Jumat, 27 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan, Ulama Perempuan yang Diakui Para Imam Mazhab

    Sayyidah Nafisah

    Menelusuri Jejak Keilmuan Perempuan dalam Tradisi Islam: Pembacaan atas Sosok Sayyidah Nafisah

    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Alam dan Manusia

    Alam dan Manusia Sebagai Rekan dalam Memuji Sang Pencipta

    Bapak Rumah Tangga

    Bagaimana Jika Suamimu adalah Bapak Rumah Tangga Hari Ini?

    Kampung Kauman Yogyakarta

    Kampung Kauman Yogyakarta dan Kesejarahan Perempuan

    Transportasi Publik

    Pengalaman Pertama Naik Bis dan Membayangkan Transportasi Publik Ramah Disabilitas

    Perempuan Tunanetra Transjakarta

    Perempuan Tunanetra Transjakarta: Empati yang Tidak Sampai ke Halte

    Sampah Makanan

    Menekan Rakus, dan Tidak Menjadi Sampah Makanan di Ramadan

    Jika Nabi Berbuka di Rumah Kita

    Jika Nabi Berbuka di Rumah Kita

    Manba’us-Sa’adah

    Ngaji Manba’us-Sa’adah (1): Menjaga Tradisi, Merawat Keadilan

    Mendidik Rasa Aman

    Pelajaran Pertama tentang Batas: Mendidik Rasa Aman di Dunia yang “Tampak” Ramah

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Metodologi Mubadalah

    Metodologi Mubadalah dan Implementasinya dalam Kehidupan Masyarakat

    Teologis Mubadalah

    Fondasi Teologis Mubadalah dan Kritik terhadap Pola Relasi Hierarkis

    Mubadalah

    Makna Mubadalah dan Perkembangannya sebagai Konsep Relasional

    Kisah Zaid dan Julaibib

    Romansa Tanpa Kasta dalam Kisah Zaid dan Julaibib

    Dakwah Mubadalah dalam

    Metodologi Dakwah Mubadalah dan Relevansinya bagi Kehidupan Masyarakat

    Dakwah Mubadalah

    Pergeseran Pola Ceramah dalam Perspektif Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah sebagai

    Konsep Dakwah Mubadalah sebagai Pendekatan Kesalingan dalam Islam

    hak perempuan

    Strategi Bertahap Al-Qur’an dalam Memperkuat Hak dan Martabat Perempuan

    Penindasan

    Strategi Al-Qur’an Menghapus Praktik Penindasan Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan, Ulama Perempuan yang Diakui Para Imam Mazhab

    Sayyidah Nafisah

    Menelusuri Jejak Keilmuan Perempuan dalam Tradisi Islam: Pembacaan atas Sosok Sayyidah Nafisah

    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Alam dan Manusia

    Alam dan Manusia Sebagai Rekan dalam Memuji Sang Pencipta

    Bapak Rumah Tangga

    Bagaimana Jika Suamimu adalah Bapak Rumah Tangga Hari Ini?

    Kampung Kauman Yogyakarta

    Kampung Kauman Yogyakarta dan Kesejarahan Perempuan

    Transportasi Publik

    Pengalaman Pertama Naik Bis dan Membayangkan Transportasi Publik Ramah Disabilitas

    Perempuan Tunanetra Transjakarta

    Perempuan Tunanetra Transjakarta: Empati yang Tidak Sampai ke Halte

    Sampah Makanan

    Menekan Rakus, dan Tidak Menjadi Sampah Makanan di Ramadan

    Jika Nabi Berbuka di Rumah Kita

    Jika Nabi Berbuka di Rumah Kita

    Manba’us-Sa’adah

    Ngaji Manba’us-Sa’adah (1): Menjaga Tradisi, Merawat Keadilan

    Mendidik Rasa Aman

    Pelajaran Pertama tentang Batas: Mendidik Rasa Aman di Dunia yang “Tampak” Ramah

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Metodologi Mubadalah

    Metodologi Mubadalah dan Implementasinya dalam Kehidupan Masyarakat

    Teologis Mubadalah

    Fondasi Teologis Mubadalah dan Kritik terhadap Pola Relasi Hierarkis

    Mubadalah

    Makna Mubadalah dan Perkembangannya sebagai Konsep Relasional

    Kisah Zaid dan Julaibib

    Romansa Tanpa Kasta dalam Kisah Zaid dan Julaibib

    Dakwah Mubadalah dalam

    Metodologi Dakwah Mubadalah dan Relevansinya bagi Kehidupan Masyarakat

    Dakwah Mubadalah

    Pergeseran Pola Ceramah dalam Perspektif Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah sebagai

    Konsep Dakwah Mubadalah sebagai Pendekatan Kesalingan dalam Islam

    hak perempuan

    Strategi Bertahap Al-Qur’an dalam Memperkuat Hak dan Martabat Perempuan

    Penindasan

    Strategi Al-Qur’an Menghapus Praktik Penindasan Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Lima Potret PUG dalam Kehidupan Keluarga Rasulullah

Mela Rusnika by Mela Rusnika
30 Oktober 2020
in Publik, Rekomendasi
A A
0
Indeks Kesenjangan Gender dan Ketertinggalan Perempuan di Indonesia
3
SHARES
148
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Kedudukan perempuan pada masa sebelum Islam sebagaimana yang kita tahu mengalami ketidakadilan dari berbagai sisi kehidupan. Dari kacamata sosiologis pun bangsa Arab pada masa itu sudah terbiasa dengan tradisi yang menyimpang. Tradisi itu seperti membunuh anak perempuan hidup-hidup, perempuan juga tidak boleh mengambil keputusan untuk hidupnya sendiri karena harus mematuhi keputusan orang tua, hingga hanya dianggap sebagai pemuas laki-laki saja. Perempuan pada masa pra Islam juga tidak memperoleh bagian harta waris.

Kehadiran risalah Islam yang dibawa Rasulullah berangsur-angsur mengubah tradisi buruk yang mendiskriminasi perempuan ini. Melalui turunnya ayat Alquran dalam surat An-Nisa ayat 4-7, An- Nahl ayat 97, dan Ar-Rum ayat 21, Rasulullah berupaya membangun nilai-nilai luhur untuk perempuan.

Di dalam hadits juga disebutkan bagaimana potret nabi dalam menjunjung kaum perempuan, salah satunya hadits tentang penghormatan kepada ibu, “Hormatilah ibumu, ibumu, ibumu, dan bapakmu” (HR. Bukhari Muslim). Melalui nilai-nilai Alquran dan hadits yang diajarkan kepada umatnya inilah terlihat adanya inidikasi yang kuat dalam strategi dakwahnya, yang mana Rasulullah berusaha keras mengangkat derajat perempuan dan menjunjung tinggi kesetaraan gender melalui pendekatan sosiologis.

Jika dilihat dari contoh diskriminasi terhadap perempuan di atas, gender dari masa pra Islam ini memang dikonstruksi dan dipraktikkan pertama kali dalam lingkup keluarga. Maka dari itu, Rasulullah sebagai pionir dengan sigap mempraktikkan kehidupan keluarga yang mengutamakan pengarusutamaan gender (PUG) atau gender mainstreaming. Pengarusutamaan gender sendiri merupakan strategi dan rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk mempromosikan dan mendorong optimalisasi dan keseimbangan kaum perempuan dalam pembuatan segala bentuk dan level kebijakan.

Konsep pengarusutamaan gender ini mencakup usaha-usaha yang memberikan jaminan terhadap kesetaraan dan kesempatan bagi laki-laki dan perempuan, baik dalam berbagi peran dalam keluarga hingga upaya menghapus bentuk diskriminasi yang bebasis gender. Contoh dari konsep ini telah dipraktikkan Rasulullah ketika menempatkan Sayyidah Khadijah RA sebagai penasehat utamanya saat menghadapi situasi kritis. Berkat peran Sayyidah Khadijah inilah upaya kelompok elit Mekkah untuk menggagalkan misi dan perjuangan Rasul selalu gagal.

Peran yang sama pun hadir dalam diri Aisyah yang tidak hanya mendampingi Rasulullah dalam setiap ekspedisi militer, tapi juga mengajarkan ajaran beliau. Melalui pengalamannya itu Aisyah dikenal sebagai transmitter terkemuka dan mampu membentuk kekuatan oposisi untuk menentang rezim yang berkuasa pasca wafatnya Rasulullah. Melalui dua kisah Rasulullah dengan melibatkan peran perempuan di kehidupannya inilah dapat dikatakan bahwa beliau telah menghapus ketimpangan gender yang selama ini menjadi habit.

Ketimpangan yang dimaksud mulai dari subordinasi, stereotip, marginaslisasi, kekerasan terhadap perempuan, dan beban ganda perempuan. Selain peran Khadijah dan Aisyah yang sangat besar ini, Rasulullah juga menerapkan gender mainstreaming di dalam kehidupan keluarganya secara lebih intens. Berikut lima potret pengarusutamaan gender yang ditunaikan Rasullah dalam kehidupan keluarganya

Pertama, menghargai Eksistensi dan Independensi Perempuan. Rasulullah sering mengajak istrinya bermusyawarah, khususnya mengenai kondisi-kondisi kritis pada saat mendakwahkan Islam. Rasulullah bermusyawarah dengan Ummu Salamah ketika terjadi Perjanjian Hudaibiyah yang menyebabkan umatnya tidak bisa melaksanakan ibadah haji pada saat itu. Kekecewaan umatnya mengundang protes agar Rasulullah tetap menjalankan ibadah haji dan terus berjalan ke Mekkah.

Rasulullah merasa keberatan dengan kondisi ini, lalu beliau pulang ke rumahnya dan bermusyarawah dengan Ummu Salamah mengenai kondisi tersebut. Ummu Salamah memberi saran agar Rasulullah tetap melakukan ibadah haji dan menyuruh beliau tetap menyembelih hewan kurbannya. Lantas Rasulullah mengikuti saran dari istrinya tersebut. Dalam hal ini Rasulullah telah mempraktikkan kesetaraan gender dengan tidak meniadakan keberadaan dan kemampuan perempuan dalam mengambil keputusan dalam keluarga.

Pada masa pra Islam, perempuan tidak memiliki kesempatan untuk mengambil keputusan dalam keluarga. Bahkan perempuan yang mengeluarkan pendapat dianggap memiliki pemahaman yang radikal. Dengan potret Rasulullah yang mendengarkan saran perempuan, maka sebetulnya secara tidak langsung mematahkan anggapan yang selama ini masih eksis, yaitu Islam sebagai agama yang anti gender.

Kedua, Memberikan Hak Hidup yang Sama dengan Laki-laki. Di masa pra Islam anak perempuan dikubur hidup-hidup karena dianggap sebagai aib keluarga. Dengan latar belakang sosial inilah, Rasulullah mencontohkan bagaimana seharusnya seorang laki- laki yang berperan sebagai ayah memberikan hak hidup yang sama kepada anak perempuan seperti anak laki-laki. Dalam Riwayat Bukhori, terdapat kisah Rasulullah yang sangat mencintai cucu perempuannya, Umamah, sebagaimana beliau mencintai Hasan dan Husein. Rasulullah sering menggendong cucu perempuannya bahkan ketika sedang shalat.

Selain kepada Umamah, Rasulullah juga memperlakukan Fatimah dengan penuh keadilan dan kasih sayang. Ketika Fatimah masuk rumah, beliau langsung berdiri, lalu memegang tangan Fatimah dan mendudukannya. Kemudian Rasulullah menanyakan kesehatan dan kondisi keluarganya. Rasulullah juga sering menggendong Fatimah ketika masih kecil sambil berdiskusi di depan khalayak ramai.

Apa yang dilakukan Rasulullah pada masa itu bukanlah sesuatu yang lazim bagi masyarakat Arab, karena anak perempuan dianggap sebagai pembawa kemalangan.  Dengan menggendong Fatimah di depan khalayak, secara tidak langsung Rasulullah memperlihatkan fakta bahwa memiliki anak perempuan bukanlah sebuah bencana atau kemalangan. Rasulullah juga menunjukkan kalau anak perempuan itu sama seperti anak laki-laki yang harus dikasihi dan dicintai.

Ketiga, Rasulullah Mendukung Peran Perempuan untuk Berkontribusi dalam Pemberdayaan Masjid. Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian melarang hamba-hamba perempuan Allah untuk mendatangi masjid-Nya” (HR. Bukhori). Aisyah juga berkata “Kami para tokoh muslimah hadir bersama Rasulullah untuk melaksanakan shalat fajar dengan menyelimuti sekujur tubuh dengan kain. Setelah selesai shalat kami pulang ke rumah masing-masing.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Istri Rasulullah juga ikut melaksanakan shalat jenazah ketika Sa’ad bin Abi Waqqash meninggal dunia. Selain itu, istri Rasulullah juga gemar melaksanakan itikaf di masjid. Bahkan Aisyah pernah berkata kalau beliau hanya masuk rumah (ketika sedang itikaf) jika ada keperluan yang sangat mendesak. (HR. Bukhori)

Keempat, Rasulullah Memberikan Bagian Harta Waris Perempuan. Arab pra Islam merupakan wilayah tanpa hukum, sehingga pembagian harta waris untuk perempuan pun tidak ada. Jangankan untuk pembagian harta waris, kehadiran anak perempuan saja tidak pernah diinginkan oleh masyarakat Arab pada masa itu.

Dalam hal ini, ajaran Islam yang diajarkan Rasulullah telah membawa gerakan revolusioner dengan menetapkan perempuan memiliki hak bagian harta waris. Meskipun pada masa kini, pembagian hak waris ini masih menjadi bahan perdebatan, setidaknya Rasulullah berhasil menggebrak system masyarakat masa itu yang mulanya pembagian hak waris ini tidak pernah ada.

Kelima, Memberikan Perlindungan terhadap Perempuan Merdeka. Rasulullah juga memberikan perlindungan dan memperhatikan perempuan merdeka agar tidak diperlakukan seperti budak. Dengan latar belakang inilah perintah untuk menggunakan hijab pun turun, yang mana untuk membedakan perempuan merdeka dan yang belum merdeka pada masa itu.

Perintah ini pun turun ketika Rasulullah menikahi Zainab yang waktu itu dianggap sebagai budak serta berstatus janda. Selain itu, sebelum ayat ini turun, istri Rasulullah ketika keluar malam sering diganggu oleh orang-orang munafik. Hal ini sama dengan budak-budak perempuan yang selalu diganggu.

Maka pada saat itu diberikan hijab karena konteksnya merujuk untuk membedakan perempuan merdeka dan budak. Dalam hal ini, ajaran Islam yang kini masih dianggap membatasi pergerakan perempuan, tujuan sebenarnya ialah untuk melindungi kehormatannya. Dari potret pengarusutamaan gender yang diterapkan di dalam kehidupan keluarganya, sudah sangat jelas bahwa strategi dakwah Rasulullah ini berupaya keras dalam mengangkat derajat perempuan dan menjunjung tinggi kesetaraan gender.

Harapannya kita semua bisa memulai hal-hal yang dipraktikkan Rasulullah dalam menerapkan kesetaraan gender di dalam kehidupan keluarga agar kita mampu mencetak generasi yang melek kesetaraan. Di samping itu, pola pikir kesetaraan dapat membantu kita mematahkan anggapan bahwa ajaran Islam itu tidak melek gender. Faktanya Alquran, hadits, dan kehidupan Rasulullah pun sangat mengedepankan kesetaraan. []

Tags: islamkemanusiaanKesetaraan Laki-laki PerempuannabiPengarustamaan Gender
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Memperjuangkan Hak-Hak Perempuan, Meneladani Akhlak Nabi

Next Post

Merayakan Maulid Nabi, Merayakan Kemitraan dalam Relasi

Mela Rusnika

Mela Rusnika

Bekerja sebagai Media Officer di Peace Generation. Lulusan Studi Agama-Agama UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Part time sebagai penulis. Tertarik pada project management, digital marketing, isu keadilan dan kesetaraan gender, women empowerment, dialog lintas iman untuk pemuda, dan perdamaian.

Related Posts

Sayyidah Nafisah
Aktual

Menelusuri Jejak Keilmuan Perempuan dalam Tradisi Islam: Pembacaan atas Sosok Sayyidah Nafisah

27 Februari 2026
Kisah Zaid dan Julaibib
Hikmah

Romansa Tanpa Kasta dalam Kisah Zaid dan Julaibib

26 Februari 2026
Jika Nabi Berbuka di Rumah Kita
Keluarga

Jika Nabi Berbuka di Rumah Kita

26 Februari 2026
Dakwah Mubadalah sebagai
Pernak-pernik

Konsep Dakwah Mubadalah sebagai Pendekatan Kesalingan dalam Islam

25 Februari 2026
sistem patriarki
Pernak-pernik

Al-Qur’an Menegaskan Kemanusiaan Perempuan di Tengah Sistem Patriarki

24 Februari 2026
Sejarah Perempuan
Aktual

Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

23 Februari 2026
Next Post
Makna Hijrah dalam Lingkup Keluarga

Merayakan Maulid Nabi, Merayakan Kemitraan dalam Relasi

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim
  • Alam dan Manusia Sebagai Rekan dalam Memuji Sang Pencipta
  • Sayyidah Nafisah binti al-Hasan, Ulama Perempuan yang Diakui Para Imam Mazhab
  • Bagaimana Jika Suamimu adalah Bapak Rumah Tangga Hari Ini?
  • Metodologi Mubadalah dan Implementasinya dalam Kehidupan Masyarakat

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0