Mubadalah.id – Perempuan menghadapi risiko gangguan kesehatan mental yang dalam beberapa kasus lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Meskipun secara umum laki-laki dan perempuan memiliki peluang yang relatif sama dalam mengalami masalah kesehatan mental, depresi berat dilaporkan lebih banyak terjadi pada perempuan.
Kondisi ini terpengaruhi oleh berbagai faktor sosial dan ekonomi yang melingkupi kehidupan perempuan. Perempuan yang hidup dalam kemiskinan, pernah mengalami kekerasan, atau menghadapi kehilangan mendalam cenderung memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi.
Selain itu, perubahan sosial yang besar, seperti konflik atau krisis ekonomi, juga dapat memperburuk kondisi kesehatan mental perempuan. Situasi tersebut sering kali menempatkan perempuan dalam posisi yang lebih rentan secara psikologis.
Meskipun menghadapi risiko yang tinggi, perempuan sering kali memiliki akses yang lebih terbatas terhadap layanan kesehatan mental. Dalam banyak kasus, perempuan tidak memperoleh pertolongan yang memadai ketika mengalami gangguan kesehatan mental.
Keterbatasan akses ini terpengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk stigma sosial terhadap masalah kesehatan mental serta kurangnya layanan yang ramah bagi perempuan. Akibatnya, banyak kasus gangguan mental pada perempuan yang tidak tertangani dengan baik.
Dampak dari kondisi ini tidak hanya ia rasakan, tetapi juga berpengaruh pada kehidupan keluarga dan lingkungan sosial. Gangguan kesehatan mental yang tidak ia tangani dapat memengaruhi kemampuan perempuan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Situasi ini menunjukkan pentingnya peningkatan akses terhadap layanan kesehatan mental yang inklusif dan mudah ia jangkau. Selain itu, ia juga memerlukan upaya untuk mengurangi stigma terhadap gangguan kesehatan mental agar perempuan dapat memperoleh dukungan yang mereka butuhkan. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter




































