Mubadalah.id – Idulfitri selalu identik dengan kebahagiaan. Rumah-rumah kita bersihkan, ketupat mulai kita siapkan, anak-anak memakai baju baru, pemuda pemudi tampil elegan, orang-orang kaya pamer kemewahan, dan suara takbir mengalun di mana-mana. Setelah sebulan berpuasa, Lebaran menjadi momen yang kita tunggu-tunggu. Waktu untuk pulang, berkumpul, saling memaafkan, dan bertemu teman-teman alumni sekolahan.
Namun, kita perlu menyadari bahwa tidak semua orang bisa menyambut Idulfitri dengan senyum yang utuh. Terkadang ada pancaran wajah yang dipaksakan agar terlihat tegar. Seperti halnya yang dirasakan oleh saudara-saudara kita yang ada di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Lima bulan pasca bencana yang menerjang tempat tinggal mereka, beberapa daerah belum pulih betul. Bahkan masih banyak warga yang bertahan di kondisi yang serba tidak enak, tidak nyaman, dan butuh lebih dalam lagi perhatian dari Negara.
Idulfitri di Tengah Bencana
Termasuk Aceh, di beberapa wilayah lain yang masih terdampak bencana atau sedang dalam masa pemulihan pascabencana, suasana Lebaran sering kali terasa berbeda. Bukan karena kurang iman, bukan karena kurang syukur, tetapi karena hidup mereka sedang teruji begitu berat. Ada rumah yang hilang, sawah yang hancur, pekerjaan yang terhenti, hingga orang terkasih yang terkubur di perut bumi.
Di tengah gema takbir, ada juga suara hati yang masih bergetar oleh trauma. Trauma akan ketakutan bencana datang lagi. Melihat mayat-mayat bergelimpangan dimana-mana. Trauma menyaksikan anak sendiri hanyut terseret arus banjir bandang. Melihat air coklat yang arusnya mampu memporak-porandakan seisi kampung, dan lain-lain. Masyarakat terdampak bencana hanya bisa pasrah dan berserah diri.
Bagi sebagian keluarga, terutama di wilayah terimbas bencana, Lebaran bukan soal baju baru atau meja makan penuh variasi. Lebaran bagi mereka adalah bisa tidur dengan tenang tanpa takut hujan deras datang lagi. Bisa berkumpul dengan keluarga yang masih lengkap. Bisa shalat Id tanpa harus memikirkan rumah yang terendam, jalan yang rusak, atau kebutuhan pokok yang belum tercukupi.
Bayangin, ketika banyak orang sibuk memilih kue Lebaran dan asyik menyiapkan adas serta rengginang, ada saudara-saudara kita yang justru sibuk menyelamatkan dokumen penting di reruntuhan bangunan rumah mereka. Ada pula kawan-kawan yang masih harus berjuang membersihkan lumpur. Lalu ada orang-orang tua yang terus menanti kepulangan anaknya yang sebenarnya sudah hilang tertelan air bah.
Sementara itu, ketika sebagian orang berburu tiket mudik ke kampung halaman untuk bertemu orang-orang tercinta, ada yang masih tinggal di hunian sementara. Ketika media sosial penuh foto silaturahmi dan makanan khas Lebaran, ada yang justru merayakan Idulfitri di tenda pengungsian, dengan pakaian seadanya, tapi tetap mencoba tersenyum demi anak-anak mereka. Inilah wajah lain dari Idulfitri yang jarang terlihat.
Makna Lebaran Sesungguhnya
Meski begitu, dari situ pula kita belajar bahwa makna Lebaran sesungguhnya bukan hanya soal kemeriahan. Idulfitri adalah tentang kembali pada hati yang bersih, pada rasa empati, pada kepedulian yang nyata. Justru ketika ada saudara kita yang sedang berduka atau bertahan hidup di tengah sisa-sisa bangunan dan ketidakpastian, di situlah ujian bagi kita semua: apakah kita benar-benar memahami arti kemenangan setelah Ramadan?
Hari raya semestinya bukan hanya kita rayakan, tetapi juga dibagikan. Dalam konteks hari ini, kita juga perlu melihat satu hal penting, yakni bencana yang datang semakin sering bukan lagi sekadar peristiwa alam biasa. Kini kita hidup di era krisis iklim. Cuaca ekstrem makin sering terjadi. Hujan datang lebih deras dan tak menentu. Banjir lebih mudah meluas. Gelombang panas, kekeringan, angin kencang, hingga abrasi pantai semakin nyata dirasakan banyak daerah.
Kita perlu ingat, krisis iklim juga hasil dari kebijakan pemerintah yang sering abai pada lingkungan. Saat izin tambang terus diperluas, hutan dibabat besar-besaran, dan pembangunan lebih mementingkan investasi daripada keselamatan warga, bencana pun makin sering datang. Sebagaimana Prof Maghfur dari UIN Gus Dur menyebut bencana alam sebagai bencana politik. Ini adalah akibat dari keputusan politik yang salah arah.
Pemerintah kerap bicara soal mitigasi, tetapi di lapangan justru banyak kebijakan yang memperparah kerusakan ekosistem. Krisis iklim, adalah cermin bahwa kegagalan melindungi alam sama saja dengan kegagalan melindungi rakyatnya sendiri.
Kita mungkin dulu menganggap banjir musiman sebagai hal biasa. Tapi sekarang, banyak bencana terjadi dengan skala yang lebih besar, lebih sering, dan lebih sulit diprediksi. Di Pekalongan, misalnya, selama satu bulan pada Januari hingga Februari kemarin, dihantam banjir yang membikin ribuan warga terpaksa mengungsi serta kehilangan harta benda.
Bencana alam merusak bukan hanya pada infrastruktur, tapi juga pada tradisi sosial dan keagamaan. Perjalanan mudik masyarakat kota ke desa bisa terganggu karena banyak jalan rusak, misalnya. Atau, pasokan bahan pangan terganggu karena gagal panen. Harga kebutuhan pokok naik. Tempat ibadah terdampak. Bahkan momen berkumpul keluarga pun bisa buyar karena krisis lingkungan yang mengancam kehidupan kita.
Di sinilah Idulfitri menjadi pengingat penting: bahwa merawat bumi juga bagian dari merawat kehidupan. Kita tidak bisa lagi memisahkan antara ibadah, kemanusiaan, dan lingkungan. Ketika alam rusak, yang paling dulu merasakan dampaknya adalah mereka yang paling rentan. Sebut saja misalnya masyarakat pesisir, petani, nelayan, warga di bantaran sungai, dan keluarga-keluarga yang hidup dengan sumber daya terbatas. Mereka bukan hanya kehilangan harta, tapi juga kehilangan rasa aman. Dan ketika hari raya tiba, luka itu terasa lebih nyata.
Dua Kesadaran
Idulfitri di era krisis iklim seharusnya mendorong kita untuk punya dua kesadaran sekaligus.
Pertama, kesadaran sosial: bahwa kebahagiaan kita belum lengkap kalau masih ada saudara yang merayakan Lebaran di tengah kesusahan, dan terhimpit oleh sistem yang tidak adil. Kesadaran sosial perlu kita bangun dari bawah. Zakat, infak, sedekah, dan solidaritas bukan sekadar ritual tahunan, tetapi bentuk nyata dari cinta sesama. Mengirim bantuan, mendukung pemulihan ekonomi warga terdampak, membeli produk UMKM lokal dari daerah bencana, atau sekadar tidak melupakan mereka dalam doa dan perhatian—semua itu penting.
Kedua, kesadaran ekologis: bahwa gaya hidup kita juga harus berubah. Lebaran bisa tetap hangat tanpa berlebihan. Sebab, Allah SWT menegaskan bahwa yang berlebih-lebihan itu tidak baik (QS. Al-A’raf: 31). Kita bisa mengurangi sampah makanan, memakai seperlunya, membawa wadah sendiri saat berbagi makanan, mengurangi plastik sekali pakai, dan lebih peduli pada lingkungan sekitar. Tindakan kecil memang tidak langsung menghentikan krisis iklim, tetapi perubahan besar selalu kita mulai dari kebiasaan kecil yang kita lakukan bersama-sama.
Peran Negara untuk Keadilan Iklim
Yang lebih penting dari itu adalah peran Negara sebagai pihak yang harus menegakkan keadilan iklim. Seperti misalnya pembuatan kebijakan progresif, transisi energi adil, perlindungan komunitas rentan. Peran ini mencakup mitigasi emisi, pendanaan adaptasi, penegakan hukum lingkungan, serta memastikan partisipasi publik yang bermakna dalam keputusan iklim.
Negara perlu benar-benar hadir ketika dampak krisis iklim semakin membuat masyarakat sengsara. Kesadaran dari penyelenggara Negara akan pentingnya menjaga ketahanan ekologi ini menjadi kunci dalam membangun peradaban yang seimbang, antara manusia dan alam.
Dan kesadaran itu tak cuma terwujudkan sebatas wacana, tapi aksi progresif yang berdampak nyata. Idulfitri bukan hanya momen untuk kembali suci secara pribadi, tetapi juga kesempatan untuk kembali sadar sebagai manusia. Sadar bahwa kita hidup saling terhubung dengan keluarga, dengan masyarakat, dan dengan alam.
Jadi, ketika tahun ini kita bisa merayakan Lebaran dengan rumah yang utuh, meja makan yang cukup, dan keluarga yang berkumpul, mungkin ada satu hal yang perlu kita tambahkan dalam syukur kita: ingatlah mereka yang belum seberuntung itu.
Sebab di Aceh, di pelosok-pelosok daerah yang baru diterjang banjir bandang, dan di wilayah yang masih berbenah setelah longsor, gempa, atau cuaca ekstrem, Idulfitri mungkin datang dalam bentuk yang lebih sunyi. Tapi justru dari kesunyian itu, kita diingatkan bahwa makna Lebaran yang paling dalam bukan terletak pada kemewahan perayaan, melainkan pada kemampuan kita untuk saling menguatkan. Karena pada akhirnya, Idulfitri yang paling indah bukanlah yang paling meriah, melainkan yang paling manusiawi. []









































