Mubadalah.id – Manusia sering berujar kami bukan binatang yang artinya manusia bisa mengendalikan dorongan seks secara beradab. Memang manusia berbeda dari binatang karena manusia tak hanya punya seks tetapi punya seksualitas.
Seksualitas adalah produk pemikiran manusia tentang seks. Keaban itu yang mengelola dorongan seks agar sesuai dengan nilai-nilai yang dianggap cocok dengan manusia yang berakal budi. Jadi seksualitas adalah konstruksi pemikiran manusia atas seks yang biologis tadi.
Karenanya sekualitas merupakan sebuah konsep yang lebih abstrak, tidak tunggal, mencakup aspek yang sangat luas terkait dengan pandangan tentang keberadaan manusia baik fisik, seksual, emosional, politik, agama, nilai-nilai, ideologi maupun kebiasaan-kebiasaan lainnya di seputar seks.
Seksualitas dikonstruksikan secara sosial yang di dalamnya ada pengakuan dan penyangkalan atas perasaan, hasrat, hawa nafsu yang ada di dalam tubuh manusia.
Karenanya seksualitas selalu menyangkut hal yang positif dan negatif menurut cara pandang manusia, mengakar pada konsteks sosial, politik, agama dan ekonomi.
Lalu kenapa isu seks menjadi sulit kita bahas padahal terkait dengan eksistensi manusia? Kesulitan itu tentu tak datang secara alamiah atau karena watak dari seks itu sendiri. Sebab sebagai organ yang ada pada manusia organ reproduksi adalah netral sebagaimana organ yang lain.
Organ-organ itu tak ada yang lebih suci atau lebih utama. Semuanya adalah penting agar metabolisme dalam tubuh manusia berfungsi.
Nilai-nilai manusialah yang menganggap nilai sosial ogran tubuh berbeda beda, dan alat kelamin sebagai organ yang sangat penting. Bahkan dalam bahasa sehari-hari penghalusan terhadap kelamin menggunakan kata “alat vital” yang berarti alat penting/utama. []
Sumber tulisan: Buku Kisah Perempuan: Pengalaman Siklus Kehidupan Reproduksi Perempuan.




















































