Jumat, 6 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perkawinan Beda Agama

    Mengetuk Keabsahan Palu MK, Membaca Putusan Penolakan Perkawinan Beda Agama

    Anak NTT

    Di NTT, Harga Pulpen Lebih Mahal daripada Hidup Seorang Anak

    Nyadran Perdamaian

    Nyadran Perdamaian: Merawat Tradisi di Tengah Keberagaman

    Laki-laki Provider

    Benarkah Laki-laki dengan Mental Provider Kini Mulai Hilang?

    Selibat

    Selibat dan Kemurnian Sebagai Panggilan Luhur dalam Gereja

    ODGJ

    ODGJ Bukan Aib; Ragam Penanganan yang Memanusiakan

    Difabel dalam Sejarah Yunani

    Menilik Kuasa Normalisme Difabel dalam Sejarah Yunani

    Dr. Fahruddin Faiz

    Dr. Fahruddin Faiz: Kerusakan Alam sebagai Cermin Moral Manusia

    Guru Honorer

    Nasib Miris Guru Honorer: Ketika Negara Menuntut Dedikasi, Tapi Abai pada Keadilan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Dakwah Nabi

    Peran Non-Muslim dalam Menopang Dakwah Nabi Muhammad

    Antara Non-Muslim

    Kerja Sama Antara Umat Islam dan Non-Muslim

    Antar Umat Beragama

    Narasi Konflik dalam Relasi Antar Umat Beragama

    Pernikahan

    Larangan Pemaksaan Pernikahan terhadap Perempuan

    Kerusakan di Muka Bumi

    Al-Qur’an Menegaskan Larangan Berbuat Kerusakan di Muka Bumi

    Hak Pernikahan

    Nabi Tegaskan Hak Perempuan Menentukan Pernikahan

    Membela Perempuan

    Islam Membela Perempuan

    Haji Wada'

    Posisi Perempuan dalam Wasiat Nabi di Haji Wada’

    Sujud

    Hadits Sujud sebagai Bahasa Penghormatan dalam Relasi Suami-Istri

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perkawinan Beda Agama

    Mengetuk Keabsahan Palu MK, Membaca Putusan Penolakan Perkawinan Beda Agama

    Anak NTT

    Di NTT, Harga Pulpen Lebih Mahal daripada Hidup Seorang Anak

    Nyadran Perdamaian

    Nyadran Perdamaian: Merawat Tradisi di Tengah Keberagaman

    Laki-laki Provider

    Benarkah Laki-laki dengan Mental Provider Kini Mulai Hilang?

    Selibat

    Selibat dan Kemurnian Sebagai Panggilan Luhur dalam Gereja

    ODGJ

    ODGJ Bukan Aib; Ragam Penanganan yang Memanusiakan

    Difabel dalam Sejarah Yunani

    Menilik Kuasa Normalisme Difabel dalam Sejarah Yunani

    Dr. Fahruddin Faiz

    Dr. Fahruddin Faiz: Kerusakan Alam sebagai Cermin Moral Manusia

    Guru Honorer

    Nasib Miris Guru Honorer: Ketika Negara Menuntut Dedikasi, Tapi Abai pada Keadilan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Dakwah Nabi

    Peran Non-Muslim dalam Menopang Dakwah Nabi Muhammad

    Antara Non-Muslim

    Kerja Sama Antara Umat Islam dan Non-Muslim

    Antar Umat Beragama

    Narasi Konflik dalam Relasi Antar Umat Beragama

    Pernikahan

    Larangan Pemaksaan Pernikahan terhadap Perempuan

    Kerusakan di Muka Bumi

    Al-Qur’an Menegaskan Larangan Berbuat Kerusakan di Muka Bumi

    Hak Pernikahan

    Nabi Tegaskan Hak Perempuan Menentukan Pernikahan

    Membela Perempuan

    Islam Membela Perempuan

    Haji Wada'

    Posisi Perempuan dalam Wasiat Nabi di Haji Wada’

    Sujud

    Hadits Sujud sebagai Bahasa Penghormatan dalam Relasi Suami-Istri

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Buku

Buku Limādzā al-ḥarb: Surat Einstein dan Sigmund Freud tentang Perang

Buku ini menemukam memontum seiring meluasnya eskalasi perang di Timur Tengah antara Israel-Amerika Serikat dan Palestina-Iran-Yaman

Moh Soleh Shofier by Moh Soleh Shofier
8 Oktober 2024
in Buku
A A
0
Tentang Perang

Tentang Perang

16
SHARES
780
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Dalam perang, perempuan adalah manusia yang paling dirugikan. Tapi tulisan ini masih belum spesifik membahas perang dan perempuan. Melainkan aspek yang lebih universal: manusia dan perang.

Saya menemukan buku menarik. Judulnya “Limādzā al-ḥarb?” – terjemah dari bahasa Jerman dan terbit 2018 – mengupas tentang “Perang” dari dua ilmuwan abad 20, Albert Einstein sebagai representasi ilmu kealaman: Fisikawan dan Sigmund Freud yang mewakili ilmu humaniora: Psikoanalisis.

Buku ini menemukam memontum seiring meluasnya eskalasi perang di Timur Tengah antara Israel-Amerika Serikat dan Palestina-Iran-Yaman. Potensial pecahnya perang dunia ke-3.

Sekitar 30 halaman ditambah pengantar 30, buku ini memaparkan kegelisahan Albert Einstein terkait perang di masanya yang menggila sebab peralatan perang yang semakin canggih. Maka, saat Liga Bangsa-Bangsa (LBB) dan Lajnah Intelektual Internasional (LII) mensponsori Einstein untuk membahas suatu persoalan, ia memilih tema perang.

Pertanyaan dan Asumsi Albert Einstein dalam Suratnya

Surat resmi yang Einstein layangkan pada Sigmund Freud tertanggal 30 Juli 1932 – sementara pengantar terjemahan buku menduga ada surat yang tidak resmi sekitar tahun 1931. Sekitar 4 pertanyaan, yang bisa kita sederhanakan pada dua pokok persoalan.

Pertama, sebab-sebab perang? Kedua, cara mengatasi perang? Mengatasi perang inilah yang akan kami sorot karena relevan dengan PBB yang “gagal” menengahi perang (konflik) TimTeng. Khususnya Palestina dkk vs Israel yang dapat sponsor Amerika Serikat.

Di sisi lain, studi dan teori untuk menganalisis sebab-sebab perang sudah melimpah. Para tokoh cerdik-cendikia melibatkan diri dengan berbagai perspektif masing-masing. Sebut saja, Thucydides, sejarawan Yunani yang membahas konflik antara Athena dan Sparta. Tak ketinggalan, filsuf Italia hadir, Niccolò, yang terkenal dengan karyanya Il Principe, di mana ia menganalisis kekuasaan dan strategi politik.

Di abad pertengahan, Thomas Hobbes Filsuf Inggris yang menulis Leviathan, yang intinya sifat bawaan manusia adalah arogan. “Human nature is essentially cruel and selfish”. Pijakan yang sama dengan Sigmund Freud saat mengulas sebab-sebab perang di abad 20 dengan pendekatan psikologis.

Tentu, hal ini mendapat bantahan sebaliknya dari beberapa tokoh semisal Immanuel Kant – yang sempat Einstein sebut dalam suratnya. Pun, Jean-Jacques Rousseau, lebih lantang situasi alamiah manusia adalah baik dan damai.

Ada banyak pendekatan atau perspektif dalam memahami sebab-sebab perang. Teori sejarah, ekonomi, politik, psikologi, dan budaya. Bahkan dalam satu perspektif terkadang memberikan ragam penjelasan. Studi dan perdebatan itu bersenyawa dengan kesamaan perasaan: BENCI PERANG dan CINTA DAMAI.

Pertanyaan Einstein: Cara Mengatasi Perang

Terlepas dari itu, sampai sekarang, perang tetap ada. Itu fakta tak terbantahkan. Baik fakta sejarah maupun fakta yang sedang berlangsung. Dan abad ini, abad yang katanya puncak peradaban, genosida Israel ke Palestina menjadi bukti pembantaian (perang) adalah salah satu “teman peradaban” yang sulit manusia menghindarinya.

Inilah salah satu yang mengganggu pikiran Albert Einstein. Dalam surat tersebut, Einstein melontar pertanyaan serta asumsi nya terkait mengatasib perang.

هل ثمة طريقة تنقذ البشرية من خطر الحرب؟

 “Apakah ada cara untuk menyelamatkan umat manusia dari bahaya perang?”

Einstein sendiri menyadari bahwa keilmuannya  (fisika) tak memadai dalam menghasilkan jawaban yang komprehensif. Karena, bagi Einstein, persoalan perang ada hambatan psikologis. Dan orang yang tak punya spesialisasi ilmu psikolog (Einstein) hanya bisa menebak tanpa mengetahui hubungan-hubungannya yang kompleks.

Sehingga Einstein hanya memberikan asumsi untuk memantik dialog dengan Sigmund Freud sebagai psikoanalisis. Kata Einstein – sebagai jawaban sementara dalam suratnya – cara sederhana mengatasi perang adalah jalur administratif-politis. Yaitu dengan membentuk lembaga peradilan dan legislatif untuk menyelesaikan sengketa yang muncul antara negara-negara, dengan persetujuan internasional.

Semua negara harus berkomitmen untuk mematuhi perintah lembaga ini, merujuk semua perselisihan kepada keputusan mereka, menerima keputusan mereka tanpa debat, dan melaksanakan semua tindakan yang dianggap perlu oleh pengadilan untuk menerapkan keputusan-keputusan tersebut.

Alih-alih memberikan argumentasi terkait pandangannya,  Einstein justru pesimis terhadap lembaga internasional yang kerap kali gagal dalam menangani ketegangan antar negara, hingga meletus perang. Ia mengatakan:

لكنني، ومن البداية، قد واجهت صعوبة، وهي أن المحكمة باعتبارها مؤسسة بشرية قد تكون غير قادرة على فرض أحكامها، بالنظر إلى السطة المتاحة لها.”

“Namun, sejak awal, saya menghadapi kesulitan, yaitu bahwa lembaga peradilan sebagai institusi manusia mungkin tidak mampu menegakkan keputusannya, melihat (minimnya) kewenangan yang tersedia untuknya.”

Jawaban Sigmund Freud dan Sikap Pesimisnya akan Liga Bangsa-Bangsa

Sebagaimana Einstein, Sigmund Freud bahakan pesimis dengan upaya Liga Bangsa-Bangsa – atau Lembaga Internasional lainnya semisal PBB. Bahkan jauh lebih pesimis ketimbang Einstein bila enggan mengatakan skeptis.

Selain secara praktis, juga secara teoritis sulit Lembaga Internasional menangani perang apalagi mencegahnya menurut pandangan Sigmund Freud. Kendatipun Lembaga Internasional memiliki visi-misi: DAMAI. Kelihatannya, Sigmund Freud, mendasarkan pandangan pesimisnya pada dua hal.

Pertama, prinsip menangani konflik, yaitu perang dan kekerasan sebagai sifat dasariah manusia. Ia menandaskan.

إنه لمبدأ عام أن تُسوَّى صراعات المصالح بين البشر عن طريق العنف، وهذا أمر ثابت في مملكة الحيوان، التي لا يمكن للبشر أن يستثنوا أنفسهم منها

“Sudah menjadi prinsip umum bahwa menyelesaikan konflik-ketegangan antar manusia melalui jalan kekerasan. Dan hal ini merupakan hukum yang berlaku dalam dunia hewan, dan manusia diantaranya”.

Hal tersebut, lantaran sifat dasariah manusia adalah arogan dan egois yang tarik ulur dengan sifat bertahan hidup dan persatuan. Dalam istilah Sigmund Freud menyebut Thanatos (Gharizah al-Baqa wal Ittihad) dan Eros (Gharizah al-Tadmir wa al-Qatli).

فإن الغرائز الإنسانية اثنتان؛ أما الأولى فهى غريزة البقاء والاتحاد… وأما الثانية فهي غريزة التدمير والقتل، اللذين نجمعهما معا باعتبارهما الغريزة التدميرية أو العدوانية

“Karena ada dua naluri manusia. Adapun yang pertama adalah naluri untuk bertahan hidup dan bersatu. Yang kedua adalah naluri menghancurkan dan membunuh, yang kita kelompokkan sebagai naluri destruktif atau agresif”.

Dua sifat itu saling bekerja sama dalam kontradiksi-kontradiksi dan polaritas. Keduanya tak bisa dinilai dengan moral baik dan buruk sebagaimana Emannuel Kant. Sebab satu membutuhkan yang lain. Artinya, untuk menciptakan persatuan kadang butuh pembantaian. Oleh sebab itu, ia berkesimpulan sebagai berikut:

. ومن ثم نرى أن تجنب الفصل في صراعات المصالح عن طريق العنف غير ممكن، حتى داخل المجتمعات

“Oleh karena itu, kami melihat bahwa menghindari penyelesaian konflik kepentingan melalui kekerasan (bahkan perang) adalah hal yang mustahil bahkan di dalam masyarakat (negara).”

Dasar Skeptis Sigmund Freud pada Lembaga Internasional

Kedua, landasan pesimisnya terhadap lembaga Internasional yang menangani perang yaitu terletak pada lembaga itu sendiri. Karena ada kelemahan signifikan di dalam lembaga Internasional tersebut – Liga Bangsa-Bangsa.

Pertama, kurang otoritas Lembaga Internasional (LBB). Freud mengamati bahwa Liga Bangsa-Bangsa tidak memiliki kekuatan atau otoritas yang kuat untuk menegakkan keputusan-keputusan yang mengikat. Menurutnya, lembaga ini hanya berfungsi sebagai forum untuk diskusi dan negosiasi, tetapi tidak memiliki kekuatan untuk memaksa negara-negara untuk mematuhi keputusan atau resolusi yang diambil.

Kedua, ketergantungan pada Negara Anggota. Freud menunjukkan bahwa jika negara-negara anggota tersebut tidak bersedia untuk menyerahkan sebagian dari kedaulatannya atau mematuhi keputusan Liga, maka lembaga ini tidak efektif dalam mencegah konflik dan perang.

Ketiga, kurang pengaruhnya para pemimpin moral dan intelektual. Freud menekankan bahwa meskipun ada individu-individu besar yang memiliki pengaruh moral dan spiritual, mereka sering kali gagal mempengaruhi jalannya peristiwa politik.

Mengapa PBB Menuai Kegagalan dalam Perang TimTeng?

Akhir tulisan ini, menarik untuk mempertanyakan PBB yang gagal menangani konflik Timur Tengah. Tentu PBB beda dengan LBB, PBB sudah banyak mendapat sokongan moral, punya otoritas untuk menyangsi.

Tapi, meminjam analisis Sigmun Freud, PBB dalam cengkeraman negara digdaya Amerika Serikat yang juga arogan dan memuluskan genosida Israel ke Palestina dengan bayang-bayang kengerian nuklirnya. Di saat yang sama, Amerika paling lantang menggemakan perdamaian dan Hak Asasi Manusia.

Sungguh paradoks antara Eros dan Thanatos. Sebagaimana Sigmund, tak ada jalan lain dalam menyelesaikan konflik selain membunuh dan berperang? Dan melanjutkan sejarah kelam perang ke-3,4, dan seterusnya? Saya tidak tahu! []

 

 

 

 

 

 

Tags: Albret EinsteinBuku Limādzā al-ḥarbPBBPerang DuniaSigmund FreudTentang Perang
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Moh Soleh Shofier

Moh Soleh Shofier

Dari Sampang Madura

Related Posts

Dampak Polusi Udara
Lingkungan

PBB Soroti Dampak Polusi Udara terhadap Kesehatan dan Ekonomi Global

2 Februari 2026
Sunat Perempuan
Keluarga

Tak Ada Alasan Medis dan Agama: PBB Sepakat Menghapus Sunat Perempuan

30 Oktober 2025
Thufan al-Aqsha
Aktual

Dua Tahun Thufan al-Aqsha: Gema Perlawanan dari Jantung Luka Kemanusiaan

7 Oktober 2025
Diplomasi Moral Indonesia
Publik

Diplomasi Moral Indonesia: Prabowo dan Komitmen Terhadap Palestina di PBB

26 September 2025
Freud
Hikmah

Kepribadian Manusia Menurut Sigmund Freud

4 Agustus 2025
Iran dan Palestina
Publik

Iran dan Palestina: Membaca Perlawanan di Tengah Dunia yang Terlalu Nyaman Diam

26 Juni 2025
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • ODGJ

    ODGJ Bukan Aib; Ragam Penanganan yang Memanusiakan

    28 shares
    Share 11 Tweet 7
  • Selibat dan Kemurnian Sebagai Panggilan Luhur dalam Gereja

    27 shares
    Share 11 Tweet 7
  • Nabi Tegaskan Hak Perempuan Menentukan Pernikahan

    26 shares
    Share 10 Tweet 7
  • Benarkah Laki-laki dengan Mental Provider Kini Mulai Hilang?

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Nyadran Perdamaian: Merawat Tradisi di Tengah Keberagaman

    19 shares
    Share 8 Tweet 5

TERBARU

  • Mengetuk Keabsahan Palu MK, Membaca Putusan Penolakan Perkawinan Beda Agama
  • Peran Non-Muslim dalam Menopang Dakwah Nabi Muhammad
  • Di NTT, Harga Pulpen Lebih Mahal daripada Hidup Seorang Anak
  • Kerja Sama Antara Umat Islam dan Non-Muslim
  • Nyadran Perdamaian: Merawat Tradisi di Tengah Keberagaman

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0