Sabtu, 14 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    Menjadi Dewasa

    Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

    Solidaritas

    Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

    Feminist Political Ecology

    Feminist Political Ecology: Strategi Melawan Eksploitasi Lingkungan yang Merugikan Perempuan

    Pembangunan

    Pembangunan, Dialog, dan Masa Depan Papua

    Perkawinan

    Marketing Kemenag dan Mutu sebuah Perkawinan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    Sakinah Mawaddah

    Konsep Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

    Doa Keluarga

    Makna Doa Keluarga dalam QS. Al-Furqan Ayat 74

    Konsep Ta'aruf

    Konsep Ta’aruf Menurut Al-Qur’an

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    Menjadi Dewasa

    Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

    Solidaritas

    Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

    Feminist Political Ecology

    Feminist Political Ecology: Strategi Melawan Eksploitasi Lingkungan yang Merugikan Perempuan

    Pembangunan

    Pembangunan, Dialog, dan Masa Depan Papua

    Perkawinan

    Marketing Kemenag dan Mutu sebuah Perkawinan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    Sakinah Mawaddah

    Konsep Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

    Doa Keluarga

    Makna Doa Keluarga dalam QS. Al-Furqan Ayat 74

    Konsep Ta'aruf

    Konsep Ta’aruf Menurut Al-Qur’an

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Hi Kids: Pesan dari Ibumu Tentang Negeri Semangka

And, This is your Mom Kids. Seorang perempuan biasa , yang setiap hari hanya menonton pembantaian itu dari balik layar kaca

Kholifah Rahmawati by Kholifah Rahmawati
8 Januari 2024
in Personal
A A
0
Negeri Semangka

Negeri Semangka

56
SHARES
2.8k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Hi Kids, This is Your Mom…

Ibu akan bercerita kepadamu tentang kisah Negeri semangka. Ini bukan kisah dongeng penghantar tidur, yang sering Ibu bacakan. Ini kisah tentang sejarah kelam umat manusia, dan Ibu juga menjadi bagian di dalamnya. Semoga tulisan ini menjadi jejak digital yang kelak bisa kamu baca.

Negeri Semangka

Negeri Semangka, begitulah sebagian orang menyebutnya. Ya, semangka memang sangat cocok untuk mewakili negeri itu. Selain karena buahnya banyak tumbuh di sana, warna semangka juga sama persis dengan benderanya. Saat ini Negeri Semangka telah merdeka. Banyak orang berkunjung ke sana, terutama untuk dapat salat di masjidnya.

Negeri itu memang cukup jauh, namun kapan-kapan kamu bisa berkunjung ke sana. Ibu yakin saat kau ke sana kau tidak akan merasa seperti orang asing. Karena negeri kita dan negeri semangka telah menjalin persaudaraan cukup lama.

Keadaan di sana  juga tak jauh beda dari kampung halaman kita. Kau bisa melihat pantainya yang luas, rumah-rumah susun, pasar yang ramai, serta banyak anak-anak yang bermain dengan bebas. Kau juga akan mendapati masyarakatnya sangat ramah. Mereka adalah orang-orang yang sangat religius namun mampu berdampingan dengan berbagai agama.

Negeri itu kini telah menjadi negeri yang indah dan damai. Tak ada lagi tembok besar yang mengelilingi kota, yang ada hanya pohon-pohon zaitun yang tumbuh subur di kebunnya. Tak ada lagi suara bom yang memekakkan telinga, yang ada hanya suara canda anak-anak yang bermain bersama. Juga tak dan lagi bangunan-bangunan hancur, yang ada hanya gedung dan perumahan yang bersusun-susun.

Namun taukah kamu nak, negeri itu dulu pernah manjadi tempat paling mengerikan bagi siapapun yang melihatnya. Ibumu melihat dengan jelas, meski hanya melalui layar kaca. Sebenarnya ibu tak ingin merusak bayangan indah mu tentang negeri semangka. Namun kamu perlu tahu tentang sejarah kelam yang pernah terjadi di sana. Semoga dengan begitu, dunia yang naif ini tidak akan lagi bisa menipu generasi setelahnya.

Sejarah Kelam Kemanusiaan

Negeri semangka yang indah itu dulu pernah menjadi tempat pembantaian lebih dari 20.000 nyawa manusia. Lebih mengerikan lagi karena hal itu terjadi kurang dari waktu tiga bulan saja. Setiap hari puluhan bom dijatuhkan dan menghancurkan kota, serta membunuh orang-orang tak berdosa. Dulu ibu melihat betapa banyak anak-anak seusiamu telah kehilangan orang tua, keluarga, bahkan anggota tubuh mereka. Sementara orang-orang yang masih hidup harus kehilangan rumah dan tinggal di pengungsian.

Setiap hari ibu menyaksikan kegilaan para penjajah yang terus membombardir kota. Mereka tak pandang bulu dan menghancurkan apapun yang ada di sana, bahkan kamp pengungsian, dan rumah sakit sebagai satu-satunya harapan juga tak luput dari serangan.

Tentara penjajah bahkan tidak segan untuk menyerang relawan, tenaga medis dan para jurnalis yang sedang bertugas.  Mereka membunuh  warga sipil secara langsung dengan tembakan dan serangan udara.  Lalu, secara tidak langsung mereka juga berusaha memusnahkan seluruh penduduknya dengan menghambat bantuan kemanusiaan, memutus aliran listrik, internet serta air bersih.

Setiap hari ibu disuguhi dengan kisah-kisah pilu para penduduknya. Tentang seorang anak yang kehilangan seluruh anggota keluarganya sepulang dari pasar, tentang seorang ayah yang membawa jasad putranya dalam tas, atau tentang seorang ibu yang harus menjalani operasi cesar tanpa anastesi. Dan masih banyak lagi kisah-kisah pilu yang mungkin hanya akan terjadi di sana.

Ibu juga menyaksikan banyak kejadian mengerikan seperti saat rumah sakit berubah menjadi pemakaman masal, pasien yang terkapar di lantai atau tubuh anak-anak yang terbengkalai di bawah reruntuhan. Semua hal itu telah menjadikan negeri semangka menjadi tempat paling mengerikan untuk sebuah kehidupan. Dan yang lebih ironi adalah semua itu terjadi di zaman yang katanya sangat menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.

Saat Dunia Membuka Mata

Semua adegan mengerikan itu merupakan buntut panjang dari perlawanan kelompok militan bertopeng pada 7 Oktober 2023. Kau tahu nak, pada awalnya semua orang menyalahkan mereka dan menyebutnya sebagai teroris. Namun sebenarnya dunia telah melupakan fakta bahwa negeri Semangka sedang dijajah. Para penjajah mendirikan tembok raksasa untuk menutup akses, melakukan kekerasan serta merebut pemukiman penduduk selama lebih dari 70 tahun.

Namun saat para penduduk negeri semangka melawan dan membentuk kekuatan militer, mereka menyebutnya sebagai kelompok teroris. Mereka dengan liciknya menyembunyikan banyak fakta, membuat propaganda dan menyetir narasi media. Hingga pada akhirnya dunia membuka mata setelah 7 Oktober. Namun sayangnya sejak saat itu pula, Negeri Semangka harus membayar mahal dengan 20.000 jiwa penduduknya.

Setelah hari itu, arus balik pun dimulai. Seluruh dunia dengan lantang menyatakan kecaman dan perlawanan terhadap tindakan keji para penjajah. Sementara kelompok militan yang dulu disebut teroris justru menjadi idola di mana-mana. Saat itu buah semangka menjadi simbol perlawanan penjajah sekaligus dukungan untuk negeri semangka.

Sayangnya kekuatan dunia saat itu masih di pegang sekutu penjajah yang membuat mereka sulit dihentikan. Bahkan forum persatuan dunia tidak dapat berbuat banyak. Akhirnya perlawanan muncul dengan berbagai cara. Aksi demo  terjadi di seluruh dunia. Boikot produk penjajah terjadi secara luas.

Sementara itu, perang narasi dan psikologi juga tak dapat dihindarkan dari dunia maya. Saat itu  semangka menjadi icon yang sangat familiar dan muncul di mana-mana

Hi Kids: This is Your Mom

And, This is your Mom Kids. Seorang perempuan biasa , yang setiap hari hanya menonton pembantaian itu dari balik layar kaca. Setiap ibu membuka ponsel untuk sekedar bersantai setelah rentetan pekerjaan, ibu selalu disuguhkan dengan pemandangan mengerikan.

Setiap saat beranda sosial media ibu penuh dengan darah dan adegan-adegan mengerikan. Layaknya menonton sebuah film thriller yang mencekam, namun semua itu adalah kenyataan. Adegan itu benar-benar terjadi, negeri semangka benar-benar dibantai. But, This is your Mom Kids. Ibu bukan superhero yang bisa langsung turun tangan saat melihat kejahatan. Setiap hari ibu hanya bisa menontonnya sambil menangis, marah dan menyesal karena tak bisa berbuat banyak.

Bisa kau bayangkan bagaimana perasaan ibu sebagai seorang perempuan, melihat anak-anak kecil terluka, terkubur reruntuhan dan menjadi martir? Menyaksikan mereka kehilangan rumah dari kasur ibu yang nyaman. Atau adegan anak-anak  berebut semangkuk nasi dengan perut ibu yang kenyang.

Sayangnya ibu hanya bisa terus menontonnya tanpa kuasa berbuat apa-apa. Dan hal itu sudah berlangsung selama tiga bulan, tanpa ada yang bisa menghentikan kegilaan para penjajah.

Hingga di satu titik ibu merasa harus membayar mahal keamanan dan kenyamanan yang ibu miliki. Ibu tak bisa lagi hanya diam. Ibu melakukan apapun yang dapat ibu lakukan, meski hal itu tak akan berarti banyak.  Sejak saat itu, Ibu mulai membuat tulisan, menyebarkan postingan, menghentikan pembelian produk pro penjajah dan banyak bercerita tentang negeri semangka.

Sesekali ibu juga meramaikan perang di sosial media. Sebagai seorang muslimah, ibu juga tak melupakan mereka dalam sujud dan do’a.

Ibu tahu apa yang ibu lakukan tidak akan membawa dampak yang berarti bagi negeri semangka, namun kabar baiknya ternyata ibu tidak sendirian. Banyak orang juga melakukan hal serupa. Hingga akhirnya terjadi perlawanan masif dari seluruh dunia. Dan ibu menjadi salah satu bagian kecil dari mereka.

Sebuah Pesan

Sampai tulisan ini dibuat, negeri semangka masih saja dibantai. Namun saat kamu membacanya, ibu yakin negeri itu telah merdeka dan menjadi negeri yang aman nan damai. Sesekali sempatkanlah ke sana. Dan sampaikanlah salam dari ibumu ini untuk mereka. Katakan pada mereka, bahwa ibu dan orang-orang di negeri ini sangat mencintai mereka dan berharap masa depan yang lebih baik untuk mereka.

Jadilah anak yang cerdas, kuat dan berdaya. Kau bisa baca lebih banyak kisah tentang negeri semangka. Ambilah pelajaran dan inspirasi dari mereka.  Kau bisa baca kisah tentang anak-anaknya yang cerdas dan santun, tentang para perempuannya yang tangguh dan berbudi luhur. Atau kisah para pejuangnya yang pemberani dan tak takut mati. []

Tags: Gazakemanusiaanmedia sosialNegeri SemangkaPalestinaTren Hi Kids
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Al-Qur’an dan Hadis Menjadi Sumber untuk Jawab Semua Masalah Kehidupan Manusia

Next Post

Belajar dari Bilal Ra: Membebaskan Manusia dari Semua Penindasan dan Diskriminasi

Kholifah Rahmawati

Kholifah Rahmawati

Alumni UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan dan Mahasiswa di UIN Sunan Kalijga Yogyakarta. Peserta Akademi Mubadalah Muda 2023. Bisa disapa melalui instagram @kholifahrahma3

Related Posts

Solidaritas
Publik

Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

13 Februari 2026
Board Of Peace
Aktual

Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

12 Februari 2026
Sejarah Difabel
Disabilitas

Sejarah Kepedihan Difabel dari Masa ke Masa

13 Februari 2026
Bertetangga
Publik

Di Era Digital, Apakah Bertetangga Masih Perlu Etika?

10 Februari 2026
Soekarno dan Palestina
Aktual

Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

9 Februari 2026
Pelecehan Seksual
Personal

Pelecehan Seksual yang Dinormalisasi dalam Konten POV

6 Februari 2026
Next Post
Bilal Ra

Belajar dari Bilal Ra: Membebaskan Manusia dari Semua Penindasan dan Diskriminasi

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak
  • Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal
  • Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja
  • Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah
  • Metode Tafsir Mubadalah

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0