Mubadalah.id – “Lagu pilu” kembali menyenandung dari kerongkongan kering para aktivis. Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, menjadi korban penyiraman air keras oleh sekelompok orang tak dikenal (OTK).
Kejadian itu menimpa Andrie pada Kamis tengah malam (12/3) di kawasan Jalan Salemba – Talang, Jakarta Pusat. Akibatnya, aktivis lulusan Sekolah Tinggi Hukum Indonesia (STHI) Jentera itu mesti mengalami luka bakar hingga sebanyak 24 persen.
Andrie menjadi aktivis yang kesekian kalinya menjadi korban kekerasan oleh oknum tak bertanggung jawab. Seakan telah menjadi “hukum alam”, setiap orang yang lantang mendendangkan suara kritis selalu beroleh pembungkaman.
Gelagatnya selalu sama. Pembungkaman berlangsung lewat pemidanaan, tindak kekerasan, serta tentu saja, pembunuhan. Nahasnya, negara tak pernah sungguh-sungguh mengusut semuanya, selain sekadar janji, janji, dan janji. Tanpa realisasi konkret!
Sebelum Andrie Yunus, negara ini pernah diam seribu bahasa saat aktivis hak asasi manusia (HAM) Munir Said Talib tewas akibat tindak peracunan. Proses pengusutannya berbelit-belit, hingga berujung pada Polycarpus sebagai tersangka. Tentu, penersangkaan yang dipaksakan.
Namun, kejanggalan masih saja bersisa. Mastermind alias dalang utama di balik tindakan kriminal paling menyayat hati para aktivis itu tak pernah sungguh-sungguh diadili. Reformasi yang telah berusia lebih dari lima lustrum pun memilih bergeming.
Marsinah, Bertaruh Nyawa di Negeri Beragama
Selain Munir Said ataupun Andrie Yunus, aktivis lain yang juga menjadi “tumbal perjuangan” ialah tentu saja Marsinah. Buruh pabrik perempuan pada sebuah perusahaan arloji di Sidoarjo, Jawa Timur ini juga mesti meregang nyawa akibat terlalu berisik.
Orang di masanya mengenal Marsinah sebagai aktivis pembela hak-hak kaum buruh. Kala itu, Marsinah dan rekan-rekan buruhnya menginisiasi gerakan mogok kerja guna menuntut kenaikan upah. Tuntutan itu berpijak pada ketetapan Gubernur Jawa Timur, Soelarso.
Tuntutan Marsinah dan kawan-kawan mencapai hasil gemilang. Rasanya angin baik berpihak pada kaum buruh. Namun, nyatanya, itulah awal dari petaka. Militer Kodim Sidoarjo menggelandang para pentolan demonstrasi. Tentara memaksa mereka mengundurkan diri.
Mengetahui kejadian itu, Marsinah marah besar. Ia mendatangi Kodim Sidoarjo guna mencari rekan-rekan buruhnya. Nahas, haru itu, 5 Mei 1993 menjadi hari terakhir baginya mengirup udara bumi pertiwi. Sekira pukul sepuluh malam, ia lenyap ke alam baka.
Lebih menyakitkannya, tragedi yang menimpa Marsinah tak pernah sungguh-sungguh menjadi “hal serius” di negeri religius ini. Iman yang selalu menjadi kebanggaan nyatanya tak pernah bisa membela yang lemah, memerdekakan yang terjajah, serta melawan yang pongah.
Religiusitas kita lebih asyik beramai ria mengurusi hal-hal simbolik serupa ayat-ayat, dalil-hujjah, halal-haram, atau berita-berita penistaaan. Sementara, untuk urusan nyawa, agama bungkam. Fajar religiusitas sebagai basis kebebasan, seperti tuturan Ali Shariati, sama sekali belum merekah.
Menolak Bungkam, Berani Berisik
Telah begitu banyaknya nyawa aktivis yang “dikubur” oleh tirani rezim tentu tak boleh menyurutkan nyali kebenaran. Alih-alih surut, sekali kita disikut, seketika itu juga nyali baru tersulut. Islam adalah agama keberanian, agama syahid. Tak kenal kata gentar.
Kita punya teladan mulia pada diri Asma’ binti Abi Bakar radhiyallahu ‘anhuma. Ia seorang perempuan pemberani yang menjadi salah satu figur kunci di balik kesuksesan hijrah Sang Nabi akhir zaman dari Makkatil Mukarramah menuju Yatsrib.
Di tengah bentangan padang pasir yang menghunus panas, Asma’ menjalankan perannya sebagai pemasok logistik. Ia mengirimi ayahandanya dan Sang Nabi makanan secara sembunyi-sembunyi. Usai tuntas tugas itu, ia beranjak dengan misi menghapus segala jejak yang bersisa.
Sungguh, jikalau Asma’ gentar, saat tentara Quraish menghadangnya, bukan tak mungkin lehernya akan jadi pertaruhan. Toh, di masa itu, nyawa seorang perempuan hampir-hampir tak berharga. Namun, Allah merahmatinya dengan keberanian seorang perempuan sejati.
Perjuangan kita hari-hari gelap ini mungkin tak seberat Asma’. Saban pagi kita bisa menyesap hangatnya kopi. Saat petang tiba, secangkir teh membersamai diri kala menatap purna hari. Jadi, sungguh tak beradabnya jika kita memilih diam dan bungkam.
Mari berisik, mari usik, biarkan kebenaran dan keadilan bermusik. Ave perjuangan! []











































