Mubadalah.id – Keterbatasan akses pengetahuan tentang kesehatan reproduksi berdampak besar pada remaja. Kelompok usia ini justru sangat membutuhkan pemahaman yang benar, namun sering kali tidak memiliki rujukan yang memadai.
Dalam banyak kasus, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi mereka peroleh dari sumber tidak resmi, seperti bisik-bisik antar teman atau cerita yang tidak berbasis pengetahuan kesehatan. Pengetahuan semacam ini sering kali keliru dan menyesatkan.
Apalagi, upaya remaja untuk mencari tahu juga kerap dihadapkan pada stigma sosial. Remaja yang ingin memahami tubuh dan reproduksinya sering dicap terlalu dini atau dianggap melanggar norma kesopanan. Akibatnya, mereka memilih diam dan justru menghindar.
Di lingkungan sebaya, kesehatan reproduksi tidak jarang hanya menjadi bahan olok-olok, gurauan, atau konsumsi bacaan seksual yang tidak mendidik. Kondisi seperti ini menjauhkan remaja dari pemahaman tentang reproduksi yang sehat, aman, dan bertanggung jawab.
Padahal, tanpa pengetahuan yang benar, justru akan berisiko dalam mengambil keputusan yang membahayakan kesehatan dan masa depannya. Bahkan, dengan minimnya edukasi kesehatan reproduksi juga berpotensi memperkuat stigma dan kesalahpahaman yang berlanjut hingga dewasa.
Kondisi tersebut tidak boleh kita biarkan. Kita justru memerlukan keterbukaan untuk membicarakan isu reproduksi secara dewasa dan bermartabat agar generasi muda memiliki bekal pengetahuan yang cukup untuk menjalani kehidupan reproduksi yang sehat dan bertanggung jawab.
Sumber tulisan: Buku Kisah Perempuan: Pengalaman Siklus Kehidupan Reproduksi Perempuan.















































