Senin, 26 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    ASEAN Para Games

    Disabilitas, ASEAN Para Games, dan Hak Sepanjang Hidup

    Bencana Alam

    Bencana Alam atau Murka Ekologis? Membaca Pesan Tuhan melalui Ayat Kauniyah

    Musik untuk Semua

    Musik untuk Semua: Belajar Inklusivitas dari Ruang Konser

    Ocan

    Itu Namanya Apa, Ocan? Berbagi Peran!

    Relasi tidak Sehat

    Memutus Rantai Relasi Tidak Sehat Keluarga

    Pendidikan Perempuan Disabilitas

    Membincang Hak Pendidikan Perempuan Disabilitas yang Terabaikan

    Pejabat Beristri Banyak

    Menyoal Pejabat Beristri Banyak

    Dialog Lintas Iman

    Dialog Lintas Iman dan Spiritualitas Kepemimpinan Katolik (Part 2)

    Literacy for Peace

    Literacy for Peace: Suara Perempuan untuk Keadilan, HAM, dan Perdamaian

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pengetahuan Kesehatan Reproduksi

    Minimnya Pengetahuan Membuat Remaja Rentan Salah Paham soal Kesehatan Reproduksi

    Kesehatan masih tabu

    Kesehatan Reproduksi Masih Dianggap Tabu

    Kesehatan Reproduksi diabaikan

    Ketika Kesehatan Reproduksi Masih Banyak Diabaikan

    reproduksi Manusia

    Kesehatan Reproduksi dalam Siklus Kehidupan Manusia

    Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Perempuan

    Minimnya Pengetahuan Membuat Perempuan Rentan dalam Kesehatan Reproduksi

    Kesehatan

    Kesehatan Reproduksi Perempuan Masih Menghadapi Berbagai Persoalan

    Seks

    Seks dan Seksualitas sebagai Bagian dari Kehidupan Manusia

    Seksualitas dalam Islam

    Seksualitas dalam Islam: Dari Fikih hingga Tasawuf

    Seksualitas sebagai

    Seksualitas sebagai Konstruksi Sosial dan Budaya

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    ASEAN Para Games

    Disabilitas, ASEAN Para Games, dan Hak Sepanjang Hidup

    Bencana Alam

    Bencana Alam atau Murka Ekologis? Membaca Pesan Tuhan melalui Ayat Kauniyah

    Musik untuk Semua

    Musik untuk Semua: Belajar Inklusivitas dari Ruang Konser

    Ocan

    Itu Namanya Apa, Ocan? Berbagi Peran!

    Relasi tidak Sehat

    Memutus Rantai Relasi Tidak Sehat Keluarga

    Pendidikan Perempuan Disabilitas

    Membincang Hak Pendidikan Perempuan Disabilitas yang Terabaikan

    Pejabat Beristri Banyak

    Menyoal Pejabat Beristri Banyak

    Dialog Lintas Iman

    Dialog Lintas Iman dan Spiritualitas Kepemimpinan Katolik (Part 2)

    Literacy for Peace

    Literacy for Peace: Suara Perempuan untuk Keadilan, HAM, dan Perdamaian

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pengetahuan Kesehatan Reproduksi

    Minimnya Pengetahuan Membuat Remaja Rentan Salah Paham soal Kesehatan Reproduksi

    Kesehatan masih tabu

    Kesehatan Reproduksi Masih Dianggap Tabu

    Kesehatan Reproduksi diabaikan

    Ketika Kesehatan Reproduksi Masih Banyak Diabaikan

    reproduksi Manusia

    Kesehatan Reproduksi dalam Siklus Kehidupan Manusia

    Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Perempuan

    Minimnya Pengetahuan Membuat Perempuan Rentan dalam Kesehatan Reproduksi

    Kesehatan

    Kesehatan Reproduksi Perempuan Masih Menghadapi Berbagai Persoalan

    Seks

    Seks dan Seksualitas sebagai Bagian dari Kehidupan Manusia

    Seksualitas dalam Islam

    Seksualitas dalam Islam: Dari Fikih hingga Tasawuf

    Seksualitas sebagai

    Seksualitas sebagai Konstruksi Sosial dan Budaya

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Jalan Menuju Pulih, Proses Berdamai dengan Gangguan Mental

Pemulihan mungkin tidak mudah, tapi setiap langkah sekecil apa pun adalah kemenangan.

Anita Maria Supriyanti by Anita Maria Supriyanti
6 April 2025
in Personal
0
Gangguan Mental

Gangguan Mental

1.1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Kesehatan mental selain karena pengaruh genetik juga dipengaruhi oleh gaya hidup dan pola asuh atau parenting. Sebagai penyintas gangguan mental dan kebanyakan penyintas lainnya pasti memiliki kekhawatiran yang sama. “apa aku dapat pulih? Apa aku akan ketergantungan obat selamanya?”

Pertanyaan yang hanya dapat dijawab dengan pengalaman berproses penyintas yang sudah melalui fase benar-benar stabil setelah mengikuti anjuran profesional. Bahkan ucapan profesional seperti psikiater pun akan terasa seperti omong kosong bagi pengindap gangguan mental yang masih berada pada kondisi down atau tidak stabil.

Tantangan dalam Pemulihan Gangguan Mental

Proses paling sulit dalam pemulihan penyintas gangguan mental dalam kondisi tidak stabil adalah meyakinkan penyintas bahwa obat adalah bagian terpenting dalam proses mempercepat pemulihan. Belum lagi cara pandang kebanyakan masyarakat yang memiliki pola pikir bahwa obat dapat membuat ketergantungan.

Ketergantungan obat menjadi mitos yang sering menghantui penyintas gangguan mental. Banyak orang mengira bahwa mengonsumsi obat psikiatri akan membuat mereka ketergantungan terhadap obat tersebut.

Padahal, obat-obatan psikiatri dirancang untuk membantu menyeimbangkan kimia otak. Menurut American Psychiatric Association (APA), obat-obatan seperti antidepresan atau antiansietas bekerja dengan cara memulihkan fungsi otak yang terganggu, sehingga penyintas bisa lebih mudah menjalani terapi dan aktivitas sehari-hari.

Tentu, penggunaan obat harus di bawah pengawasan psikiater. Penting untuk diingat bahwa obat adalah bagian dari pendekatan holistik yang mencakup terapi, dukungan sosial, dan perawatan diri. Dengan pemahaman yang tepat, obat bisa menjadi alat yang membantu penyintas untuk segera pulih.

Selain itu yang menjadi tantangan dalam penanganan gangguan mental adalah stigma terhadap gangguan mental. Masih banyak masyarakat menganggap gangguan mental bukan penyakit medis yang memerlukan penanganan profesional. Akibatnya kebanyakan orang enggan mencari bantuan profesional karena khawatir akan mengalami pengucilan.

Stigma ini tidak hanya merugikan penyintas, tapi juga menghambat upaya pencegahan dan edukasi. Padahal, gangguan mental dapat menimpa siapa saja, tanpa memandang usia, gender, atau status sosial. Remaja dan dewasa muda adalah kelompok yang rentan mengalami gangguan mental.

Data UNICEF (2021) menyebutkan bahwa 1 dari 7 remaja usia 10-19 tahun hidup dengan gangguan mental, dengan depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku sebagai kondisi yang paling umum.

Gangguan Mental: Bukan Sekadar “Sedih” atau “Stres”

Menurut data WHO (2023), 1 dari 8 orang di dunia hidup dengan gangguan mental dan angka ini terus meningkat pascapandemi COVID-19. Di Indonesia, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa prevalensi gangguan mental emosional seperti depresi dan kecemasan mencapai 9,8% dari total populasi. Artinya, jutaan orang di sekitar kita mungkin sedang berjuang dalam diam.

Gangguan mental khususnya depresi sering disalahpahami sebagai perasaan sedih atau stres biasa. Padahal, kondisi ini jauh lebih kompleks. Fase ini tidak hanya ditandai dengan kesedihan, tapi juga kehilangan minat, energi, dan kemampuan untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

Data WHO menyebutkan bahwa depresi adalah penyebab utama disabilitas di dunia, dan lebih dari 700.000 orang meninggal akibat bunuh diri setiap tahunnya, sebagian besar terpicu oleh gangguan mental yang tidak tertangani.

Fase depresi menjadi fase paling berat bagi siapapun yang mengalaminya. Hidup terasa benar benar hampa dan menakutkan, takut menantap satu detik yang akan datang. Bahkan tidak memiliki energi untuk bangkit dari tempat tidur. Entah mengapa semuanya terasa gelap, rasanya tidak ada solusi dari setiap permasalahan hidup. Walau masalahnya sangat sepele. Semuanya terasa berat untuk tetap melanjutkan hidup.

Selain depresi, gangguan kecemasan (anxiety disorder) juga menjadi masalah serius. Di Amerika Serikat, 19,1% populasi dewasa mengalami gangguan kecemasan setiap tahun (ADAA, 2023). Sementara di Indonesia, stigma dan kurangnya akses layanan kesehatan mental membuat banyak kasus tidak terdiagnosis. Padahal, gangguan mental yang tidak tertangani dapat berdampak pada penurunan produktivitas, masalah hubungan sosial, bahkan risiko bunuh diri.

Pengalaman Menjadi Penyintas

pernah suatu ketika aku baru-baru mengkonsumsi obat dari psikiater, aku sempat berpikir “kalau terus-terusan minum obat pastinya akan ketergantungan.” Cara pandang ini juga mendapat validasi dari keluarga dan kenalan. Mereka memberi pendapat serupa dan membuatku semakin yakin akan ketergantungan obat-obatan.

Hal ini membuatku sering putus nyambung obat. Sehingga obat tidak berpengaruh dalam proses pemulihan dan kondisi semakin memburuk. Akibatnya sulit mencari obat yang sesuai karena obat belum beradaptasi dengan kondisi tubuh tapi sudah ganti.

Dua tahun lamanya mengkonsumsi obat dengan keadaan putus nyambung putus akhirnya menyebabkan kondisi psikologisku memburuk. Pada akhirnya berujung  percobaan-percobaan ingin mengakhiri hidup. Putus nyambung obat juga bukan tanpa alasan. Selain karena masih berkeyakinan obat dapat membuat ketergantungan. Alasan lainnya saat itu belum menggunakan BPJS dan harga obatnya juga sangat mahal.

Obat Membantu Pulih Lebih Cepat

Setelah insiden percobaan mengakhiri hidup itu gagal, aku kembali menemui psikiater tentunya dengan memanfaatkan BPJS. Saat itulah aku mendapat banyak insight mengenai cara kerja obat sehingga aku mulai memahami dan percaya pada dokter jiwa. Untuk pertama kalinya. aku mulai menjalani pengobatan yang teratur. Benar saja setelah mengikuti arahan profesional, mengkonsumsi obat yang teratur kondisiku benar-benar stabil dan normal.

Kondisi ini adalah kondisi di mana tidak pernah terbayangkan akan sampai pada titik di mana aku mampu melewati berbagai hal yang aku rasa tidak akan pernah beranjak. Dengan pencapaian terbaik mampu melewati fase depresi. hingga sedikit demi sedikit bisa kembali menata arah yang sebelumnya tak pernah aku tahu akan kemana. Aku mampu kembali menata tujuan dan harapan.

Setidaknya itulah gambaran perasaan yang aku rasa setelah mengkonsumsi obat dengan teratur. fase ini menjadi masa terbaik yang pernahku alami pasca mengalami depresi. merasa terlahir kembali dan dapat hidup dengan ketenangan jiwa yang belum pernah aku rasa sebelumnya.

Proses pemulihan dari gangguan mental bukanlah perjalanan yang mudah. Ada hari-hari di mana kita merasa kuat, tapi ada juga saat-saat di mana kita terjatuh kembali. Namun, penting untuk diingat bahwa kemunduran bukanlah kegagalan.

Menurut National Institute of Mental Health (NIMH), 50-70% orang dengan gangguan mental bisa mencapai pemulihan signifikan dengan kombinasi terapi, dukungan sosial, dan pengobatan yang tepat. Artinya akses ke layanan kesehatan mental menjadi kunci dalam proses pemulihan.

Sayangnya, di Indonesia, rasio tenaga kesehatan mental masih sangat rendah. Data Kemenkes (2022) menunjukkan bahwa hanya ada 0,29 psikolog dan 0,04 psikiater per 100.000 penduduk. Artinya, masih banyak orang yang kesulitan mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan.

Mengenal Diri: Langkah Awal Pemulihan

Selain penanganan medis, salah satu upaya penting dalam pemulihan adalah mengenal diri sendiri lebih dalam. Gangguan mental seringkali membuat kita kehilangan koneksi dengan diri sendiri. Apa yang kita rasakan, apa yang kita butuhkan, dan apa yang membuat kita bahagia. Proses mengenal diri ini bisa dimulai dengan mengidentifikasi pemicu stres, mengenali pola pikir negatif, dan mempelajari cara mengelola emosi.

Teknik seperti mindfulness dan journaling bisa menjadi alat yang efektif untuk memahami kondisi psikologis diri sendiri. Misalnya, dengan menulis jurnal, kita bisa melacak perubahan mood, mengenali situasi yang memicu kecemasan, dan merencanakan strategi untuk menghadapinya. Menurut penelitian yang terbit dalam Journal of Clinical Psychology (2020), praktik mindfulness terbukti mengurangi gejala depresi dan kecemasan pada 60% partisipan.

Berdamai dengan gangguan mental bukan berarti melupakannya atau menghilangkan sepenuhnya. Ini adalah proses belajar hidup berdampingan dengan kondisi tersebut, sambil terus merawat diri dan mencari makna dalam hidup. Seperti kata psikolog Carl Jung, “I am not what happened to me, I am what I choose to become.” Pemulihan adalah tentang memilih untuk terus berjalan, meski langkahnya berat.

Pemulihan mungkin tidak mudah, tapi setiap langkah sekecil apa pun adalah kemenangan. Seperti pelangi setelah hujan, pulih adalah tentang menemukan cahaya di balik awan gelap. Mari bersama-sama menciptakan dunia yang lebih ramah bagi kesehatan mental, mulai dari diri kita sendiri. []

Tags: Gangguan MentaljiwaKesehatan MentalmanusiaMindfulnessPsikiaterPsikososial

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
Anita Maria Supriyanti

Anita Maria Supriyanti

Seorang penulis pemula, mula-mula nulis akhirnya cuma draft aja

Related Posts

reproduksi Manusia
Pernak-pernik

Kesehatan Reproduksi dalam Siklus Kehidupan Manusia

25 Januari 2026
Seks
Pernak-pernik

Seks dan Seksualitas sebagai Bagian dari Kehidupan Manusia

25 Januari 2026
Menjaga Alam
Pernak-pernik

Manusia sebagai Khalifah Wajib Menjaga Alam

25 Januari 2026
Manusia dan Alam
Publik

Membangun Relasi Adil antara Manusia dan Alam

19 Januari 2026
Ekosentrisme
Buku

Visi Ekosentrisme Al-Qur’an

13 Januari 2026
Berdamai Dengan Kefanaan: Dari Masa Lalu, Hari Ini, Dan Masa Depan
Buku

Berdamai Dengan Kefanaan: Dari Masa Lalu, Hari Ini, Dan Masa Depan

8 Januari 2026
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Pengetahuan Kesehatan Reproduksi

    Minimnya Pengetahuan Membuat Remaja Rentan Salah Paham soal Kesehatan Reproduksi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kesehatan Reproduksi Masih Dianggap Tabu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Disabilitas, ASEAN Para Games, dan Hak Sepanjang Hidup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bencana Alam atau Murka Ekologis? Membaca Pesan Tuhan melalui Ayat Kauniyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Membaca Child Grooming dalam Broken Strings

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Minimnya Pengetahuan Membuat Remaja Rentan Salah Paham soal Kesehatan Reproduksi
  • Kesehatan Reproduksi Masih Dianggap Tabu
  • Disabilitas, ASEAN Para Games, dan Hak Sepanjang Hidup
  • Bencana Alam atau Murka Ekologis? Membaca Pesan Tuhan melalui Ayat Kauniyah
  • Ketika Kesehatan Reproduksi Masih Banyak Diabaikan

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Home
  • Indeks Artikel
  • Indeks Artikel
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Search
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID