Mubadalah.id – Dua hari terakhir saya sedang menyoroti sesuatu yang menurut saya tidak seharusnya viral dan kita jadikan tren dalam bermedia sosial. Ada rasa miris melihat betapa banyak generasi muda yang begitu ingin terlihat “mengikuti zaman.” Bahkan sampai lupa menilik lebih jauh substansi dari tren yang mereka ikuti.
Lagu “Siti Fatimah Ya Allah”, yang selama ini diapakai sebagai bagian dari tradisi dendang sahur, belakangan justru hadir dalam bentuk yang berbeda di media sosial. Lagu yang semula bernuansa pengingat spiritual itu terpotong, di-remix, lalu mereka jadikan sound konten hiburan dengan irama DJ dan “jedag-jedug” khas tren digital hari ini.
Perubahan konteks ini menimbulkan kegelisahan tersendiri. Bukan semata karena pergeseran selera musik, tetapi karena ada nilai yang terasa bergeser. Nama Sayyidah Fatimah, putri Rasulullah, yang seharusnya kita sebut dengan penuh penghormatan, kini berulang-ulang terdengar dalam ruang yang lebih menekankan sensasi hiburan daripada penghayatan makna.
Dalam berbagai riwayat, kedudukan Sayyidah Fatimah memang tidak bisa kita pandang biasa. Dalam hadis Shahihain menyebutkan bahwa sebaik-baik perempuan di alam semesta ada empat. Asiyah istri Fir’aun, Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, dan Fatimah binti Muhammad (HR. Bukhari dan Muslim). Riwayat lain dari Ibnu Abbas juga menegaskan bahwa mereka adalah para pemimpin perempuan pada masanya, dan Sayyidah Fatimah termasuk yang paling mulia di antara mereka.
Riwayat tersebut seharusnya mengingatkan kita bahwa menyebut nama Sayyidah Fatimah bukan sekadar mengulang sebuah nama yang indah. Ia adalah simbol nilai: keteguhan iman, kesederhanaan hidup, kekuatan spiritual, serta penjagaan martabat diri. Ketika nama itu hadir dalam ruang publik, termasuk ruang digital, seharusnya ia menjadi pengingat untuk meneladani, bukan sekadar dijadikan latar hiburan yang cepat berlalu.
Menilik Fenomena Viralitas Media Sosial
Fenomena viralitas di media sosial memang sering kali membuat batas antara yang sakral dan yang profan menjadi kabur. Segala sesuatu bisa terproduksi ulang, dimodifikasi, lalu tersebarkan demi menjangkau lebih banyak perhatian. Di satu sisi, ini menunjukkan kreativitas generasi digital. Namun di sisi lain, tanpa kesadaran etis, hal itu berpotensi mereduksi makna dari simbol-simbol keagamaan yang sebenarnya sarat nilai.
Tulisan ini bukan untuk menghakimi siapa pun yang mengikuti tren. Setiap generasi memiliki cara sendiri dalam mengekspresikan diri dan berinteraksi dengan zamannya. Tetapi justru di tengah derasnya arus modernitas, penting bagi kita untuk tetap memiliki kepekaan: tidak semua yang viral layak kita rayakan, dan tidak semua yang populer harus kita kuti.
Mungkin yang perlu kita bangun hari ini adalah keberanian untuk bersikap reflektif. Menjadi bagian dari generasi digital bukan berarti kehilangan akar nilai. Kita tetap bisa hadir di media sosial, tetap bisa kreatif dan relevan. Langkah ini dengan tanpa harus mengorbankan adab terhadap figur-figur yang kita muliakan dalam agama.
Pada akhirnya, mencintai sosok teladan tidak cukup dengan menyebut namanya berulang-ulang. Cinta yang sejati justru tercermin pada usaha menghadirkan nilai-nilai yang ia perjuangkan dalam kehidupan nyata.
Sebab kemuliaan seseorang tidak akan bertambah karena viralitas, tetapi kesadaran kita terhadap kemuliaan itu bisa memudar jika kita lalai menjaga cara memaknainya. Berada di tengah zaman yang semuanya berpotensi untuk menjadi trending. Semoga kita bisa lebih aware terhadap apapun itu. Mengikut tren dan viral boleh tapi jangan sampai kita ketinggalan dan kehilangan adab. []











































