Rabu, 4 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Difabel dalam Sejarah Yunani

    Menilik Kuasa Normalisme Difabel dalam Sejarah Yunani

    Dr. Fahruddin Faiz

    Dr. Fahruddin Faiz: Kerusakan Alam sebagai Cermin Moral Manusia

    Guru Honorer

    Nasib Miris Guru Honorer: Ketika Negara Menuntut Dedikasi, Tapi Abai pada Keadilan

    Board of Peace

    Board of Peace dan Kegelisahan Warga Indonesia

    Kader Ulama Perempuan

    Penguatan Agensi Perempuan lewat Beasiswa LPDP Kader Ulama Perempuan

    Disabilitas dan Dunia Kerja

    Disabilitas dan Dunia Kerja: Antara Regulasi dan Realita

    Disabilitas Psikososial

    Disabilitas Psikososial: Mengenal Luka Tak Kasatmata dalam Perspektif Mubadalah

    Perempuan ke Masjid

    Akses Perempuan ke Masjid dan Tantangan Sosial Hari Ini

    Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

    Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati; Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Membela Perempuan

    Islam Membela Perempuan

    Haji Wada'

    Posisi Perempuan dalam Wasiat Nabi di Haji Wada’

    Sujud

    Hadits Sujud sebagai Bahasa Penghormatan dalam Relasi Suami-Istri

    Sujudnya Istri

    Membaca Hadits Sujudnya Istri kepada Suami dengan Perspektif Mubadalah

    Malam Nisfu Sya’ban

    Tradisi Malam Nisfu Sya’ban di Indonesia

    Malam Nisfu Sya’ban

    Ampunan Dosa di Malam Nisfu Sya’ban

    Nisfu Sya'ban

    Nisfu Sya’ban, Momentum Evaluasi dan Laporan Amal Umat Islam

    Amalan Nisfu Sya'ban

    Nisfu Sya’ban dan Ragam Amalan Utama Menjelang Ramadhan

    Perempuan Shalat Subuh

    Hadis Bukhari Catat Perempuan Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Nabi

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Difabel dalam Sejarah Yunani

    Menilik Kuasa Normalisme Difabel dalam Sejarah Yunani

    Dr. Fahruddin Faiz

    Dr. Fahruddin Faiz: Kerusakan Alam sebagai Cermin Moral Manusia

    Guru Honorer

    Nasib Miris Guru Honorer: Ketika Negara Menuntut Dedikasi, Tapi Abai pada Keadilan

    Board of Peace

    Board of Peace dan Kegelisahan Warga Indonesia

    Kader Ulama Perempuan

    Penguatan Agensi Perempuan lewat Beasiswa LPDP Kader Ulama Perempuan

    Disabilitas dan Dunia Kerja

    Disabilitas dan Dunia Kerja: Antara Regulasi dan Realita

    Disabilitas Psikososial

    Disabilitas Psikososial: Mengenal Luka Tak Kasatmata dalam Perspektif Mubadalah

    Perempuan ke Masjid

    Akses Perempuan ke Masjid dan Tantangan Sosial Hari Ini

    Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

    Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati; Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Membela Perempuan

    Islam Membela Perempuan

    Haji Wada'

    Posisi Perempuan dalam Wasiat Nabi di Haji Wada’

    Sujud

    Hadits Sujud sebagai Bahasa Penghormatan dalam Relasi Suami-Istri

    Sujudnya Istri

    Membaca Hadits Sujudnya Istri kepada Suami dengan Perspektif Mubadalah

    Malam Nisfu Sya’ban

    Tradisi Malam Nisfu Sya’ban di Indonesia

    Malam Nisfu Sya’ban

    Ampunan Dosa di Malam Nisfu Sya’ban

    Nisfu Sya'ban

    Nisfu Sya’ban, Momentum Evaluasi dan Laporan Amal Umat Islam

    Amalan Nisfu Sya'ban

    Nisfu Sya’ban dan Ragam Amalan Utama Menjelang Ramadhan

    Perempuan Shalat Subuh

    Hadis Bukhari Catat Perempuan Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Nabi

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Hi Kids: Pesan dari Ibumu Tentang Negeri Semangka

And, This is your Mom Kids. Seorang perempuan biasa , yang setiap hari hanya menonton pembantaian itu dari balik layar kaca

Kholifah Rahmawati by Kholifah Rahmawati
8 Januari 2024
in Personal
A A
0
Negeri Semangka

Negeri Semangka

56
SHARES
2.8k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Hi Kids, This is Your Mom…

Ibu akan bercerita kepadamu tentang kisah Negeri semangka. Ini bukan kisah dongeng penghantar tidur, yang sering Ibu bacakan. Ini kisah tentang sejarah kelam umat manusia, dan Ibu juga menjadi bagian di dalamnya. Semoga tulisan ini menjadi jejak digital yang kelak bisa kamu baca.

Negeri Semangka

Negeri Semangka, begitulah sebagian orang menyebutnya. Ya, semangka memang sangat cocok untuk mewakili negeri itu. Selain karena buahnya banyak tumbuh di sana, warna semangka juga sama persis dengan benderanya. Saat ini Negeri Semangka telah merdeka. Banyak orang berkunjung ke sana, terutama untuk dapat salat di masjidnya.

Negeri itu memang cukup jauh, namun kapan-kapan kamu bisa berkunjung ke sana. Ibu yakin saat kau ke sana kau tidak akan merasa seperti orang asing. Karena negeri kita dan negeri semangka telah menjalin persaudaraan cukup lama.

Keadaan di sana  juga tak jauh beda dari kampung halaman kita. Kau bisa melihat pantainya yang luas, rumah-rumah susun, pasar yang ramai, serta banyak anak-anak yang bermain dengan bebas. Kau juga akan mendapati masyarakatnya sangat ramah. Mereka adalah orang-orang yang sangat religius namun mampu berdampingan dengan berbagai agama.

Negeri itu kini telah menjadi negeri yang indah dan damai. Tak ada lagi tembok besar yang mengelilingi kota, yang ada hanya pohon-pohon zaitun yang tumbuh subur di kebunnya. Tak ada lagi suara bom yang memekakkan telinga, yang ada hanya suara canda anak-anak yang bermain bersama. Juga tak dan lagi bangunan-bangunan hancur, yang ada hanya gedung dan perumahan yang bersusun-susun.

Namun taukah kamu nak, negeri itu dulu pernah manjadi tempat paling mengerikan bagi siapapun yang melihatnya. Ibumu melihat dengan jelas, meski hanya melalui layar kaca. Sebenarnya ibu tak ingin merusak bayangan indah mu tentang negeri semangka. Namun kamu perlu tahu tentang sejarah kelam yang pernah terjadi di sana. Semoga dengan begitu, dunia yang naif ini tidak akan lagi bisa menipu generasi setelahnya.

Sejarah Kelam Kemanusiaan

Negeri semangka yang indah itu dulu pernah menjadi tempat pembantaian lebih dari 20.000 nyawa manusia. Lebih mengerikan lagi karena hal itu terjadi kurang dari waktu tiga bulan saja. Setiap hari puluhan bom dijatuhkan dan menghancurkan kota, serta membunuh orang-orang tak berdosa. Dulu ibu melihat betapa banyak anak-anak seusiamu telah kehilangan orang tua, keluarga, bahkan anggota tubuh mereka. Sementara orang-orang yang masih hidup harus kehilangan rumah dan tinggal di pengungsian.

Setiap hari ibu menyaksikan kegilaan para penjajah yang terus membombardir kota. Mereka tak pandang bulu dan menghancurkan apapun yang ada di sana, bahkan kamp pengungsian, dan rumah sakit sebagai satu-satunya harapan juga tak luput dari serangan.

Tentara penjajah bahkan tidak segan untuk menyerang relawan, tenaga medis dan para jurnalis yang sedang bertugas.  Mereka membunuh  warga sipil secara langsung dengan tembakan dan serangan udara.  Lalu, secara tidak langsung mereka juga berusaha memusnahkan seluruh penduduknya dengan menghambat bantuan kemanusiaan, memutus aliran listrik, internet serta air bersih.

Setiap hari ibu disuguhi dengan kisah-kisah pilu para penduduknya. Tentang seorang anak yang kehilangan seluruh anggota keluarganya sepulang dari pasar, tentang seorang ayah yang membawa jasad putranya dalam tas, atau tentang seorang ibu yang harus menjalani operasi cesar tanpa anastesi. Dan masih banyak lagi kisah-kisah pilu yang mungkin hanya akan terjadi di sana.

Ibu juga menyaksikan banyak kejadian mengerikan seperti saat rumah sakit berubah menjadi pemakaman masal, pasien yang terkapar di lantai atau tubuh anak-anak yang terbengkalai di bawah reruntuhan. Semua hal itu telah menjadikan negeri semangka menjadi tempat paling mengerikan untuk sebuah kehidupan. Dan yang lebih ironi adalah semua itu terjadi di zaman yang katanya sangat menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.

Saat Dunia Membuka Mata

Semua adegan mengerikan itu merupakan buntut panjang dari perlawanan kelompok militan bertopeng pada 7 Oktober 2023. Kau tahu nak, pada awalnya semua orang menyalahkan mereka dan menyebutnya sebagai teroris. Namun sebenarnya dunia telah melupakan fakta bahwa negeri Semangka sedang dijajah. Para penjajah mendirikan tembok raksasa untuk menutup akses, melakukan kekerasan serta merebut pemukiman penduduk selama lebih dari 70 tahun.

Namun saat para penduduk negeri semangka melawan dan membentuk kekuatan militer, mereka menyebutnya sebagai kelompok teroris. Mereka dengan liciknya menyembunyikan banyak fakta, membuat propaganda dan menyetir narasi media. Hingga pada akhirnya dunia membuka mata setelah 7 Oktober. Namun sayangnya sejak saat itu pula, Negeri Semangka harus membayar mahal dengan 20.000 jiwa penduduknya.

Setelah hari itu, arus balik pun dimulai. Seluruh dunia dengan lantang menyatakan kecaman dan perlawanan terhadap tindakan keji para penjajah. Sementara kelompok militan yang dulu disebut teroris justru menjadi idola di mana-mana. Saat itu buah semangka menjadi simbol perlawanan penjajah sekaligus dukungan untuk negeri semangka.

Sayangnya kekuatan dunia saat itu masih di pegang sekutu penjajah yang membuat mereka sulit dihentikan. Bahkan forum persatuan dunia tidak dapat berbuat banyak. Akhirnya perlawanan muncul dengan berbagai cara. Aksi demo  terjadi di seluruh dunia. Boikot produk penjajah terjadi secara luas.

Sementara itu, perang narasi dan psikologi juga tak dapat dihindarkan dari dunia maya. Saat itu  semangka menjadi icon yang sangat familiar dan muncul di mana-mana

Hi Kids: This is Your Mom

And, This is your Mom Kids. Seorang perempuan biasa , yang setiap hari hanya menonton pembantaian itu dari balik layar kaca. Setiap ibu membuka ponsel untuk sekedar bersantai setelah rentetan pekerjaan, ibu selalu disuguhkan dengan pemandangan mengerikan.

Setiap saat beranda sosial media ibu penuh dengan darah dan adegan-adegan mengerikan. Layaknya menonton sebuah film thriller yang mencekam, namun semua itu adalah kenyataan. Adegan itu benar-benar terjadi, negeri semangka benar-benar dibantai. But, This is your Mom Kids. Ibu bukan superhero yang bisa langsung turun tangan saat melihat kejahatan. Setiap hari ibu hanya bisa menontonnya sambil menangis, marah dan menyesal karena tak bisa berbuat banyak.

Bisa kau bayangkan bagaimana perasaan ibu sebagai seorang perempuan, melihat anak-anak kecil terluka, terkubur reruntuhan dan menjadi martir? Menyaksikan mereka kehilangan rumah dari kasur ibu yang nyaman. Atau adegan anak-anak  berebut semangkuk nasi dengan perut ibu yang kenyang.

Sayangnya ibu hanya bisa terus menontonnya tanpa kuasa berbuat apa-apa. Dan hal itu sudah berlangsung selama tiga bulan, tanpa ada yang bisa menghentikan kegilaan para penjajah.

Hingga di satu titik ibu merasa harus membayar mahal keamanan dan kenyamanan yang ibu miliki. Ibu tak bisa lagi hanya diam. Ibu melakukan apapun yang dapat ibu lakukan, meski hal itu tak akan berarti banyak.  Sejak saat itu, Ibu mulai membuat tulisan, menyebarkan postingan, menghentikan pembelian produk pro penjajah dan banyak bercerita tentang negeri semangka.

Sesekali ibu juga meramaikan perang di sosial media. Sebagai seorang muslimah, ibu juga tak melupakan mereka dalam sujud dan do’a.

Ibu tahu apa yang ibu lakukan tidak akan membawa dampak yang berarti bagi negeri semangka, namun kabar baiknya ternyata ibu tidak sendirian. Banyak orang juga melakukan hal serupa. Hingga akhirnya terjadi perlawanan masif dari seluruh dunia. Dan ibu menjadi salah satu bagian kecil dari mereka.

Sebuah Pesan

Sampai tulisan ini dibuat, negeri semangka masih saja dibantai. Namun saat kamu membacanya, ibu yakin negeri itu telah merdeka dan menjadi negeri yang aman nan damai. Sesekali sempatkanlah ke sana. Dan sampaikanlah salam dari ibumu ini untuk mereka. Katakan pada mereka, bahwa ibu dan orang-orang di negeri ini sangat mencintai mereka dan berharap masa depan yang lebih baik untuk mereka.

Jadilah anak yang cerdas, kuat dan berdaya. Kau bisa baca lebih banyak kisah tentang negeri semangka. Ambilah pelajaran dan inspirasi dari mereka.  Kau bisa baca kisah tentang anak-anaknya yang cerdas dan santun, tentang para perempuannya yang tangguh dan berbudi luhur. Atau kisah para pejuangnya yang pemberani dan tak takut mati. []

Tags: Gazakemanusiaanmedia sosialNegeri SemangkaPalestinaTren Hi Kids
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Kholifah Rahmawati

Kholifah Rahmawati

Alumni UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan dan Mahasiswa di UIN Sunan Kalijga Yogyakarta. Peserta Akademi Mubadalah Muda 2023. Bisa disapa melalui instagram @kholifahrahma3

Related Posts

Board of Peace
Publik

Board of Peace dan Kegelisahan Warga Indonesia

3 Februari 2026
Teologi Tubuh Disabilitas
Rekomendasi

Tuhan Tidak Sedang Bereksperimen: Estetika Keilahian dalam Teologi Tubuh Disabilitas

2 Februari 2026
Korban Kekerasan Seksual
Publik

Menggugat Argumen Victim Blaming terhadap Korban Kekerasan Seksual

20 Januari 2026
Kerusakan Alam
Lingkungan

Kerusakan Alam adalah Masalah Kemanusiaan

2 Februari 2026
Feminine Energy
Personal

Standarisasi Perempuan melalui Narasi Feminine Energy di Media Sosial

19 Januari 2026
Edukasi Pubertas
Publik

Guru Laki-laki, Edukasi Pubertas, dan Trauma Sosial

17 Januari 2026
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Disabilitas dan Dunia Kerja

    Disabilitas dan Dunia Kerja: Antara Regulasi dan Realita

    29 shares
    Share 12 Tweet 7
  • Nisfu Sya’ban dan Ragam Amalan Utama Menjelang Ramadhan

    29 shares
    Share 12 Tweet 7
  • Refleksi Buku Drama Rumah Tangga, Catatan Ringan Seorang Ibu

    26 shares
    Share 10 Tweet 7
  • Ampunan Dosa di Malam Nisfu Sya’ban

    26 shares
    Share 10 Tweet 7
  • Board of Peace dan Kegelisahan Warga Indonesia

    26 shares
    Share 10 Tweet 7

TERBARU

  • Islam Membela Perempuan
  • Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali
  • Posisi Perempuan dalam Wasiat Nabi di Haji Wada’
  • Menilik Kuasa Normalisme Difabel dalam Sejarah Yunani
  • Hadits Sujud sebagai Bahasa Penghormatan dalam Relasi Suami-Istri

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0