Jumat, 5 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

    Nyai Luluk Farida

    Di BuKUPI, Nyai Luluk Farida Ajak Masyarakat Dukung Perjuangan Ulama Perempuan

    Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan

    BuKUPI 2026, Nyai Badriyah Tegaskan “Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan”

    BuKUPI

    Pera Sopariyati: BuKUPI 2026 Perkuat Independensi Gerakan Ulama Perempuan

    Raden Ayu Lasminingrat

    Di BuKUPI, Neng Hannah Kenang Kiprah Raden Ayu Lasminingrat dalam Memperjuangkan Pendidikan Perempuan Sunda

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Aktivasi Benteng Nilai Khas Pesantren untuk Pencegahan Kekerasan Seksual

    Virginia Woolf

    Virginia Woolf, Inses, dan Cara Melewati Masa Paling Traumatis dalam Keluarga

    Nyai Aci dan Perjuangan Mewujudkan Islam Inklusif bagi Penyandang Disabilitas

    Nyai Aci dan Perjuangan Mewujudkan Islam Inklusif bagi Penyandang Disabilitas

    Konten Disabilitas

    Lelucon Konten Disabilitas demi Viewers

    Siswi

    Tidak Ingin Diabaikan: Kisah Siswi Tunagrahita yang Meminta Kesempatan yang Sama

    Feminisme Pesantren

    Feminisme Pesantren dan Manifesto Gerakan Nyai

    Memutus Rantai Kekerasan Seksual

    Memutus Rantai Kekerasan Seksual, Pesantren Perlu Perkuat Pengawasan

    Kitab Kuning

    Ketika Kitab Kuning Dibaca Ulang: Upaya Pesantren Membicarakan Kesetaraan dalam Keluarga

    Indonesia

    Masih Adakah Pancasila dalam Indonesia?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Vitamin

    Pentingnya Yodium dan Vitamin A bagi Ibu Hamil dan Menyusui

    Vitamin

    Vitamin dan Mineral yang Penting bagi Tubuh Perempuan

    Ekonomi Disabilitas

    Membangun Kemandirian Ekonomi Perempuan Penyandang Disabilitas

    Kekerasan

    Cara Perempuan Penyandang Disabilitas Melindungi Diri dari Kekerasan Seksual

    Kehamilan Disabilitas

    Perempuan Penyandang Disabilitas Berhak atas Kehamilan yang Sehat dan Hidup yang Aman

    KB

    Panduan Keluarga Berencana (KB) bagi Perempuan Penyandang Disabilitas

    Seksual

    Perempuan Penyandang Disabilitas dan Hak atas Hubungan Seksual yang Sehat

    Penyandang

    Perempuan Penyandang Disabilitas Juga Memiliki Hasrat dan Hak untuk Dicintai

    perempuan lansia

    Perempuan Lansia Bisa Berdaya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

    Nyai Luluk Farida

    Di BuKUPI, Nyai Luluk Farida Ajak Masyarakat Dukung Perjuangan Ulama Perempuan

    Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan

    BuKUPI 2026, Nyai Badriyah Tegaskan “Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan”

    BuKUPI

    Pera Sopariyati: BuKUPI 2026 Perkuat Independensi Gerakan Ulama Perempuan

    Raden Ayu Lasminingrat

    Di BuKUPI, Neng Hannah Kenang Kiprah Raden Ayu Lasminingrat dalam Memperjuangkan Pendidikan Perempuan Sunda

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Aktivasi Benteng Nilai Khas Pesantren untuk Pencegahan Kekerasan Seksual

    Virginia Woolf

    Virginia Woolf, Inses, dan Cara Melewati Masa Paling Traumatis dalam Keluarga

    Nyai Aci dan Perjuangan Mewujudkan Islam Inklusif bagi Penyandang Disabilitas

    Nyai Aci dan Perjuangan Mewujudkan Islam Inklusif bagi Penyandang Disabilitas

    Konten Disabilitas

    Lelucon Konten Disabilitas demi Viewers

    Siswi

    Tidak Ingin Diabaikan: Kisah Siswi Tunagrahita yang Meminta Kesempatan yang Sama

    Feminisme Pesantren

    Feminisme Pesantren dan Manifesto Gerakan Nyai

    Memutus Rantai Kekerasan Seksual

    Memutus Rantai Kekerasan Seksual, Pesantren Perlu Perkuat Pengawasan

    Kitab Kuning

    Ketika Kitab Kuning Dibaca Ulang: Upaya Pesantren Membicarakan Kesetaraan dalam Keluarga

    Indonesia

    Masih Adakah Pancasila dalam Indonesia?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Vitamin

    Pentingnya Yodium dan Vitamin A bagi Ibu Hamil dan Menyusui

    Vitamin

    Vitamin dan Mineral yang Penting bagi Tubuh Perempuan

    Ekonomi Disabilitas

    Membangun Kemandirian Ekonomi Perempuan Penyandang Disabilitas

    Kekerasan

    Cara Perempuan Penyandang Disabilitas Melindungi Diri dari Kekerasan Seksual

    Kehamilan Disabilitas

    Perempuan Penyandang Disabilitas Berhak atas Kehamilan yang Sehat dan Hidup yang Aman

    KB

    Panduan Keluarga Berencana (KB) bagi Perempuan Penyandang Disabilitas

    Seksual

    Perempuan Penyandang Disabilitas dan Hak atas Hubungan Seksual yang Sehat

    Penyandang

    Perempuan Penyandang Disabilitas Juga Memiliki Hasrat dan Hak untuk Dicintai

    perempuan lansia

    Perempuan Lansia Bisa Berdaya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Film

Belajar dari Serial Malaysia Bidaah: Perempuan Harus Berdaya agar Tak Mudah Diperdayakan

Serial ini dengan cerdas memperlihatkan dua sisi kehidupan perempuan: sebagai korban dan sebagai pejuang.

Siti Roisadul Nisok by Siti Roisadul Nisok
8 April 2025
in Film, Rekomendasi
A A
0
Serial Malaysia Bidaah

Serial Malaysia Bidaah

25
SHARES
1.3k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

“Walid nak Dewi boleh?”

“Pejamkan mata dan bayangkan wajah Walid!”

Mubadalah.id – Dua potongan dialog ini menjadi bahan perbincangan hangat netizen sejak serial Malaysia Bidaah mencuat ke berbagai platform. Kalimat-kalimat yang terdengar ringan itu sejatinya menyimpan kenyataan yang kelam. Hal ini menggambarkan bagaimana perempuan-perempuan bisa begitu mudah dilucuti kehendaknya.

Narasi agama sekaligus dijadikan alat manipulasi oleh mereka yang berkepentingan. Serial ini menyentil kesadaran kita akan relasi kuasa yang timpang, sekaligus menyingkap luka yang kerap tak terlihat di masyarakat.

Tak bisa kita pungkiri, serial ini menarik perhatian luas dari penonton Indonesia dan Malaysia. Bukan semata karena drama dan konfliknya, tapi karena keberaniannya mengangkat tema-tema sensitif yang jarang disentuh. Khususnya soal perempuan dan eksploitasi atas nama agama.

Melalui kisah yang berbalut ketegangan, “Bidaah” mengajak kita menyimak kenyataan pahit yang sering luput dari sorotan: bagaimana perempuan bisa menjadi korban dalam sistem yang mendindas dan tertutup.

Tokoh sentral dalam cerita ini adalah Walid Muhammad Imam al-Mahdi. Dari luar, ia tampil seperti sosok religius dan kharismatik. Tapi di balik jubahnya yang suci, tersembunyi manipulasi licik dan ambisi untuk mengontrol segalanya.

Walid adalah pemimpin sekte Jihad Ummah, sebuah kelompok yang menjanjikan surga tapi menyuguhkan neraka, terutama bagi para perempuan. Ia memelintir ayat-ayat dan dalil untuk membenarkan tindakan keji, menjadikan iman sebagai senjata untuk menundukkan, bukan membebaskan.

Namun, di balik segala kegelapan itu, serial ini juga menyuguhkan secercah harapan lewat sosok perempuan yang berdaya. Karakter seperti Baiduri dan Umi Hafidzah tidak digambarkan hanya sebagai korban. Mereka justru tampil sebagai figur yang mampu membaca situasi, menimbang keberanian, dan akhirnya melawan.

Lewat mereka, serial ini mengajak kita memahami bahwa kekuatan perempuan tidak selalu hadir dalam bentuk perlawanan frontal, kadang ia muncul dalam strategi, ketekunan, dan keteguhan hati. Maka, tidak salah apabila dikatakan serial ini dengan cerdas memperlihatkan dua sisi kehidupan perempuan: sebagai korban dan sebagai pejuang.

Eksploitasi Perempuan dalam Sekte Jihad Ummah

Pertama, pernikahan paksa dan poligami perempuan muda dalam sekte Jihad Ummah. Pemimpin sekte memaksa perempuan-perempuan, tanpa memandang usia, untuk menikah dengan Walid atau anggota senior lainnya.

Mereka tidak mendasari pernikahan ini pada persetujuan tulus, melainkan memaksakannya dengan dalih agama. Dengan memaksakan praktik poligami, para pemimpin sekte secara terang-terangan melucuti hak perempuan dan menjadikan mereka objek demi kepentingan kekuasaan.

Kedua, sekte ini menuntut kepatuhan mutlak terhadap pemimpin. Mereka tidak hanya mengontrol tindakan perempuan, tetapi juga pikirannya. Para pemimpin mengajarkan bahwa menolak perintah mereka adalah bentuk kedurhakaan. Kepatuhan menjadi senjata untuk meredam kritik dan membungkam nalar. Inilah bentuk kekerasan yang tidak selalu tampak secara fisik, tapi merusak dari dalam.

Ketiga, penggunaan dalih agama untuk eksploitasi seksusal. Walid memanfaatkan posisinya untuk melakukan eksploitasi seksual terhadap perempuan yang seharusnya ia lindungi. Dengan memelintir ajaran agama, ia menjadikan kekuasaan sebagai tameng atas tindakannya. Hal demikian menunjukkan pengkhianatan terhadap nilai-nilai spiritual yang sejatinya menjunjung tinggi martabat manusia.

Perempuan sebagai Pejuang Kebenaran

Di sisi lain, menariknya serial ini juga berhasil menggambarkan sisi lain dari perempuan. Tidak hanya sebagai korban eksploitasi, perempuan dalam serial ini juga muncul sebagai aktor utama dalam perjuangan membongkar sistem yang menindas mereka.

Karakter Baiduri, misalnya, adalah perempuan berpendidikan yang merupakan lulusan dari sebuah universitas di Mesir. Dalam skenario secara simbolis mengangkatnya sebagai representasi dari figur-figur perempuan pejuang dalam sejarah Islam seperti Nusaibah binti Ka’ab dan Khawla binti al-Azwar.

Baiduri bukan hanya berani mempertanyakan ajaran sesat dalam sekte, tapi juga mengambil risiko besar untuk melawan ketidakadilan secara terbuka—sebuah keberanian yang lahir dari kesadaran dan kekuatan diri.

Lebih dari sekadar keberanian, perjuangan Baiduri lahir dari kepeduliannya terhadap perempuan lain yang menjadi korban dalam sekte tersebut, termasuk ibunya sendiri. Ini menunjukkan bahwa keberdayaan perempuan bukan hanya tentang membela diri, tetapi juga tentang memperjuangkan keselamatan dan martabat kolektif.

Sementara itu, Umi Hafidzah tampil sebagai contoh lain dari strategi perlawanan perempuan yang tidak frontal, namun sangat efektif. Meski terlihat patuh di permukaan, ia dengan cerdas memanfaatkan posisinya untuk mengumpulkan bukti dan menjebak Walid.

Perannya menunjukkan bahwa perjuangan perempuan bisa hadir dalam berbagai bentuk baik yang keras maupun yang diam-diam namun strategis. Lewat dua tokoh ini, serial Bidaah menegaskan bahwa perempuan memiliki kapasitas luar biasa untuk menjadi agen perubahan, bahkan di ruang-ruang yang secara sistemik berusaha membungkam mereka.

Mengapa Perempuan Harus Berdaya?

Sebagaimana ditegaskan dalam judul tulisan ini, perempuan harus berdaya agar tak mudah diperdayakan. Prinsip ini bukan sekadar seruan moral, tetapi sebuah kebutuhan mendasar, terutama ketika kita melihat bagaimana eksploitasi bisa terjadi begitu sistematis seperti dalam serial Bidaah. Ketika perempuan tidak memiliki daya, orang-orang yang berkuasa membungkam suara mereka, mengambil hak mereka, dan menjadikan tubuh mereka alat pemuas nafsu atas nama agama.

Dalam pandangan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), pemberdayaan perempuan bukan hanya kebutuhan zaman, tetapi juga bentuk keberagamaan yang adil.

Perspektif KUPI menegaskan bahwa hanya Allah yang berhak menguasai. Sementara semua manusia adalah makhluk yang setara. Dalam logika ini, tidak ada satu pun manusia yang berhak mengklaim kuasa mutlak atas manusia lain, terlebih menggunakan agama untuk mengukuhkan dominasi.

Fondasi Keberagamaan yang Adil menurut KUPI

Prinsip-prinsip utama KUPI, martabat, adalah (keadilan), dan maslahah (kebaikan bersama)—menjadi landasan kuat dalam memperjuangkan relasi yang berkeadilan. Martabat berarti bahwa setiap manusia memiliki nilai yang setara.

Prinsip adalah menuntut agar kekuasaan, ilmu, dan privilese digunakan bukan untuk memperdaya, tapi untuk melindungi dan memberdayakan yang lemah. Dan maslahah adalah orientasi utama: segala upaya sosial dan keagamaan harus menghasilkan kebaikan bersama.

Ketika pimpinan menjalankan kekuasaan tanpa kontrol, memelintir dalil agama demi hasrat pribadi, dan melucuti hak serta kesadaran perempuan, di situlah sistem gagal menjalankan fungsinya untuk melindungi.

Maka menjadi jelas, pemberdayaan bukanlah semata program atau proyek. Melainkan menjadi kebutuhan dasar agar perempuan dapat mengenali haknya, melawan ketidakadilan, dan tidak mudah membiarkan narasi-narasi yang menyesatkan memperdaya mereka.

Perempuan yang berdaya akan menjadi subjek penuh yang sadar dan tangguh. Ia tahu kapan harus berkata tidak, tahu bagaimana membela sesama, dan tahu di mana tempatnya dalam masyarakat yang adil. Dan tentu saja, perjuangan ini tidak bisa berjalan sendiri.

Prinsip kesalingan dalam Islam mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan harus saling menopang dan menguatkan. Sebab dengan kesalingan, keadilan dapat terwujud, dan kehidupan bisa menjadi ruang aman bagi semua, tanpa kecuali. []

Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Pesan Al-Qur’an: Jangan Merusak Lingkungan

Next Post

Antara Teks dan Konteks: Meneguhkan Kesetaraan Gender dalam Islam

Siti Roisadul Nisok

Siti Roisadul Nisok

Siti Roisadul Nisok is an M.Phil student in the Faculty of Philosophy at Gadjah Mada University, Yogyakarta, Indonesia. Her research interests include religious studies, digitization, philosophy, cultural studies, and interfaith dialogue. She can be reached on Instagram via the handle: @roisabukanraisa.

Related Posts

Kekerasan Seksual di Pesantren
Publik

Aktivasi Benteng Nilai Khas Pesantren untuk Pencegahan Kekerasan Seksual

4 Juni 2026
Virginia Woolf
Keluarga

Virginia Woolf, Inses, dan Cara Melewati Masa Paling Traumatis dalam Keluarga

4 Juni 2026
Nyai Aci dan Perjuangan Mewujudkan Islam Inklusif bagi Penyandang Disabilitas
Disabilitas

Nyai Aci dan Perjuangan Mewujudkan Islam Inklusif bagi Penyandang Disabilitas

4 Juni 2026
Konten Disabilitas
Disabilitas

Lelucon Konten Disabilitas demi Viewers

4 Juni 2026
Siswi
Disabilitas

Tidak Ingin Diabaikan: Kisah Siswi Tunagrahita yang Meminta Kesempatan yang Sama

4 Juni 2026
Feminisme Pesantren
Publik

Feminisme Pesantren dan Manifesto Gerakan Nyai

4 Juni 2026
Next Post
gender

Antara Teks dan Konteks: Meneguhkan Kesetaraan Gender dalam Islam

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Aktivasi Benteng Nilai Khas Pesantren untuk Pencegahan Kekerasan Seksual
  • Virginia Woolf, Inses, dan Cara Melewati Masa Paling Traumatis dalam Keluarga
  • Nyai Aci dan Perjuangan Mewujudkan Islam Inklusif bagi Penyandang Disabilitas
  • Lelucon Konten Disabilitas demi Viewers
  • Tidak Ingin Diabaikan: Kisah Siswi Tunagrahita yang Meminta Kesempatan yang Sama

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0