Mubadalah.id – Bagi saya, jalan raya adalah tempat yang ruwet, termasuk perjalanan jarak jauh atau mudik. Di ruang-ruang dilematis, tanpa jalan raya, aktifitas keseharian tidak akan bermakna dan akan terasa hampa.
Mudik, istilah yang familiar dan hanya eksis saat bulan ramadan menyisakan kesan naluriah yang menggugah hati agar seseorang kembali menapaki jejak asal-usulnya. Utamanya bagi para perantau yang estafet untuk hidup, mudik adalah alarm kemanusiaan yang mengingatkan akan tali persaudaraan dan kemanusiaan.
Akan tetapi mudik tidak hanya diserap dengan menapak jarak ke jarak yang menjadi tujuan, lebih dari itu, ia juga sebagai perjalanan simbolik untuk kembali pada akar identitas dan nilai-nilai yang membentuk diri seseorang.
Tafsir Mudik
Kata “mudik” menyimpan kedalaman yang tidak cukup diterjemahkan hanya dengan pu;ang kampung. Secara etimologi, kata ini berakar dari kata “udik” yang artinya arah hulu Sungai, pedalaman, kampung atau tempat asal.
Dalam perspektif budaya, Udik bisa ditafsirkan dengan ritus tahunan yang fungsinya jauh melampaui sekadar pertemuan fisik. Ia alternatif manusia modern menegosiasikan dua dunia yang ia huni sekaligus, dunia kota tempat berjuang dan dunia kampung sebagai sumber pulihnya kekuatan.
Sementara dalam aspek keagamaan, mudik identik sebagai sebuah perjalanan yang dalam Islam disebut juga safara, pemudiknya adalah musafir. Ia mengandung resonansi yang dalam dengan nilai-nilai spiritual, khususnya bulan Ramadan.
Selain itu, tafsir sosiologis menawarkan deskripsi mudik sebagai fenomena migrasi terbalik yang tentunya unik dan hampir tidak ada tandingannya. Jutaan manusia bergersak serentak, bukan karena perintah maupun bencana, melainkan kesepakatan batin yang tidak tertulis dalam kertas hitam putih.
Maka, mudik adalah tafsir paling jujur tentang jati diri manusia. Ia menarik vibrasi jarak, sejauh apapun tubuh berada, ada benang yang tak kasat mata untuk menarik kembali ke tempat kelahiran yang suci.
Perjalanan yang Bermubadalah
Jika mudik hanya berhenti pada tafsir, ia belum utuh menjadi pondasi ritual perjalanan. Udik juga berbicara tentang etika di jalanan, relasi antara manusia, dan keteguhan hati kepada sang Ilahi.
Salah satu etika saat Udik adalah tidak ugal-ugalan, angkuh, sombong saat berkendara. Al-Qur’an menegur ini dengan narasi “Jangan sekali-kali kalian sombong saat berjalan (aktifitas) di bumi” (Q.S. Al-Sira’: 37).
Selain itu, fokus saat perjalanan tidak kalah krusial dengan etika. Terlebih fikiran tidak kosong dan harus terisi dengan tafakkur, tadabbur dengan isi dunia sebagai emanasi dari Allah Swt. Yang paling penting lagi adalah melantunkan doa “Subhaanalladzii sakhkhara lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahu muqrininiin. Wa innaa ilaa Rabbinaa lamun-qalibuun.”
Sedangkan mudik yang bermubadalah adalah ia yang menginternalisasikan tindak-tanduk kemanusiaan atas nama Allah Swt. Seperti yang sering seliweran kita pahami adalah 3 prinsip mubadalah ; Bermartabat, Adil, dan Maslahat.
Jika teraplikasikan saat berkendara atau bepergian, ketiga prinsip ini bukan lagi terasa seperti teori yang hidup di lembar-lembar buku kajian, ia turun ke aspal, masuk ke dalam kabin kendaraan, dan berdenyut di setiap keputusan kecil yang kita buat di jalan.
Seperti hari ini, seringkali pelecehan seksual atas perempuan terjadi di transportasi umum, ruang-ruang inklusif bagi difabel terbilang minor, dan menindas rakyat kecil dengan akal kapitalistik. Tentu ini sangat tidak mubadalah.
Akhirnya, Mubadalah saat berpergian atau mudik yaitu saling memberi ruang. Ruang keamanan dan kenyamanan, kesabaran, keterbukaan saat perjalanan. Oleh karena itu, kesejahteraan perjalanan dalam prinsip mubadalah, mudik bukan hanya membawa badan, tetapi juga kepribadian profetik dan etika ilahiyah.
Pulang itu Pilihan, Bukan Kewajiban
Namun perlu kita sadari bahwa tidak seluruh perantau bisa bepergian setiap tahun, akan tetapi tidak ada buruknya jika menyempatkan mudik ke tanah kelahiran untuk bersua dengan sanak keluarga. Tepat juga tahun 2026 ini, mudik dibayangi kelesuan ekonomi akibat kebijakan efisiensi anggaran dan kondisi global yang belum menentu.
Ini wujud tamparan dan tantangan serus bagi pemudik, karena mudik tidak hanya modal tekad dan pasrah dengan keadaan, namun juga mempertimbangkan finansial demi keselamatan diri. Akan tetapi, Kementerian Perhubungan (Kemenhub), badan usaha milik negara (BUMN) menyelenggarakan Program Mudik Gratis secara terbuka seluruh Indonesia.
Program ini bukan sekadar kebijakan teknis transportasi, ia adalah pengakuan negara bahwa mudik adalah hak sosial yang harus terfasilitasi, bukan sekadar urusan privat yang sepenuhnya pada kemampuan individu.
Mudik adalah bukan kewajiban, preferensi masing-masing tentu berbeda. Mungkin inilah yang membuatnya menjadi perjalanan yang multimakna. Ia bukan sekadar tradisi yang terwarisi, bukan pula sekadar euforia musiman yang menguap begitu Lebaran usai.
Mudik adalah doa yang berjalan di atas aspal, pengakuan paling tulus bahwa manusia, sejauh apapun melangkah dan setinggi apapun mendaki, tetap menyimpan kebutuhan purba yang tidak bisa dipadamkan oleh kemajuan zaman: kebutuhan untuk pulang. []









































