Selasa, 17 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Guru Era Digital

    Guru Era Digital: Antara Viral dan Teladan Moral

    Ramadan yang Inklusif

    Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan

    Tradisi Rowahan

    Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang

    Jalan Raya

    Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?

    Mitos Sisyphus Disabilitas

    Mitos Sisyphus Disabilitas; Sebuah Refleksi

    Anas Fauzie

    Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Konsep Fitnah

    Konsep Fitnah Bersifat Timbal Balik

    Perempuan Sumber Fitnah

    Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Strategi Dakwah Mubadalah

    Strategi Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Guru Era Digital

    Guru Era Digital: Antara Viral dan Teladan Moral

    Ramadan yang Inklusif

    Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan

    Tradisi Rowahan

    Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang

    Jalan Raya

    Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?

    Mitos Sisyphus Disabilitas

    Mitos Sisyphus Disabilitas; Sebuah Refleksi

    Anas Fauzie

    Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Konsep Fitnah

    Konsep Fitnah Bersifat Timbal Balik

    Perempuan Sumber Fitnah

    Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Strategi Dakwah Mubadalah

    Strategi Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Menilik Makna Relasi Antar Umat, Makhluk, Alam, dan Keluarga dalam Nyadran Perdamaian 2026

Di balik dapur nyadran, perempuan juga berperan sebagai penjaga tradisi dan transmisi nilai multi generasi.

Vevi Alfi Maghfiroh by Vevi Alfi Maghfiroh
2 Februari 2026
in Publik
A A
0
Nyadran Perdamaian 2026

Nyadran Perdamaian 2026

25
SHARES
1.2k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Tepat hampir seminggu berlalu kegiatan ‘Nyadran Perdamaian 2026’ berlangsung di Dusun Krecek dan Gletuk, Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung Jawa Tengah. Perjumpaan telah berakhir, namun pesan kesan tentang relasi antar umat beragama dan hidup selaras dengan alam terpatri dalam ingatan.

Datang dan tinggal empat hari di dusun, bukan hanya untuk memanjakan mata dengan pemandangan hijau dan gunung yang menjulang gagah. Tetapi juga melihat bagaimana masyarakatnya menjalani kehidupan. Khususnya saat mempersiapkan ritual nyadran makam. Tempat ini menjadi titik temu masyarakat dari dua dusun penganut agama yang beragam (Islam, Budha, dan Kristen).

Sebuah momentum berharga untuk melihat secara langsung laboratorium kehidupan antar umat beragama. Bukan dari buku dan teori, tetapi dari laku kehidupan sehari-hari yang mengakar sejak zaman leluhur. Itu lah mengapa masyarakat di sana menghormati dan berkirim do’a kepada para sesepuhnya melalui nyadran makam. Hingga kemudian termaknai lebih dalam dengan pemberian istilah ‘Nyadran Perdamaian’ di Dusun Krecek dan Gletuk.

Merasakan ‘Damai’ Relasi Antar Umat Beragama

Di balik meriahnya Nyadran Perdamaian 2026 yang terlaksana setiap tahunnya, saya bertanya pada induk semang alias tuan rumah tempat para peserta menetap selama kegiatan. “Apa yang membuat masyarakat secara sukarela untuk menyambut para tamu dan dengan suka cita mempersiapkan ritual nyadran dengan baik?” tanya saya.

Lalu ia menjawab,  “Karena ini adalah tradisi yang sudah ada dan kami lestarikan sejak dulu, mbak. Dan kami senang menyambut tamu untuk menambah persaudaraan.’”Jawabnya dalam bahasa Jawa Krama Inggil. Induk semang yang saya tempati adalah keluarga yang menganut agama Budha di Dusun Gletuk.

Umat Buddha atau Buddhists di sana meyakini bahwa ‘surga’ adalah imanen (kini). Letaknya tidak jauh di akhirat. Tetapi hadir dalam keseharian lewat kebaikan dan keseimbangan hidup. Gagasan reinkarnasi yang mereka anut juga menegaskan pentingnya memperlakukan sesama makhluk dengan hormat, karena semua memiliki siklus kehidupan dan karma.

Pun juga dengan umat Muslim di sana. Mereka meyakini bahwa kebaikan sosial adalah kunci untuk bisa membawa kebahagiaan pasca kematian. Lalu terimbangi dengan kebaikan ritual dan spiritual, sebagaimana yang telah para leluhur ajarkan.

Nilai-nilai sosial-spiritual ini ternyata yang menyelaraskan kehidupan antar umat beragama di sana, untuk saling menjaga keamanan holistik, menciptakan kedamaian, dengan tanpa meninggalkan tradisi menghormati leluhur.

Tak heran mengapa di satu keluarga, anggotanya menganut keyakinan dan agama yang berbeda-beda, tetapi mereka hidup damai, serta tetap guyub dalam melestarikan budaya dan tradisi yang ada.

Menilik Nilai ‘Eco-Spiritualitas’ Relasi Makhluk dan Alam

Suatu hari saya bertanya pada induk semang, “Apakah di sini pernah banjir atau longsor, Pak?” Jawab beliau, “Hampir tidak pernah, Mbak.” Hal ini terafirmasi dengan rimbunnya pepohonan di dusun ini, dan jarang terlihat ada aktivitas penebangan. Diperkuat juga dengan pernyataan menantu induk semang di rumah yang saya tempati, ‘… di sini kalau ada orang yang mau membangun wisata, kafe, dan lain-lain kadang masyarakat tolak Mbak. Belum ada sih investor yang datang.”

Saya tidak banyak mengkonfirmasi tentang ini, tetapi saya menangkap pesan bahwa masyarakat masih mempertahankan kelestarian lingkungan sekitarnya. Selain itu, mereka juga masih meyakini bahwa setiap sumber-sumber kehidupan, seperti pepohonan, sumber mata air, dan lainnya itu terdapat sosok Danyang. Leluhur penjaga spiritual yang menjaganya.

Sosok Danyang laki-laki yang diyakini di Getas bernama mbah Kuncung dan mbah Truno. Sedangkan Danyang perempuan ada Nyai Natyono, Mbah Srinah, Surati, Ponirah, Nyai Suki, dan lainnya. Itu lah alasan mengapa masyarakat dusun masih rutin memberikan sesajen, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur penjaga alam kehidupan.

Sesajen di sini termaknai sebagai wujud hubungan eco-spiritual, untuk merawat ekosistem relasi antara makhluk dan alam, untuk meminta maaf pada makhluk kecil dan tak kasat mata. Selain itu juga menjadi sarana ‘kulo nuwun’ atau meminta izin dan restu pada siapapun yang sejatinya ada di sekeling kehidupan kita.

Agensi Perempuan dari Bilik Dapur Tradisi Nyadran

Sepanjang tinggal bersama masyarakat di sana, saya lebih banyak mengorbrol dengan induk semang kami di dapur. Setiap keluarga mempersiapkan beragam olahan makanan dan sesajen yang akan mereka bawa di perayaan nyadran.

Di balik stigma dapur yang melekat sebagai simbol domestikasi perempuan hari ini. Namun dari bilik dapur sebetulnya kita bisa membaca ulang realitas sesuai konteks masyakarat tinggal. Sesuai dengan teori geneologinya Michael Foucault, yang bisa kita gunakan sebagai metode untuk penelusuran terhadap asal-usul pengetahuan, wacana, dan praktik sosial secara historis.

Sebagaimana yang sudah saya sampaikan, bahwa masyarakat dusun sangat menghormati tradisi dan leluruh, yang salah satunya melalui praktek sesajen dan ritual tradisi lainnya. Maka dari bilik dapur kita bisa melihat bahwa perempuan sangat berperan penting sebagai penjaga kehidupan.

Para perempuan memiliki agensi sebagai penghubung antara relasi makhluk dengan leluhur melalui sesajen khusus yang mereka siapkan. Di buku I Panduan Nyadran Perdamaian ‘Belajar Pengetahuan Lokal Tentang Damai, Selaras, dan Setara’ yang Yuniyanti Chuzaifah tulisan, ada penjelasan bahwa perempuan banyak berperan sebagai penjaga spiritual keluarga.

Misalnya dalam tradisi umat Islam di Glethuk, kalau kita amati kepemimpinan di ruang domestik, perempuan memimpin pilihan spiritual keluarganya, baik suami yang ikut agama isteri, maupun anak-anaknya. Hal yang sama berlaku juga di umat Budha dan Kristen, di mana dalam ruang domestik, perempuan mengambil banyak peran sebagai leadership spiritual.

Bahkan, masyarakat di sana juga meyakini adanya sosok Dewi sebagai penjaga sumber kehidupan. Di balik dapur nyadran, perempuan juga berperan sebagai penjaga tradisi dan transmisi nilai multi generasi. Di dapur sang ibu mengajari anak-anaknya tentang potensi pangan lokal, memasak, serta menyiapkan sesajen sebagai simbol keterhubungan yang selaras antara makhluk, alam, dan leluhur.

Memaknai Relasi Perempuan dan Laki-laki di Rumah Induk Semang

Sepanjang proses persiapan nyadran berlangsung, anggota keluarga perempuan di induk semang kami mungkin yang lebih banyak berada di dapur. Namun ini tidak lantas dimaknai sebagai domestikasi. Kala itu saya bertanya, “Kalau bapak sehari-hari ngapain, bu?’ Lantas ia menjawab ‘Bapak cari rumput di ladang dan hutan, mbak, kami memelihara 8 ekor kembing di samping rumah’.

Dari relasi sehari-hari selama empat hari itu, saya kembali menyederhanakan ulang makna relasi antar pasangan dan pembagian kerja yang dilakukan masyarakat dusun. Di mana segala sumber pangan kehidupan ada, tumbuh, dan dirawat di sekeliling rumah. Peran dan kerja relasi itu sangat fleksibel, karena mereka lebih banyak memaknai hidup dengan beyond material.

Peran kerja dalam relasi rumah tangga bukan lagi tentang siapa di dapur dan siapa di publik, tetapi lebih pada siapa yang mampu melakukan, itulah yang dia kerjakan. Jika menilik kerangka qiraah mubadalah dalam Surat An-Nisa’ Ayat 34 sebagai ayat qiwamah, sebetulnya kita bisa menarik premis bahwa ayat ini bukan sedang berbicara siapa yang paling mampu, antara laki-laki dan perempuan, lalu dia yang paling utama.

Tetapi meyakini dengan sadar bahwa setiap orang itu memiliki tanggung jawab, dan setiap orang memiliki batas kemampuannya. Sehingga pembagian tugas dan relasi antar anggota keluarga, tidak menentukan siapa yang paling utama. Bukan pada berdasarkan gender, tetapi pada kemampuan dan kemauan dari setiap individunya yang memilih secara sadar.

Dan itu lah yang saya pahami dari relasi yang terbangun di Dusun Gletuk. Bahwa sebagai manusia, yang paling utama adalah menjalin relasi yang baik selaras antar umat beragama, makhluk dengan alam semesta, maupun antar anggota keluarga. []

 

Tags: Antar Umat BeragamakeberagamanNyadran Perdamaian 2026Relasitoleransi
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Mengapa Seksualitas Sulit Dibicarakan?

Next Post

Ketika Seksualitas Dinilai dari Tubuh Perempuan

Vevi Alfi Maghfiroh

Vevi Alfi Maghfiroh

Admin Media Sosial Mubadalah.id

Related Posts

Anas Fauzie
Keluarga

Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

15 Februari 2026
Nabi Ibrahim
Pernak-pernik

Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

14 Februari 2026
Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama
Hikmah

Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

14 Februari 2026
Valentine Bukan Budaya Kita
Personal

Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

14 Februari 2026
Visi Keluarga
Pernak-pernik

Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

13 Februari 2026
Relasi Suami-Istri
Pernak-pernik

Relasi Suami-Istri dan Dinamika Perubahan dalam Perkawinan

11 Februari 2026
Next Post
Seksualitas

Ketika Seksualitas Dinilai dari Tubuh Perempuan

No Result
View All Result

TERBARU

  • Konsep Fitnah Bersifat Timbal Balik
  • Guru Era Digital: Antara Viral dan Teladan Moral
  • Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam
  • Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan
  • Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0