Kamis, 5 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Difabel dalam Sejarah Yunani

    Menilik Kuasa Normalisme Difabel dalam Sejarah Yunani

    Dr. Fahruddin Faiz

    Dr. Fahruddin Faiz: Kerusakan Alam sebagai Cermin Moral Manusia

    Guru Honorer

    Nasib Miris Guru Honorer: Ketika Negara Menuntut Dedikasi, Tapi Abai pada Keadilan

    Board of Peace

    Board of Peace dan Kegelisahan Warga Indonesia

    Kader Ulama Perempuan

    Penguatan Agensi Perempuan lewat Beasiswa LPDP Kader Ulama Perempuan

    Disabilitas dan Dunia Kerja

    Disabilitas dan Dunia Kerja: Antara Regulasi dan Realita

    Disabilitas Psikososial

    Disabilitas Psikososial: Mengenal Luka Tak Kasatmata dalam Perspektif Mubadalah

    Perempuan ke Masjid

    Akses Perempuan ke Masjid dan Tantangan Sosial Hari Ini

    Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

    Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati; Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Membela Perempuan

    Islam Membela Perempuan

    Haji Wada'

    Posisi Perempuan dalam Wasiat Nabi di Haji Wada’

    Sujud

    Hadits Sujud sebagai Bahasa Penghormatan dalam Relasi Suami-Istri

    Sujudnya Istri

    Membaca Hadits Sujudnya Istri kepada Suami dengan Perspektif Mubadalah

    Malam Nisfu Sya’ban

    Tradisi Malam Nisfu Sya’ban di Indonesia

    Malam Nisfu Sya’ban

    Ampunan Dosa di Malam Nisfu Sya’ban

    Nisfu Sya'ban

    Nisfu Sya’ban, Momentum Evaluasi dan Laporan Amal Umat Islam

    Amalan Nisfu Sya'ban

    Nisfu Sya’ban dan Ragam Amalan Utama Menjelang Ramadhan

    Perempuan Shalat Subuh

    Hadis Bukhari Catat Perempuan Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Nabi

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Difabel dalam Sejarah Yunani

    Menilik Kuasa Normalisme Difabel dalam Sejarah Yunani

    Dr. Fahruddin Faiz

    Dr. Fahruddin Faiz: Kerusakan Alam sebagai Cermin Moral Manusia

    Guru Honorer

    Nasib Miris Guru Honorer: Ketika Negara Menuntut Dedikasi, Tapi Abai pada Keadilan

    Board of Peace

    Board of Peace dan Kegelisahan Warga Indonesia

    Kader Ulama Perempuan

    Penguatan Agensi Perempuan lewat Beasiswa LPDP Kader Ulama Perempuan

    Disabilitas dan Dunia Kerja

    Disabilitas dan Dunia Kerja: Antara Regulasi dan Realita

    Disabilitas Psikososial

    Disabilitas Psikososial: Mengenal Luka Tak Kasatmata dalam Perspektif Mubadalah

    Perempuan ke Masjid

    Akses Perempuan ke Masjid dan Tantangan Sosial Hari Ini

    Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

    Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati; Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Membela Perempuan

    Islam Membela Perempuan

    Haji Wada'

    Posisi Perempuan dalam Wasiat Nabi di Haji Wada’

    Sujud

    Hadits Sujud sebagai Bahasa Penghormatan dalam Relasi Suami-Istri

    Sujudnya Istri

    Membaca Hadits Sujudnya Istri kepada Suami dengan Perspektif Mubadalah

    Malam Nisfu Sya’ban

    Tradisi Malam Nisfu Sya’ban di Indonesia

    Malam Nisfu Sya’ban

    Ampunan Dosa di Malam Nisfu Sya’ban

    Nisfu Sya'ban

    Nisfu Sya’ban, Momentum Evaluasi dan Laporan Amal Umat Islam

    Amalan Nisfu Sya'ban

    Nisfu Sya’ban dan Ragam Amalan Utama Menjelang Ramadhan

    Perempuan Shalat Subuh

    Hadis Bukhari Catat Perempuan Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Nabi

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Obituari; Ustad Salimin Fakih Biah Berjalan

Kita amat khusuk mengihya' 'isya'aini dengan cara berbeda. Saking khusuknya, kita lupa tak pernah foto bersama

Moh Soleh Shofier by Moh Soleh Shofier
8 Oktober 2024
in Personal
A A
0
Ustad Salimin

Ustad Salimin

17
SHARES
859
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah. Id – Bakda maghrib, hampir dipastikan whatsapp ku berdering telepon (kadang chat) atas nama kamu, Ustad Salimin untuk mengajak makan — atau sebaliknya.

Ketika semua santri ngaji kitab ke Kiai Sukandi, kita berdua siap menyantap nasi. Kadang kala, kau bawakan lauk yang kupesan dari PP. Salafiyah Syafi’iyah Situbondo.

Filosofi Sebutir Nasi

Acap kali kau menyampaikan ke saya riwayat dari Gus Tamam terkait filosofi makanan. Bahwa di balik sebutir nasi yang tersaji di wadah kita, ada keringat petani-petani kita saat menanamnya dan memanennya.

Ada jerih payah orang tua kita mendapat dan mengelola sebutir nasi tersebut. Sehingga tak elok kita menyisakan sebutir nasi itu tergeletak di piring kita. Aku menambahkan, dalam bahasa hadis Nabi yaitu.

فَإِنَّكُمْ لا تدْرُونَ في أَيِّ طَعامِكُمُ البَركَةُ.

“Sesungguhnya kalian semua tidak tahu dalam makanan yang manakah keberkahan itu bersemayam” (HR. Muslim).

Artinya, setiap butir nasi menyimpan keberkahan dari pengharapan dan ketulusan petani kita saat menanam, merawat, dan memanennya. Ada keberkahan dari jerih payah orang tua kita dalam mendapatkan dan keikhlasan mengelolanya hingga bisa kita makan. Begitulah kira-kira pesan Nabi.

Setelah makan, kita bersantai di depan gubuk mu, rokoan. Sembari khusuk rokoan kita berkisah. Dari hal yang remeh temeh hatta soal ide, gagasan besar dan muliamu, persoalan bangsa dan negara. Soal anak-anak desa yang mesti berpendidikan dengan akhlak yang mulia.

Depan Gubuk Bakda Maghrib, Kita Berkisah

Salah satu pembahasan remeh yang santer kita bicarakan adalah soal ayam yang kita beli bersama itu. Mulai dari cara beri makan yang sehat, hingga menambah ekor lebih banyak lagi. Bagi saya, ayam-ayam itu bentuknya lauk kalau nanti kita masak, atau uang kalau kita jual.

Rupanya saya salah, di matamu ayam-ayam itu tempat implementasi ilmu fikih lingkunganmu. Kau menempatkan ayam sebagai entitas makhluk hidup. Makhluk hidup sebagai mana kita, manusia. Sehingga manusia tidak boleh sewenang-wenang ke mahluk lain. Meski menjadi pusat dari jagat raya atau dalam bahasa Al-Quran, Khalifah fil ardi yang kemudian kenal dengan aliran antroposentris.

Ustad Salimin, kamu mempraktikkan fikih biah (lingkungan). Contoh kecil kita sama-sama memberi makan ayam kita, bedanya kau memberi makan karena bagimu ayam itu makhluk hidup yang juga wajib makan yang layak. Bagi saya, karena ia ayam yang akan saya manfaatkan untuk kepentingan manusia.

Sesekali kita ketawa depan gubuk itu, Ustad Salimin. Bagaimana tidak, kita sering diskusi soal makanan ayam yang rutin, bergizi, dan sehat. Faktanya ayam kita tambah kurus tak karuan. Dan sesekali kita hanya kumpul depan gubuk itu tanpa bicara, hanya sepatah dua patah lalu kita tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Memakmurkan Bumi

Oh iya. Salah satu ide dan gagasanmu yang menurut saya besar dan mulia yaitu kau akan mengoptimalkan lahan-lahan di desamu, Kangean. Bersama istrimu, kau akan mengelola tanah yang kau punya semaksimal mungkin –  tanpa mengabaikan pendidikan. Dalam bahasa agama yang sering kita pakai sebagai istilah teknis, memakmurkan bumi Tuhan.

Tentu memakmurkan bumi bukanlah mengeksploitasi, hanya mengeruk keuntungan dari bumi demi memenuhi dahaga kerakusan manusia. Tidak. Tapi mengambil manfaat dari bumi itu secara proporsional dan melestarikannya berkala dan berkelanjutan.

Sehingga lahir simbiosis mutualisme antara alam dan manusia. Itulah hakikatnya memakmurkan bumi, kataku padamu, Ust. Salimin dan kau geleng-geleng kepala seolah dapat kuliah umum dari ilmuan Jerman.

Allah berfirman dalam Surat Hud ayat 61:

هُوَ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا فَاسْتَغْفِرُوْهُ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ ۗ

Artinya: “Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya maka minta ampunlah kalian dan bertaubat kepadanya…,”.

Soal itu, kau kategorikan sebagai “Fikih Biah” dengan referensi kitab al-Biah karya Syekh Ali Jum’ah. Yang mana saya tidak setuju denganmu, Ust. Salimin. Saya lebih suka pakai istilah “fikih Agraria” dengan rujukan dalam kitab al-Ahkam al-Sulthaniyah yang saya cocok logikan dengan konsep Ihya’ul Mawat yang sudah aku modifikasi.

Tapi kita tidak berdebat soal istilah teknis atau konsep dasar yang kita gunakan. Intinya, kau ingin mengembangkan lahan Tuhan semaslahat mungkin. Mengelola lahan secara benar, tidak hanya secara ilmu pertanian tapi juga secara aturan “fikih biah”. Mulai dari sebelum, saat, dan sesudah menanam di lahan tersebut.

Ringkasnya, bukan hanya kita dapat apa dari bumi, tapi bumi dapat apa dati kita. Saya pun berdecak kagum dengan gagasan dan ide cemerlang serta niat tulusmu. Karena persoalan pangan, adalah masalah akut di Negri ini.

Pentingnya Menanam Pohon

Terbaru, kau bercerita ingin menanam pohon kelengkeng di depan asrama. Tekad itu bulat, kau minta izin ke Kiai Sukandi untuk menanamnya. Betapa mulia alasanmu, agar pondok ini rindang sembari ada buahnya yang bisa santri makan. Lagi-lagi, saya geleng-geleng kepala lihat orang seperti kamu, Ust. Salimin.

Suatu ketika kau bilang, soal teori dan wacana fikih biah, saya lebih unggul darimu. Benar. Tapi kamu mempraktikkannya, bukan hanya berwacana.

Misal, dengan menanam pohon kelengkeng setidaknya kau menabur dua manfaat. Membantu penghijauan bumi yang sekarang sekarat dari pemanasan global, dan membantu santri-santri yang bahagianya tak terkira bisa makan buah-buahan kelengkeng itu. Saya iri padamu.

Kau mempraktikkan hadis Nabi akan pentingnya menanam pohon. Salah satu hadis Nabi menandaskan.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلاَّ كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَلاَ يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ

“Rasulullah bersabda, “Tiadalah orang muslim yang menanam pohon kecuali apa yang dimakan akan beenilai sedekah. Yang dicuri juga bernilai sedekah. Tiadalah orang yang mengambil buah dari pohonnya kecuali bernilai sedekah untuk yang menanam sampai hari kiamat”

إن قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا

Artinya: “Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah.” (HR. Bukhari&Ahmad)

Pentingnya Mematikan Rokok Saat Perjalanan

Dan lagi, tiap kali mau berangkat perjalanan, tad Salimin, apa lagi saat menggunakan motor. Kau pasti mematikan rokokmu, atau kau habiskan dulu. Padahal, bagi saya itu merupakan bentuk refresing gratisan, nikmat berupa beban pikiran berkurang.

Tapi itu dulu, sekarang aku sadar tanpa kau tegur atau ingatkan bahwa kelakuan demikian tak terpuji. Aku sadar dengan sulukmu mengapa kau selalu mematikan rokokmu saat kita hendak berangkat perjalanan. Kau lagi-lagi mempraktikkan fikih lingkungan-sosial. Dengan kata lain, “Bila tak bisa bermanfaat untuk orang lain, setidaknya tidak membuat orang susah”.

Karena faktanya, orang sekitar paling jengkel berjalan beriringan dengan orang yang berkendara sembari merokok. Orang sekitar merasa terganggu dan tersakiti karenanya.

Kesekian kalinya aku menggelengkan kepala gegaramu, Uts. Salimin. Rupanya saya hanya menghafal dan tak benar-benar menjalankan hadis Nabi sebagaimana engkau Ust. Salimin.

لا ضرر ولا ضرار

“Janganlah berbuat mudarat pada diri sendiri apa lagi orang lain” (HR. Al-Hakim)

Menghidupkan Waktu Antara Maghrib dan Isya dan Selintas Kisah Asmaramu

Itulah ritual kita hampir setiap bakda maghrib. Kita amat khusuk mengihya’ ‘isya’aini (menghidupkan waktu antara maghrib dan isya) dengan cara berbeda. Kadang cerita, kadang diskusi yang remeh hingga “ide besar” kadang khusu’ mendengar lantunan solawat “Ya Saayyidi”.

Saking khusuknya, kita lupa tak pernah foto bersama. Ya, saya tak punya fotomu yang sama saya satupun. Anehnya, Jumat itu kau tumben mengajak foto bersama saya dengan jaz pernikahanmu yang gagah, yang entah kenapa foto itu tak jadi, bahkan tak akan pernah terjadi.

25 tahun lalu engkau lahir ke dunia, setahun setelah krisis moneter 1999.  Tak lama Tuhan memberi karunia 2 adik yang lucu, perempuan dan laki-laki. Kau begitu hangat tiap kali menyapa keluargamu.

Dalam suasana keluarga yang sederhana, kau terus tumbuh. Melalang buana menjalankan perintah Ilahi mencari ilmu menuju kebenaran. Laksana Salman Alfarisi yang bermusafir dari Persia hingga bertinggal di Madinah demi Kebenaran Islam. Atau bak biksu Tong Sam Cong yang berjelan ke barat mencari kitab suci.

Kau sudah mendapatkannya. Tugas mencari kebenaran sudah selesai, dan tugas baru menantimu: pulang menikahi perempuan yang mendekatkan diri ke Tuhanmu. Dan 21 September 2024, harusnya engkau mengikatkan janji pernikahan dengan kekasihmu.

Perjanjian antara kamu dan istrimu yang Alquran sebut Mitsaqan Ghalizdan, sehingga kau mempersiapkan segalanya dengan kesungguhan demi menyambut kekasih yang akan kau halalkan melalui kalimat suci Tuhan. Tapi rupanya tuhan lebih dulu memanggilmu.

Kepergianmu

Dan perenungan kita itu mulai bubar manakala sudah ada ustad-ustad berdatangan — sebagai tanda waktu  mengajar. Misal Ust. Ramsi, Ust. Asroni, Ust. Hasan. Lalu saya akan pergi ke tingkat atas siap mengajar.

Tapi sekarang, dirimulah Ust. Salimin yang pergi bahkan kau tak akan balik lagi di gubuk ini bakda maghrib waktu kita berhikayat dengan syahdu. Kau pergi pada 10 September 2024 bertepatan 6 Rabiul Awal 1446 menuju ke pangkuan Tuhanmu yang merindukanmu.

***

Sekarang dan seterusnya, tentu whatsapp ku tak ada telepon darimu lagi. Meski saya akan tetap makan, dan setelah itu saya akan kirimkan makan untukmu berupa doa dan fatihah. Ke mana teleponmu Ust. Salimin, seorang fakih biah berjalan? []

Tags: Fikih LingkunganFiqh BiahFiqh Lingkungan SosialobituariUstad Salimin
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Moh Soleh Shofier

Moh Soleh Shofier

Dari Sampang Madura

Related Posts

Ekosentrisme
Buku

Visi Ekosentrisme Al-Qur’an

2 Februari 2026
Wahabi Lingkungan
Lingkungan

Wahabi Lingkungan, Kontroversi yang Mengubah Wajah Perlindungan Alam di Indonesia?

2 Februari 2026
Obituari
Pernak-pernik

Membaca Bersama Obituari Zen RS: Karpet Terakhir Baim

23 Mei 2025
Energi Terbarukan
Publik

Tashawwurul Mas’alah dalam Urgensi Fikih Transisi Energi Terbarukan

8 Februari 2025
Sampah Pesantren
Publik

Sampah Pesantren: Menyoal Kebersihan dan Kesehatan Menstruasi Perempuan

27 Agustus 2024
Krisis Lingkungan
Featured

Islam dan Krisis Lingkungan: Siapa yang paling Bertanggung Jawab?

2 Februari 2026
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Guru Honorer

    Nasib Miris Guru Honorer: Ketika Negara Menuntut Dedikasi, Tapi Abai pada Keadilan

    29 shares
    Share 12 Tweet 7
  • Dr. Fahruddin Faiz: Kerusakan Alam sebagai Cermin Moral Manusia

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Menilik Kuasa Normalisme Difabel dalam Sejarah Yunani

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Posisi Perempuan dalam Wasiat Nabi di Haji Wada’

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Membaca Hadits Sujudnya Istri kepada Suami dengan Perspektif Mubadalah

    11 shares
    Share 4 Tweet 3

TERBARU

  • Islam Membela Perempuan
  • Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali
  • Posisi Perempuan dalam Wasiat Nabi di Haji Wada’
  • Menilik Kuasa Normalisme Difabel dalam Sejarah Yunani
  • Hadits Sujud sebagai Bahasa Penghormatan dalam Relasi Suami-Istri

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0