Mubadalah.id – Puasa sejatinya tidak berbicara perihal lapar dan dahaga saja, tapi juga eksistensi manusia untuk melakukannya.
Hanya saat bulan Ramadan, pola hidup kita berubah drastis dari hari-hari lainnya. Waktu tidur bergeser, waktu makan pun relatif baru, suasana sosial berbeda, dan bahkan keluar rumah pun tidak ada energi kecuali waktu kerja.
Perbedaan habits itu bisa disebut dengan proses eksistensial kita terhadap hal baru, bukan hanya sekedar penyesuaian biologis. Bagi Erich Fromm, ini adalah saatnya manusia berpuasa menitih pribadinya dalam segala medan dan cuaca.
Manusia, Puasa, dan Kebutuhan Eksistensialnya
Erich Fromm menawarkan cara membaca manusia berpuasa secara eksistensial. Pertama, Relatedness atau keterhubungan. Istilah ini dalam Islam sering disebut dengan ukhuwah sosial. Ketika bulan ramadan, kita mendapat challenge untuk melatih empati sosial.
Seperti merasakan lapar yang biasa kaum miskin rasakan, zakat, infaq, sedekah dan bagi-bagi takjil. Ini bukan hanya tradisi, tetapi praksis relatedness yang membangun solidariats kemanusiaan.
Kedua, Rootedness atau keberakaran, dalam istilah Islam berarti tradisi Iman. Maksud Rootednes adalah relasi untuk berkelompok, berafiliasi dan memiliki sandaran. Dalam istilah lain, Rootedness adalah kesadaran bahwa diri ini tidak lahir dalam ruang hampa, tetapi tumbuh dari mata air nilai yang terwariskan.
Dalam konteks Ramadan, manusia berpuasa merupakan pengalaman kolektif yang telah terwariskan lintas generasi. Bertadarus setiap malam seusai tarawih, saling mengingatkan untuk sahur, saling berbagi, dan tarawih satu bulan penuh berjamaah. Maka, puasa tidak hanya sebagai hablum minallah dan minannaas, tapi juga menghubungkan akar-akar spiritualnya sendiri. Sehingga kita menemukan keteguhan hidup, meskipun dunia berubah namun nilai-nilai yang menjadi sandaran tetap hidup berkelanjutan..
Ketiga, Transendensi atau melampaui diri sendiri. Dalam Islam istilah ini disebut juga Tazkiyatun Nafs. Fromm menyatakan bahwa manusia ingin melampaui eksistensi pasifnya melalui kreativitas dan transformasi.
Sementara puasa, dalam demikian berarti latihan transendensi. Menahan lapar, syahwat, dan amarah. Ia bukan penindasan diri, melainkan pembebasan dari dominasi nafsu. Dalam dimensi sosial, transcendence melahirkan pribadi yang sabar, adil, dan tidak reaktif. Ramadan menjadi laboratorium tazkiyah proses melampaui ego menuju kesadaran moral yang lebih tinggi.
Keempat, Identitas atau kesadaran menjadi hamba. Fromm menilai manusia hakikatnya membutuhkan identitas autentik agar tidak larut dalam konformitas massal. Sedangkan puasa dapat menguatkan identitas sebagai manusia yang setara (Hamba Allah). Ramadan menegaskan bahwa manusia bukan sekadar konsumen dalam sistem kapitalistik, melainkan makhluk bermoral dengan misi transenden.
Kelima, Kerangka Orientasi atau Hidayah. Fromm menyebut bahwa manusia memerlukan sistem nilai sebagai Kompas hidup. Tanpa nilai (Hidayah), manusia kehilangan arah.
Puasa Sebagai Magnet Humanis-Spiritualis
Ramadan selalu hadir sebagai sistem orientasi yang kompleks. Ia bukan sekedar ritual lima waktu mekanis, tapi sebuah kerangka makna yang menyeluruh kehidupan umat muslim. Dalam bahasa Fromm, puasa adalah frame of orientation yang menghidupkan kembali kompas batin yang selama sebelas bulan sering tumpul oleh kebisingan dunia.
Bagaimana bentuk puasa saat era begitu modern ini? Fromm mengingatkan tentang bahaya ketika masyarakat sakit secara kolektif, manusia terasing dari dirinya dan sesama Modernitas menciptakan manusia produktif secara ekonomi, namun kosong secara eksistensial.
Puasa Ramadan, dalam perspektif ini, adalah antitesis kekosongan tersebut. Di sinilah puasa menjadi magnet yang menarik dua kutub sekaligus: humanisme dan spiritualisme. Humanisme, karena puasa menempatkan manusia sebagai subjek aktif yang sadar dan bertanggung jawab atas dirinya. Spiritualisme, karena ia menghubungkan manusia dengan Yang Maha Besar melalui kepatuhan yang lahir dari cinta, bukan sekadar ketakutan.
Pada akhirnya, puasa Ramadan bukan semata-mata tentang menahan lapar. Ia adalah sebuah aktivitas eksistensial yang direpitisikan setiap tahun. Mengajak manusia untuk terus bertanya : siapa aku? Untuk apa hidup?dan kepada siapa bertanggung jawab?. Pertanyaan ini bukan beban, namun tanda bahwa manusia masih hidup secara penuh dan bermakna.
Oleh karena itu, Ramadan dan puasa mengajarkan bahwa menjadi manusia bukan hanya numpang hidup, tetapi belajar lebih menjadi manusiawi dan pengendalian diri. []











































