Rabu, 24 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Popok Bayi

    Popok Bayi, Sampah, dan Beban Ibu

    Fikih Disabilitas

    Buku Fikih Disabilitas Resmi Diluncurkan di Munas Konbes NU 2026

    Pesantren

    Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Ikhtiar Membangun Ruang Aman di Pesantren

    Hukum

    Eksploitasi Ekonomi, Kesalingan Hukum, dan Ilusi Norma Kewajiban Suami

    Korban Kekerasan di Bandung

    Korban Kekerasan di Bandung; Islam Menolak Relasi yang Menindas

    Belajar Mubadalah

    Ayah Saya Tak Belajar Mubadalah, Tapi Ia Seorang Qawwam Sejati

    Melihat Sakit

    Melihat Sakit sebagai Bentuk Kasih Sayang Allah

    Disabilitas Netra

    Di Balik Kesempatan Kerja bagi Disabilitas Netra

    Li Shixing

    Ketika Li Shixing Datang Belajar tentang Pesantren, Tubuh, dan Ruang Aman

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    KB ALami

    Mengenal Metode KB Alami: Cara Memahami Masa Subur untuk Mencegah Kehamilan

    Menyusui

    Menyusui sebagai Metode Pencegahan Kehamilan

    KB Spiral

    Cara Menggunakan KB Spiral

    KB Spiral

    KB Spiral Progestin: Manfaat, Efek Samping, dan Kondisi yang Perlu Diwaspadai

    KB

    Mengenal KB Spiral (IUD), Alat Kontrasepsi yang Bisa Mencegah Kehamilan hingga 10 Tahun

    Suntik KB

    Mengenal Suntik KB Kombinasi, Kontrasepsi Hormonal yang Membantu Menjaga Siklus Haid Tetap Teratur

    Suntikan KB

    Suntik KB sebagai Pilihan Kontrasepsi, Apa Saja Kelebihan dan Risikonya?

    Menggunakan Susuk KB

    Susuk KB: Siapa yang Boleh Menggunakannya dan Apa Efek Sampingnya?

    Memilih Susuk KB

    Sebelum Memilih Susuk KB, Kenali Manfaat dan Risikonya Terlebih Dahulu

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Popok Bayi

    Popok Bayi, Sampah, dan Beban Ibu

    Fikih Disabilitas

    Buku Fikih Disabilitas Resmi Diluncurkan di Munas Konbes NU 2026

    Pesantren

    Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Ikhtiar Membangun Ruang Aman di Pesantren

    Hukum

    Eksploitasi Ekonomi, Kesalingan Hukum, dan Ilusi Norma Kewajiban Suami

    Korban Kekerasan di Bandung

    Korban Kekerasan di Bandung; Islam Menolak Relasi yang Menindas

    Belajar Mubadalah

    Ayah Saya Tak Belajar Mubadalah, Tapi Ia Seorang Qawwam Sejati

    Melihat Sakit

    Melihat Sakit sebagai Bentuk Kasih Sayang Allah

    Disabilitas Netra

    Di Balik Kesempatan Kerja bagi Disabilitas Netra

    Li Shixing

    Ketika Li Shixing Datang Belajar tentang Pesantren, Tubuh, dan Ruang Aman

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    KB ALami

    Mengenal Metode KB Alami: Cara Memahami Masa Subur untuk Mencegah Kehamilan

    Menyusui

    Menyusui sebagai Metode Pencegahan Kehamilan

    KB Spiral

    Cara Menggunakan KB Spiral

    KB Spiral

    KB Spiral Progestin: Manfaat, Efek Samping, dan Kondisi yang Perlu Diwaspadai

    KB

    Mengenal KB Spiral (IUD), Alat Kontrasepsi yang Bisa Mencegah Kehamilan hingga 10 Tahun

    Suntik KB

    Mengenal Suntik KB Kombinasi, Kontrasepsi Hormonal yang Membantu Menjaga Siklus Haid Tetap Teratur

    Suntikan KB

    Suntik KB sebagai Pilihan Kontrasepsi, Apa Saja Kelebihan dan Risikonya?

    Menggunakan Susuk KB

    Susuk KB: Siapa yang Boleh Menggunakannya dan Apa Efek Sampingnya?

    Memilih Susuk KB

    Sebelum Memilih Susuk KB, Kenali Manfaat dan Risikonya Terlebih Dahulu

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Keluarga

Kisah Istri Taat Suami tidak Kunjungi Ayah yang Sakit sampai Wafat

Jadi, kisah di atas karena lemah, seharusnya gugur dan tidak boleh dijadikan dasar narasi atau ajaran Islam yang mewajibkan seorang perempuan mentaati suami tinggal di dalam kamarnya dan meninggalkan kewajibannya berbakti pada orang tua.

Faqih Abdul Kodir by Faqih Abdul Kodir
15 Desember 2020
in Keluarga, Rekomendasi
A A
0
istri taat suami tidak kunjungi ayah yang sakit

istri taat suami tidak kunjungi ayah yang sakit

355
SHARES
17.7k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Tulisan ini mengisahkan sebuah cerita istri taat suami tidak kunjungi ayah yang sakit. Alkisah ada seorang laki-laki yang hendak bepergian jauh. Ia meminta istrinya untuk tidak turun dari lantai atas rumahnya ke lantai bawah. Ayah sang istri berada di lantai bawah. Tiba-tiba, sang Ayah jatuh sakit. Kemudian putrinya yang di lantai atas, karena suaminya memintanya untuk tidak turun ke bawah, mengutus seseorang pergi ke Rasulullah Saw, menanyakan: bolehkah ia turun ke bawah membesuk dan merawat ayahnya.

Katanya, dalam kisah tersebut: sang Rasul Saw menjawab: “Taati suamimu”. Selang beberapa hari, lalu sang ayah wafat. Iapun kembali mengutus dan bertanya kepada Rasulullah Saw. Jawaban yang sama terucap: “Taati suamimu”. Ketika jenazah sang ayah dikebumikan, ada utusan Rasulullah Saw yang datang kepada perempuan tersebut, dan menyampaikan bahwa dosa-dosa ayahnya dimaafkan karena ketaatannya pada suaminya.

Kisah Istri Taat Suami Tak Kunjungi Ayah Tak Ada di Kitab Hadis Induk

Kisah istri taat suami tidak kunjungi ayah yang sakit ini, bagi beberapa kalangan awam, menjadi dasar narasi dan ajaran bahwa suami adalah paling penting bagi seorang perempuan. Bahkan bila berbanding dengan ayahnya sendiri yang sakit keras di ujung kematian. Di atas suami, hanyalah Allah Swt. Bahkan dalam beberapa kasus, perintah Allah Swt bisa tertangguhkan demi kepentingan perintah suami. Hampir-hampir, perempuan seperti bukan lagi hamba Allah Swt, melainkan hamba suaminya. Pernikahanpun bukan lagi sebagai akad untuk memadu kasih sayang, melainkan penghambaan seorang perempuan bagi seorang laki-laki. Di sinilah persoalan besarnya.

Kisah ini, karena bercerita tentang dan mengandung pernyataan Nabi Saw, masuk sebagai kategori hadits. Hanya saja, dalam kajian takhrij (analisis rantai periwayat), tidak ada satu kitab haditspun yang kredibel yang meriwayatkan hadits ini. Tidak Sahih Bukhari (w. 256 H/880 M), Sahih Muslim (w. 261 H/875 M), Sunan Turmudzi (w. 279 H/892 M), Sunan Abu Dawud (w. 275 H/889 M), Sunan Ibn Majah (w. 273 H/887 M), ataupun Sunan an-Nasai (w. 303 H/915 M).

Kitab-kitab ini yang biasa kita kenal dengan Kutub as-Sittah, atau Enam Kitab Hadits Utama tidak meriwayatkan kisah di atas. Hal yang sama juga Kitab Muwatta’ Imam Malik (w. 179 H/ 792 M) dan Musnad Imam Ahmad (w. 241 H/855 M. Kisah tersebut tidak ada di semua kitab hadits ini. Kisah ini juga tidak terdapat dalam kitab-kitab sejarah biografi (Sirah) Nabi Muhammad Saw, seperti Sirah Ibn Ishaq (w. 151 H/768 M) dan Sirah Ibn Hisyam (w. 218 H/834 M). Tidak juga di dalam kitab-kitab Tafsir awal seperti Tafsir ath-Thabari (w. 310 H/923 M).

Dari Mana Kisah Istri Taat Suami Tak Kunjungi Ayah yang Sakit?

Lalu darimana kisah istri taat suami tidak kunjungi ayah yang sakit ini begitu populer bagi beberapa kalangan masyarakat Muslim di Indonesia dan dunia?

Kami menduga, yang membuat kisah ini populer karena yang menyampaikannya adalah ulama kharismatik dan proliferik, Imam al-Ghazali (w. 505 H/1111 M) dalam magnum opusnya Kitab Ihya ‘Ulumuddin. Di jilid kedua, mengenai hal-hal terkait adat kebiasaan selain ibadah (al-‘adat), pasal kedua mengenai adab pernikahan, ada bab terkait hak-hak suami atas istri. Di dalam bab inilah Imam al-Ghazali menyampaikan kisah perempuan tersebut.

Kisah ini, dikutip Imam al-Ghazali tanpa menyebut rantai sanad yang mempertanggung-jawabkan kisah atau hadits tersebut. Juga tanpa menyebut perawi ulama hadits yang mencatat dan menyimpannya dalam suatu kitab tertentu. Ulama hadits yang otoritatif, Imam al-Hafiz Zayn ad-Din al-‘Iraqi (w. 806 H/1403 M) melakukan penelusuran (takhrij) terhadap sanad dan perawi seluruh hadits-hadits Kitab Ihya’ Ulumuddin.

Penelusuran ini dibukukan dalam kitabnya: “al-Mughni ‘an al-Asfar fi al-Isfar fi Takhrij ma fi al-Ihya min al-Akhbar”. Di dalam kitab ini, al-Hafizh al-‘Iraqi menyatakan bahwa kisah ketaatan perempuan, yang tersebut dalam Kitab Ihya al-Ghazali, diriwayatkan Imam ath-Thabrani (w. 360 H/913 M) dalam al-Mu’jam al-Awsath dengan sanad yang lemah (dha’if).

Dalam standar ilmu Musthalah al-Hadits dan Ushul Fiqh, hadits dengan sanad lemah tidak bisa menjadi sandaran hukum, untuk mewajibkan sesuatu, atau mengharamkan sesuatu (Lihat: Subhi Shalih, ‘Ulum al-Hadits wa Musthalahuhu, Beirut: Dar al-Ilm lil-Malayin, hal. 210-214). Jadi, kisah di atas karena lemah, seharusnya gugur dan tidak boleh dijadikan dasar narasi atau ajaran Islam yang mewajibkan seorang perempuan mentaati suami tinggal di dalam kamarnya dan meninggalkan kewajibannya berbakti pada orang tua.

Beberapa ulama, memang, ada yang membolehkan menggunakan hadits lemah untuk meningkatkan amal kebaikan. Misalnya meningkatkan ibadah, shalat, puasa, bersedekah, menolong, dan berbuat baik kepada sesama. Tetapi bukan untuk mewajibkan sesuatu, atau menggugurkan suatu kewajiban. Kisah tersebut nyata-nyata menggugurkan kewajiban seorang perempuan untuk membesuk ayahnya yang sakit, merawatnya, dan melayatnya ketika wafat. Padahal perempuan dan ayahnya dalam satu rumah, hanya beda lantai saja.

Berbuat Baik kepada Orang Tua

Berbuat baik kepada orang tua sangat nyata dalam Islam adalah wajib bagi anak, laki-laki maupun perempuan (QS. An-Nisa, 4: 36; al-An’am, 6: 151; al-Isra’, 17: 23; dan al-Ahqaf, 46: 15). Selain al-Qur’an, banyak sekali teks-teks hadits yang mewajibkan seorang anak untuk berbuat baik kepada orang tua, melayani, dan merawat mereka ketika sakit. Apalagi kepada orang tua yang serumah. Bahkan sesama muslim saja, kewajiban menjenguk ketika sakit dan melayat ketika wafat adalah kewajiban yang nyata dan terang benderang.

عن أبي هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ رَدُّ السَّلاَمِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ (صحيح البخاري، رقم الحديث: 1251).

Dari Abu Hurairah ra berkata: Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Kewajiban seorang Muslim kepada Muslim yang lain ada lima; menjawab salamnya, menjenguknya ketika sakit, mengantar jenazahnya (ketika wafat), memenuhi undanganya, dan mendoakanya ketika bersin. (Sahih Bukhari, no. hadits: 1251).

Dalam kajian internal teks (matan), kisah istri taat suami tidak kunjungi ayah yang sakit di atas juga banyak sekali kejanggalan. Salah satunya, bagaimana seseorang yang tinggal di lantai atas memenuhi kebutuhannya tanpa turun ke lantai bawah. Pada masa Nabi Saw, rumah-rumah terbuat dari tanah liat. Kebanyakan dari masyarakat, bahkan keluarga Nabi Saw sendiri, buang hajat ke tanah lapang di luar rumah pada malam hari.

Bagaimana seseorang, diminta suaminya tinggal di lantai atas, bisa memenuhi kebutuhanya makan, minum, masak, dan buang hajat, tanpa ke lantai bawah terlebih dahulu? Apakah dia turun ke bawah tetapi tidak menemui ayahnya, tidak menjenguk, dan tidak melayat? Atau dia berpuasa penuh, demi perintah suami, sehingga tidak perlu buang hajat? Bagaimana juga ia menyuruh seseorang bertemu Nabi Saw, berkali-kali, tanpa turun ke lantai bawah mencari orang yang bisa ia mintai tolong?

Dengan kejanggalan-kejanggalan ini, ditambah dengan pertentangannya dengan norma-norma dasar yang ditegaskan al-Qur’an maupun hadits, kisah istri taat suami tidak kunjungi ayah yang sakit tersebut di atas harusnya gugur sebagai dasar rumusan ajaran Islam mengenai relasi suami istri. Apalagi secara sanad ia juga lemah.

Ketaatan Harus Berkaitan dengan Kebaikan Rumah Tangga

Kisah istri taat suami tidak kunjungi ayah yang sakit sampai wafat adalah cerita tentang ketaatan seorang perempuan kepada suaminya. Ketaatan ini bisa diterima hanya jika terkait kebaikan-kebaikan rumah tangga, yang memperkuat hubungan mereka berdua. Ketaatan ini juga harus bersifat resiprokal dengan merujuk pada pilar-pilar berumah tangga yang lima; menjaga pernikahan sebagai ikatan kokoh (mitsaqan ghalizan), berperilaku sebagai mitra satu sama lain (zawaj), saling berbuat baik satu sama lain (mu’asyarah bil ma’ruf), saling bermusyawarah (tasyawurin), dan saling ridho (taradhin). Artinya, seorang perempuan perlu mentaati suaminya sebagaimana seorang laki-laki juga perlu mentaat istirnya.

Tentu saja, ketaatan itu baik dan perlu ketika berkaitan dengan kebaikan rumah tangga dan dapat mengokohkan hubungan di antara mereka berdua. Jika sebaliknya, misalnya justru berakibat buruk, ketaatan istri maupun suami justru menjadi gugur dan bisa dibicarakan ulang oleh keduanya untuk kepentingan bersama mereka berdua. Karena yang paling penting dari ketaatan adalah menjaga relasi atau hubungan antara mereka berdua, agar keduanya bisa sakinah, mawaddah, dan rahmah. Wallahu a’lam. []

Tags: Hadits NabiperempuanperkawinanQira'ah MubadalahRelasi Suami dan Istritafsir mubadalah
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Apakah Tujuan Pernikahan Hanya Menghindari Zina?

Next Post

Tunas Gusdurian Gelar Forum Diskusi Hukum dan HAM

Faqih Abdul Kodir

Faqih Abdul Kodir

Founder Mubadalah.id dan Ketua LP2M UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Related Posts

Parfum Perempuan
Personal

Benarkah Islam Melarang Perempuan Memakai Parfum?

20 Juni 2026
Sebelum Harimu Bersamanya
Buku

Buku “Sebelum Harimu Bersamanya”: Sebuah Panduan Sebelum Menikah

17 Juni 2026
Perempuan Bekerja
Keluarga

Bolehkah Perempuan Bekerja di Ruang Publik?

15 Juni 2026
Mengenal Kondom
Pernak-pernik

Mengenal Kondom Perempuan

15 Juni 2026
KB
Pernak-pernik

Hak Perempuan Memilih KB: Kenali 5 Metode dan 9 Pertimbangannya

14 Juni 2026
KB
Pernak-pernik

Keluarga Berencana (KB) dan Hak Perempuan atas Tubuh

13 Juni 2026
Next Post
Kisah Korban Pelanggaran HAM Berat Tahun 1965

Tunas Gusdurian Gelar Forum Diskusi Hukum dan HAM

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Mengenal Metode KB Alami: Cara Memahami Masa Subur untuk Mencegah Kehamilan
  • Popok Bayi, Sampah, dan Beban Ibu
  • Menyusui sebagai Metode Pencegahan Kehamilan
  • Buku Fikih Disabilitas Resmi Diluncurkan di Munas Konbes NU 2026
  • Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Ikhtiar Membangun Ruang Aman di Pesantren

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0