Mubadalah.id – Hadis yang menyebutkan bahwa sepuluh hari pertama Ramadan adalah rahmat, sepuluh hari kedua maghfirah, dan sepuluh hari terakhir pembebasan dari neraka, dikenal luas di kalangan masyarakat Muslim. Narasi tersebut kerap disampaikan dalam ceramah dan pengajian selama bulan puasa.
Namun, mayoritas ulama hadis menilai riwayat tersebut berstatus lemah (dhaif). Sejumlah pakar hadis, termasuk ulama kontemporer Muhammad Nasiruddin al-Albani, menyatakan bahwa sanad hadis tersebut tidak memenuhi kriteria kesahihan.
Bahkan sejumlah ahli hadis juga menyampaikan bahwa yang menilai kualitas periwayatannya tidak kuat. Karena itu, hadis tersebut tidak masuk dalam kategori sahih maupun hasan menurut standar metodologi ilmu hadis.
Meski demikian, sebagian ulama tetap mencantumkan riwayat tersebut dalam karya-karya bertema keutamaan amal. Ulama asal India, Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi, misalnya, memasukkan hadis tersebut dalam kitab Fadhilah Ramadan sebagai bagian dari literatur motivasional tentang keutamaan bulan puasa.
Para ulama menjelaskan bahwa meskipun pembagian tiga fase tersebut tidak memiliki dasar riwayat yang kuat. Namun substansi mengenai Ramadan sebagai bulan penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari neraka memiliki landasan dalam hadis-hadis lain yang sahih.
Dalam berbagai riwayat yang terakui keabsahannya, menyebutkan bahwa pintu surga terbuka, pintu neraka tertutup, dan setan-setan terbelenggu selama Ramadan. Riwayat-riwayat tersebut memperkuat gambaran umum bahwa Ramadan adalah momentum spiritual yang sarat keberkahan.
Dengan demikian, perdebatan mengenai status hadis tiga fase tidak mengubah pemahaman dasar bahwa Ramadan memiliki nilai keutamaan yang besar dalam tradisi Islam. Fokus utama para ulama tetap pada penguatan ibadah dan peningkatan kualitas spiritual selama bulan tersebut. []
Sumber Tulisan: Pernah Dengar Kalau Ramadan itu Terbagi Tiga?









































