Sabtu, 14 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    Menjadi Dewasa

    Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

    Solidaritas

    Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

    Feminist Political Ecology

    Feminist Political Ecology: Strategi Melawan Eksploitasi Lingkungan yang Merugikan Perempuan

    Pembangunan

    Pembangunan, Dialog, dan Masa Depan Papua

    Perkawinan

    Marketing Kemenag dan Mutu sebuah Perkawinan

    Sejarah Difabel

    Sejarah Kepedihan Difabel dari Masa ke Masa

    Krisis Lingkungan

    Perempuan, Alam, dan Doa: Tafsir Fikih Ekoteologis atas Krisis Lingkungan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    Sakinah Mawaddah

    Konsep Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

    Doa Keluarga

    Makna Doa Keluarga dalam QS. Al-Furqan Ayat 74

    Konsep Ta'aruf

    Konsep Ta’aruf Menurut Al-Qur’an

    Kegagalan Perkawinan

    Kegagalan Adaptasi dan Pentingnya Kafa’ah dalam Perkawinan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    Menjadi Dewasa

    Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

    Solidaritas

    Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

    Feminist Political Ecology

    Feminist Political Ecology: Strategi Melawan Eksploitasi Lingkungan yang Merugikan Perempuan

    Pembangunan

    Pembangunan, Dialog, dan Masa Depan Papua

    Perkawinan

    Marketing Kemenag dan Mutu sebuah Perkawinan

    Sejarah Difabel

    Sejarah Kepedihan Difabel dari Masa ke Masa

    Krisis Lingkungan

    Perempuan, Alam, dan Doa: Tafsir Fikih Ekoteologis atas Krisis Lingkungan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    Sakinah Mawaddah

    Konsep Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

    Doa Keluarga

    Makna Doa Keluarga dalam QS. Al-Furqan Ayat 74

    Konsep Ta'aruf

    Konsep Ta’aruf Menurut Al-Qur’an

    Kegagalan Perkawinan

    Kegagalan Adaptasi dan Pentingnya Kafa’ah dalam Perkawinan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Monumen

Menyoal Konsepsi Nusyuz pada Keluarga Pekerja Migran dalam Perspektif Mubadalah

Sayangnya, kepergian perempuan untuk bekerja di luar negeri, membuat laki-laki yang ditinggalkan oleh pasangannya mengajukan perceraian

Vevi Alfi Maghfiroh by Vevi Alfi Maghfiroh
12 Juni 2024
in Monumen, Rekomendasi
A A
0
Pekerja Migran

Pekerja Migran

20
SHARES
994
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Pada tahun 2023, berdasarkan laporan Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), jumlah pekerja migran Indonesia (PMI) sebanyak 274.965 orang. Dari data tersebut, Kabupaten Indramayu menjadi wilayah asal PMI terbanyak, yaitu 19.178 orang atau 6,97% dari total PMI yang ada di tahun tersebut. Pekerja migran perempuan menempati jumlah terbanyak. 

Berbagai macam faktor yang melatarbelakangi mengapa banyak orang memilih bekerja di luar negeri, salah satunya adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang tidak bisa mereka lakukan jika hanya mengandalkan penghasilan yang ada di tempat tinggalnya.

Sulitnya mencari kerja di dalam negeri dan terbatasnya lowongan kerja untuk pekerja migran laki-laki di luar negeri. Sedangkan peluang perempuan sebagai pekerja migran informal sebagai pekerja rumah tangga lebih banyak, mau tidak mau mendorong para perempuan yang mengambil peluang tersebut.  

Namun, sayangnya, kepergian perempuan untuk bekerja tersebut, membuat laki-laki yang ditinggalkan oleh pasangannya mengajukan perceraian. Sebagaimana yang sering saya temui persoalannya di lingkungan sekitar, juga sesuai dengan data Pengadilan Agama Indramayu yang tercatat.

Data Pengadilan Agama

Berdasarkan data Pengadilan Agama Indramayu pada tahun 2022, tercatat 2.012 perkara cerai talak dari total 7.771 perkara yang diputuskan hakim. Dari penuturan divisi Humas, Dindin Syarief Nurwahyudin, tingginya angka cerai talak tersebut salah satunya karena banyaknya suami ditinggal istri untuk menjadi Pekerja Migran di luar negeri. Yakni dengan alasan kebutuhan biologis yang tidak terpenuhi pasangannya.

Alasan tidak terpenuhinya kebutuhan biologis suami atas kepergian istri bekerja di luar negeri, menjadi sesuatu yang ironis. Apalagi pilihan perempuan bekerja dan jauh dari keluarga juga bertujuan untuk memenuhi kebutuhan bersama.   

Dari fenomena ini terbersit sebuah pertanyaan, ‘Apa sebenarnya tujuan pernikahan?’ Mengapa perempuan dengan berbagai pertimbangannya lebih mudah menjadi pekerja migran di luar negeri daripada laki-laki, tetapi mengapa pasangannya tidak saling menjaga peran-peran keluarga untuk saling melengkapi? 

Tulisan ini akan membahas konsepsi nusyuz yang sering kita artikan sebagai tidak terpenuhinya hak dan kewajiban suami istri. Sebagaimana yang tertulis dalam Kompilasi Hukum Islam, khususnya dalam memotret persoalan di atas. 

Pemahaman Nusyuz dalam Tinjauan Hukum Islam

Dalam memaknai kata nusyuz, ulama fikih Hanafiyah mengartikannya sebagai ketidaksenangan yang terjadi antara suami dan istri. Ulama Syafi’iyyah menyebutnya sebagai perselisihan yang terjadi antara suami dan istri, begitu pun dengan Ulama Malikiyyah.

Tidak jauh berbeda dengan ketiganya, Ulama Hanbaliyyah juga mendefinisikan nusyuz sebagai bentuk ketidaksenangan dari pihak istri atau suami yang disertai dengan hubungan yang tidak harmonis. Pun Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab al-Fiqh al-Islam wa Adillatuhu juga mendefinisikan nusyuz sebagai ketidaksetiaan salah satu pasangan suami-istri terhadap apa yang seharusnya dipatuhi dan atau rasa benci terhadap pasangannya. Ketidaksetiaan tersebut terkait dengan tidak terpatuhinya kewajiban satu atas yang lainnya. 

Sebetulnya jika melihat definisi yang beberapa fuqaha ajukan di atas.  Sembari melihat bagaimana surat An-Nisa ayat 34 yang menjelaskan secara terang benderang persoalan nusyuz istri dan surat An-Nisa ayat 128 terkait dengan nusyuz suami.

Maka kedua ayat ini menyiratkan bagaimana sebenarnya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat muslim telah menjelaskan bahwa laki-laki dan perempuan berpotensi menjadi pelaku dan korban dari perilaku nusyuz itu sendiri. Namun yang menjadi sebuah kegelisahan mengapa dalam berbagai kisah, persoalan. Bahkan Kompilasi Hukum Islam hanya mengenal dan membahas nusyuz perempuan saja?  

Mengapa Nusyuz Seringnya Dikontekskan Pada Perempuan Saja?

Pandangan tentang nusyuz dalam pembahasan Kompilasi Hukum Islam (KHI), masih terbatas hanya tentang nusyuz perempuan saja. Sebagai salah satu rujukan hakim Pengadilan Agama dalam memutuskan perkara. KHI membahas kriteria nusyuz istri yang diatur dalam Pasal 84 ayat (1), dan tidak mencantumkan pembahasan nusyuz suami.

Dalam pasal tersebut tersebutkan bahwa istri dianggap nusyuz jika ia tidak mau melaksanakan kewajiban-kewajibannya. Yaitu berbakti secara lahir batin pada suami, sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 83 ayat (1). KHI juga hanya mengatur akibat hukum jika istri nusyuz.

Misalnya kewajiban suami dalam hal menanggung nafkah, pakaian, tempat tinggal, biaya rumah, biaya perawatan dan pengobatan bagi keluarga itu akan dianggap gugur jika istri nusyuz, sebagaimana yang penjelasan pasal 80 ayat (7) dan pasal 84 ayat (2). 

Aturan KHI itu–jika dipandang dari persoalan perempuan pekerja migran– berpotensi merugikan pihak perempuan. Pemahaman nusyuz yang hanya berlaku kepada istri karena ia tidak melakukan kewajibannya melayani suami lahir batin, ini juga bisa menggugurkan kewajiban seorang mantan suami memberikan nafkah iddah kepada mantan istrinya saat terjadi perceraian. 

Sedangkan dalam persoalan perempuan pekerja migran yang harus menanggung konsekuensi jauh dari keluarga dan tidak bisa bergaul dengan pasangannya, ini juga berkaitan dengan pihak suami yang tidak mampu memberikan nafkah layak dan memenuhi kebutuhan keluarga, juga bisa disebut dengan nusyuz.  

Menggali Konsepsi Nusyuz pada Keluarga Pekerja Migran dengan Cara Pandang Mubadalah

Ada salah satu kutipan menarik yang tertulis dalam kitab Manba’ al-Sa’adah, yang juga mengajarkan nilai-nilai akhlak dan kesalingan dalam berelasi: ‘Kebaikan umat berawal dari kebaikan keluarga, kebaikan keluarga berawal dari prinsip memperhatikan kesehatan baik secara medis maupun psikis, hubungan pernikahan yang baik, penunaian hak bagi masing-masing suami istri dalam batasan kesetaraan, gotong royong, dan pergaulan yang mulia (mu’asharah bil ma’ruf’.

Dari kutipan di atas sebagaimana juga cara pandang mubadalah yang menghendaki adanya relasi saling (resiprokal/tabaduli) dan husn al-mu’asyarah (pergaulan mulia), sebetulnya pernikahan itu terkait dengan komitmen pada ikatan janji yang kokoh sebagai amanah Allah (mitsaqan ghalizhan).

Lalu prinsip berpasangan dan kesalingan (zawaj), perilaku saling memberi kenyamanan atau kerelaan (taradhin), saling memperlakukan dengan baik (muasyarah bil ma’ruf), dan musyawarah. Dan jika semua tindakan atau perilaku baik yang dilakukan suami maupun istri tersebut dapat memperlemah lima hal di atas, maka itulah yang kemudian kita sebut dengan nusyuz. 

Kelima pilar tersebut juga menyiratkan bahwa tidak ada pembagian peran suami istri yang baku, sebagaimana umumnya dijelaskan dalam kitab-kitab fikih terkait dengan pembahasan hak dan kewajiban suami istri, yang membagi secara jelas kedua peran tersebut.

Akan tetapi menjadi sebuah persoalan jika kepergian istri ke luar negeri untuk bekerja menjadi alasan pasangannya untuk mengajukan perceraian, dengan dalih tidak terpenuhinya kebutuhan biologisnya.

Apalagi tak jarang ada stigma dan pelabelan yang tidak baik bagi perempuan tersebut, seperti anggapan ‘makanya jangan lama-lama ninggal suami,’ ‘terlalu asik di luar tuh sampe lupa keluarga di rumah,’ yang sering saya dengar terjadi di masyarakat tempat saya tinggal. Tentu anggapan ini merugikan perempuan, seakan-akan sudah bekerja tetapi dianggap nusyuz pula. 

Jika menggunakan cara pandang mubadalah dalam persoalan ini sebetulnya perempuan dan laki-laki sebagai pasangan yang berelasi, keduanya bisa saling bertukar peran, saling melengkapi, dan mengisi peran satu dengan lainnya.

Pun keduanya juga berpotensi menjadi sumber persoalan dalam keluarga dan melakukan nusyuz yang merugikan pasangannya. Oleh karenanya pemahaman yang hanya mengkaitkan nusyuz kepada perempuan saja itu tidak Islami dan tidak sesuai dengan nilai ajaran Islam dalam prinsip berkeluarga. []

Tags: keluargaNusyuzPekerja Migranperceraianpernikahanperspektif mubadalah
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

1001 Masalah Gen Z, Apakah Semua Ada Solusinya?

Next Post

Ayat-ayat Al-Qur’an yang Melarang Berbuat Kerusakan di Muka Bumi

Vevi Alfi Maghfiroh

Vevi Alfi Maghfiroh

Admin Media Sosial Mubadalah.id

Related Posts

Visi Keluarga
Pernak-pernik

Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

13 Februari 2026
Konsep Keluarga
Pernak-pernik

Konsep Keluarga dalam Islam

13 Februari 2026
qurrata a’yun
Pernak-pernik

Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

12 Februari 2026
Doa Keluarga
Pernak-pernik

Makna Doa Keluarga dalam QS. Al-Furqan Ayat 74

11 Februari 2026
Kehormatan
Pernak-pernik

Fungsi Pernikahan dalam Menjaga Kehormatan Manusia

10 Februari 2026
Relasi dalam Al-Qur'an
Pernak-pernik

Relasi Keluarga yang Adil dan Setara dalam Perspektif Al-Qur’an

9 Februari 2026
Next Post
Muka Bumi

Ayat-ayat Al-Qur'an yang Melarang Berbuat Kerusakan di Muka Bumi

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Metode Tafsir Mubadalah
  • Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama
  • KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT
  • Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?
  • Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0