Mubadalah.id – Meski melekat pada setiap manusia, kesehatan reproduksi masih sering diabaikan dalam kehidupan sebagian masyarakat. Mereka masih memandang bahwa reproduksi sebagai sesuatu yang alamiah sehingga tidak perlu dijaga secara sehat dan aman.
Pandangan tersebut justru berdampak serius. Bahkan kematian perempuan akibat kehamilan, persalinan, atau keguguran kerap mereka anggap sebagai risiko wajar dan harus menerimanya.
Kesehatan reproduksi juga sering mereka persepsikan sebagai sesuatu yang memalukan atau tabu. Sehingga pembahasannya cenderung harus mereka hindari.
Akibatnya, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi tidak menjadi isu yang berkembang di ruang publik. Isu reproduksi kerap menjadi bidang para ahli medis, bukan sebagai pengetahuan dasar yang perlu setiap seseorang.
Padahal, kesehatan reproduksi berkaitan langsung dengan keselamatan dan martabat manusia. Ketidaktahuan terhadap proses dan risiko reproduksi dapat meningkatkan kerentanan, terutama bagi perempuan dan kelompok muda. Bahkan minimnya pengetahuan juga memperbesar kemungkinan terjadinya praktik reproduksi yang tidak aman.
Di sisi lain, sikap tabu dan stigma membuat upaya edukasi kesehatan reproduksi sulit kita lakukan secara terbuka. Diskusi publik tentang reproduksi sering mereka tidak pantas, meskipun tujuannya untuk pendidikan dan pencegahan risiko kesehatan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan reproduksi bukan hanya persoalan medis, tetapi juga persoalan sosial dan budaya. Tanpa perubahan cara pandang, kesehatan reproduksi akan terus berada di pinggiran, meski dampaknya sangat menentukan kualitas hidup manusia.
Sumber tulisan: Buku Kisah Perempuan: Pengalaman Siklus Kehidupan Reproduksi Perempuan.















































