Mubadalah.id – “Kaka, Ocan… Ayah mau nganter Bubu dulu ya. Mainnya di dalam rumah dulu.” pintaku pada Kaka dan Ocan. Mereka menyepakatinya.
Pagi ini begitu kelabu. Langit sahdu, angin menjadi alat penabuh ranting pohon. Setiap melihat tetangga, mereka menyelimuti tubuh dengan kedua tangan. Sudah tiga hari cuaca di kota udang ini seperti di Finlandia—hah?!—atau lebih tepatnya seperti Bogor atau Bandung lah… hehehe.
Pagi ini Bubu bergegas melawan dingin karena ada jadwal rutin cuci darah yang sudah mundur satu hari. Ia juga masih sempat mempersiapkan kudapan pagi untuk Kaka dan Ocan. Sementara saya mempersiapkan kendaraan tanpa sempat sarapan.
“Kaka, Ocan… Ayah mau nganter Bubu dulu ya. Mainnya di dalam rumah dulu,” pintaku lagi pada Kaka dan Ocan. Mereka menyepakatinya.
“Nanti Ayah kembali pulang setelah nganter Bubu.”
Perjalanan ke rumah sakit ditempuh sekitar 30 menit dari rumah kami. Jika dihitung pulang-pergi, totalnya 60 menit. Ditambah menemani Bubu dalam proses cuci darah selama 60 menit, total saya meninggalkan Kaka dan Ocan kurang lebih dua jam.
Tiba kembali di rumah, Kaka dan Ocan menepati permintaanku. Mereka bermain di dalam rumah dan begitu gembira menyambut kedatanganku. Ini pengalaman pertama kalinya mereka ditinggal oleh saya dan Bubu dalam beberapa saat tanpa pendampingan orang dewasa.
Meninggalkan Mereka Berdua
Hati saya terasa berat meninggalkan mereka berdua. Kekhawatiran muncul: takut ada hewan, takut mainan listrik, bahkan lebih jauh takut ada orang yang memengaruhi mereka. Semua kekhawatiran itu muncul sepanjang perjalanan. Saya tidak seteguh Bubu.
“Santai aja, Yah… latihan untuk mereka,” kata Bubu.
Nyatanya memang demikian. Kekhawatiran saya ternyata berlebihan.
“Ayah, Kaka mau nyuci karpet. Ini kena tumpahan susu,” pinta Kaka. Permintaan itu kemudian disusul oleh Ocan yang ingin mencuci baju yang ia gunakan semalam.
“Oke,” jawabku sambil mengaminkan permintaan mereka dan mempersiapkan peralatan mencuci.
“Nggak sekalian mandi?” pintaku.
“Mandi di luar,” sanggah Kaka.
Mereka berdua begitu menikmati apa yang mereka lakukan. Kaka menyikat karpet, Ocan merendam baju. Sesekali mereka bertengkar, saling berebut sikat cuci.
Saya hanya memperhatikan dari balik pintu sambil mempersiapkan bahan masakan: tempe ala ibu mertua, sop sayap ayam ala Sop Man Bewok, serta sambal gowang berbahan beberapa rawit, garam, dan terasi sangrai.
“Masak apa, Yah?” tanya Ocan.
“Sayur sop,” jawabku pelan.
“Asiikkk!” katanya girang. Saya menduga ia rindu dengan masakan ini. Ia lalu berlari menuju halaman tanpa busana.
Berbagi Peran
Nyatanya, kesadaran berbagi peran tidak ujug-ujug hadir dalam alam sadar. Ia tumbuh karena menyaksikan, merasakan, dan mendapatkan bimbingan.
Keikutsertaan atau keterlibatan dalam aktivitas apa pun saya anggap penting untuk melatih berbagi peran dalam keluarga. Yang lebih penting lagi, tidak mengotakkan jenis kelamin dalam segala aktivitas, terlebih dalam kerja domestik atau pekerjaan rumah.
Saya sering dengan sengaja memperlihatkan pekerjaan rumah seperti menyapu, mencuci baju, dan memasak di depan Kaka dan Ocan. Artinya, ini bukan pekerjaan berjenis kelamin. Namun, yang masih lazim di lingkungan kita, pekerjaan-pekerjaan ini dianggap sebagai pekerjaan perempuan.
Saya masih mengingat pernyataan dalam sebuah buku yang saya baca. Seorang tokoh pesantren menyuruh istrinya belajar mengendarai mobil dengan alasan agar perempuan tidak bergantung kepada suaminya dan bisa bepergian sendiri.
Bagi sebagian orang, pernyataan ini dianggap melawan kebiasaan dan tradisi. Namun, dalam tulisannya, tokoh tersebut menjelaskan alasannya: pekerjaan mengendarai mobil bukan hanya milik laki-laki. Secara kodrati, pekerjaan tidak lahir berdasarkan jenis kelamin.
Dalam keyakinan beragama, segala aktivitas kebaikan akan mendapatkan apresiasi kebaikan kelak bagi pelakunya dan menjadi amal saleh—baik dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan.
“Gimana, Can, masakan Ayah? Enak banget apa enak aja?” tanyaku.
“Enak banget,” jawabnya tegas. Ia kemudian melanjutkan penegasannya, “Ocan nyuci baju, Kaka nyuci karpet, Ayah masak.”
“Apa itu namanya?!”
“Berbagi peran yah!!!” []




















































