Kamis, 22 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Nyadran Perdamaian 2026

    Menilik Makna Relasi Antar Umat, Makhluk, Alam, dan Keluarga dalam Nyadran Perdamaian 2026

    Kisah Kaum Ad

    Kisah Kaum Ad dan Betapa Keras Kepalanya Kita

    Membaca Disabilitas dalam Al-Qur'an

    Dari ‘Abasa hingga An-Nur: Membaca Disabilitas dalam Al-Qur’an

    Deepfake

    Deepfake dan Kekerasan Digital terhadap Perempuan

    Pengelolaan Sampah Menjadi

    Pengelolaan Sampah Menjadi Tanggung Jawab Bersama

    Kebijakan Publik

    Kebijakan Publik dan Ragam Perspektif Disabilitas

    Menjaga Alam

    Manusia sebagai Khalifah Wajib Menjaga Alam

    Broken Strings

    Membaca Child Grooming dalam Broken Strings

    Dimonopoli

    Air, Tanah, dan Energi Tidak Boleh Dimonopoli

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Seksualitas

    Mengapa Seksualitas Sulit Dibicarakan?

    Seks

    Membahas Seks secara Dewasa

    Adil Bagi Perempuan

    Ulama Perempuan Dorong Islam yang Lebih Adil bagi Perempuan

    Isra' Mi'raj

    Isra’ Mi’raj dan Pesan Keadilan Hakiki, Membaca Ulang Dimensi Sosial dalam Salat

    Isra Mikraj

    Isra Mikraj sebagai Narasi Kosmologis dan Tanggung Jawab Lingkungan

    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Nyadran Perdamaian 2026

    Menilik Makna Relasi Antar Umat, Makhluk, Alam, dan Keluarga dalam Nyadran Perdamaian 2026

    Kisah Kaum Ad

    Kisah Kaum Ad dan Betapa Keras Kepalanya Kita

    Membaca Disabilitas dalam Al-Qur'an

    Dari ‘Abasa hingga An-Nur: Membaca Disabilitas dalam Al-Qur’an

    Deepfake

    Deepfake dan Kekerasan Digital terhadap Perempuan

    Pengelolaan Sampah Menjadi

    Pengelolaan Sampah Menjadi Tanggung Jawab Bersama

    Kebijakan Publik

    Kebijakan Publik dan Ragam Perspektif Disabilitas

    Menjaga Alam

    Manusia sebagai Khalifah Wajib Menjaga Alam

    Broken Strings

    Membaca Child Grooming dalam Broken Strings

    Dimonopoli

    Air, Tanah, dan Energi Tidak Boleh Dimonopoli

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Seksualitas

    Mengapa Seksualitas Sulit Dibicarakan?

    Seks

    Membahas Seks secara Dewasa

    Adil Bagi Perempuan

    Ulama Perempuan Dorong Islam yang Lebih Adil bagi Perempuan

    Isra' Mi'raj

    Isra’ Mi’raj dan Pesan Keadilan Hakiki, Membaca Ulang Dimensi Sosial dalam Salat

    Isra Mikraj

    Isra Mikraj sebagai Narasi Kosmologis dan Tanggung Jawab Lingkungan

    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Menyambut Awal Tahun, Menumbuhkan Religiusitas Agama Tanpa Kekerasan

Di awal tahun 2025 ini, kita semua berharap akan tumbuh suasana silaturahmi keberagamaan yang lebih toleran dan arif.

Ahmad Thohari by Ahmad Thohari
4 Januari 2025
in Publik, Rekomendasi
0
Religiusitas Agama

Religiusitas Agama

657
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Masih tergurat dalam pikiran kita bersama, dalam gelanggang suasana keberagamaan kita di Tanah Air, ada dua fenomena penting yang baru-baru kemarin muncul dan menjadi isu publik. Fenomena yang kembali mengusik suasana silaturahmi keberagamaan kita di penghujung akhir tahun 2024.

Pertama, adalah soal Gus Miftah, sebagai seorang pemuka agama, yang “mengolok-olok” penjual Es Teh. Kedua, adalah soal penolakan penyelenggaraan Jalsah Salanah Jemaat Ahmadiyah Indonesia di ruang publik yang dilakukan terutama dari kelompok yang mengatasnamakan diri sebagai Forum Masyarakat Peduli Kemanusiaan. Mereka terdiri dari FPI, Persada 212, Ormas Pagar Akidah (Gardah), dan beberapa kelompok kecil yang berafiliasi dengan mereka.

Dua fenomena tersebut, saya pikir memantik pikiran kita untuk, setidak-tidaknya, bertanya. Mengapa tindakan kurang bermoral dan perilaku intoleran muncul dari orang-orang yang notabene seorang pemeluk agama? Memangnya, seperti apa hubungan doktrin agama—yang mengajarkan nilai-nilai moral—dengan perilaku pemeluk agama itu sendiri?

Mari kita mulai mencoba memahami hubungan agama dengan moralitas para pemeluknya, sambil mengurai jawaban atas pertanyaan tersebut. Manusia, selain kita labeli sebagai homo sapiens, di sisi lain (ia) juga mengandung arti sebagai: makhluk beragama (homo religiosus).

Agama sebagai Kendaraan Spiritual

Dalam maksud tersebut, manusia menggunakan keberadaan agama sebagai “kendaraan spiritual”, yang dengannya, ia berharap akan mendapatkan pemahaman akan makna-makna kehidupan yang ia jalani. Di mana yang tak bisa ia dapatkan melalui “kendaran-kendaran ilmiah”.

Artinya, agama memang menjadi semacam kendaraan manusia untuk menyelami makna-makna kehidupan. Mengutip Karen Asmtrong, sebagaimana seni, agama adalah semacam usaha manusia untuk menemukan makna dan nilai kehidupan, di tengah derita yang menimpa wujud kasatnya.

Tentu saja, dalam tinjauan yang sangat filosofis-teologis, homo religiosus menegaskan fakta bahwa manusia merupakan makhluk yang tak dapat melepaskan diri dari entitas Yang Absolut, Yang Tak Hingga. Karena itu, agama merupakan cara tertentu, yang manusia tempuh untuk lebih memaksimalkan potensi hidupnya pada ihwal yang sifatnya spiritual—yang secara otomatis, bisa kita sebut pula, mengarah pada sifat-sifat moralitas.

Akan tetapi, doktrin religiusitas agama nyatanya tidak selalu berbanding lurus dengan moralitas para pemeluknya. Ada rentang faktor kompleks yang memunculkan ambiguitas perilaku, yang bersifat kontradiksi sekaligus kontraproduktif, dalam diri para pemeluk agama dengan nilai-nilai agama itu sendiri.

Dalam fenomena semacam itu, ketika kepercayaan dan perilaku orang yang beragama tidak selalu sesuai dengan doktrin keagamaan yang mereka anut, para ilmuwan agama menyebut telah terjadi: “ketidaktepatan teologis”.

Tantangan keberagamaan dalam bising intoleransi

Manusia memang tempatnya salah dan lupa. Wajarlah, bukan Nabi, Boy! (Padahal Nabi juga pernah salah dan lupa—red). Tapi, apakah manusia lalu menyadari dan menginsafinya?

Manusia, justru, seringkali menempatkan agama sebagai hanya sebuah simbol belaka, bahkan menjadi barang komoditi. Tidak sungguh-sungguh kita jadikan semacam regulasi pendidikan yang dapat menyublimasi kepribadian dirinya ke level individu yang lebih arif dan bijaksana.

Banyak perilaku-perilaku intoleransi yang muncul justru dari para pemeluk agama. Hal yang idealnya tidak terjadi. Tak jarang, agama malah diperjualbelikan secara politis.

Manusia, memang, cukup berani untuk menggadaikan nilai-nilai agama demi kepentingan-kepentingan diri (individu) maupun kelompok yang sifatnya superfisial. Bahkan, dengan “atas nama agama” atau “atas nama iman’, manusia sangat tidak pekewuh untuk menyelenggarakan perang yang membunuh nilai-nilai kemanusiaan.

Menilik Sejarah Islam

Sebagai contoh, persis seperti apa yang Buya Syafii Maarif uraikan, sebagaimana terdokumentasikan dalam buku Krisis Arab dan Depan Dunia Islam (2018). Yakni tentang bagaimana kenyataan sejarah (agama) Islam yang direntang dalam buku tersebut ditegaskan sendiri oleh Buya Syafii sendiri sejatinya penuh: kekerasan dan kekejaman.

Rekaman-rekaman sejarah Islam, betapa pun pernah mencapai masa gemilang, sesungguhnya mempertontonkan adegan yang nir-kemanusiaan. Jauh dari nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.

Buya Syafii menulis, bahwa perjalanan panjang kesejarahan Islam “dalam politik kekuasaan, iman sering benar tergantikan oleh semangat suku, ras, atau keturunan”. Dalam pergulatan politik kekuasan tersebut, tentu saja, semuanya mengatasnamakan: Islam.

Adapun sekarang, dalam praktik “politik kekuasaan” yang sering terjadi pada konstelasi intrik keagamaan Islam di Indonesia, iman sering benar tergantikan oleh semangat ormas, golongan, maupun kelompok-kelompok yang juga sama-sama mengatasnamakan: Islam.

Dengan mengatasnamakan Islam pula, satu sama lain saling menegaskan diri (kelompok) dengan cara penuh intoleransi—yang sangat kentara dalam kelompok-kelompok ekstrim.

Agama tanpa-agama: eksperimen religiusitas di luar bias tradisi-tradisi agama

Maka itu, sesungguhnya kita, sebagai pemeluk agama, memerlukan suatu “lompatan religius” dalam beragama, yang lebih genuine, kreatif, dan murni. Bahwa di tengah-tengah hiruk-pikuk bisingnya orang beragama dengan mengatasnamakan agama secara kaku dan subversif, kita perlu beragama dengan cara “melampaui” agama itu sendiri.

Inspirasi ini muncul dari teks Jaques Derrida—sebutlah pengalaman religius Derrida, seorang filsuf yang terkenal dengan wacana dekonstruksinya—akan pergulatannya dengan agama Yahudi yang ia anut sejak kecil. Bagaimana ia melampaui agama itu sendiri ke dalam “agama tanpa-agama”. Yakni, agama yang lahir dari kegairahan total akan Yang Ilahi—yang penuh dengan nilai kebaikan, moralitas, dan kemanusiaan.

“Agama tanpa-agama”, tentu, bukanlah agama dalam pengertiannya yang bersifat konvensional. Tetapi lebih sebagai sebuah upaya membentuk pengalaman religius baru dan cara pandang yang lebih murni dalam mendekati Yang Ilahi itu sendiri—sebagai ejawantah dari pengalaman kebermoralan, juga pengalaman kemanusiaan.

“Agama tanpa-agama” merupakan cara unik, genuine, dan kreatif tetapi tetap murni. Sebab, ia lebih menekankan pada gairah total akan Yang Ilahi sebagai the wholly other yang tidak mungkin kita bahasakan, tidak mungkin terterjemahkan, dan melampaui asumsi-asumsi pengetahuan keagaman (baca: tafsir) yang cenderung bias—bersifat naif, dangkal, dan kakus.

Memaknai Pengalaman Religius

Dalam upaya pelampauan ini, “agama tanpa-agama” lebih kita tempatkan sebagai sebuah undangan menuju model atau keberagamaan baru dan sebuah upaya untuk memaknai pengalaman religius itu sendiri. Demi tumbuhnya “cara beragama” yang lebih genuine, yang tak sibuk dengan pertentangan-pertentangan saling menuding dan menuduh sesama lain. Sekalipun ia berbeda keyakinan dengan kita.

“Agama tanpa-agama” tentu juga tidak menafikan hadirnya institusi-institusi agama yang telah banyak bermunculan dalam perjalanan sejarah agama itu sendiri. Sebagai sebuah aturan kebudayaan, institusi agama memang kadang kita perlukan. Tetapi, tentu saja, kita tidak bisa sepenuhnya mengikat diri aturan tersebut. Justru kita harus kritis dan kreatif padanya. Sebab, sebagai institusi keberadaannya tidak absolut. Ia mesti kita kaji ulang kembali.

Kita perlu berani menggugatnya, terlebih jika terjadi penyimpangan-penyimpangan di dalamnya. Karena itu pula, “agama tanpa-agama” adalah semacam upaya cara beragama yang ingin melampaui warisan-warisan tradisi maupun institusi agama. Yakni sebagai indoktrinasi yang sudah penuh dengan bias dan sebagai usaha untuk mencoba membebaskan pengalaman religius kita dari batasan-batasan yang muncul akibat adanya tradisi atau institusi agama itu sendiri.

Oleh karena itu, “agama tanpa-agama” ingin mengajak kita, para pemeluk agama, untuk menghayati agama lebih dari sekadar simbol retoris yang penuh bias kepentingan politis dan nir-manusiawi. Yakni, dengan menghayati agama lebih dari sekadar beragama dengan hanya menganut dogma belaka. Lebih dari semata-mata hanya melaksanakan ritual yang diwajibkan oleh institusi agama saja.

Sebuah Resolusi

Kita perlu menghayati agama dengan berani mempertanyakan, menggugat, dan menjadikan intensitas keimanan serta kadar moralitas kemanusiaan kita sebagai ajang eksperimentasi terus-menerus. Yakni untuk menguji secara serius pengalaman religius kita dengan Yang Ilahi, juga dengan sesama (makhluk) lain.

Kita tidak bisa menakar diri paling beriman, sekalipun kita adalah pemeluk agama yang taat. Banyak bias religiusitas agama kita yang ternodai oleh simbol, tradisi, dan institusi agama itu sendiri.

Saya pikir itu pulalah yang tergambar dari sosok Gus Dur. Sebagai seorang penganut agama Islam, tetapi dalam cara Gus Dur beragama, ia melampaui—institusi maupun tradisi—Islam itu sendiri. Frasa “Tuhan Tidak Perlu Dibela”, saya pikir adalah salah satu bentuk contoh bagaimana Gus Dur “beragama tanpa-agama”.

Artinya, di saat banyak orang sibuk bersitegang membela Tuhan atas nama iman dengan mengangkat pedang, Gus Dur justru dengan santai dan cukup arif memunculkan frasa tersebut.

Itu adalah jenis pengalaman religius baru yang coba dihayati oleh Gus Dur. Karena itu, “agama tanpa-agama” juga merupakan upaya memperbaiki cara beragama kita dengan terus-menerus ke arah yang lebih baik, mengutamakan kemanusiaan.

Supaya agama—bahkan, Tuhan itu sendiri—tidak terus “tampak” dungu, sakit, dan kejam akibat ulah-ulah kita sebagai pemeluknya. Dengan begitu, di awal tahun 2025 ini, kita semua berharap akan tumbuh suasana silaturahmi keberagamaan yang lebih toleran dan arif. []

 

Tags: ahmadiyahdakwahHak Kebebasan BeragamaislamKasus Gus MiftahkeberagamanRefleksi 2024Religiusitas AgamaResolusi 2025

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
Ahmad Thohari

Ahmad Thohari

Ahmad Miftahudin Thohari, lulusan mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Raden Mas Said Surakarta, punya minat kajian di bidang filsafat, sosial dan kebudayaan. Asal dari Ngawi, Jawa Timur.

Related Posts

Nyadran Perdamaian 2026
Publik

Menilik Makna Relasi Antar Umat, Makhluk, Alam, dan Keluarga dalam Nyadran Perdamaian 2026

22 Januari 2026
Adil Bagi Perempuan
Pernak-pernik

Ulama Perempuan Dorong Islam yang Lebih Adil bagi Perempuan

21 Januari 2026
Merusak Alam
Publik

Merusak Alam Bertentangan dengan Ajaran Islam

20 Januari 2026
Lingkungan
Publik

KUPI Tegaskan Menjaga Lingkungan Bagian dari Prinsip Dasar Islam

20 Januari 2026
Isra' Mi'raj
Hikmah

Isra’ Mi’raj dan Pesan Keadilan Hakiki, Membaca Ulang Dimensi Sosial dalam Salat

18 Januari 2026
Gerakan KUPI dari
Publik

KUPI Berakar dari Gerakan Perempuan Islam Sejak 1990-an

17 Januari 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Deepfake

    Deepfake dan Kekerasan Digital terhadap Perempuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Membaca My Food is African dengan Kacamata Kesalingan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Membaca What Is Religious Authority? Menimbang Ulang Otoritas Agama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari ‘Abasa hingga An-Nur: Membaca Disabilitas dalam Al-Qur’an

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kebijakan Publik dan Ragam Perspektif Disabilitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Menilik Makna Relasi Antar Umat, Makhluk, Alam, dan Keluarga dalam Nyadran Perdamaian 2026
  • Mengapa Seksualitas Sulit Dibicarakan?
  • Kisah Kaum Ad dan Betapa Keras Kepalanya Kita
  • Membahas Seks secara Dewasa
  • Dari ‘Abasa hingga An-Nur: Membaca Disabilitas dalam Al-Qur’an

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Home
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID