Mubadalah.id– Kehadiran pengamen tunanetra di kawasan Malioboro tentu sudah tidak asing bagi wisatawan yang berkunjung. Beberapa dari mereka juga pernah viral di media sosial dan televisi berkat bakatnya dalam bernyanyi. Tentu, adanya mereka menjadi daya tarik tersendiri untuk menikmati Yogyakarta dengan lebih romantis.
Kalau saya perhatikan, pengamen tunanetra ini di Malioboro ini kok beneran suaranya bagus-bagus ya? Bukan yang asal ngamen dan memelas atau memaksa pengunjung memberikan sedikit rupiahnya. Tetapi, kenapa mereka hanya stuck di fase sebagai pengamen di Jalan Malioboro?
Para pengamen di Malioboro rata-rata adalah bapak-bapak atau ibu-ibu; intinya tergolong usia dewasa. Saya mengamati, lapangan kerja untuk disabilitas netra memang tidak banyak, sedangkan mereka sama-sama manusia yang memerlukan uang untuk kehidupan sehari-hari. Di antara mereka juga ada orang tua yang mencari nafkah untuk keluarganya. Apakah menjadi pengamen bisa menjadi solusi?
Alasan Mengapa Tunanetra Berbakat Musik
Saya sempat berfikir, apakah tunanetra terpaksa mengembangkan skill menyanyi untuk mencari rezeki? atau skill menyanyi dan bermusik memang bakat alamiah tunanetra? Karena tidak hanya soal pengamen di Malioboro, tapi banyak sekali tunanetra memiliki suara yang merdu dari berbagai pelosok negeri. Nah, mari kita ulas alasannya.
Melansir dari Youtube Khrisna Adityo, bagaimana cara belajar bermusik tunanetra sebenarnya sama seperti yang bukan tunanetra. Mereka mengenal tools alat musik, menghafalkannya, kemudian berlatih macam-macam nada, hingga mempraktikkannya dalam lagu-lagu. Dengan cara itu mereka mengasah soulface terus menerus.
Selanjutnya, ketika sudah menguasai alat musik, tidak jarang seseorang bisa bernyanyi dengan nada yang tepat. Sebagian besar cara belajarnya sama bagi tuna netra maupun bukan. Tetapi bagi sebagian tunanetra memiliki keterbatasan dalam hal setting alat musik maupun setting tempat. Selayaknya seorang talent, pasti butuh tim, ini bukan perbedaan yang mencolok dengan musisi pada umumnya.
Terkait kelebihan tunanetra di bidang musik, secara ilmiah memang ada penjelasannya. Para tunanetra cenderung memiliki kepekaan yang lebih tinggi terhadap suara; melebihi orang yang bukan tunanetra. Lebih dari 50 persen tunanetra dapat memainkan nada yang sempurna karena kepekaannya tersebut.
Area visual pada otak ternyata tidak hanya memproses informasi melalui mata, tetapi bisa melalui indera yang lain. Hal ini memungkinkan proses analisis dengan sentuhan dan pendengaran. Dengan kepekaan tunanetra yang terasah sejak kecil, mereka memanfaatkan banyak bagian otak untuk memahami cara memainkan alat musik.
Kemampuan bermusik tunanetra dengan mengaktifkan bagian-bagian yang bahkan awalnya tidak berhubungan dengan kemampuan musik. Contohnya adalah lobus parietal sebagai pusat proses informasi sensorik tubuh seperti rasa sakit, sentuhan, dan tekanan. Fungsi lobus frontal bagi tunanetra juga sangat krusial, yaitu untuk mengolah memori, kognitif dan untuk menghafal dan mengendalikan gerakan.
Kreativitas untuk Menyambung Hidup
Saya pernah tinggal di sekitar Jakarta, di situ saya banyak menemukan tunanetra yang berjualan kerupuk. Bukan hanya satu dua orang, tapi seperti terstruktur. Sehingga ketika melihat pemandangan musisi di jalanan malioboro, saya pribadi merasa takjub. Entah ada yang membawahi atau tidak, tapi fenomena ini sangat menarik. Setidaknya melibatkan bakat yang para tunanetra, bukan mengandalkan belas kasihan.
Satu penelitian dari mahasiswa ISI Yogyakarta mengulas tentang pengamen tunanetra di malioboro mengungkapkan bahwa mereka memiliki strategi yang dapat menarik perhatian pengunjung. Pengamen tunanetra di Malioboro bernyanyi berkaraoke menggunakan speaker dan sound system portable dengan berjalan menyusuri guiding block (jalur berwarna kuning khusus untuk berjalan tunanetra).
Interaksi pengamen dengan pengunjung dibangun dengan memberikan apresiasi berupa tip kepada pengamen atau mendokumentasikan tampilan pengamen dan mengunggah di sosial media. Tak jarang, pengamen menyanyikan lagu-lagu yang sedang viral untuk menarik perhatian pengunjung. Biasanya, pengamen membawa box atau tempat untuk meletakkan uang dan pengunjung meletakkan tip di tempat itu.
Beberapa pengamen tunanetra malioboro saya lihat juga sering muncul di media sosial youtube, tiktok, instagram. Salah satunya adalah Bima Pratama. Ia membagikan video-video menyanyi di kawasan jalan Malioboro yang ia dapatkan dari pengunjung. Video yang dia unggah di platform TikTok dapat menjangkau interaksi sosial yang lebih luas dan memungkinkan masyarakat lebih banyak mengenalnya dan mengunjunginya ke Malioboro.
Saya juga ingin apresiasi fasilitas guiding block yang terjaga dengan baik. Dengan adanya pengamen tunanetra, pengunjung Malioboro pun, mau tidak mau harus memahami aturan berjalan di trotoar Malioboro yang bertanda kuning itu. Kalau lebih banyak kacaunya, basic manner aja terlihat istimewa, ya.
Mungkinkah Mereka Bisa Lebih Sejahtera?
Sebagai penikmat musik dan pernah beberapa waktu tinggal di Yogyakarta, kadang saya berpikir, ‘kenapa mereka tidak jadi musisi ya?’ maksudnya sebagai pencipta lagu, masuk label rekaman, orbit sebagai penyanyi yang memiliki pendengar lebih luas. Jika dari waktu ke waktu tidak banyak perubahan atas nasib mereka, asumsi saya, jawabannya adalah susah untuk menuju level penyanyi profesional.
Industri musik akhir-akhir ini tidak hanya cukup dengan suara merdu dan keunikan bernyanyi. Industri musik Indonesia cukup mendewakan musisi yang whole package. Dalam artian selain mahir bernyanyi, juga memiliki visual yang menarik atau keunikan tersendiri. Ke dapannya, saya berharap produser musik bergerak lebih inklusif untuk mengorbitkan bakat-bakat musik dan penyanyi difabel; termasuk pada tunanetra.
Jika musik merupakan jembatan untuk mencapai hidup yang nyaman dan membantu perekonomian keluarga tunanetra, tentu ini hal yang bagus. Satu hal yang perlu kita waspadai adalah adanya eksploitasi dari satu pihak yang memanfaatkan bakat musik tunanetra untuk jadi pengamen. Tetapi di sisi lain, mereka tetap tidak mendapatkan penghasilan yang layak. Tentu ini bukan harapan saya, ya! []