Sabtu, 13 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Qana'ah

    Qana’ah, Kelas Menengah dan Fantasi Menjadi Orang Kaya

    Kesetaraan Anak laki-laki dan Perempuan

    Mengajarkan Kesetaraan Pada Anak Laki-laki dan Perempuan Sejak Dini

    Kampung idiot

    Mengubah Stigma Kampung Idiot di Karangpatihan Menjadi Berdaya secara Ekonomi

    Korupsi

    Korupsi di Meja Makan Anak Sekolah

    Simpul Iman Community

    Dialog, Harapan, dan Persaudaraan: Refleksi 19 Tahun Simpul Iman Community (SIM-C)

    Bulan Suro

    Membongkar Mitos Pernikahan Bulan Suro dan Beban Perempuan Jawa

    Invisible Disability

    Invisible Disability dan Stigma yang Masih Terjadi

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Keadilan Hakiki

    Menggugat Komodifikasi Pendidikan: Menagih Keadilan Hakiki di Hari Lahir Pancasila

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Menuju Muharram

    Menuju Muharram dan Panggilan untuk Introspeksi Jejak Spiritual

    KB

    Keluarga Berencana (KB) dan Hak Perempuan atas Tubuh

    Kehamilan dan

    Mengapa Menunda Kehamilan Dapat Meningkatkan Kualitas Hidup Keluarga?

    KB dan

    4 Risiko Kehamilan yang Bisa Dicegah dengan Program KB

    Gairah Seksual

    Mengapa Gairah Seksual dapat Berkurang atau Hilang?

    rangsangan seksual

    Mengenali Respons Tubuh terhadap Rangsangan Seksual

    Seks

    Mengapa Membicarakan Seks dengan Pasangan itu Penting?

    Seks Kering

    Bahaya Seks Kering: Mitos Kepuasan yang Justru Meningkatkan Risiko Infeksi

    Berhubungan Seks

    Cara Berhubungan Seks yang Lebih Aman untuk Mencegah HIV/AIDS

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Qana'ah

    Qana’ah, Kelas Menengah dan Fantasi Menjadi Orang Kaya

    Kesetaraan Anak laki-laki dan Perempuan

    Mengajarkan Kesetaraan Pada Anak Laki-laki dan Perempuan Sejak Dini

    Kampung idiot

    Mengubah Stigma Kampung Idiot di Karangpatihan Menjadi Berdaya secara Ekonomi

    Korupsi

    Korupsi di Meja Makan Anak Sekolah

    Simpul Iman Community

    Dialog, Harapan, dan Persaudaraan: Refleksi 19 Tahun Simpul Iman Community (SIM-C)

    Bulan Suro

    Membongkar Mitos Pernikahan Bulan Suro dan Beban Perempuan Jawa

    Invisible Disability

    Invisible Disability dan Stigma yang Masih Terjadi

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Keadilan Hakiki

    Menggugat Komodifikasi Pendidikan: Menagih Keadilan Hakiki di Hari Lahir Pancasila

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Menuju Muharram

    Menuju Muharram dan Panggilan untuk Introspeksi Jejak Spiritual

    KB

    Keluarga Berencana (KB) dan Hak Perempuan atas Tubuh

    Kehamilan dan

    Mengapa Menunda Kehamilan Dapat Meningkatkan Kualitas Hidup Keluarga?

    KB dan

    4 Risiko Kehamilan yang Bisa Dicegah dengan Program KB

    Gairah Seksual

    Mengapa Gairah Seksual dapat Berkurang atau Hilang?

    rangsangan seksual

    Mengenali Respons Tubuh terhadap Rangsangan Seksual

    Seks

    Mengapa Membicarakan Seks dengan Pasangan itu Penting?

    Seks Kering

    Bahaya Seks Kering: Mitos Kepuasan yang Justru Meningkatkan Risiko Infeksi

    Berhubungan Seks

    Cara Berhubungan Seks yang Lebih Aman untuk Mencegah HIV/AIDS

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Featured

Lima Sosok Perempuan Inspiratif di Balik Sumpah Pemuda

Sangat disayangkan ketika dalam sejarah hanya pemuda laki-laki saja yang tertulis merumuskan ikrar tersebut. Ada keterwakilan perempuan yang ikut andil juga dalam kongres, bahkan ada tiga orang perempuan yang berbicara di atas mimbar untuk menyampaikan aspirasinya

Mela Rusnika by Mela Rusnika
11 November 2020
in Featured, Figur
A A
0
Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda

24
SHARES
1.2k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Kisah para pahlawan yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peran pemuda yang berkomitmen untuk menyatakan sumpah pemuda, bertumpah darah yang satu, berbangsa yang satu, dan menjunjung bahasa persatuan Indonesia. Malam itu, para pemuda berduyun-duyun menuju Gedung Indonesisch Huis Kramat yang terletak di Jalan Kramat Jaya 106, Jakarta Pusat. Tepat 92 tahun yang lalu, Minggu 28 Oktober 1928 tengah diadakan rapat terakhir Kongres Pemuda II.

Kongres ini dihadiri oleh organisasi pemuda dari Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatrenan Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, dan Pemuda Kaum Betawi dengan total 82 orang. Menurut buku Panduan Museum Sumpah Pemuda, dari 82 orang tersebut, sebanyak 7 orang adalah perempuan. Kongres Pemuda II menghasilkan rumusan berisi tiga baris kalimat heroik yang kita kenal dengan Sumpah Pemuda. Rumusan ini berisi ikrar yang mana di dalam kalimatnya secara jelas tertulis, “Kami putra dan putri Indonesia”.

Namun sangat kita sayangkan ketika dalam sejarah hanya pemuda laki-laki saja yang tertulis merumuskan ikrar tersebut. Ada keterwakilan perempuan yang ikut andil juga dalam kongres, bahkan ada tiga orang perempuan yang berbicara di atas mimbar untuk menyampaikan aspirasinya.

Ketiga perempuan itu adalah Nona Poernamawoelan, Siti Soendari, dan Emma Purwadiredja. Ada empat perempuan lainnya yang ikut mengikrarkan Sumpah Pemuda, yaitu Johanna Nanap Tumbuan, Nona Tumbel, Suwarni Pringgodidgo, dan Dien Patow. Nama-nama perempuan ini memang tidak tertulis dalam buku sejarah yang selama ini kita pelajari, sehingga kisah perjuangannya pun luput dari perhatian publik.

Ada kalanya kita mengetahui juga kisah-kisah pahlawan perempuan yang ikut serta dalam memperjuangkan kemerdekaan negara kita tercinta. Dengan mengetahuinya, kita mendapat referensi perempuan cerdas dan berani bukan hanya dari kisah perempuan di masa nabi saja, tapi juga kisah perempuan dalam sejarah kemerdekaan bangsa kita.

Berikut ini sosok-sosok perempuan cerdas tersebut:

  1. Nona Poernomowoelan

Nona Poernomowoelan naik ke atas mimbar sebagai pembicara pertama dalam Kongres Pemuda II. Dia sebagai guru yang aktif dalam pendidikan dan pembinaan pemuda membacakan prasarannya, bahwa usaha mencerdaskan bangsa harus disertai dengan usaha menciptakan suasana tertib dan disiplin dalam pendidikan.

Sarmidi Mangunsarkoro yang memiliki concern dalam dunia pendidikan juga mendukung pernyataan Poernomowoelan, bahwa melalui pendidikan upaya dalam mencerdaskan bangsa ini dapat tercapai. Pendidikan menjadi investasi terbaik untuk keberlanjutan bangsa nanti.

  1. Siti Soendari

Siti Soendari merupakan adik bungsu dari dr.Soetomo. Di masanya, Siti Soendari dikenal sebagai perempuan yang luar biasa. Dia adalah perempuan kedua yang berhasil menyandang gelar Meester in de Ritchen (MR atau Sarjana Hukum) di Universitas Leiden, Belanda.

Siti bersama Mariah Ulfah Santoso yang berasal dari kalangan elit Jawa, untuk pertama kalinya mendapat kesempatan melepaskan diri dari kekangan adat dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ia juga pernah menjabat sebagai Direktur Bank dan berperan sebagai ibu yang sabar dan telaten dalam membimbing anak-anaknya.

Saat berpidato dalam Kongres Pemuda II, ia membahas beberapa masalah seperti pendidikan, kepanduan, kebudayaan, pengajaran, dan kewanitaan. Dalam membahas pendidikan, ia menyatakan untuk menanamkan rasa cinta tanah air terutama pada perempuan yang harus ditanamkan sejak kecil, bukan hanya untuk laki-laki saja.

  1. Emma Poeradiredja

Emma aktif menjadi anggota Jong Java dan pernah menjabat sebagai Ketua Cabang Bandung Jong Islamieten Bond. Di dalam organisasi, ia terlibat dalam kongres yang membahas tentang kedudukan wanita Sunda. Pada saat Kongres Pemuda II, Emma menyuarakan isu-isu tentang kemajuan wanita dan pendidikan. Ia juga menganjurkan kepada para perempuan untuk tidak hanya terlibat dalam pembicaraan soal pergerakan saja, tapi juga disertai dengan perbuatan.

Pada tahun 1930, Emma mendirikan Pasundan Istri (PASI) dengan tujuan untuk menampung aspirasi perempuan. Organisasi ini konsisten menyuarakan ajakan agar perempuan terlibat aktif dalam politik dan menuntut pemerintah memenuhi hak-hak politik kaum perempuan.

  1. Johanna Nanap Tumbuan

Johanna lahir di Amurang, Sulawesi Utara dari orang tua bernama Alexander Tumbuan dan Henriette Mosal. Ia merupakan seorang putri pemilik perkebunan kelapa yang dibesarkan dalam keluarga elit dengan gaya mendidik ala Barat. Johanna dikirim oleh orang tuanya ke Jakarta untuk sekolah di Christelijke MULO. Selama sekolah ia memperlihatkan karakter yang berbeda dengan teman-temannya. Ketika teman-temannya tertarik dengan organisasi pemuda, justru ia tidak peduli.

Setelah mencoba berbaur dengan orang-orang yang beragam, Johanna bergabung ke dalam organisasi Jong Mihanasa dan aktif dalam beberapa kegiatan sosial. Pada Kongres Pemuda II, Johanna berkesempatan menjadi salah satu perempuan pengikrar Sumpah Pemuda.

Selepas kemerdekaan, Johanna menjadi salah satu aktivis perempuan yang berperan penting dalam peringatan satu tahun lahirnya Republik Indonesia. Ia mengemban misi khusus dari perkumpulan mahasiswi dan perempuan Jakarta untuk menjadi ketua pemrakarsa pembuatan tugu satu tahun proklamasi.

Johanna menjadi perancang gambar tugu dan memilih tiga potong marmer yang masing-masing bertuliskan “Dipersembahkan oleh wanita republik”. Tugu Peringatan Proklamasi yang kita lihat selama ini di Jl. Proklamasi No 10 Pegangsaan, Jakarta adalah hasil kerja keras Johanna dan teman-teman perempuan lainnya.

  1. Suwarni Pringgodigdo

Suwarni aktif di seksi perempuan Jong Java dan memimpin seksi putri organisasi Pemuda Indonesia. Ia juga mendapat kesempatan menjadi salah satu pengikrar Sumpah Pemuda dalam Kongres Pemuda II. Suwarni terkenal sebagai sosok perempuan Jawa sebelum masa kemerdekaan. Ia berani mengemukakan pendapat di depan umum. Ia juga sangat terkenal sebagai perempuan yang berpikir kritis dalam menanggapi isu-isu yang berkaitan dengan kemerdekaan perempuan dalam pernikahan.

Suwarni tidak mudah terpengaruh oleh orang lain dan ia menentang poligami berdasarkan harapan untuk mendapatkan pernikahan yang aman dan stabil. Pada  tahun 1926 ia memperjuangkan proyek Ordonansi Perkawinan Pemerintah Kolonial dan melahirkan biro konsultasi masalah perkawinan. Atas kecerdasannya dalam berpikir kritis dan keberanian dalam menyampaikan pendapat, Suwarni menjadi perempuan pertama dan satu-satunya dari sebelas anggota yang Dewan Pertimbangan Agung pada tahun 1945.

Demikianlah sosok-sosok perempuan inspiratif di balik terbentuknya ikrar Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Dari tujuh perempuan yang hadir dalam Kongres Pemuda II, hanya lima yang terdokumentasikan dengan baik. Adapun Nona Tumbel terdokumentasikan sebagai perwakilan perempuan dari Jong Celebes.

Meskipun begitu, setidaknya kita mengetahui bahwa para pejuang hak perempuan dari era Lasminingrat, Kartini, dan Dewi Sartika diteruskan oleh sosok perempuan di atas. Perjuangan mereka dalam membicarakan isu perempuan perlu kita apresiasi, karena kesadaran mereka tentang hak perempuan telah dibangun sejak dulu.

Melalui sosok-sosok perempuan di atas, saya ingin berefleksi bahwa perjuangan mereka pun perlu kita teruskan. Karena isu-isu yang mereka angkat itu ternyata masih menjadi bahan perbincangan hangat. Di mana beberapa masih isu belum menemukan titik temu hingga saat ini. Seperti poligami, peran perempuan dalam politik, pendidikan, dan isu perempuan lainnya. []

 

Tags: Hari PahlawanIndonesiakemerdekaanPahlawan PerempuanSumpah Pemuda
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Belajar Perdamaian dari Nelson Mandela

Next Post

Resensi Buku Nalar Kritis Muslimah: Refleksi Atas Keperempuanan, Kemanusiaan, dan Keislaman

Mela Rusnika

Mela Rusnika

Bekerja sebagai Media Officer di Peace Generation. Lulusan Studi Agama-Agama UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Part time sebagai penulis. Tertarik pada project management, digital marketing, isu keadilan dan kesetaraan gender, women empowerment, dialog lintas iman untuk pemuda, dan perdamaian.

Related Posts

Ida Nasution
Figur

Ida Nasution: Muslimah Pertama yang Meraih Gelar Doktor di Universitas Amsterdam

8 Juni 2026
Indonesia
Publik

Masih Adakah Pancasila dalam Indonesia?

3 Juni 2026
Cut Nyak Dien
Aktual

Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

26 Mei 2026
Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia
Aktual

Di Balik Pemilihan Masjid Cut Nyak Dien sebagai Lokasi Puncak Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan

25 Mei 2026
Ita Fatia Nadia
Aktual

Di BKUPI 2026, Ita Fatia Nadia Beberkan Peran Penting Perempuan Indonesia Sejak Masa Kolonial

1 Mei 2026
Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan
Aktual

Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan 2026 Resmi Diluncurkan, Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan

1 Mei 2026
Next Post
Menjadi Muslimah Merdeka

Resensi Buku Nalar Kritis Muslimah: Refleksi Atas Keperempuanan, Kemanusiaan, dan Keislaman

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Menuju Muharram dan Panggilan untuk Introspeksi Jejak Spiritual
  • Keluarga Berencana (KB) dan Hak Perempuan atas Tubuh
  • Qana’ah, Kelas Menengah dan Fantasi Menjadi Orang Kaya
  • Mengapa Menunda Kehamilan Dapat Meningkatkan Kualitas Hidup Keluarga?
  • Mengajarkan Kesetaraan Pada Anak Laki-laki dan Perempuan Sejak Dini

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0