, saya memosisikan Sayyidah Nafisah bukan hanya ulama perempuan yang memiliki pengetahuan mendalam tentang agama, tapi juga seorang pemimpin dan pejuang hak asasi manusia. Dia adalah perempuan pemimpin yang berani dan bijaksana dalam penegakan ajaran agama yang adil dan maslahat.

Bagi saya dan teman-teman KUPI, Sayyidah Nafisah adalah sumber inspirasi

Kita semua harapannya bisa meneladani beliau dalam mengajarkan agama yang berpihak kepada kelompok tertindas, baik laki-laki maupun perempuan.

Pelajaran yang bisa kita petik dari kehidupan Sayyidah Nafisah, bahwa keberanian dan pengetahuan adalah dua pedang kemajuan. Tanpa keberanian, pengetahuan tidak akan memiliki arti. Tanpa pengetahuan, keberanian tidak akan memiliki arah. Semoga kita semua dapat selalu menjunjung dua hal ini, sebagaimana telah diteladankan ulama perempuan Sayyidah Nafisah.

Selama perjalanan ke Mesir, saya sangat beruntung karena ditemani anak muda yang luar biasa, Muhammad Fariz Baity. Dia adalah mahasiswa Pascasarjana Universitas al-Azhar Kairo, Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir dan Ulumul Qur’an. Anak muda keren yang berasal dari Malang, Jawa Timur, ini sudah mengabdikan hidupnya dalam menimba ilmu di negara bengawan Nil selama tujuh tahun.

Dengan gelar Lc yang ia sandang, tak heran dia punya pengetahuan luas tentang sejarah dan peradaban Mesir. Dia sangat antusias membagikan pengetahuan itu saat kita menjelajahi keindahan Mesir.

Kewalian Sayyidah Nafisah

Salah satu cerita paling menarik yang dia bagikan adalah tentang kewalian Sayyidah Nafisah. Menurut Fariz, Sayyidah Nafisah tidak hanya dihormati sebagai ulama, tetapi juga terpandang sebagai seorang wali perempuan yang dikaruniai banyak karomah atau keajaiban.

Beberapa karomah ini akan saya tuliskan di sini. Pertama, Sayyidah Nafisah adalah wali perempuan yang berhasil memulihkan aliran air Sungai Nil yang pernah mengering.

Fariz mengisahkan bahwa sebelum Islam datang, aliran air Sungai Nil tidak tentu. Terkadang meluap hingga banjir, tapi pada waktu yang lain kering berkepanjangan. Salah satu periode kekeringan terpanjang terjadi pada masa Sayyidah Nafisah.

Sebagai seorang tokoh yang dihormati dan dikeramatkan, masyarakat yang penghidupannya bergantung pada sungai Nil meminta tolong kepada Sayyidah Nafisah agar sungai Nil kembali mengalir.

Lalu, Sayyidah Nafisah berdoa dan memohon kepada Allah agar air Sungai Nil dapat kembali mengalir menjadi sumber penghidupan masyarakat. Dari doanya, beliau mendapat petunjuk untuk melemparkan selendangnya ke dalam sungai Nil.

Dengan bantuan dari para ajudannya, selendang tersebut berhasil ia lemparkan ke dalam Sungai Nil. Tak lama setelah itu, aliran air Sungai Nil pulih dan kehidupan masyarakat yang sangat bergantung pada air sungai itu kembali normal.

Ini adalah salah satu karomah Sayyidah Nafisah. Kekuatan doanya bisa memengaruhi alam.

Guru dari Imam Syafi’i

Tidak hanya itu, Fariz pun mengungkapkan bahwa Sayidah Nafisah juga seorang tabib sekaligus guru dari Imam Syafi’i. Sayyidah Nafisah bukan hanya membantu Imam Syafi’i dalam hal keilmuan, tetapi juga sebagai seorang psikolog yang menenangkannya saat ia merasa cemas dan ragu, khususnya ketika dimintai fatwa oleh masyarakat.

Dalam pengakuannya, setiap kali habis bertemu dengan Sayyidah Nafisah, Imam Syafi’i merasa pulih, tenang, dan mendapat pencerahan. Suatu ketika Imam Syafi’i sakit parah, lalu Sayyidah Nafisah memberikan isyarat bahwa usianya di dunia ini hampir berakhir. Atas isyarat itu, Imam Syafi’i  mempersiapkan diri sebaik-baiknya, dan akhirnya benar beliau wafat. Ini karomah lain dari Sayyidah Nafisah.

Ketiga, Sayyidah Nafisah juga memiliki kemampuan mengetahui hal-hal yang gaib, termasuk tentang kematian dirinya sendiri. Masih kata Fariz saat kami  mengunjungi makamnya di daerah Fustat, Sayyidah Nafisah sebelum wafat, beliau menggali liang lahatnya dengan tangannya sendiri.

Karomah Sayyidah Nafisah

Sebelum dimasukkan ke dalam liang lahat tersebut, Sayyidah Nafisah sudah memandikan dan mengkafani diri sendiri, serta berwudlu. Sebelumnya, setiap kali masuk ke dalam liang lahat, beliau selalu melantunkan hafalan al-Quran. Bahkan, konon beliau telah mengkhatamkan al-Quran puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali di dalam liang lahat tersebut.

Selain ini pun bentuk karomahnya, hal ini dilakukan sebagai kesiapsiagaannya untuk menghadapNya kapanpun. Pun pula menunjukkan betapa beliau tidak ingin menyusahkan orang lain, bahkan dalam urusan kematian.

Percaya tidak percaya, nyawanya malaikat cabut pada saat beliau berada di dalam liang lahat, senilai dengan persiapan yang ia lakukan. Akhirnya, masyarakat hanya menimbun tanah di liang lahat tersebut.

Semua kejadian luar biasa ini menunjukkan karomah-karomah yang Sayyidah Nafisah miliki.

Jelaslah, sebagai seorang ulama dan wali, Sayidah Nafisah membuktikan bahwa perempuan memiliki kapasitas intelektual dan spiritual yang luar biasa, dan dapat berkontribusi secara signifikan dalam bidang keagamaan dan sosial.

Pentingnya Pengakuan Ulama Perempuan dalam Sejarah

Kisah ini membawa refleksi mendalam pentingnya pengungkapan dan pengakuan kekuatan dan kontribusi ulama perempuan dalam sejarah. Anggapan masyarakat bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah dan berposisi di bawah laki-laki terbantahkan dengan kisah Sayyidah Nafisah ini.

Ini juga adalah bukti kuat bahwa perempuan tidak hanya berdaya, tetapi juga dapat menjadi pemimpin dan figur inspiratif dalam masyarakat.

Hubungan antara Sayidah Nafisah dan Imam Syafi’i menegaskan bahwa  perempuan juga bisa mendidik dan membimbing ulama laki-laki. Perempuan tidak saja menjadi sumber dukungan spiritual, intelektual, dan kebijaksanaan, tetapi juga mampu memengaruhi dan membentuk pemikiran keagamaan laki-laki ulama.

Sekali lagi, kisah Sayyidah Nafisah harus menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menghargai, mendukung, dan mendorong perempuan di sekitar kita untuk mengejar ilmu dan berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk keagamaan.

Kita harus menyadari bahwa kekuatan dan kebijaksanaan bisa diwujudkan perempuan. Sayidah Nafisah adalah bukti nyata dalam sejarah.

Terima kasih Fariz atas cerita berharganya. Berkatmu, perjalananku ke Mesir menjadi sangat bermakna. Semoga cerita ini bisa menginspirasi kita semua. (bersambung)

Tags: KupiMesirSayyidah Nafisahulama perempuanwali perempuan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Seluruh Tradisi Islam Bersifat Dinamis

Next Post

Kaidah Fiqh dapat Menjadi Rujukan dalam Membaca Realitas

Nurul Bahrul Ulum

Nurul Bahrul Ulum

Related Posts

Agensi Perempuan
Buku

Agensi Perempuan dari Memoar Huda Sha’rawi “Neraka di Harem”

9 Juli 2026
SUPI
Personal

Merawat Jiwa, Menjaga Amanah: Catatan Mahasantri SUPI Belajar Kesehatan Mental dengan Perspektif KUPI

17 Juni 2026
Sitti Rohmi Djalilah
Figur

Sitti Rohmi Djalilah: Ulama Perempuan dalam Gerak Muslimat dan Pendidikan

5 Juni 2026
Lukman
Aktual

Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

26 Mei 2026
Cut Nyak Dien
Aktual

Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

26 Mei 2026
Nyai Luluk Farida
Aktual

Di BuKUPI, Nyai Luluk Farida Ajak Masyarakat Dukung Perjuangan Ulama Perempuan

26 Mei 2026
Next Post
Fiqh

Kaidah Fiqh dapat Menjadi Rujukan dalam Membaca Realitas

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman
  • Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam
  • Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan
  • Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah
  • Poskolonialisme dan Rekolonialisme: Europe’s Dance dalam Piala Dunia 2026

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0