Mubadalah.id – Banyak dari kalangan yang menafsirkan IdulfFitri sebagai nilai kemenangan, kesenangan dan kesucian. Namun benarkah pemahaman tersebut telah membebaskan diri seseorang?
Sebuah kewajiban yang sangat profan bagi umat Islam pada setiap tahun untuk menyambut bulan Ramadan yang kita buka dengan berpuasa dan Idulfitri sebagai penutupnya. Bulan ini berbeda dengan yang lain, rasa-rasanya memiliki peradaban tersendiri yang terbalut dalam hikmah kesucian yang tercerahkan. Yakni dengan turunnya wahyu kepada utusan Nabi Muhammad SAW berupa Al-Qur’an (Nuzul Al-Qur’an).
Momen-momen yang terkandung di dalamnya juga menggiurkan, bagi umat muslim seakan-akan mereka mereset, merecall dan juga merekonstruksi kehidupannya dengan menata kembali orientasi spiritual, memperbaiki relasi sosial, serta menundukkan ego dan hasrat yang selama ini kerap mendominasi kehidupan sehari-hari.
Namun di balik hal itu semua, ada pertanyaan yang sering terlewatkan, apakah kita sungguh-sungguh merayakan sesuatu yang sakral, ataukah hanya seremoni sosial yang kita bungkus dengan bahasa agama?
Tentang Sebelum dan Sesudah Hari Raya
Saat bulan Ramadan, umat Muslim memenuhi kegiatan bulanan dengan mengisi tindakan yang berbeda saat hari biasanya. Ia harus menahan nafsu, lapar dan mimun, dan segala hal yang membatalkan puasa. Tidak hanya itu, tadarus al-Qur’an, kajian keagamaan dan praktik sosial turut mewarnai hari-hari berpuasa Ramadan.
Namun menjelang Idulfitri, lanskap itu berubah drastis segampang membalikkan tangan. Paradoks Idulfitri bermunculan saat akhir Ramadan yang harusnya terpenuhi dengan khidmat Nuzulul Qur’an beralih ke praktik-praktik perbelanjaan.
Praktik belanja pakaian dan jajanan ringan menjelang Idulfitri menjadi kebutuhan dan ritual muslim untuk menyambut perayaan hari raya. Dalam masyarakat tradisional, ini merupakan hal yang wajar, sederhana, dan fungsional. Namun, ketika abad ke-20 perkembangan pasar ekonomi dan budaya modern tampak melejit karena masifnya praktik industrial. Sejak saat itu daya jual beli masyarakat menjadi fenomena konsumsi yang lebih luas dan bersifat konvensional.
Thorstein Veblen memandang hal ini sebagai conspicuous consumption (konsumsi demokratis). Yaitu kecenderungan manusia membeli barang bukan hanya karena kebutuhan, tetapi juga untuk menunjukkan status sosial. Seperti pakaian baru, dekorasi rumah, atau hidangan berlimpah sering menjadi identitas sosial yang menyimbolkan keberhasilan individu secara ekonomi.
Inilah yang menjadikan kemunculan kapitalisme modern menjelang Idul fitri. Pada akhirnya angin kapitalisme modern membentuk watak manusia yang cenderung mengunggulkan diri dan menunjukkan rasa surplus sumber daya, karena meninggalkan fungsi utama dari segala hal, ia fokus pada nilai simbolik dan makna sosial yang melekat pada barang tersebut.
Padahal, dalam perspektif Islam, mengunggulkan diri atau sombong berlandaskan kekayaan merupakan sifat negatif yang harus disterilkan dan harus menumbuhkan rasa empati sosial kemasyarakatan.
Maka, setelah Idulfitri, apakah watak konsumerisme itu tersucikan ketika momen hari raya, atau lestari setelah Idulfitri dan akan bermuara saat Ramadan kembali? Fa aina Tadzhabuun? Apapun jalan yang menjadi pilihan, hendaknya memiliki nilai kemanusiaan dan berkeadilan.
Hari Raya Pembebasan
Bagaimana jadinya apabila Idulfitri menjadi ajang pembebasan dari penjara-penjara ekonomi, budaya, sosial, dan spiritual sekaligus? Dalam konteks ini, perspektif teologi pembebasan Ali Asghar Engineer menemukan titik relevansinya, maka perspektif tersebut digunakan untuk mengokohkan bahwa hari raya adalah proses pembebasan manusia dalam segala tekanan hidupnya.
Bagi Asghar, Islam lahir bukan hanya untuk mengabadikan tatanan yang ada, melainkan untuk meruntuhkannya apabila tatanan itu tertindas. Idulfitri, dalam bingkai ini adalah ritual yang paling kaya sekaligus paling rentan.
Kaya, karena ia mengandung potensi pembebasan yang menyeluruh melampaui batas-batas spiritual dan menyentuh seluruh dimensi kemanusiaan. Rentan, karena seperti yang telah ada, ia paling mudah dibajak oleh logika konsumerisme, hierarki sosial, dan kesalehan yang mandul.
Dalam aspek Ekonomi, zakat fitrah adalah instrumen redistribusi yang terbingkai agar tidak ada seorang pun memasuki hari raya dalam kelaparan. Engineer membacanya bukan sebagai sedekah sukarela, melainkan sebagai kewajiban struktural untuk meruntuhkan tembok pemisah antara yang berlebih dan yang kekurangan.
Aspek sosial, tradisi saling memaafkan dan sungkeman berpotensi sebagai momen pembongkaran hierarki sosial yang mengeras sepanjang tahun. Namun pemaafan yang sejati bukan hanya sekadar gestur sopan santun musiman, tetapi juga keadilan yang kokoh.
Sementara itu, tekanan budaya untuk tampil serba baru, serba cukup, serba sempurna di hari raya adalah penjara budaya yang memaksa orang berhutang demi gengsi. Idulfitri yang membebaskan adalah yang melepaskan manusia dari tirani penilaian sosial ini, bukan yang memperburuknya.
Dan Pietisme individual yang berhenti pada kesalihan pribadi, tanpa melahirkan kepekaan terhadap empati orang lain adalah bentuk perbudakan spiritual yang paling halus dan kehilangan roh spiritual itu sendiri.
Dengan demikian, Idulfitri baru layak disebut kemenangan sejati bukan ketika seseorang berhasil menaklukkan dirinya sendiri. Akan tetapi kemenangan bersama yang menjelma menjadi pembebasan. Terutama bagi mereka yang selama ini terpenjara dalam kelaparan, kehinaan, dan ketidakadilan yang kita biarkan berlangsung diam-diam sepanjang tahun. []







































