Rabu, 4 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Dr. Fahruddin Faiz

    Dr. Fahruddin Faiz: Kerusakan Alam sebagai Cermin Moral Manusia

    Guru Honorer

    Nasib Miris Guru Honorer: Ketika Negara Menuntut Dedikasi, Tapi Abai pada Keadilan

    Board of Peace

    Board of Peace dan Kegelisahan Warga Indonesia

    Kader Ulama Perempuan

    Penguatan Agensi Perempuan lewat Beasiswa LPDP Kader Ulama Perempuan

    Disabilitas dan Dunia Kerja

    Disabilitas dan Dunia Kerja: Antara Regulasi dan Realita

    Disabilitas Psikososial

    Disabilitas Psikososial: Mengenal Luka Tak Kasatmata dalam Perspektif Mubadalah

    Perempuan ke Masjid

    Akses Perempuan ke Masjid dan Tantangan Sosial Hari Ini

    Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

    Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati; Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental

    Golek Garwo

    Optimisme “Golek Garwo” dan Cherry-picking Kebahagiaan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Sujudnya Istri

    Membaca Hadits Sujudnya Istri kepada Suami dengan Perspektif Mubadalah

    Malam Nisfu Sya’ban

    Tradisi Malam Nisfu Sya’ban di Indonesia

    Malam Nisfu Sya’ban

    Ampunan Dosa di Malam Nisfu Sya’ban

    Nisfu Sya'ban

    Nisfu Sya’ban, Momentum Evaluasi dan Laporan Amal Umat Islam

    Amalan Nisfu Sya'ban

    Nisfu Sya’ban dan Ragam Amalan Utama Menjelang Ramadhan

    Perempuan Shalat Subuh

    Hadis Bukhari Catat Perempuan Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Nabi

    Perempuan ke Masjid

    Akses Perempuan ke Masjid dan Tantangan Sosial Hari Ini

    Melarang Perempuan

    Nabi Tidak Melarang Perempuan Shalat di Masjid

    Pernikahan sebagai

    Menempatkan Perceraian sebagai Jalan Akhir dalam Pernikahan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Dr. Fahruddin Faiz

    Dr. Fahruddin Faiz: Kerusakan Alam sebagai Cermin Moral Manusia

    Guru Honorer

    Nasib Miris Guru Honorer: Ketika Negara Menuntut Dedikasi, Tapi Abai pada Keadilan

    Board of Peace

    Board of Peace dan Kegelisahan Warga Indonesia

    Kader Ulama Perempuan

    Penguatan Agensi Perempuan lewat Beasiswa LPDP Kader Ulama Perempuan

    Disabilitas dan Dunia Kerja

    Disabilitas dan Dunia Kerja: Antara Regulasi dan Realita

    Disabilitas Psikososial

    Disabilitas Psikososial: Mengenal Luka Tak Kasatmata dalam Perspektif Mubadalah

    Perempuan ke Masjid

    Akses Perempuan ke Masjid dan Tantangan Sosial Hari Ini

    Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

    Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati; Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental

    Golek Garwo

    Optimisme “Golek Garwo” dan Cherry-picking Kebahagiaan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Sujudnya Istri

    Membaca Hadits Sujudnya Istri kepada Suami dengan Perspektif Mubadalah

    Malam Nisfu Sya’ban

    Tradisi Malam Nisfu Sya’ban di Indonesia

    Malam Nisfu Sya’ban

    Ampunan Dosa di Malam Nisfu Sya’ban

    Nisfu Sya'ban

    Nisfu Sya’ban, Momentum Evaluasi dan Laporan Amal Umat Islam

    Amalan Nisfu Sya'ban

    Nisfu Sya’ban dan Ragam Amalan Utama Menjelang Ramadhan

    Perempuan Shalat Subuh

    Hadis Bukhari Catat Perempuan Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Nabi

    Perempuan ke Masjid

    Akses Perempuan ke Masjid dan Tantangan Sosial Hari Ini

    Melarang Perempuan

    Nabi Tidak Melarang Perempuan Shalat di Masjid

    Pernikahan sebagai

    Menempatkan Perceraian sebagai Jalan Akhir dalam Pernikahan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Featured

Difabel dan Kesehatan Mental

Aku percaya, setiap manusia ingin merasa berarti. Tugas kita bersama adalah memastikan bahwa tidak ada satu pun yang merasa hidupnya tidak layak dijalani.

arinarahmatika by arinarahmatika
8 Oktober 2025
in Featured, Personal
A A
0
Difabel dan Kesehatan Mental

Difabel dan Kesehatan Mental

39
SHARES
1.9k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Disclaimer: Tulisan ini mengandung pembahasan mengenai bunuh diri. Jika kamu sedang berada dalam kondisi tertekan atau memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup, segera cari pertolongan. Kamu tidak sendirian.

Mubadalah.id – Masih teringat jelas dalam ingatanku, ketika seorang teman difabel Netra, tiba-tiba mengirimkan pesan voicenote. Suaranya begitu getir, kalimat-kalimatnya penuh keputusasaan, bahkan ia ingin mengakhiri hidupnya. Sebuah ungkapan yang langsung membuatku terdiam. Ia bercerita bagaimana dia berulang kali tertolak saat melamar pekerjaan, bahkan di posisi yang sebenarnya mampu ia jalani.

Alih-alih diberi kesempatan, ia hanya berada di rumah. Dunia seolah menutup pintu rapat-rapat. “Aku tidak berguna lagi,” katanya lirih. Aku hanya bisa terdiam, menahan perasaan yang bercampur antara sedih, marah, dan bingung.

Bagaimana mungkin seseorang yang kukenal penuh semangat bisa merasa seputus-asa itu? Tapi justru di situlah aku sadar, ada luka terdalam seringkali tidak tampak. Bukan pada tubuh yang terlihat berbeda, melainkan pada batin yang terus-menerus tertolak dan terpinggirkan.

Luka yang Tak Terlihat

Cerita temanku hanyalah satu potongan kecil dari kenyataan yang jauh lebih besar. Banyak difabel yang mengalami tekanan serupa. Di balik senyum mereka, ada kemungkinan tumpukan rasa kecewa, marah, bahkan putus asa. Masalahnya, kesehatan mental difabel seringkali luput dari perhatian.

Fokus kita kerap terhenti pada aksesibilitas fisik seperti jalur kursi roda, lift di gedung publik, atau papan informasi braille. Semua itu penting, tentu saja. Tetapi jarang sekali kita menengok pada dimensi batin, bagaimana rasanya hidup dalam dunia yang hampir setiap hari berkata, “kamu tidak layak”?

Ketika berbicara tentang difabel, banyak orang masih terjebak dalam dua pandangan sempit. Pertama, melihat difabel sebagai “pahlawan” yang harus selalu kuat, tabah, dan menjadi inspirasi. Kedua, menempatkan mereka sebagai “beban” yang hanya pantas untuk kita kasihani. Dua-duanya sama-sama berbahaya, sebab sama-sama menghapus kemanusiaan mereka yang utuh.

Dari kacamata psikologis, beban difabel tidak hanya terletak pada keterbatasan fisik atau sensorik yang mereka miliki. Beban terbesar justru datang dari interaksi sosial, seperti tatapan iba, ucapan merendahkan, perlakuan diskriminatif, hingga sistem yang menutup kesempatan mereka.

Bayangkan, setiap kali melamar kerja, pintu tertutup hanya karena label “difabel.” Setiap kali keluar rumah, tubuh mereka kita pandang seolah-olah menjadi pusat rasa kasihan. Setiap kali ingin menyuarakan pendapat, suara mereka dianggap tidak penting.

Difabel dan Beban Psikologis

Akumulasi perlakuan semacam itu melahirkan luka batin yang sulit tersembuhkan. Rasa percaya diri terkikis, perasaan tidak berguna menguasai, hingga akhirnya muncul pikiran untuk menyerah. Dalam psikologi, kita mengenal istilah “learned helplessness” atau keadaan ketika seseorang merasa tak berdaya karena berulang kali mengalami kegagalan akibat faktor di luar kendalinya.

Pada difabel, kondisi ini bisa lebih cepat muncul karena dukungan sosial seringkali minim. Lebih buruk lagi, budaya kita masih tabu membicarakan isu kesehatan mental. Depresi seringkali disalahpahami sebagai “kurang iman.” Keinginan bunuh diri dianggap sekadar “lemah.”

Padahal, masalah ini nyata, sama seriusnya dengan penyakit fisik. Bagi difabel, stigma ganda pun muncul, mereka sudah mendapat stigma karena tubuhnya, ditambah lagi dianggap “tidak waras” ketika mengalami gangguan mental.

Apa yang temanku alami sebetulnya mungkin dialami juga oleh teman difabel lainnya. Banyak kisah serupa berserakan, meski jarang tersuarakan. Seorang penyandang disabilitas fisik pernah bercerita bahwa ia merasa seperti “beban keluarga.” Setiap kali ingin keluar rumah, ia harus meminta bantuan, dan itu membuatnya merasa bersalah.

Seorang difabel tuli mengatakan bahwa ia sering merasa tidak terdengar, bukan hanya karena keterbatasan komunikasi, melainkan karena orang-orang enggan bersabar untuk benar-benar memahami bahasanya.

Di satu sisi, cerita-cerita ini menunjukkan bahwa yang mereka butuhkan bukanlah sekadar fasilitas fisik, melainkan penerimaan sosial yang tulus. Di sisi lain, kisah ini juga menegaskan bahwa isu kesehatan mental difabel bukanlah persoalan individu belaka, melainkan persoalan kolektif.

Sistem yang Tidak Inklusif

Mengapa difabel begitu rentan terhadap masalah kesehatan mental? Jawabannya terletak pada sistem sosial yang tidak inklusif. Sejak dari pendidikan, mereka sudah menghadapi tantangan. Banyak difabel tidak bisa mengakses sekolah yang ramah karena fasilitas minim atau guru tidak terlatih untuk mengajar secara inklusif. Akibatnya, peluang untuk berkembang sejak dini sudah tertutup.

Ketika memasuki dunia kerja, hambatan semakin nyata. Data menunjukkan tingkat pengangguran difabel jauh lebih tinggi daripada non-difabel. Perusahaan sering menolak dengan alasan “tidak sesuai kebutuhan,” padahal kenyataannya mereka enggan beradaptasi. Lalu, dalam kehidupan sehari-hari, stigma sosial memperparah situasi.

Difabel sering direduksi menjadi “kasihan” atau “pahlawan,” padahal mereka butuh untuk kita perlakukan sebagai manusia biasa. Layanan kesehatan mental pun jarang ramah difabel. Banyak psikolog, psikiater, atau konselor belum memiliki pelatihan untuk mendampingi difabel, bahkan fasilitas konseling jarang yang aksesibel secara fisik maupun komunikatif.

Sistem yang eksklusif ini membuat difabel menghadapi hambatan ganda, baik fisik maupun mental. Pada akhirnya, muncul lingkaran setan. Keterbatasan akses memicu stres, stres memperburuk kondisi fisik, lalu berujung pada semakin sempitnya kesempatan. Di sinilah kita melihat betapa pentingnya hal kecil yang sering kita anggap remeh yaitu mendengarkan.

Ketika temanku mengungkapkan keinginan bunuh diri, aku tidak punya jawaban. Aku bukan psikolog, bukan pula ahli konseling. Yang bisa kulakukan hanyalah mendengarkan. Aku membiarkan ia bercerita panjang tanpa menyela, tanpa buru-buru menghakimi. Aku tahu, satu kata “jangan” pun bisa terdengar seolah-olah meremehkan penderitaannya. Maka aku hanya hadir, berusaha menunjukkan bahwa ada seseorang yang peduli.

Mendengarkan Sebagai Pertolongan Pertama

Kadang, mendengarkan memang menjadi pertolongan pertama paling sederhana namun paling ampuh. Banyak difabel terbiasa tertolak suaranya. Maka, ketika ada yang sungguh-sungguh mau mendengar, mereka merasa eksistensinya diakui. Itu bisa menjadi tali kecil yang menahan mereka dari jurang paling gelap.

Namun, tentu saja mendengarkan saja tidak cukup. Mereka butuh akses ke layanan profesional, komunitas suportif, serta dukungan nyata dari lingkungan sekitar. Tetapi setidaknya, mendengarkan bisa menjadi pintu awal untuk menyelamatkan nyawa.

Kesehatan mental difabel tidak bisa didekati hanya sebagai masalah pribadi. Ia harus dilihat sebagai isu struktural dan sosial. Perlu ada pendidikan publik tentang kesehatan mental yang membongkar stigma “kurang iman” atau “lemah” yang melekat pada orang dengan depresi. Edukasi ini penting agar difabel bisa mencari bantuan tanpa takut dihakimi.

Layanan kesehatan mental pun harus inklusif, dengan fasilitas yang aksesibel, tenaga profesional yang terlatih, dan pendekatan yang memahami konteks kehidupan difabel. Dunia kerja juga harus berubah, membuka pintu bagi difabel bukan hanya karena kewajiban hukum, melainkan karena pengakuan bahwa mereka mampu dan berhak. Kesempatan kerja bukan hanya soal penghasilan, melainkan juga soal harga diri dan kesehatan mental. Komunitas suportif juga memegang peran penting.

Banyak difabel menemukan kekuatan dalam komunitas yang saling memahami, berbagi pengalaman, dan saling menopang. Ruang-ruang ini perlu diperluas, didukung, dan difasilitasi agar menjadi tempat berbagi tanpa stigma. Dan di luar semua itu, setiap kita sebagai individu punya peran. Hal sederhana seperti menghargai, tidak meremehkan, dan tidak memperlakukan difabel dengan kasihan bisa memberi dampak besar. Dukungan sosial adalah penyangga utama kesehatan mental.

Merawat Kesehatan Mental Difabel

Tulisan ini lahir dari pertemuan dengan keputusasaan seorang teman difabel. Tetapi lebih dari itu, pertemuan itu menjadi refleksi bahwa isu difabel bukan hanya soal akses fisik, melainkan juga soal jiwa. Kita tidak bisa lagi menutup mata terhadap fakta bahwa banyak difabel bergulat dengan depresi, kecemasan, bahkan keinginan bunuh diri.

Sebagai masyarakat, kita punya pilihan, apakah terus membiarkan mereka merasa sendirian, atau mulai bergerak menciptakan ruang inklusif? Bagiku, jawabannya jelas. Kita perlu menjadikan kesehatan mental difabel sebagai bagian dari publik, kebijakan negara, dan juga perhatian pribadi.

Aku percaya, setiap manusia ingin merasa berarti. Dan tugas kita bersama adalah memastikan bahwa tidak ada satu pun yang merasa hidupnya tidak layak dijalani. Difabel bukan sekadar “inspirasional” atau “beban”, mereka adalah manusia penuh, yang berhak hidup dengan martabat, kesempatan, dan kesehatan mental yang terjaga.

Pengalaman itu menjadi pengingat abadi bagiku bahwa terkadang, hidup seseorang bisa diselamatkan hanya dengan keberanian untuk hadir. Tetapi di atas itu semua, kita membutuhkan perubahan besar agar difabel tidak lagi dibiarkan tenggelam dalam kesepian dan keputusasaan.

Mari kita mulai dari hal kecil, mendengar, memahami, menghargai. Dari sana, semoga lahir sistem yang lebih adil, lebih ramah, dan lebih manusiawi. Karena dunia yang sehat adalah dunia yang tidak meninggalkan siapa pun, termasuk mereka yang difabel. []

Tags: AksesibilitasDifabelInklusi SosialIsu DisabilitasKesehatan Mental
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
arinarahmatika

arinarahmatika

Related Posts

Disabilitas dan Dunia Kerja
Disabilitas

Disabilitas dan Dunia Kerja: Antara Regulasi dan Realita

3 Februari 2026
Disabilitas Psikososial
Disabilitas

Disabilitas Psikososial: Mengenal Luka Tak Kasatmata dalam Perspektif Mubadalah

2 Februari 2026
Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Buku

Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati; Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental

2 Februari 2026
MBG
Disabilitas

MBG bagi Difabel: Pentingkah?

2 Februari 2026
Kesehatan mental
Lingkungan

Bukan Salah Iblis, Kesehatan Mental itu Konstruksi Sosial

2 Februari 2026
Sejarah Disabilitas
Disabilitas

Sejarah Gerakan Disabilitas dan Kebijakannya

2 Februari 2026
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Disabilitas dan Dunia Kerja

    Disabilitas dan Dunia Kerja: Antara Regulasi dan Realita

    29 shares
    Share 12 Tweet 7
  • Nisfu Sya’ban dan Ragam Amalan Utama Menjelang Ramadhan

    29 shares
    Share 12 Tweet 7
  • Refleksi Buku Drama Rumah Tangga, Catatan Ringan Seorang Ibu

    26 shares
    Share 10 Tweet 7
  • Ampunan Dosa di Malam Nisfu Sya’ban

    26 shares
    Share 10 Tweet 7
  • Board of Peace dan Kegelisahan Warga Indonesia

    26 shares
    Share 10 Tweet 7

TERBARU

  • Dr. Fahruddin Faiz: Kerusakan Alam sebagai Cermin Moral Manusia
  • Membaca Hadits Sujudnya Istri kepada Suami dengan Perspektif Mubadalah
  • Nasib Miris Guru Honorer: Ketika Negara Menuntut Dedikasi, Tapi Abai pada Keadilan
  • Tradisi Malam Nisfu Sya’ban di Indonesia
  • Board of Peace dan Kegelisahan Warga Indonesia

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0