Senin, 20 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    Apa itu AIDS

    Apa itu AIDS?

    Apa itu HIV

    Apa itu HIV?

    Jalan Kebahagiaan

    Menggapai As-Sa’adah: Jalan Kebahagiaan Menurut Imam al-Ghazali

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

    AIDS

    Jangan Percaya Mitos, Kenali Fakta tentang HIV dan AIDS

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    Apa itu AIDS

    Apa itu AIDS?

    Apa itu HIV

    Apa itu HIV?

    Jalan Kebahagiaan

    Menggapai As-Sa’adah: Jalan Kebahagiaan Menurut Imam al-Ghazali

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

    AIDS

    Jangan Percaya Mitos, Kenali Fakta tentang HIV dan AIDS

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Sastra

Perjalanan Naila: Tentang Mimpi dan Meraih Cita

Kepergian bapak memberikan pelajaran kepadaku sebagai anak perempuan harus siap mandiri dan siap dengan segala pernak-pernik kehidupan yang kadang di luar nalar. Menjadi diri sendiri dan mencintai apa yang dilakukan, itulah semangatku menjalani keseharian.

Khoiriyasih by Khoiriyasih
11 Juni 2021
in Sastra
A A
0
Naila

Naila

3
SHARES
169
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Cerita ini, tentang perjalananku, Naila, dalam meraih mimpi dan cita-citanya. Hari ini adalah hari dimana anak cucu berkumpul di rumah ibu. Ada yang bermain di halaman, ada yang bercengkerama dengan ibu, ada juga yang membaca buku di perpustakaan kecil milikku. Sengaja aku menyediakan perpustakaan di rumah supaya cucu-cucu ibu tidak ketergantungan ponsel, melainkan terbiasa untuk membaca sejak dini.

Ibu memiliki tiga anak, kakak berjumlah dua, dan aku adalah anak ibu yang terakhir. Aku pandangi anak-anak bermain di halaman rumah dengan riang gembira. Tidak jauh, cucu ibu yang paling tua datang mendekatiku sambil membawa lukisan yang mungkin ia temukan di meja tempat aku kerja. Ia berlari menghampiriku dan bertanya dengan wajah penasaran.

“Bulik Na, yang di lukisan ini siapa?”

“Beliau itu Nyai Khoiriyah Hasyim dek.. putri dari Mbah Hasyim Asy’ari.”

“Kenapa bulik melukis Nyai Khoiriyah? Bukan malah melukis pemandangan?”

“Iya, bulik sangat mengagumi kecerdasan dan kebijaksanaan beliau.” Jawab aku tersenyum.

‘Memangnya, Nyai Khoiriyah Hasyim itu siapa?”

Aku rasa Sabrina tidak terlalu pusing mendengarkan ceritaku, diusianya yang menginjak 9 tahun, bagiku sudah saatnya mengenal sosok-sosok perempuan yang bisa diteladani di negeri ini. Dengan tersenyum, akupun mengajak Sabrina duduk di sampingku untuk mendengarkan aku bercerita.

“Nyai Khoriyasih Hasyim itu putri dari Mbah Hasyim Asy’ari dan Nyai Nafiqoh. Beliau lahir di Seblak, Jombang Jawa Timur. Beliau pernah menjadi pemimpin di Pesantren Seblak, Jawa Timur, tempat ibu kamu mondok dulu dik. Nyai Khoiriyah ini selalu mengajarkan kepada santrinya untuk bisa hidup tanpa bergantung pada orang lain, harus bisa berdiri dengan semangat yang tinggi. Suatu ketika, sewaktu ibu kamu masih mondok di sana, ibu kamu selalu diajari untuk berkreasi menjahit dan membuat kue, nantinya kue dan jahitan ini bisa dijual untuk pemasukan keuangan ibu kamu selama di pondok.  Nyai Khoiriyah juga pernah mengikuti organisasi Muslimat NU seperti nenek kamu, hingga di tingkat nasional. Nah, selain itu, Nyai Khoriyah juga pernah mendirikan pondok pesantren untuk perempuan yang pertama kali di Makkah lo dek..” Aku diam tersenyum memandangi keponakan yang sedari tadi memperhatikan dengan seksama.

“Wah, hebat ya beliau, jadi mau dengerin cerita yang lainnya bulik.”

“Boleh dek, besok kalau datang kesini lagi, baca buku di kamar bulik, disana ada buku judulnya Nyai Khoiriyah Hasyim.”

“Bayar nggak bulik ?.” tanya ia meringis.

“Ya tidak, gratis dong, asal dikembalikan ke tempatnya.”  Tersenyum aku melihat semangat Sabrina untuk mengetahui segala macam hal.

“Baik bulik, besok Sabrina ke sini lagi.” Ia acungkan jempol tanda setuju.

“Ya sudah, ini lukisan dikembalikan ya, sana kamu main lagi.”

Tersenyum bahagia aku melihat tentram dan riuh tawa cucu ibu, hal itulah yang menyulut kesukaaanku pada anak-anak, apalagi ketika bermain dan berbagi cerita. Namun kesukaanku pada anak-anak tentunya juga tidak menjadi pemicu untuk segera menikah apalagi memiliki anak. Aku masih ingin menikmati hidup ini dan belum berpikir untuk menikah. Bagiku, pernikahan bukanlah perlombaan, bukan juga ajang untuk ikut-ikutan, pernikahan harus didasari kesiapan mental, finansial dan ilmu pengetahuan yang lain. Tentunya juga harus memilih pasangan yang tidak sembarangan, supaya bisa bersama membangun keluarga  saling membahagiakan.

Tidak lama aku memandangi anak-anak, kakakku paling tua yang terpaut tujuh tahun menghampiri dan duduk tepat di sampingku. Pikirku, mungkin ingin ngobrol biasa atau ngobrolin masalah perkuliahan.”

“Nai, sudah semester berapa sampean ini ?.”

“Udah skripsi dong kak, minggu depan aku sidang, doanya ya kak.”

“Baguslah, jangan menikah dulu, pergilah untuk meraih impianmu yang lain.”

“Loh ? emang kakak tahu aku mau kemana?.’ ledekku padanya sembari tertawa.

“Ya aku senang liat sampean bisa keliling, bisa wisuda, tapi juga jangan langsung menikah, banyak yang harus dipersiapkan, jangan memilih laki-laki yang nantinya menjadikan sampean pembantu, apalagi sampai menyiksa sampean ya.”

“Naudzubillah kak, semoga tidak, lagian juga Naila belum ingin segera menikah kak.”

“Kalaupun ingin menikah, dipastikan kembali dan dipikirkan matang-matang ya, jangan gegabah, tentu ibuk juga ingin melihat putrinya bahagia, kakakmu ini juga.

“Njih kak, Naila mau keliling raih impian dulu, tapi disangoni ya kak, hehehe .” Aku terkekeh, dalam hati siapa tahu kakakku memang mau kasih uang, aduh halu padahal.”

“Ohhh pancen adik ada maunya, nggak ah. Itu keponakan sampean sudah besar, pengeluarannya juga makin besar.” Jawab kakakku datar.

Kami berdua saling tertawa dan menikmati suasana sore hari di teras rumah, tentram melihat kebahagiaan keluarga ibu. Bapak juga pasti tersenyum di surga melihat keluarganya rukun. Bapak sudah meninggal sewaktu aku masih di Madrasah Aliyah atau setara SMA. Kepergian bapak memberikan pelajaran kepadaku sebagai anak perempuan harus siap mandiri dan siap dengan segala pernak-pernik kehidupan yang kadang di luar nalar. Menjadi diri sendiri dan mencintai apa yang dilakukan, itulah semangatku menjalani keseharian. []

Tags: Anak Perempuancerita pendekkebahagiaankeluargaMimpiorang tuaperempuanSsatra
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Peran Perempuan Mencegah Korupsi, Apa Itu?

Next Post

Mbah Sum: Kisah Perempuan yang Memilih Tidak Menikah

Khoiriyasih

Khoiriyasih

Alumni Akademi Mubadalah Muda tahun 2023. Suka membaca dan menulis.

Related Posts

HIV
Pernak-pernik

Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

20 Juli 2026
Sepak Bola Dunia
Aktual

Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

20 Juli 2026
HIV
Pernak-pernik

Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

18 Juli 2026
Scrolling
Buku

Meminjam Kacamata Kebahagiaan di Tengah Doomscrolling: Refleksi Membaca The Atlas of Happiness

17 Juli 2026
Lagu Teh Hijau
Personal

Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

17 Juli 2026
Nikah Sirri
Keluarga

Enam Langkah Cerai Sirri bagi Perempuan yang Terjebak Nikah Sirri

16 Juli 2026
Next Post
Mbah Sum

Mbah Sum: Kisah Perempuan yang Memilih Tidak Menikah

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak
  • Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes
  • Syarifah Baghdad: Perempuan Pelopor Mukena di Nusantara
  • HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya
  • Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0