Mubadalah.id – Seorang pemimpin memiliki peran sentral dalam suatu lembaga atau entitas. Dalam tulisan sebelumnya, kita telah mencoba melihat bagaimana Gereja Katolik memahami makna kepemimpinan.Ā Singkatnya, Gereja katolik menekankan bahwa seorang pemimpin harus memiliki sikap melayani dan kerendahan hati. Kedua sikap ini menjadi syarat utama menjadi seorang pemimpin. Hal ini akan membantu dalam dialog dengan banyak orang.
Dalam tulisan kali ini, kita akan melihat bagaimana semangat dan spirit itu dilakukan oleh para pemimpin Gereja. Gereja sendiri menegaskan bahwa pelayanan dengan semangat kerendahan hati tidak boleh terhenti hanya pada internal Gereja, namun juga harus mencakup semua orang.
Gereja Katolik menegaskan bahwa pelayanan harus juga dirasakan oleh banyak orang, tanpa membeda-bedakan. Ini yang menjadi ajaran Gereja yang sampai sekarang terus dilakukan. Mulai Bapa Paus, Uskup, dan Pastor melayani tidak hanya orang Katolik tetapi juga banyak orang. Lebih luas lagi, Gereja menganjurkan bahwa kepemimpinan pelayan harus menemukan relevansinya dalam merawat toleransi dan dialog lintas iman.
Dialog dan Toleransi sebagai Kelanjutan dari Kepemimpinan Pelayan
Jika kepemimpinan merupakan bentuk pelayanan, maka dialog lintas iman bukanlah pilihan tambahan, melainkan konsekuensi logis. Pemimpin yang melayani tidak untuk menguasai ruang dialog atau menegaskan superioritas kelompoknya. Namun hadir untuk menciptakan ruang aman, yang membuat setiap orang merasa aman dalam menyampaikan idenya.
Dialog dalam pengertian ini, tidak bertujuan untuk menyamakan keyakinan atau menghapus perbedaan. Dialog bertujuan membangun pemahaman dan kepercayaan. Semangat pemimpin yang melayani harus menyadari bahwa kepercayaan sosial tidak lahir dari klaim kebenaran yang keras, tetapi dari konsistensi sikap yang menghormati martabat sesama.
Berbiacara tentang dialog, tentu tidak terlepas dari Toleransi. Toleransi sering berkaitan dengan sikap pribadi, yakni mau menerima perbedaan dan tidak mengganggu pihak lain. Namun, dalam konteks kepemimpinan, toleransi harus menjadi praktik yang nyata. Cara pemimpin berbicara di ruang publik, cara ia merespons isu sensitif, dan cara ia mengambil keputusan memiliki dampak langsung pada toleransi dalam masyarakat.
Kepemimpinan Katolik yang berakar pada pelayanan tidak bersikap netral dalam arti pasif. Namun aktif merawat ruang bersama agar tetap aman bagi semua. Toleransi tidak cukup berhenti pada āmembiarkanā, tetapi bergerak pada āmelindungiā dan āmerawatā, terutama bagi mereka yang rentan menjadi sasaran prasangka.
Relasi Kesalingan sebagai Cara Merawat Dialog di Ruang Publik
Relasi kesalingan dalam mubadalah membantu memperdalam makna dialog lintas iman. Dialog tidak boleh berjalan satu arah, satu pihak aktif berbicara sementara pihak lain hanya menjadi pendengar. Dialog yang sehat menempatkan semua pihak sebagai subjek yang setara, dengan pengalaman dan kebijaksanaan masing-masing.
Dalam perspektif ini, kepemimpinan tidak berhak mengarahkan dialog kepada kesimpulan tertentu, melainkan menjaga agar relasi tetap setara dan adil. Logika menang dan kalah tidak memiliki tempat dalam dialog lintas iman. Yang terpenting bukan kemenangan argumen, melainkan kesalingan yang memungkinkan hidup bersama terus berlangsung.
Ruang publik merupakan titik temu berbagai identitas. Dalam ruang inilah kepemimpinan diuji secara nyata. Bahasa yang digunakan pemimpin, simbol yang ditampilkan, dan sikap yang ditunjukkan dapat memperkuat kohesi sosial atau justru memperlebar jarak.
Kepemimpinan sebagai pelayan menyadari bahwa ruang publik bukan milik satu kelompok saja. Kepemimpinan ini menolak penggunaan bahasa yang menghakimi atau eksklusif. Sebaliknya, mendorong bahasa yang menenangkan, inklusif, dan membuka kemungkinan dialog. Dengan cara ini, kepemimpinan berperan sebagai penjaga kepercayaan sosial.
Tantangan Dialog dalam Menciptakan Kerja Sama
Dialog lintas iman tidak pernah bebas dari tantangan. Prasangka historis, ketakutan yang terjadi secara lama, serta polarisasi sosial sering kali membuatnya terasa berat dan berisiko. Dalam situasi seperti ini, kepemimpinan pelayan tidak bersikap naif, tetapi juga tidak mundur.
Keberanian moral menjadi bagian penting dari kepemimpinan. Pemimpin perlu berani membuka ruang dialog meski berpotensi kurang mendapat tempat. Kepemimpinan sebagai pelayan memahami bahwa menjaga keheningan demi kenyamanan semu justru dapat memperpanjang ketegangan.
Dialog lintas iman menemukan maknanya ketika berbuah pada kerja sama konkret. Kerja sama dalam isu kemanusiaan, keadilan sosial, dan solidaritas menjadi bukti bahwa dialog tidak berhenti pada wacana. Dari sinilah toleransi menjadi hidup dan dapatĀ bermanfaat bagi masyarakat luas.
Kepemimpinan Katolik memiliki peran penting dalam mendorong kolaborasi semacam ini. Dengan mengajak berbagai pihak bekerja bersama, kepemimpinan pelayan membantu membangun persaudaraan yang tidak berhenti pada simbol, tetapi hadir dalam tindakan nyata.
Kepemimpinan Katolik yang berakar pada pelayanan tidak boleh berhenti pada refleksi internal. Justru ini menjadi panggilan untuk hadir di tengah masyarakat majemuk sebagai jembatan perjumpaan. Melalui dialog lintas iman dan praktik toleransi yang aktif, kepemimpinan pelayan menawarkan cara memimpin yang lebih manusiawi dan membebaskan.
Dalam situasi dunia yang mudah terpecah oleh identitas dan kepentingan, kepemimpinan semacam inilah yang perlu untuk mendapat tempat. Bukan kepemimpinan yang membangun tembok, tetapi kepemimpinan yang dengan sabar merawat ruang perjumpaan dan menjaga kehidupan bersama. []


















































