Mubadalah.id – Masyarakat Arab jahiliyah, tempat Nabi Muhammad SAW diutus, sejatinya tidak mengingkari keberadaan Allah. Mereka meyakini bahwa Allah adalah pencipta, pengatur, pemelihara, sekaligus penguasa alam semesta.
Al-Qur’an bahkan mencatat pengakuan tersebut secara eksplisit dalam Surah al-Mu’minun ayat 84–89. Ini menunjukkan bahwa problem utama masyarakat jahiliyah bukanlah ateisme. Melainkan kegagalan menerjemahkan keimanan ke dalam praksis kehidupan sosial.
Ketika ditanya siapa pemilik bumi dan segala isinya, siapa penguasa langit dan ‘Arsy yang agung, serta siapa yang menggenggam kekuasaan atas seluruh makhluk, mereka menjawab dengan yakin Allah Swt.
Namun, pengakuan tersebut tidak melahirkan ketakwaan, apalagi keadilan dalam relasi sosial. Mereka tetap melakukan penindasan, perbudakan, kekerasan, dan ketimpangan, terutama terhadap kelompok rentan.
Di sinilah letak kritik al-Qur’an terhadap mereka. Sebab, keimanan yang tidak membuahkan ketakwaan sosial sesungguhnya hanyalah bentuk penipuan diri.
Bahkan, tauhid yang berhenti pada pengakuan teologis tidak cukup untuk membangun peradaban yang berkeadilan dan beradab. Terlebih, jika tidak ada perubahan sikap dan perilaku, maka pengakuan iman kehilangan makna transformasionalnya.
Oleh karena itu, Islam hadir untuk mentransformasi cara manusia memperlakukan sesamanya. Sehingga, dari sinilah tauhid menuntut keberanian kita untuk menghancurkan kesewenang-wenangan, menghapus diskriminasi, dan membangun relasi sosial yang setara dan bermartabat. Sebab, keimanan harus berpihak pada keadilan, bukan pada status quo yang menindas.
Dengan begitu, ketika tauhid kita pisahkan dari kemanusiaan, ia mudah berubah menjadi legitimasi kekuasaan dan alat pembenaran ketidakadilan.
Sebaliknya, tauhid yang hidup adalah tauhid yang memanusiakan manusia, sebagaimana misi Islam sejak awal yaitu membebaskan, menegakkan keadilan, dan menjaga martabat seluruh umat manusia. []




















































