Sabtu, 21 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    UU Perkawinan

    Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan

    Feminization of Poverty

    Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

    Refleksi Puasa

    Puasa yang menyatukan: Refleksi Puasa dalam Katolik dan Islam

    Kemiskinan

    Tentang Kemiskinan; Isi Perut Terjamin, Masa Depan Dibiarkan Kosong

    Ramadan dan Lingkungan

    Ramadan, Lingkungan dan Jihad An-Nafs

    Mubadalah dan Disabilitas

    Mubadalah dan Disabilitas: Dari Simpati ke Relasi Keadilan

    Masjid

    Ekslusi Masjid: Cara Pandang yang Membatasi

    Nilai Kesetaraan

    Ramadan Sebagai Momen Menanamkan Nilai Kesetaraan

    KUPI dan Mubadalah

    KUPI dan Mubadalah: Wajah Baru Islam Kontemporer di Panggung Internasional

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    ghaddul bashar

    Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

    Pernikahan

    Relasi Pernikahan yang Toxic itu Haram

    Hukum Menikah

    Ulama Fiqh Tekankan Akhlak Relasi sebagai Pertimbangan Hukum Menikah

    Hukum Menikah

    Perbedaan Pandangan Ulama tentang Hukum Menikah

    Dalam Amal Salih

    Laki-Laki dan Perempuan Mitra Setara dalam Amal Salih

    Amal Salih

    Laki-Laki dan Perempuan Setara sebagai Subjek Amal Salih

    Konsep Fitnah

    Konsep Fitnah Bersifat Timbal Balik

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    UU Perkawinan

    Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan

    Feminization of Poverty

    Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

    Refleksi Puasa

    Puasa yang menyatukan: Refleksi Puasa dalam Katolik dan Islam

    Kemiskinan

    Tentang Kemiskinan; Isi Perut Terjamin, Masa Depan Dibiarkan Kosong

    Ramadan dan Lingkungan

    Ramadan, Lingkungan dan Jihad An-Nafs

    Mubadalah dan Disabilitas

    Mubadalah dan Disabilitas: Dari Simpati ke Relasi Keadilan

    Masjid

    Ekslusi Masjid: Cara Pandang yang Membatasi

    Nilai Kesetaraan

    Ramadan Sebagai Momen Menanamkan Nilai Kesetaraan

    KUPI dan Mubadalah

    KUPI dan Mubadalah: Wajah Baru Islam Kontemporer di Panggung Internasional

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    ghaddul bashar

    Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

    Pernikahan

    Relasi Pernikahan yang Toxic itu Haram

    Hukum Menikah

    Ulama Fiqh Tekankan Akhlak Relasi sebagai Pertimbangan Hukum Menikah

    Hukum Menikah

    Perbedaan Pandangan Ulama tentang Hukum Menikah

    Dalam Amal Salih

    Laki-Laki dan Perempuan Mitra Setara dalam Amal Salih

    Amal Salih

    Laki-Laki dan Perempuan Setara sebagai Subjek Amal Salih

    Konsep Fitnah

    Konsep Fitnah Bersifat Timbal Balik

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Keluarga

Respons Alquran Terkait Perselingkuhan dalam Rumah Tangga

TentPerselingkuhan dalam rumah tangga merupakan pengkhianatan yang keji, bukan saja telah mengkhianati kehidupan keluarga, tapi juga perjanjian dengan Tuhan

Moh Soleh Shofier by Moh Soleh Shofier
8 Januari 2024
in Keluarga, Rekomendasi
A A
0
Respons Alquran Perselingkuhan

Respons Alquran Perselingkuhan

44
SHARES
2.2k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Sehubungan dengan beredarnya berita perselingkuhan yang terjadi dalam rumah tangga rupanya senyap-senyap  menjadi perbincangan tersendiri di forum itu (forum santri yang konsen dengan khazanah Islam) berikut respons Alquran. Mulai dari warga biasa hingga seorang ASN. Bahkan Detik.com memiliki tag khusus perselingkuhan baik warga biasa maupun ASN.

Tentu saja perselingkuhan dalam rumah tangga merupakan pengkhianatan yang keji, bukan saja telah mengkhianati kehidupan keluarga (al-Khiyanah al-Zaujiyah) tapi telah mengkhianati perjanjian dengan Tuhan (Mitsaqan Ghalidlan).

Namun sebelum menjelaskan respons Alquran terkait perselingkuhan dari kaca mata Mubadalah saya ingin mengulas sedikit riwayatnya. Dalam perjalanan sejarah, tercatat beberapa kasus di mana perselingkuhan terjadi di kalangan sahabat. Antara lain adalah Uaimir dan Hilal bin Umayyah.

Disclaimer: Perselingkuhan yang saya maksud dalam kisah ini adalah perselingkuhan yang sampai melakukan hubungan intim.

Nabi Tak Berkenan Menanggapi Pertanyaan Umair

Dalam kisah Umair sebagaimana Imam Bukhari meriwayatkannya, ia menjumpai pasangannya (istrinya) berselingkuh dengan seseorang. Kemudian Umair menemui temannya, Asim bin Adiy. Lalu Umair bertanya kepada Asim dengan sedikit mengaburkan kisahnya seolah-olah orang lain yang mengalaminya.

“Apa yang harus dilakukan seorang suami bila menjumpai pasangannya berselingkuh dengan orang lain? Apakah harus membunuh selingkuhannya lalu kalian akan membunuh (sebagai qishas) suaminya karena membunuh selingkuhan istrinya, atau harus bagaimana?”. Tanya Umair kepada Asim. Lalu Umair menyuruh Asim untuk bertanya ke Rasulullah terkait persoalan tersebut.

Sayangnya, bukanlah jawaban yang Asim dapatkan dari Rasulullah. Justru Rasulullah enggan menanggapi pertanyaan tersebut bahkan tidak senang (jika enggan mengatakan marah). Maka Asim bergegas menuju Umair untuk menyampaikan sikap Rasulullah yang membuat sahabat Umair sedikit kecewa dan berkata, “Demi Tuhan, saya tidak akan berhenti sampai saya bertanya langsung ke Rasulullah”.

Sahabat Hilal Bin Umayyah Ketika Melaporkan Istrinya

Sedangkan kisah lainnya, Hilal bin Umayyah juga bertanya kepada Nabi perihal istrinya yang selingkuh dengan Syarik bin Sahma’. Bahkan dengan yakin Hilal bin Umayyah mengatakan bahwa istrinya berselingkuh dengan Syarik. Tentu saja, sebagaimana sebelumnya, Nabi tidak serta menerimanya. Nabi tetap bersikap prosedural, yaitu Hilal bin Umayyah wajib mendatangkan saksi (4 orang laki-laki), atau punggungnya akan dicambuk 80 kali.

Sebab pernyataan Hilal sudah masuk dalam ranah hukum tuduhan yang kemudian dikenal dengan tuduhan zina (qadf). Sebagaimana hukum yang sudah berlaku, bahwa orang yang berani menuduh zina kepada orang lain maka ancamannya tidak main-main. Yaitu dicambuk sebanyak 80 kali sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Nur ayat 4-5. Hukum inilah yang dipegang Nabi ketika menyikapi persoalan yang menimpa Hilal bin Umayyah dengan istrinya.

Kaget bukan kepalang, Hilal mendengar tanggapan Nabi yang mengancam akan mencambuk punggungnya bila tidak mampu mendatangkan 4 saksi. Maka Hilal pun bersikeras karena ia sangat yakin bahwa istrinya telah berbuat serong dengan Syarik bin Sahma’.

Perdebatan Hilal bin Umayyah bersama Nabi Muhammad

Hilal pun membela diri, “Bagaimana Nabi ini, masak bila kita melihat pasangan kita melakukan serong dan sampai berhubungan intim lalu kita masih dibebankan untuk mencari empat saksi? Sebelum dapat empat saksi, adegannya sudah selesai?”

فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِذَا رَأَى أَحَدُنَا عَلَى امْرَأَتِهِ رَجُلًا يَنْطَلِقُ يَلْتَمِسُ الْبَيِّنَةَ

Begitu pula dengan Nabi. Beliau tetap saja bersikukuh dengan sikap proseduralnya yaitu wajib mendatangkan empat saksi atau akan dapat cambukan 80 kali. Kecuali kedatangan Alquran yang merespons perselingkuhan dalam rumah tangga tersebut. Oleh sebab itu, nabi tetap saja berkata sebagaimana sebelumnya.

فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: الْبَيِّنَةَ أَوْ حَدٌّ فِي ظَهْرِكَ

Saking jengkelnya Hilal – karena Nabi seolah mengabaikan fakta yang sesungguhnya dan tetap berpegang teguh dengan hukum formal yang berlaku. Maka Hilal “sedikit mengancam balik” dengan mengatakan, “Demi Dzat yang telah mengutus Mu sebagai Nabi yang benar, sungguh saya telah jujur sejujur-jujurnya. Dan Allah pasti akan menurunkan hukum baru yang merevisi hukum formal itu (had qadf) untuk membelaku dan membebaskanku dari hukuman cambuk”.

فَقَالَ هِلَالٌ: وَاَلَّذِي بَعَثَك بِالْحَقِّ نَبِيًّا إنِّي لَصَادِقٌ وَلَيُنَزِّلَنَّ اللَّهُ مَا يُبَرِّئُ ظَهْرِي مِنْ الْجَلْدِ

Respons Alquran terkait perselingkuhan dalam rumah tangga

Setelah berkata demikian Hilal pulang. Tidak lama dari itu, kemudian Jibril mendatangi Nabi guna menyampaikan hukum baru yang mentakhsis hukum sebelumnya sebagai solusi dalam persoalan selingkuh dalam keluarga dan tuduh menuduh (zina) di antara pasutri. Yaitu juga terdapat dalam surah Al-Nur.

ﵟوَٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ أَزۡوَٰجَهُمۡ وَلَمۡ يَكُن لَّهُمۡ شُهَدَآءُ إِلَّآ أَنفُسُهُمۡ فَشَهَٰدَةُ أَحَدِهِمۡ أَرۡبَعُ شَهَٰدَٰتِۭ بِٱللَّهِ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ٦ وَٱلۡخَٰمِسَةُ أَنَّ لَعۡنَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡهِ إِن كَانَ مِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٧ وَيَدۡرَؤُاْ عَنۡهَا ٱلۡعَذَابَ أَن تَشۡهَدَ أَرۡبَعَ شَهَٰدَٰتِۭ بِٱللَّهِ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٨ وَٱلۡخَٰمِسَةَ أَنَّ غَضَبَ ٱللَّهِ عَلَيۡهَآ إِن كَانَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ٩ﵞ [النور: 6-9]

Ayat itu adalah respons Alquran terkait perselingkuhan dalam rumah tangga. Di mana bila salah seorang telah berani menuduh pasangannya selingkuh (sampai melakukan zina), maka ia tidak terikat dengan hukum yang berlaku sebelumnya.

Yaitu wajib mendatangkan 4 saksi, jika tidak maka akan mendapatkan cambuk-an sebanyak 80 kali. Dengan demikian maka pemberlakuan hukum untuk melakukan sumpah sebagai ganti dari 4 saksi yang kemudian populer dengan nama sumpah li’an.

Tidak berhenti di situ, Alquran juga memberikan solusi kepada pihak yang tertuduh dan terbukti kesalahannya (melakukan zina) agar terlepas dari hukum cambuk atau rajam dengan cara melakukan sumpah balik (sumpah li’an). Dengan turunnya ayat itu maka bebaslah hukuman-hukuman yang bisa saja menimpa kepada salah satunya, sebagai hukum tuduhan zina atau hukuman berzina.

Kisah itu Bukan Justifikasi bahwa Perempuan Makhluk Penggoda

Dari kisah di atas, ada beberapa hal yang perlu menjadi renungan bagi kita.

Pertama, kendatipun dalam riwayat di atas pelaku yang berselingkuh adalah pasangan yang perempuan. Tetapi tidak bisa menjadi justifikasi bahwa perempuan merupakan makhluk penggoda yang kemudian dikait-kaitkan dengan ayat tentang hukuman bagi orang yang berzina di mana Tuhan menyebutkan perempuan terlebih dulu sebagaimana tidak sedikit tafsir-tafsir memaparkannya.

Sebab, perselingkuhan dalam rumah tangga bisa saja terjadi kepada kedua belah pihak. Dan tentu perselingkuhan dalam keluarga merupakan kejahatan yang harus di sanksi karena telah mengkhianati hukum berpasangan (al-Khiyanah al-Zaujiyah) dan Tuhan (Mitsaqan Ghalidlan).

Hikmah Sikap Nabi yang Tak Menerima Laporan sahabatnya

Kedua, Sikap Nabi Muhammad yang tidak serta merta menerima pengaduan dari sahabatnya karena alasan-alasan tertentu.

Antara lain ingin menegaskan larangan keras tentang tuduh-menuduh, lebih-lebih yang terkait dengan zina. Andaipun sangat yakin bahwa seseorang telah melakukan kesalahan atau dosa (zina) maka sebaiknya menutupinya selama tidak merugikan kemaslahatan umum.

Sebagaimana menjadi keyakinan banyak ulama bahwa alangkah baiknya menutupi dosa atau aib (zina) seseorang selama bukan kejahatan sosial. Barangkali akan bertobat dan Tuhan akan menerima tobatnya. Bahkan masyhur ada riwayat yang mengatakan, sebagaimana Gus Baha mengampanyekannya bahwa “Setiap dosa akan terampuni kecuali yang terang-terangan”.

Jangan Gampang Menerima Laporan Tanpa Bukti

Selain itu, sebab bila Nabi sekali saja menerima delik aduan para sahabatnya dan melaksanakan hukuman sesuai prosedur yaitu menindak orang yang tertuduh. Maka putusan itu akan menjadi hukum yang berlaku di antara kaum muslim.

Kemungkinan buruknya, akan jadi legalitas oleh para suami-suami yang tidak baik untuk melaporkan dan menuduh istrinya berzina. Dan Nabi tidak menginginkan tersebut terjadi sehingga Nabi bersikukuh untuk tidak menerima laporan sahabatnya kendati Nabi juga meyakini kebenaran Hilal bin Umayyah.

Tidak hanya itu, Nabi juga tidak ingin menghukum kaumnya lantaran melakukan dosa selama dosa itu bisa terselesaikan secara baik-baik atau bertobat. Oleh sebab itu, setelah menyelesaikan persoalan tersebut Nabi bersabda;

 فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: (لَوْلَا مَا مَضَى مِنْ كِتَابِ اللَّهِ، لَكَانَ لِي وَلَهَا شَأْنٌ)

“Andaikan tidak ada putusan dari Alquran niscaya akan ada masalah antara saya dan perempuan itu (merajam-nya)”.

Demikianlah respons Alquran terkait perselingkuhan dalam rumah tangga. Untuk kelanjutan penjelasan ayatnya akan saya kemukakan di lain waktu melalui perspektif Mubadalah. []

 

 

 

Tags: islamistriKisah NabiMerebut Tafsirperkawinanperselingkuhanperspektif mubadalahRespons Alquransejarahsuami
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Kisah Abu Thalib yang Berjuang Melindungi Nabi Saw dari Petinggi Quraisy

Next Post

Al-Qur’an dan Hadis Menjadi Sumber untuk Jawab Semua Masalah Kehidupan Manusia

Moh Soleh Shofier

Moh Soleh Shofier

Dari Sampang Madura

Related Posts

Puasa dalam Islam
Pernak-pernik

Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

20 Februari 2026
Konsep isti’faf
Pernak-pernik

Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

20 Februari 2026
ghaddul bashar
Pernak-pernik

Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

20 Februari 2026
Refleksi Puasa
Publik

Puasa yang menyatukan: Refleksi Puasa dalam Katolik dan Islam

20 Februari 2026
KUPI dan Mubadalah
Publik

KUPI dan Mubadalah: Wajah Baru Islam Kontemporer di Panggung Internasional

18 Februari 2026
Perempuan Sumber Fitnah
Pernak-pernik

Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam

16 Februari 2026
Next Post
Sumber

Al-Qur'an dan Hadis Menjadi Sumber untuk Jawab Semua Masalah Kehidupan Manusia

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri
  • Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan
  • Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam
  • Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan
  • Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0