Mubadalah.id – Konten-konten bertemakan Hari Raya Idulfitri berseliweran di beranda media sosial saya. Isi dan substansinya beragam. Ada yang lucu, haru, dan beragam lainnya. Salah satu konten yang bikin sedih banyak orang, adalah konten yang menceritakan nasib naas orang miskin saat momentum Lebaran.
Dalam konten itu menyebutkan bahwa tidak ada orang-orang, baik tetangga, atau siapa pun yang mau berkunjung atau bersilaturahmi ke orang miskin, ke rumah-rumah orang yang tak berduit, entah sekedar menyapa atau masuk ke dalam rumah untuk mencicipi jajanan Lebaran. Konten tersebut membandingkan dengan perilaku masyarakat ke orang-orang kaya saat Lebaran. Masyarakat cenderung lebih tertarik untuk mengunjungi rumah milik orang kaya daripada orang miskin.
Konten tersebut sesuai dengan realitas yang sering terjadi di masyarakat kita. Saya pun pernah melihat apa yang diceritakan dalam konten tersebut.
Dulu, saya sering diajak main ke rumah nenek. Tak jauh dari rumah nenek tersebut, ada rumah warga dengan ukuran kecil dan lantai masih terbuat dari tanah liat. Di saat para tetangga lain keluar rumah untuk bersalam-salaman, penghuni rumah miskin tersebut saya perhatikan hanya sesekali mengintip dari pintu rumah. Seperti ada perasaan malu untuk keluar rumah.
Saat saya mengamati rumah tersebut, tampak belum ada orang yang mendatangi rumah tersebut, atau mampir untuk sekadar menyapa penghuni rumah tersebut. Saya tidak tahu persis apa yang terjadi dengan penghuni rumah tersebut. Yang jelas jika kita lihat dari segi bangunan, penghuni rumah tersebut memang butuh perhatian dari masyarakat sekitar.
Makna Hari Kemenangan
Hari Raya Idulfitri disebut-sebut sebagai hari kemenangan. Banyak orang bilang sebagai kemenangan selama sebulan penuh berpuasa dari rasa haus dan lapar, kemenangan setelah 30 hari menahan diri dari hawa nafsu, dan lain sebagainya. Lalu benarkah Hari Raya Idulfitri adalah hari kemenangan?
Aktivis Perempuan Dr Hj Nur Rofiah, dalam sebuah tulisan terbarunya di Mubadalah.id menyebutkan bahwa Idul Fitri bukanlah hari kemenangan sesungguhnya. Hari kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika seorang muslim mampu tetap menjaga perilaku terbaiknya sebagai hamba Allah SWT, yakni di 11 bulan ke depan hingga Bulan Ramadan berikutnya.
Begitu pula, Prof Quraish Shihab, melansir NU Online, mengatakan bahwa menyebut Idul Fitri sebagai hari kemenangan, amatlah keliru jika selama ini penamaan tersebut merujuk dengan memahami lafad “Faizin” yang berarti menang.
Sebab, menurutnya, pada zaman Nabi pengucapannya berupa lafal Taqabbalallahu minna wa minkum. Mantan Menteri Agama tersebut menambahkan bahwa perjuangan melawan nafsu, melawan setan, pertempuran itu berlanjut tidak ada hentinya kecuali setelah manusia mati. Bisa jadi manusia merasa menang namun sebenarnya sudah kalah.
Apa yang disampaikan Bu Nur Rofiah dan Pak Quraish Shihab saya kira tepat. Hari Raya Idulfitri bukanlah hari kemenangan sesungguhnya bagi umat Islam. Kemenangan yang hakiki adalah kemenangan yang menjadikan orang-orang yang bertambah takwa kepada Allah.
Dan itu memang seyogyanya tidak hanya terjadi di Bulan Ramadan saja, namun di bulan-bulan yang lain juga masih harus tetap bertakwa kepada sang maha pencipta. Singkatnya, kita jangan terlena dengan makna hari kemenangan. Kita jangan pernah merasa menang, apalagi berpuas diri dengan apa yang sudah kita lakukan.
Kisah Haru di Hari Bahagia
Jikalau banyak orang menganggap Hari Raya Idulfitri adalah hari kemenangan, izinkan saya untuk sedikit memberikan pandangan. Menurut saya, Hari Raya Idulfitri bukan hari kemenangan untuk semua orang.
Ada banyak orang yang tak bisa merasakan kebahagiaan di momen yang seharusnya penuh dengan rasa suka cita. Tidak sedikit orang yang tak mampu menikmati nikmatnya bercengkrama dengan keluarga tercinta di hari penuh bahagia.
Sebagian yang lain tak bisa mudik ke kampung halaman karena kondisi ekonomi yang kembas kempis. Sebagian lainnya tak bisa melihat wajah orang tuanya secara langsung karena harus bekerja penuh tekanan. Dan, beberapa orang lainnya juga terpaksa menelan kesedihan karena tertimpa musibah yang tak terduga-duga di hari nan fitri.
Di Pemalang, Jawa Tengah, dua orang meninggal dunia dan belasan lainnya luka-luka akibat tertimpa pohon tumbang. Peristiwanya terjadi ketika hendak melaksanakan Sholat ied di Alun-alun Pemalang. Hari yang seharusnya menjadi episode kegembiraan harus berakhir dengan malapetaka. Keluarga korban tentu bersedih. Notifikasi WhatsApp yang semestinya berisi ucapan “Minal Aidin Wal Faizin” bertransformasi menjadi ucapan duka berupa kalimat istirja.
Di tempat lain, Jen Cahyani, seorang reporter media nasional, belum dapat pulang ke rumah tiga tahun lamanya karena masih mengemban tugas untuk menyiarkan berita. Video terbarunya yang lagi Video Call dengan orang tuanya mendapat sorotan publik. Jen Cahyani mengaku kangen masakan opor ayam ibunya.
Tentu, Jen Cahyani tidak sendirian. Ada banyak pekerja lain yang tak bisa menikmati Lebaran dengan seratus persen kebahagiaan karena harus menyelesaikan pekerjaan, baik saat H-1 Lebaran sehingga tak punya waktu menyiapkan segala kebutuhan Lebaran, atau bahkan di saat hari Lebaran.
Tukang kurir paket, misalnya. Mereka masih harus berkelahi dengan waktu mengantarkan barang-barang milik masyarakat di H-1 jelang Lebaran. Atau karyawan rumah makan yang masih tetap harus lembur di malam takbiran. Tekanan mental dan fisik tentu pasti ada bagi mereka.
Lebaran Tidak Selalu Milik Semua Orang
Lebaran tidak selalu milik semua orang, meski Hari Raya IdulfFitri identik dengan suasana kegembiraan. Orang-orang yang masih bekerja di hari-hari jelang Lebaran, bahkan ada yang dituntut tetap beraktivitas di hari-H Lebaran, mungkin akan mendapatkan upah lembur, meski tidak seberapa.
Namun, saya yakin, kesenangan memperoleh upah tambahan tidak sebanding dengan ketika bisa melihat senyum orang tua (bagi yang ortunya masih ada), dan berkumpul dengan keluarga besar di rumah sambil makan ketupat dan opor ayam.
Bagi sebagian orang, terutama masyarakat kelas menengah ke bawah, perayaan Hari Kemenangan mungkin hanya bisa dirasakan dalam kurun waktu yang sangat singkat, dua hari saja misalnya. Sebab, mereka harus kembali membanting tulang untuk membereskan tumpukan utang pekerjaan dan mungkin juga untuk melunasi utang kepada orang-orang.
Hari Kemenangan ini mungkin hanya diperuntukkan bagi orang-orang dengan kondisi ekonomi yang mapan. Yang bisa membeli apa pun yang dikehendaki, yang bisa flexing barang-barang mewah di depan tetangganya yang tak punya apa-apa, dan yang bisa mengatur sana-sini tanpa memberi kontribusi yang berarti.
Kebahagiaan serupa tidak berlaku bagi masyarakat yang terkena PHK, bagi masyarakat yang ruang hidupnya dirampas oleh pejabat, bagi masyarakat yang dijerat ketidakadilan, dan bagi masyarakat yang tertindas.
Mereka, jangankan menerima THR, pekerjaan dengan gaji tetap saja tidak punya. Jangankan menikmati hidangan lezat, untuk mengumpulkan butir-butir nasi saja masih harus mengetuk pintu dari satu tetangga ke tetangga yang lain. Juga bagi mereka yang sudah kehilangan anggota keluarganya karena tertimpa bencana, umpamanya. Jangankan menyatu dengan keluarga lengkap, sosok ibu dan ayahnya saja telah tiada.
Tak Semua Orang Bisa Berbahagia
Tidak semua orang merasakan kebahagiaan yang sama di hari yang sakral ini. Tidak semua orang bisa makan enak. Ada pula orang-orang yang tak bisa bersilaturahmi kesana kemari karena tak punya alat transportasi. Begitu pun, tidak semua orang punya kendaraan mewah untuk dipamerkan, dan tidak semua orang punya banyak uang untuk dihambur-hamburkan.
Dalam kondisi apa pun, guru ngaji saya sering berkata “kita tetap harus bersyukur dan selalu ingat Allah, baik dalam kondisi susah maupun senang. Saat sedang kaya, kita harus ingat Allah dan peduli kepada orang-orang sekitar. Saat sedang susah, kita juga tetap harus bersyukur dan tidak mudah menyalahkan keadaan, karena Allah hanya sedang menguji iman kita,”.
Saya doakan, panjang umur bagi orang-orang kaya yang, di momen Lebaran ini masih hobi berbagi kepada saudara-saudara muslim yang tak bertaji. Panjang umur bagi dermawan yang menyalurkan zakat dan sedekahnya ke orang-orang fakir miskin, anak yatim-piatu, dan kaum marjinal. Semoga sedikit pemberian dana filantropi itu bisa menghadirkan senyum di wajah-wajah orang tak berpunya di hari raya ini. []